Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Pagi itu, suasana di kediaman keluarga Winata terasa jauh lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya. Sinar matahari pagi masuk melalui jendela-jendela besar yang menghiasi rumah megah tersebut. Cahaya keemasan itu memantul di lantai marmer mengilap, menciptakan suasana hangat yang jarang terasa setelah malam penuh air mata yang baru saja mereka lewati. Di ruang makan utama, para pelayan terlihat sibuk menyiapkan sarapan pagi. Beberapa orang menata piring dan peralatan makan di atas meja panjang berbahan kayu jati yang mengilap. Sebagian lainnya membawa berbagai hidangan lezat yang baru selesai dimasak dari dapur.
Aroma roti panggang, telur dadar, kopi hitam, dan sup ayam memenuhi udara. Biasanya suasana pagi di rumah itu cukup santai, namun pagi ini ada sedikit ketegangan yang tidak bisa disembunyikan. Semua orang tahu kalau nona muda keluarga Winata baru saja kembali ke rumah dan semua orang juga tahu kalau sesuatu yang buruk telah terjadi.
Di ujung meja makan, Rendra Winata sudah duduk sejak beberapa menit yang lalu. Pria paruh baya itu mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan dasi yang berwarna senada. Wajahnya masih terlihat tenang seperti biasanya, tetapi sorot matanya menunjukkan hal yang berbeda. Di tangannya terdapat sebuah iPad, tatapannya fokus memperhatikan berbagai laporan keuangan yang muncul di layar. Grafik demi grafik terpampang jelas menampilkan laporan keuntungan, investasi, anak perusahaan dan berbagai data penting lainnya milik Winata Group. Sesekali Rendra menggeser layar iPad menggunakan jarinya, sesekali pula ia menyesap kopi hitam yang berada di sampingnya. Namun meskipun terlihat fokus bekerja, pikirannya sebenarnya tidak sepenuhnya berada di sana karena sejak semalam, pikirannya terus tertuju pada satu orang, Kanisha.
Putrinya yang baru saja kehilangan rumah tangganya, putri yang semalam menangis hingga kehabisan tenaga, putri yang selama bertahun-tahun berusaha mempertahankan sebuah pernikahan yang ternyata sejak awal dibangun di atas kebohongan. Di sisi lain meja makan, Dahlia terlihat sedang mengoleskan selai cokelat ke atas dua lembar roti tawar. Gerakannya pelan, tatapannya sesekali mengarah ke pintu ruang makan seolah sedang menunggu kedatangan seseorang, seseorang yang sejak tadi terus berada di pikirannya.
"Pa..."
Suara Dahlia akhirnya memecah keheningan dan membuat Rendra mengangkat pandangannya dari layar iPad.
"Ya?"
Dahlia menghela napas perlahan.
"Papa udah kepikiran belum?"
"Kepikiran apa?"
"Tentang Kanisha."
Rendra terdiam beberapa detik lalu meletakkan iPad di atas meja yang membuat Dahlia menatap suaminya lekat-lekat.
"Setelah ini papa mau ngapain?"
Pertanyaan itu membuat Rendra bersandar perlahan di kursinya. Pria itu tampak berpikir beberapa saat sebelum akhirnya menjawab.
"Papa udah punya rencana bagus untuk Kanisha."
Dahlia langsung memperhatikan.
"Rencana apa?"
"Papa mau ngajak Kanisha ke kantor."
Dahlia sedikit terkejut.
"Kantor?"
Rendra mengangguk.
"Iya." Pria itu lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kanisha nggak boleh terus-terusan diam di rumah." Dahlia memahami maksud suaminya. "Kalau dia terus sendirian di rumah, Kanisha bakal kepikiran terus sama semua yang terjadi."
Dahlia perlahan mengangguk, ia tidak bisa membantah hal itu karena semenyakitkan apa pun luka seseorang, terkadang yang paling berbahaya justru ketika orang itu memiliki terlalu banyak waktu untuk memikirkan rasa sakitnya sendiri.
"Papa mau Kanisha kembali kerja." Rendra kembali berbicara. "Kembali mengurus perusahaan."
Tatapan Dahlia sedikit melembut.
"Supaya dia sibuk?"
"Lebih dari itu." Rendra tersenyum tipis. "Supaya dia ingat siapa dirinya."
