“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”
Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Lumayan lah
Beni menggenggam joran Baja Karbon Samudra barunya dengan penuh percaya diri. Senjata barunya itu terasa menyatu dengan aliran darahnya.
Begitu senar pancing sutra laba-laba mistis dilemparkan ke dalam lautan berkabut, sensasinya langsung terasa berbeda. Joran itu bergetar hqlus, mengirimkan sinyal tak kasat mata dari riak air di bawah sana langsung ke telapak tangan Beni.
"Ayo, berikan aku tantangan yang sesungguhnya!" tantang Beni pada kegelapan malam.
ZRRRRTTT!
Tak butuh waktu lama, umpan langsung disambar. Namun, begitu Beni menarik jorannya, perlawanan di bawah sana tidak sebrutal Ikan Arus Perak sebelumnya.
Berkat fitur Isolasi Energi dan kekuatan fisik dari joran barunya, Beni dengan mudah mendominasi pertarungan. Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, seekor ikan bersisik hijau terang dengan sirip menyerupai daun melompat ke atas dek.
DING!
[Anda berhasil menangkap: Ikan Alga Hijau (Spiritual Rendah)! Nilai jual: 15 Emas.]
Beni mendengus pelan. "Ah, baru juga pemanasan sudah menyerah. Cuma dapat tingkat rendah lagi."
Ia melemparkan kembali kailnya. Malam itu, lautan misterius seolah sedang mempermainkannya.
Beni terus-menerus mendapatkan tarikan, tetapi sebagian besar yang menyangkut di kailnya hanyalah ikan-ikan spiritual tingkat rendah.
Ada Ikan Lumpur Berbatu yang tubuhnya keras seperti semen, ada pula Ikan Transparan yang hampir tak terlihat jika tidak memancarkan energi redup. Semuanya berhasil ditumbangkan Beni dengan mudah tanpa perlawanan yang berarti.
Barulah ketika jam menunjukkan pukul tiga pagi, laut kembali bergolak dahsyat. Joran Baja Karbon milik Beni melengkung tajam. Dua ekor Ikan Spiritual Level 1 sejenis Ikan Tombak Hitam yang memiliki moncong setajam belati menyerang secara bergantian.
Pertarungan kembali menjadi sengit. Ikan-ikan itu melesat membelah air, mencoba memotong senar pancing Beni dengan moncong mereka. Namun, tali senar sutra laba-laba mistis membuktikan kualitas harganya, yali itu tetap tegang dan tidak tergores sedikit pun.
Beni memanfaatkan fleksibilitas jorannya untuk meredam terjangan mereka, melelahkan kedua ikan tersebut di dalam air sebelum akhirnya menyeret mereka naik ke atas dek satu per satu dengan sentakan profesional.
DING!
[Anda berhasil menangkap: 2x Ikan Tombak Hitam (Spiritual Level 1)! Total Nilai Jual: 160 Emas!]
Beni menyeka keringat di dahinya, lalu duduk bersandar di kursi kemudi sambil memandangi tumpukan ikan hasil tangkapannya malam ini di dalam ruang penyimpanan sistem.
Selain dua ikan level 1, ada belasan ikan spiritual tingkat rendah yang terkumpul.
Melihat tumpukan ikan yang melimpah itu, sebuah pemikiran tiba-tiba melintas di kepala Beni. Ia teringat rasa tumis rumput laut bercahaya yang ia masak sore kemarin, rasanya yang lezat dan efek memulihkan energi yang luar biasa.
"Kalau dipikir-pikir... ikan-ikan ini punya energi spiritual yang murni. Daging mereka pasti jauh lebih lembut, gurih, dan sehat daripada ikan biasa di duniaku," Beni bergumam, matanya berbinar-binar. "Kalau aku cuma menjual mereka mentah-mentah ke sistem, aku memang dapat emas. Tapi kalau aku mengolahnya menjadi makanan mewah dan membuka restoran sendiri di kota... keuntungan yang didapat pasti akan berlipat ganda! Orang-orang kaya di kota pasti rela membayar mahal untuk makanan yang bisa membuat tubuh mereka kembali bugar secara instan."
Ide untuk membuka restoran mandiri mulai mengakar kuat di benak Beni. Sembari memikirkan konsep menu dan lokasi yang strategis di kota, ia memutar kemudi perahunya dan perlahan bergerak pulang membelah kabut yang mulai menipis seiring datangnya fajar.
Matahari pagi mulai naik, memancarkan kehangatan yang membakar sisa-sisa embun di Desa Kerang Biru. Perahu nelayan tingkat 1 milik Beni bersandar dengan mulus di dermaga sunyi.
Beni melangkah turun dengan tubuh yang digerogoti rasa kantuk yang teramat sangat.
Menghabiskan semalaman penuh bertarung di lautan mistis membuat energinya terkuras habis. Yang ia inginkan saat ini hanyalah tidur di ranjangnya yang nyaman.
Namun, langkah kaki Beni terhenti tepat beberapa meter di depan rumah kayunya.
Di teras rumah, duduk seorang wanita dengan pakaian yang tampak sedikit kusut. Rambutnya yang biasanya ditata rapi kini dibiarkan agak berantakan. Wajah cantiknya pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang bengkak seperti habis menangis semalaman.
Itu Serena.
Mendengar suara langkah kaki Beni di atas tanah kering, Serena langsung mendongak.
Begitu melihat sosok Beni yang berjalan dengan joran pancing mahal di bahunya dan aura tubuh yang tampak jauh lebih tegap serta berwibawa, tatapan Serena berubah menjadi campuran antara rasa bersalah, kesedihan, dan harapan yang rapuh.
Serena bangkit berdiri dengan perlahan, meremas ujung bajunya sendiri dengan gugup. "B-Beni... kau baru kembali melaut?" suaranya terdengar serak dan bergetar.
Beni menghentikan langkahnya, menatap wanita yang pernah ia cintai itu dengan pandangan yang sedingin es. Tidak ada lagi rasa iba, tidak ada lagi kehangatan di matanya. Hanya ada kekosongan.
"Ngapain lagi kau ke sini?" tanya Beni dingin, suaranya datar tanpa penekanan emosi. "Bukankah kemarin kau bilang mau mengurus perceraian ke rumah orang tuamu? Kenapa pagi-pagi begini sudah duduk di depan rumahku seperti gelandangan?"