NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pintu yang Terbuka Perlahan

Pertanyaan dari Mutia yang begitu tiba-tiba terasa seperti hantaman yang membuat seluruh rongga dada Rana mendadak senyap. Kamar mess sempitnya itu seolah kehilangan pasokan udaranya selama beberapa detik.

"Jadi, kamu sudah pacaran dengan Pradika?" Mutia mengulang pertanyaannya, memastikan pendengarannya tidak salah menangkap informasi yang di dapat suaminya dari kantor HRD.

Rana merasa lidahnya benar-benar kelu. Tenggorokannya yang masih agak kering pasca-sakit membuat kata-katanya tertahan di pangkal lidah. Pada akhirnya, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan, sebuah gerak penolakan yang tampak ragu di mata Mutia.

"Kenapa menggeleng? Orang dealer itu jauh lebih menjanjikan, Na. Kalau dibandingkan dengan orang-orang seperti Mas Rintamu ini, tidak ada apa-apanya." jelas Mutia panjang lebar tanpa jeda, tangannya bergerak merapikan letak duduknya di tepi kasur.

"Jenjang karier mereka itu tidak terbatas karena sistemnya di bawah naungan distributor utama di Jakarta. Di mana pun ada unit alat berat mereka yang beroperasi, mau di tambang emas, nikel, bahkan proyek pembangunan di luar pulau pun, mereka tetap bisa bekerja dan dibutuhkan. Berbeda dengan posisi Mas Rinta yang sangat bergantung pada keberlangsungan dan umur cadangan batubara di site. Kalau konsesinya habis, ya selesai. Kecuali mau dimutasi."

Rana menarik napas dalam-dalam, mencoba meluruskan kesalahpahaman yang tampaknya sudah telanjur bergulir terlalu jauh di kepala kakak sepupunya.

"Mas Pradika mengatakannya semata-mata hanya untuk melindungiku malam itu, Mbak. Tidak lebih dari itu. Dia butuh alasan agar dokter klinik dan orang-orang personalia tidak mempertanyakan kehadirannya yang menyelamatkanku dan juga menjagaku di klinik."

Mutia mengulas senyum tipis, sebuah senyuman sarat pengalaman seorang wanita yang sudah matang dalam urusan asmara. Ia menatap Rana dengan pandangan geli.

"Rana, dengarkan Mbak. Laki-laki di tempat perantauan yang keras seperti ini tidak akan cukup bodoh untuk pasang badan, mengepalkan tinju, dan menjadi tameng hidup untuk seorang perempuan secara gratisan kalau tidak ada motif emosional. Sepertinya Pradika memang ada rasa kepadamu, Na."

"Jangan bercanda, Mbak," sahut Rana cepat, wajahnya mendadak memanas, rona merah tipis menyelinap di balik kulit pucatnya. Ia memalingkan wajah ke arah jendela nako yang tertutup.

"Apa yang bisa disuka oleh pria seperti Mas Pradika dari orang sepertiku? Aku tidak punya apa-apa."

Melihat kerendahan diri adiknya yang sudah berada di taraf tidak sehat, Mutia menggeser duduknya hingga benar-benar merapat. Ia menggenggam kedua telapak tangan Rana yang terasa dingin, lalu menatapnya dalam-dalam dengan binar mata penuh ketulusan.

"Rana, kamu itu cantik. Dengarkan Mbak, kamu itu aslinya jauh lebih cantik dan manis dibandingkan dengan Rani," kata Mutia, menyebut nama adik kandung Rana di Bojonegoro dengan nada penuh penekanan.

"Hanya saja, selama ini kamu tidak pernah diberikan kesempatan atau modal untuk memoles penampilanmu sendiri. Kamu selalu dipaksa mengalah. Selain fisik, kamu itu juga baik hati, sopan, pengertian, cekatan dalam bekerja, dan masih banyak lagi kelebihanmu yang tidak kamu sadari. Laki-laki yang punya mata jeli, mereka tidak akan buta melihat itu semua, Na. Mungkin saja Pradika melihat mutiara terpendam di dalam dirimu dan dia jatuh cinta."

