NovelToon NovelToon
Kisah Sang Anak Mafia

Kisah Sang Anak Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Reza Haris

Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.

Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.

Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.

Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.

Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 Kota Mulai Berperang

Malam itu tidak pernah benar-benar berakhir bagi Arda.

Tubuhnya memang kembali ke rumah persembunyian bersama Kael, Darius, dan anggota Valdarez lainnya.

Namun pikirannya masih tertinggal di dalam gudang tua kawasan industri.

Masih berdiri di depan tubuh pria yang tidak lagi bergerak.

Masih menatap darah yang perlahan mengalir di lantai beton.

Masih mendengar suara benturan yang mengakhiri hidup seseorang.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Arda memahami satu kenyataan yang selama ini hanya ia dengar dari cerita.

Kematian memiliki berat.

Dan berat itu tidak hilang begitu saja.

Hampir pukul tiga pagi ketika mereka tiba di rumah.

Biasanya Elena akan menunggu di ruang tamu setiap kali Kael atau Darius pergi menjalankan misi.

Namun malam itu tidak ada siapa-siapa.

Semua orang sudah tidur.

Atau setidaknya mencoba tidur.

Arda berjalan menuju kamarnya tanpa berkata apa-apa.

Darius tidak menghentikannya.

Kael juga tidak menghentikan dia.

Karena mereka tahu.

Tidak ada kata-kata yang bisa memperbaiki apa yang baru saja terjadi.

Begitu pintu kamar tertutup.

Arda langsung duduk di tepi ranjang.

Tangannya masih sedikit gemetar.

Ia menatap kedua telapak tangannya.

Bersih.

Tidak ada darah.

Namun entah kenapa ia masih merasa ada noda yang tidak bisa dilihat.

Noda yang tidak akan hilang.

Ia memejamkan mata.

Dan langsung melihat wajah pria itu.

Mata yang membelalak.

Tubuh yang jatuh.

Kepala yang menghantam beton.

Arda membuka mata kembali.

Napasnya menjadi lebih cepat.

Ia bangkit.

Berjalan ke jendela.

Lalu mencoba mengalihkan pikirannya.

Namun semuanya sia-sia.

Karena malam itu...

Ia tidak hanya kehilangan tidur.

Ia kehilangan sebagian dari dirinya.

Pagi datang bersama kabar buruk.

Bahkan sebelum Arda turun ke lantai bawah, suara perdebatan sudah terdengar dari ruang kerja.

Kael.

Ravian.

Dan beberapa anggota senior Valdarez.

Mereka sedang membahas sesuatu dengan nada yang jauh lebih tegang dibanding biasanya.

Ketika Arda masuk ke ruangan, pembicaraan langsung terhenti sesaat.

Kael memperhatikannya.

Wajah Arda terlihat pucat.

Namun pria itu tidak mengatakan apa-apa.

Karena ada masalah yang lebih mendesak.

"Apa yang terjadi?"

tanya Arda.

Ravian menggeser beberapa foto ke atas meja.

"Serangan semalam bukan satu-satunya."

ucapnya.

Jantung Arda langsung terasa berat.

"Apa maksudnya?"

Kael menunjuk salah satu foto.

"Saat kita berada di gudang sektor timur..."

"...dua lokasi lain diserang."

Ruangan langsung terasa lebih dingin.

Dua lokasi lain.

Berarti serangan gudang hanyalah pengalihan.

"Korban?"

tanya Arda.

Ravian menghela napas.

"Sebelas orang."

Arda membeku.

Sebelas.

Bukan satu.

Bukan dua.

Sebelas.

Dan angka itu belum termasuk korban luka.

"Siapa yang melakukannya?"

Tidak ada yang langsung menjawab.

Karena itulah masalahnya.

Mereka belum tahu.

Atau lebih tepatnya...

Mereka mulai takut mengetahui jawabannya.

Siang hari.

Rumah persembunyian berubah menjadi pusat koordinasi.

Telepon terus berdering.

Laporan terus berdatangan.

Beberapa wilayah yang selama bertahun-tahun dianggap aman mulai menunjukkan tanda-tanda kekacauan.

Truk pengiriman dirampas.

Bisnis diperas.

Anggota Valdarez diserang saat patroli.

Dan yang paling mengkhawatirkan...

Kelompok-kelompok kriminal kecil mulai memilih pihak.

Karena mereka tahu sesuatu sedang terjadi.

Dan dalam dunia mafia...

Saat perang besar mendekat, semua orang harus menentukan posisi.

Arda berdiri di dekat jendela ruang kerja.

Dari sana ia bisa melihat sebagian kota.

Kota yang selama ini tampak tenang.

Namun sekarang...

Ia mulai melihat sisi lain yang selama ini tersembunyi.

Ketakutan.

Kekacauan.

Keserakahan.

Semuanya perlahan muncul ke permukaan.

"Ini belum pernah terjadi sebelumnya."

ucap Elena yang berdiri di sampingnya.

Arda menoleh.

"Apa?"

"Ketegangan seperti ini."

jawab Elena.

"Bahkan saat Leon masih hidup."

Arda kembali melihat ke luar jendela.

"Itu berarti mereka tidak takut lagi."

Elena tidak menjawab.

Karena mereka berdua tahu.

