Ainun yang sudah berusia senja, harus mengurus Alif—cucunya—yang tingkat kenakalannya luar biasa. Beberapa kali dia dipanggil ke sekolah karena Alif membuat ulah. Meskipun begitu Ainun sangat menyayangi cucunya itu.
Hingga suatu hari datanglah murid baru dari kota yang ternyata cucu dari Malik, yang merupakan mantan kekasih Ainun. Perasaan tidak enak dan canggung pun membuat keduanya bingung harus bagaimana. Namun, tanpa disadari semua itu adalah awal dari cinta lama yang kembali hadir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Kata-kata Alif tadi siang terus terngiang di telinga Ainun. Bukan dia tega pada Malik, tapi dirinya tidak punya pilihan selain menolak. Sejujurnya Ainun pun juga masih memiliki perasaan itu. Namun, tidak sebesar dulu. Mungkin karena sudah terlalu lama berpisah.
Dia juga tidak mungkin menikahi sekarang. Usianya yang sudah tidak seperti ini dulu, sangat memalukan jika dipandang orang sekitar dan keluarganya. Saat ditinggal oleh sang suami saja Ainun tidak pernah kepikiran untuk menikah lagi, apalagi sekarang, apa kata anak dan menantunya nanti jika tahu jika dirinya akan menikah.
Ini semua karena Alif yang sudah meracuni pikirannya. Entah dari mana cucunya itu jadi bisa berpikir demikian. Pasti ada satu alasan di baliknya. Dia sudah sangat mengenal Alif, pasti di baliknya ada sesuatu yang menguntungkannya.
Ainun membuang napas panjang. Kenapa Malik hadir sekarang, disaat seperti ini? Kenapa tidak dari dulu saja, tapi bukankah dulu dirinya yang menghindar dan pergi dari kehidupan pria itu. Dia melakukan semua itu juga demi kebaikan Malik, siapa yang menyangka jika pria itu akan lebih memilih untuk pergi meninggalkan keluarganya.
"Oma, kenapa melamun? Lagi mikirin Opa Malik, ya?" goda Alif sambil memasuki kamar omanya.
"Siapa yang melamun? Oma lagi rindu papa dan mamamu. Mereka sepertinya sibuk sekali, sampai lupa sama Oma. Beberapa hari ini mereka tidak menghubungi Oma," kilah Ainun beralasan.
"Tadi siang Mama kirim pesan ke aku, katanya memang ada beberapa pekerjaan yang harus segera selesai agar nanti bisa pulang. Mama dan papa maunya liburan pulang ke sini."
"Memangnya boleh? Tahun kemarin saja mereka tidak bisa pulang karena banyak kerjaan."
"Nah, itu dia! Makanya sekarang Papa dan Mama pengennya kerjaan segera selesai. Kalau perlu lembur."
"Baguslah kalau mereka bisa pulang, tapi bilang sama mereka jangan sampai karena mengejar pekerjaan sampai lupa kesehatan."
"Iya, Oma. Aku juga sudah bilang agar mereka jaga kesehatan."
"Oma, memang merindukan mereka, tapi Oma nggak mau mereka kenapa-napa."
Alif menganggu badan mengajak omanya keluar untuk mengalihkan pembicaraan. "Oma, kita makan malam di luar yuk! Sudah lama kita nggak jalan-jalan."
"Tumben kamu ngajakin Oma makan di luar? Biasanya kamu pergi sama teman-temanmu, mana ingat sama Oma," tanya Ainun dengan memandang curiga ke arah cucunya.
"Oma mah begitu, kalau diajak dibilang tumben, kalau nggak diajak ngomel terus, katanya aku ini lupa sama Oma, gimana sih! Aku 'kan juga harus mengimbangi antara pergi dengan teman-teman dan juga keluarga agar tidak ada saling iri satu sama lain."
"Iya, iya, Oma mengerti. Ya sudah, Oma juga kebetulan belum masak, ayo kita pergi!"
"Oma nggak ganti baju, Mau pakai begini saja?" tanya Alif sambil melihat omanya hanya memakai gamis rumahan. Memang tidak buruk, tapi bagi Alif terlalu sederhana.
"Memangnya kenapa dengan gamis ini? Ini juga bagus, kok."
"Cari gamis lain lah Oma, yang lebih cantik. Oma juga jangan lupa pakai make up."
"Kamu ini sebenarnya mau ngajakin Oma ke mana? Pakai make up segala. Oma ini sudah tua, kamu jangan aneh-aneh."
"Aku ini masih muda, Oma. Ngajakin Oma keluar juga harus yang cantik dan kece. Aku nggak akan aneh-aneh kok, Oma. Malu kalau nati ketemu teman-teman di luar. Cepetan ganti atau mau aku carikan gamisnya?"
"Nggak usah, Oma bisa sendiri. Kamu keluar sana! Oma mau ganti dulu."
"Oke. Aku tunggu di bawah ya, Oma."