Mendengar kata 'baik hati' dan 'pengertian' meluncur dari bibir Mutia, Rana justru merasakan seulas rasa miris yang getir di dalam ulu hatinya. Di dalam kamus hidupnya selama tumbuh besar di bawah tekanan Bu Retno, sebutan 'baik hati' dan 'pengertian' bukanlah sebuah pujian yang membanggakan. Bagi Rana, dua kata itu adalah eufemisme dari fakta bahwa dirinya adalah sosok yang gampang ditindas, mudah disetir, dan selalu bisa dikorbankan demi kenyamanan orang lain.

Mutia yang bisa membaca kilat trauma di mata Rana segera meremas lembut jemari adiknya, mencoba menyalurkan kekuatan positif.

"Rana, jujur... Mbak justru sangat berharap apa yang Pradika katakan kepada orang personalia itu bisa menjadi kenyataan suatu hari nanti," kata Mutia tanpa tedeng aling-aling.

"Kata Mas Rinta setelah bertanya-tanya ke anak-anak workshop, Pradika itu statusnya masih single tulen dan selama bekerja di berbagai site belum pernah kedapatan dekat atau bermain-main dengan perempuan manapun. Rekam jejaknya bersih. Dia bahkan rela melindungimu dengan mempertaruhkan nama baik dan posisinya di depan manajemen. Baik dari segi finansial maupun attitude, Pradika adalah pria yang sangat ideal untuk menjadi pendamping."

Mutia memberi jeda sesaat, memberikan ruang bagi Rana untuk mencerna setiap kalimatnya.

"Tapi, ya, semuanya tetap kembali kepada keputusan hatimu sendiri, Na. Jika kamu memang merasa tidak cocok atau terganggu, kalian berdua harus segera mencari waktu yang tepat untuk menyelesaikan kebohongan ini dengan baik-baik. Karena kalau dibiarkan, cap sebagai 'pacar Pradika' akan terus melekat kepadamu selama kamu bekerja di site ini."

Rana menatap mata jernih Mutia yang masih menyisakan garis kemerahan setelah menangis tadi. Jika ia menggunakan logikanya, ia mungkin akan seratus persen setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mutia.

Pria seperti Pradika adalah penyelamat, sebuah pelabuhan yang aman bagi siapa saja. Hanya saja, terlalu banyak pertimbangan rumit, rasa tidak percaya diri yang akut, serta bayangan tuntutan materi dari ibunya yang bergelayut di benaknya, membuat Rana tidak berani menjanjikan atau mengatakan apa pun. Ia memilih untuk tetap bungkam.

"Sudah, jangan terlalu dipikirkan sampai membuatmu pusing lagi," kata Mutia, mendadak mengubah topik pembicaraan demi mencairkan atmosfer ruangan yang kembali tegang.

Ia tidak mau Rana terlalu terbebani dengan urusan asmara di saat kondisi fisiknya masih dalam pemulihan.

"Kamu masih punya jatah libur cuti sampai besok kan? Ayo menginap ke rumah Mbak! Di sini terlalu sumpek."

Rana menatap sekeliling kamarnya yang terasa pengap, lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju. Berada di rumah Mutia setidaknya akan menjauhkannya dari atmosfer mess yang sempat membuatnya trauma.

Segera, Mutia membantu Rana mengemas beberapa potong pakaian ganti dan keperluan mandi ke dalam tas ransel kain miliknya. Sementara itu, Mas Rinta yang sudah menunggu di luar kamar, segera bersiap di balik kemudi mobil operasional double cabin milik divisi Operation begitu melihat istri dan adik sepupunya keluar dari lorong mess.

Mobil melaju perlahan membelah jalanan tanah berbatu di dalam area mess. Pemandangan pergerakan mobil itu ternyata tidak luput dari perhatian Pradika, yang kebetulan baru saja melangkah keluar dari area kantin dengan selembar kertas catatan teknis di tangannya.

Hari ini, Pradika kebetulan mendapatkan tugas Preventive Maintenance (PM) untuk unit genset raksasa yang menyuplai listrik ke seluruh area mess karyawan. Sebenarnya, setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia berniat untuk mampir ke kamar Rana sekadar menjenguk dan memastikan kondisi gadis itu.