Arda benar.

Dulu nama Leon Valdarez cukup untuk membuat sebagian besar musuh berpikir dua kali.

Namun sekarang Leon sudah mati.

Dan banyak orang mulai menganggap keluarga Valdarez melemah.

Menjelang sore.

Laporan baru kembali datang.

Kali ini jauh lebih buruk.

Sebuah jalan utama di pusat kota berubah menjadi lokasi baku tembak.

Beberapa kelompok bersenjata saling menyerang.

Mobil-mobil sipil ikut terkena.

Orang-orang berlarian.

Dan polisi mulai turun dalam jumlah besar.

Ketika berita itu muncul di televisi, seluruh ruangan langsung hening.

Karena untuk pertama kalinya...

Perang yang selama ini terjadi di balik bayangan mulai terlihat oleh masyarakat umum.

"Kota akan panik."

gumam Ravian.

Kael mengangguk pelan.

Dan kepanikan adalah sesuatu yang sangat berbahaya.

Karena saat masyarakat panik...

Pemerintah mulai bergerak.

Polisi mulai menekan.

Media mulai mencari jawaban.

Dan semua pihak akan menderita.

Malam datang.

Namun suasana tidak menjadi lebih tenang.

Justru sebaliknya.

Telepon kembali berbunyi.

Salah satu markas kecil Valdarez di bagian utara kota diserang.

Lima orang tewas.

Tiga luka berat.

Dan seperti biasa...

Satu simbol ditemukan di lokasi.

Senyuman berdarah.

Simbol yang sama.

Simbol yang terus muncul di setiap tragedi.

Simbol yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.

Arda memperhatikan foto-foto lokasi serangan.

Semakin lama ia melihatnya...

Semakin besar kemarahan yang muncul dalam dirinya.

Bukan hanya karena korban.

Tetapi karena semuanya terasa seperti permainan bagi seseorang.

Seolah nyawa manusia hanyalah angka.

Seolah penderitaan hanyalah hiburan.

Dan Arda membenci hal itu.

Sangat membencinya.

Larut malam.

Ketika sebagian besar orang mulai kelelahan, Kael masih berada di ruang kerjanya.

Begitu juga Ravian.

Peta kota terbentang di atas meja.

Puluhan titik merah ditandai di berbagai lokasi.

Setiap titik mewakili serangan.

Setiap titik mewakili korban.

Dan semakin banyak titik muncul...

Semakin jelas pola yang terlihat.

"Mereka sedang memaksa kita keluar."

ucap Ravian.

Kael memperhatikan peta itu lama.

Kemudian perlahan mengangguk.

"Ya."

"Mereka ingin kita bergerak."

"Supaya?"

Kael menarik napas panjang.

"Supaya kita membuat kesalahan."

Ruangan kembali sunyi.

Karena mereka tahu.

Musuh yang sabar sering kali lebih berbahaya daripada musuh yang brutal.

Di tempat lain.

Jauh dari rumah persembunyian.

Seorang pria berdiri di depan jendela gedung tinggi.

Lampu kota terlihat seperti lautan cahaya di bawah sana.

Mobil polisi bergerak ke berbagai arah.

Sirene terdengar samar.

Kekacauan mulai menyebar.

Dan pria itu menikmati semuanya.

Di atas mejanya terdapat beberapa foto.

Leon Valdarez.

Isabella Valdarez.

Arda Valdarez.

Dan satu foto baru.

Foto Arda di gudang sektor timur.

Foto yang diambil diam-diam dari kejauhan.

Pria itu mengambil foto tersebut.

Lalu memperhatikannya beberapa saat.

Senyuman perlahan muncul di wajahnya.

Senyuman yang dingin.

Senyuman yang tidak mengandung sedikit pun kehangatan.

"Jadi kau sudah membunuh."

gumamnya pelan.

Matanya menyipit.

"Bagus."

Kemudian ia meletakkan foto itu kembali.

Dan menatap kota yang semakin tenggelam dalam kekacauan.

Karena baginya...

Ini baru permulaan.

Perang sesungguhnya bahkan belum dimulai.

1
kiya kiya
Bintang 5 buat author nya 😍
kiya kiya
keren ceritanya 👍
farazky: makasih kakak🥰🥰
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author
KZ2
mantap lanjut thor
farazky: siap kak 🥰
total 1 replies
Afan Bagus
mantap cerita nya
Al Faris
bagus ceritanya banyak misteri saya suka cerita begini
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪
Al Faris
agak seru ceritanya 👍
Al Faris
nah gini kan bagus kak
Al Faris
untuk kakak bab ini terlalu banyak kata yg berjarak terlalu jauh sebagai pembaca kurang nyaman tolong diperbaiki lagi yaa kakak author 😍. tetap semangat kakak dalam berkarya 💪💪
farazky: terimakasih kakak atas saran dan kritikannya🥰
total 1 replies
fahmi
ini bagus 👍 gak kayak bab 6 tadi
fahmi
untuk bab ini banyak kali jarang antar kata nya. sudah enak sih bacanya dari 1 sampe 5. semangat terus author nya 💪💪💪
farazky: baik terimakasih kakak atas koreksinya 😍
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author 💪
fahmi
👍
Al Faris
semangat
Al Faris
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!