"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."
Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Satu Minggu telah berlalu sejak Gavin mulai sibuk dengan pekerjaannya. Namun, atmosfer perubahan yang awalnya menjanjikan di dalam rumah tangga Gavin dan Aruna mendadak menguap, digantikan oleh dinding dingin yang kembali terbangun tinggi.
Semua komitmen Gavin tentang menjadi hot daddy siaga yang rajin mengantar jemput seolah hilang terembus angin begitu saja. Tiga hari berturut-turut, pria itu selalu mengirimkan pesan singkat berisi alasan klasik: “Maaf, Ru. Aku masih sibuk banget. Pekerjaan ku sangat begitu menumpuk. Tolong pulang naik taksi online dulu ya dengan Kenzie.”
Aruna awalnya mencoba memaklumi. Ia tahu beban yang dipikul Gavin di Aditama Group tidaklah mudah setelah kematian Rendy. Namun, sore ini, benteng kesabaran Aruna runtuh total di tempat yang sama sekali tidak terduga.
Pukul 16.00 WIB, Aruna membawa Kenzie ke sebuah pusat perbelanjaan di pusat kota. Niat awalnya adalah mampir ke swalayan yang berada di dalam mal tersebut untuk menyetok susu formula Kenzie, popok, dan beberapa kebutuhan dapur apartemen yang mulai menipis.
"Hari ini kita mampir beli popok sama susu buat Kenzie. Sekali beli kebutuhan rumah yang sudah habis ya. Kenzie anteng - anteng di stroller, oke." ucap Aruna dengan seyum manis pada sang keponakan kesayangan.
Kenzie duduk dengan tenang di dalam stroller, kepalanya mengangguk lucu tanda mengerti. Sepanjang perjalanan masuk kedalam mall bocah kecil itu sesekali mengoceh riang menunjuk lampu-lampu mall yang gemerlap. Aruna mendorong kereta bayi itu dengan langkah santai melewati deretan gerai brand ternama dan restoran elite di lantai dasar, menuju ke arah swalayan.
Namun, langkah kaki Aruna mendadak terpaku di atas lantai yang mengilat. Jantungnya seolah berhenti berdetak seketika, digantikan oleh desiran darah yang mendidih hingga ke ubun-ubun.
Di dalam sebuah restoran ikonis berkonsep kaca transparan, di sudut meja yang agak temaram, duduk seorang pria dengan setelan jas navy yang sangat Aruna kenali. Gavin. Pria yang satu jam lalu mengiriminya pesan bahwa dia sedang rapat dengan klien pentingnya.
Gavin tidak sedang rapat. Pria itu sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita cantik berambut gelombang dengan pakaian modis yang tampak sangat akrab dengannya. Yang paling membuat dada Aruna sesak adalah senyuman Gavin. Pria itu tertawa lepas, sangat lebar, memamerkan deretan gigi rapinya tanpa beban sedikit pun—sebuah tawa yang bahkan belum pernah Gavin tunjukkan selama tinggal satu atap dengannya dan Kenzie.
“Sibuk dengan pekerjaan, katamu, Vin?” batin Aruna. Tangannya yang mencengkeram pegangan stroller bergetar hebat menahan amarah yang membuncah.
Detik itu juga, kelakuan pria playboy Gavin yang dulu sempat ia lupakan, kini kembali menampar wajah Aruna dengan keras. Bodohnya dia sempat berpikir pria bajingan ini sudah berubah hanya karena perkataan Pak Eza.
Ternyata tidak. Pria itu masih Gavin yang dulu. Suka bermain - main dengan perasaan wanita.
Ingin rasanya Aruna melangkah masuk ke dalam restoran mewah itu, merebut gelas air di meja, dan menyiramkannya tepat ke wajah playboy Gavin yang penuh kebohongan itu. Namun, sebuah tarikan lembut di ujung blusnya membuat Aruna tersadar.
"Mih Mih cu cu ( itu itu )," cicit Kenzie dengan suara cadelnya, menunjuk - nujuk ke arah toko mainan yang tak jauh dari sana.
Melihat wajah suci keponakannya, amarah Aruna yang tadinya siap meledak mendadak surut, digantikan oleh rasa perih yang mendalam. Tidak. Aruna tidak boleh egois. Ia tidak akan membiarkan Kenzie menyaksikan pertengkaran kotor orang dewasa di tempat umum.
Aruna teringat jelas bagaimana mendiang Rendy dan Adisti mendidik anak ini. Kedua orang tua Kenzie selalu memperlakukan satu sama lain dengan penuh kehangatan, cinta, dan tutur kata yang lembut di depan anak mereka. Kenzie tidak boleh kehilangan memori tentang keluarga yang damai itu.
Dengan perasaan dongkol dan kecewa yang luar biasa tertanam di hatinya, Aruna memutar arah stroller Kenzie dengan gerakan hati - hati. Ia mengurungkan niatnya untuk berbelanja di swalayan. Atmosfer hatinya sudah terlalu hancur untuk sekadar memilih merek susu.
"Kita pulang sekarang ya, Sayang, beli mainannya nanti saja ya." ucap Aruna, berusaha sekuat tenaga menekan getaran di suaminya agar tetap terdengar lembut di telinga Kenzie.
Sepanjang perjalanan pulang di dalam taksi, Aruna hanya menatap kosong ke luar jendela. Air matanya hampir menetes, bukan karena cemburu, melainkan karena rasa bersalah pada kedua kakaknya. Bagaimana bisa kakaknya mempercayakan masa depan Kenzie pada pria pembual yang mengutamakan kesenangan wanita lain di saat nyawa dan harta milik keponakan mereka sedang di incar seseorang.
Begitu tiba di apartemen, Aruna langsung mengunci diri di kamar bersama Kenzie. Matanya menatap tajam foto Gavin yang terpajang di kamar yang ia tempati ini. Ia siap meledakkan badai kehancuran yang jauh lebih besar begitu pria sialan itu berani membohongi dirinya.
"Awas saja aku akan buat perhitungan untuk mu pria Playboy cap Bunglon!" Gumam Aruna tatapan penuh siasat ketika menatap foto Gavin yang menurut dia sangat menyebalkan.
Bersambung...
###
Hai. Sebelumnya mohon maaf untuk bab hari ini segini dulu ya. Author akan lanjut yang lebih panjang lagi di bab besok🙏🏻☺️
Terus dukung cerita 'Dari Terpaksa Jadi Cinta ' dengan cara Vote, like, komen dan ulasan bintang limanya 🙏🏻☺️😘🥰
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
lagi dong Thor