Dahlia terdiam, kalimat itu membuat dadanya menghangat karena ia tahu persis apa yang dimaksud suaminya. Sebelum Kanisha mengenal Arven dan jatuh cinta pada laki laki itu, Kanisha adalah salah satu wanita paling berbakat yang pernah mereka kenal. Dia cerdas, tegas, berani dan memiliki kemampuan bisnis yang luar biasa. Bahkan sejak kuliah, Kanisha sudah sering membantu Rendra mengurus beberapa proyek perusahaan. Kemampuannya dalam membaca peluang bisnis sering membuat banyak orang kagum. Sayangnya setelah menikah, semua itu perlahan menghilang. Kanisha lebih memilih menjadi istri yang baik, lebih memilih mengurus rumah tangganya untuk Arven dan sekarang setelah semuanya hancur, mungkin sudah waktunya Kanisha mengambil kembali kehidupannya.
"Mama setuju." Dahlia akhirnya tersenyum. "Kanisha memang harus kembali ke dunia yang selama ini dia tinggalkan."
Rendra mengangguk pelan, tatapan matanya mengarah ke jendela.
"Kali ini papa nggak akan biarin Kanisha kehilangan jati dirinya lagi."
Dahlia tersenyum kecil namun sebelum sempat ia mengatakan apa pun,
Tok...
Tok...
Tok...
Suara langkah high heels tiba-tiba terdengar dari arah koridor yang membuat keduanya langsung terdiam. Para pelayan juga terlihat menoleh, suara itu semakin lama semakin mendekat.
Tok...
Tok...
Tok...
Rendra dan Dahlia saling berpandangan, kemudian secara bersamaan menoleh ke arah pintu ruang makan. Dan tepat beberapa detik kemudian, sosok itu akhirnya muncul. Langkah kaki itu berhenti di ambang pintu dan membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.
Dahlia membelalak, Rendra bahkan sampai meletakkan cangkir kopinya perlahan. Mereka berdua terpaku karena wanita yang berdiri di sana terlihat sangat berbeda dari Kanisha yang mereka lihat semalam. Sangat berbeda.
Kanisha berdiri dengan tenang, wajahnya memang masih menyisakan sedikit bekas kelelahan namun tidak lagi sembab seperti kemarin.
Tidak lagi berantakan, tidak lagi terlihat seperti wanita yang kehilangan seluruh dunianya. Hari ini ia tampak seperti seseorang yang sedang membangun kembali dirinya dari nol. Pagi itu Kanisha mengenakan sebuah A-Line Midi Dress berwarna biru muda yang membalut tubuhnya dengan elegan. Potongan gaun itu sederhana namun mewah, bagian pinggangnya membentuk siluet tubuh yang anggun sementara rok midi yang jatuh hingga betis memberikan kesan feminin sekaligus berkelas. Kainnya bergerak pelan mengikuti langkahnya dan membuat penampilannya terlihat semakin elegan. Rambut panjang hitamnya yang semalam kusut kini telah tertata rapi. Ia membiarkannya terurai dan membuat rambut itu jatuh dengan lembut di kedua bahunya, membingkai wajah cantiknya dengan sempurna. Make-up tipis menghiasi wajahnya, tidak berlebihan hanya cukup untuk menghilangkan kesan lelah yang masih tersisa.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rendra dan Dahlia seperti melihat Kanisha yang dulu. Bukan Kanisha yang hidup untuk Arven, bukan Kanisha yang selalu menundukkan kepalanya demi mempertahankan cinta, melainkan Kanisha Rayya Shanika, putri keluarga Winata, wanita muda kaya, berpengaruh, berpendidikan tinggi dan disegani banyak orang. Kanisha melangkah masuk ke dalam ruang makan dengan tenang. Senyuman kecil menghiasi wajahnya.
"Pagi, Pa."
"Pagi, Ma."
Dahlia hampir menangis melihatnya, ia bahkan tidak sadar matanya mulai berkaca-kaca.
"Ya ampun sayang," Bisiknya pelan yang membuat Rendra tersenyum. Senyuman yang sejak tadi tidak muncul. "Kamu kelihatan jauh lebih baik dan cantik sekali."
Kanisha menarik kursi lalu duduk.
"Kanisha memang harus jadi lebih baik, ma. Kalau tidak, bagaimana bisa Kanisha membalas semua penderitaan yang selama ini Kanisha terima?"
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️