Namun, melihat Rana berjalan masuk ke dalam mobil operasional bersama Mutia, Pradika mengurungkan niatnya. Ia sudah bisa menebak dengan akurat siapa yang membawa Rana pergi.

Pradika tersenyum tipis, merogoh saku celananya, lalu mengetikkan sebuah pesan singkat di aplikasi WhatsApp.

Mas Pradika: Semoga harimu menyenangkan, Rana. Tetap jaga kesehatanmu.

Pesan singkat itu dikirimkan Pradika tepat sebelum ia membalikkan badan dan berjalan ke arah mobil untuk kembali ke workshop, dengan langkah yang terasa lebih ringan.

Rana baru melihat pesan dari Pradika setelah dirinya selesai membersihkan diri dan berganti pakaian santai di kamar Mutia. Setelah mandi dengan air hangat yang disiapkan Mutia, Rana merasa tubuhnya jauh lebih segar, meskipun sisa-sisa rasa lemas itu masih ada.

Ia duduk di tepi ranjang, menyalakan layar ponselnya yang kini sudah terisi penuh dayanya. Begitu membaca satu baris kalimat dari Pradika yang masuk sekitar satu jam yang lalu, dada Rana kembali berdegup dengan irama yang sedikit tidak beraturan. Ada rasa hangat yang aneh merayap di hatinya.

Ia menimbang-nimbang jarinya di atas papan ketik virtual selama beberapa saat sebelum akhirnya membalas.

Rana: Terima kasih banyak, Mas. Kamu juga.

Rana mengira balasan darinya hanya akan dibaca saja atau mendapatkan balasan beberapa jam kemudian mengingat jam kerja mekanik yang biasanya sangat padat. Namun, dugaannya meleset total. Hanya dalam hitungan detik, ponsel di genggamannya bergetar kembali, menampilkan balasan baru dari pria itu.

Mas Pradika: Tidak ada kamu di area admin Warehouse hari ini, rasanya ada yang kurang.

Rana menatap layar ponselnya dengan mata berkedip beberapa kali. Kalimat itu terasa terlalu blak-blakan untuk ukuran hubungan mereka yang belum jelas arahnya. Jantungnya berdesir kencang. Ia mencoba menenangkan diri dan membalas dengan kalimat seformal mungkin demi menjaga batasan.

Rana: Masih ada rekan-rekan admin yang lain di sana, Mas. Ada Mas Budi dan Kak Dino juga.

Respons dari Pradika kali ini datang tidak kalah cepat, seolah pria itu tidak melepaskan ponselnya hanya untuk menunggu balasan dari Rana.

Mas Pradika: Tapi mereka semua laki-laki, Rana. Bosan dan bikin mata buram.

Rana seketika terdiam di tempat duduknya, menatapi baris kalimat terakhir itu dengan bingung dan gugup. Sudut bibirnya tanpa sadar berkedut, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat samar. Ia benar-benar bingung dan kehabisan kata-kata harus menjawab apa untuk membalas godaan halus yang dilancarkan oleh Pradika.

Akhirnya, setelah semenit berpikir tanpa hasil, Rana memutuskan untuk meletakkan ponselnya kembali di meja nakas, memilih untuk tidak membalas lagi pesan tersebut demi keselamatan kerja jantungnya sendiri.

Sementara itu, di sudut ruang toolroom workshop yang berjarak beberapa kilometer dari sana, Pradika menatapi layar ponselnya yang kini hanya menampilkan status terbaca tanpa ada tanda-tanda balasan dari Rana.

Pradika tidak marah. Ia justru meletakkan ponselnya kembali ke dalam saku baju kerjanya sambil tertawa kecil, sebuah tawa renyah yang membuat Pangki yang sedang membersihkan kunci pas di sebelahnya menoleh dengan kening berkerut heran.

Pradika tahu betul, gadis pendiam seperti Rana tidak akan mudah menanggapi godaan singkat seperti itu, dan reaksi diamnya justru terasa sangat menggemaskan di mata Pradika. Langkah pertamanya untuk mengejar gadis itu berjalan lancar.

1
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!