Alif pun segera berlalu dari sana, sementara Ainun hanya menggelengkan kepalanya. Dia terpaksa harus mengganti gamisnya. Padahal gamis yang dipakai saat ini juga cukup bagus. Mereka juga pergi sekedar untuk makan malam di sebuah restoran berdua saja. Namun, Ainun ingin mengecewakan cucunya jadilah dia pun terpaksa berganti baju.
Di ruang keluarga, Alif mengirim pesan pada Fajar agar pergi bersama Malik ke restoran. Dia sudah merencanakan ini sejak tadi siang. Nanti dirinya tinggal pura-pura saja tidak sengaja bertemu di restoran. Kalau nanti omanya marah atau tidak, setidaknya dia sudah berusaha untuk mempertemukan mereka, selebihnya tinggal bagaimana usaha pria itu menaklukkan omanya.
"Ayo, Alif! Oma sudah siap," ujar Ainun yang baru saja keluar dari kamar.
"Ayo, Oma! Sopir juga sudah menunggu di depan."
"Tumben kamu nggak ngajak Oma bawa motor kamu."
"Nggak mungkinlah! Oma 'kan juga sudah dandan secantik ini, pakai gamis lagi. Lagi pula kalau aku maksa Oma naik motor juga pasti Oma nggak akan mau pergi keluar."
"Baguslah kalau kamu mengerti. Ayo, kita pergi! Kamu maunya seperti restoran mana?" tanya Ainun sambil berjalan diikuti oleh Alif menuju mobil yang sudah disiapkan sopir.
"Kita ke resto yang lagi viral ya, Oma. Aku penasaran dengan rasa makanan yang ada di sana. Kalau ke restoran biasa, aku sudah bosan."
"Terserah kamu saja, tapi makanan di sana tidak ada yang aneh 'kan? Kamu tahu perut Oma tidak bisa diajak kompromi."
Ainun memang tidak memiliki alergi apa pun, tapi jika menu masakannya kurang matang, apalagi setengah matang pasti perutnya akan sakit. Dia paling tidak bisa makan sushi, terutama jika ada ikan salmonnya, sudah pasti perutnya akan menolak.
"Tenang saja, Oma, di sana menunya tidak ada yang aneh kok, ada juga ikan gurame dan ayam goreng. Tidak lupa juga ada bermacam-macam sambal, Oma mau pilih menu apa terserah di sana nanti. Malam ini Oma puas-puasin makannya, pilih kesukaan Oma, jangan ditahan-tahan."
"Kamu yang traktir nih?"
"Beres, Oma tenang saja," sahut Alif dengan senyum penuh misteri.
Ainun jadi merasa curiga. Tiba-tiba saja perasaannya tidak enak, dia yakin jika cucunya sedang merencanakan sesuatu, tapi apa? Dirinya merasa tidak ada sesuatu yang cucunya inginkan, tapi kenapa seolah ada sesuatu di balik rencananya.
"Alif, kamu benar punya uang?" tanya Ainun kembali untuk meyakinkan hatinya.
"Oma meragukanku?"
"Bukan apa-apa, tabungan kamu 'kan sudah dibekukan kedua orang tuamu. Uang saku pun juga Oma kasih pas-pasan setiap harinya. Dari mana kamu dapat uang? Ayo, coba jujur sama Oma, kamu tidak membuat masalah yang baru, kan?"
"Oma ini suudzon terus. Aku ini 'kan anak yang baik dan pandai menabung. Bisa-bisanya Oma berburuk sangka kepada cucunya sendiri. Pokoknya malam ini Oma cukup makan dengan tenang. Ada apa pun di meja, Oma makan saja, tidak perlu ditahan."
"Kamu paling bisa merayu. Kamu tidak akan mungkin mengeluarkan biaya sendiri sebanyak ini. Kamu saja tidak punya uang, tabunganmu sudah disita kedua orang tuamu."
"Iya, memang benar tapi Oma tidak perlu khawatir soal makanan. Nanti juga akan terbayar sendiri."
Bukankah Malik akan datang bersama Fajar. Pria itu tidak mungkin membiarkan dirinya dan sang oma membayar. Ainun sendiri sebenarnya juga sudah merasa curiga, tapi dia ikuti saja keinginan cucunya. Kalau nanti Alif tidak punya uang, dirinya juga masih bisa untuk membayarnya.
Mobil yang ditumpangi Ainun dan Alif akhirnya sampai juga di sebuah restoran. Keduanya mencari tempat duduk yang nyaman dan tenang. Ainun memesan makanan kesukaannya sendiri. Alif menyerahkan pesanannya pada sang oma agar memilihkannya, sementara dirinya sibuk berkirim pesan dengan Fajar memberi informasi di mana kini dia dan omanya berada.
ceritanya baguuuuss,,, aluuuurrrnnnyyaaa aku suka bangeeettttt,,,,, 😍😍😍😍
novelnya baguuuuss,,,, alur ceritanya juga bagussss,, aku suka😍