NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16

Reigan menghentikan gerakan pisaunya selama satu ketukan kecil. Matanya menyipit, menatap profil samping wajah Hana yang sedingin marmer. Pertanyaan itu terdengar kasual, namun bagi seorang Douglas, tidak ada hal yang benar-benar kebetulan di dunia ini.

"Belum pernah?" Reigan mengulang dengan nada rendah, separuh bergumam. Ia kembali mengiris daun bawang dengan ritme yang konstan dan presisi. "Tapi caramu menatapku sejak malam pertama kita bertemu... seolah-olah kau sudah menghafal setiap sudut dari wajahku."

Hana tidak berkedip. Ia tetap melipat tangan di dada, bersandar pada piringan konter dapur yang dingin. "Bukan hanya dirimu, aku menghafal struktur wajah semua orang yang berpotensi memotong leherku saat aku lengah."

Reigan mendengus pelan, sebuah tawa kering. "Jadi dalam otakmu hanya mengawasi orang-orang?" Nada mengejek sangat kental.

"Makanan harus segera siap. Jadi lebih baik selesaikan itu," tunjuk Hana.

Reigan tidak langsung bergerak. Ujung pisaunya tertahan di atas talenan kayu, tepat di atas irisan daun bawang terakhir. Ia melirik Hana dari sudut matanya—mengamati bagaimana wanita itu bahkan tidak mengoreksi nada mengejeknya barusan. Hana justru mengalihkan fokus pada urusan domestik seolah-olah ancaman seorang Valerius tidak lebih penting daripada sup yang hampir dingin.

"Kau mengusirku dari dapurku sendiri?" tanya Reigan, suaranya merendah satu oktav, memberi penekanan pada setiap kata.

"Aku hanya mengingatkan tugasmu yang belum selesai, Reigan," sahut Hana datar. Matanya melirik jam dinding, lalu kembali pada talenan. "Sisa waktu tujuh menit sebelum supnya kehilangan rasa terbaiknya."

Reigan mendengus pelan. Sialan. Keberanian wanita ini benar-benar jenis keberanian yang tenang dan mematikan. Reigan meletakkan pisau dengan ketukan yang sedikit lebih keras dari sebelumnya, membiarkan bunyi logamnya menggema singkat di dapur yang sunyi. Ia melangkah mundur, memberikan ruang yang cukup bagi Hana untuk kembali mengambil alih pantry.

"Aku akan melihat seberapa pandai kamu memasak," ujar Reigan.

"Jadi menyerah menyelesaikan semua?" tanya Hana.

Reigan yang baru saja melangkah mundur langsung menghentikan kakinya. Rahangnya mengeras seketika. Pertanyaan datar Hana barusan tidak memiliki nada tinggi, namun bagi seorang Valerius, itu adalah sebuah provokasi telanjang yang langsung menyengat harga dirinya.

Pertanyaan yang dilemparkan dengan nada terlalu kasual itu seketika memicu isi kepala Reigan. Ia melangkah maju, memangkas jarak yang baru saja ia buat hingga dada bidangnya kembali mengurung tubuh Hana di depan meja konter. Jari-jari tangannya yang besar reflek mencengkeram pergelangan tangan Hana yang kurus.

Ekor mata Hana melihat tangannya yang dicengkeram oleh Reigan.

"Menyerah?" Reigan mengulang kata itu dengan suara yang begitu rendah, nyaris seperti desisan. "Tidak ada kata menyerah dalam kamus seorang Douglas, Hana. Terutama untuk hal yang sudah ku mulai."

Hana tidak bergerak mundur, meski embusan napas kasar Reigan menerpa keningnya. Keengganannya untuk tunduk justru semakin terlihat dari bagaimana matanya menatap lurus ke manik mata gelap pria itu tanpa getaran sedikit pun.

Reigan mengulurkan tangannya yang besar, melewati sisi pinggang Hana untuk kembali mencengkeram gagang pisau di atas talenan. Gerakan itu begitu dekat hingga kulit lengan mereka yang terbalut kain saling bergesekan, mengirimkan gelombang ketegangan fisik yang panas.

"Jika aku membiarkanmu mengambil alih sekarang, itu karena aku ingin tahu apakah bicaramu sebanding dengan rasa masakanmu," bisik Reigan tepat di depan wajah Hana, matanya berkilat berbahaya, separuh menantang, separuh terobsesi. "Bukan karena aku tidak bisa menyelesaikannya."

"Oke. Cukup. Lepaskan tanganku. Menjauh sejenak, lalu aku akan menyelesaikan ini," ujar Hana memutus ketegangan yang memuncak barusan.

Reigan tidak segera melakukannya. entah apa yang ada dalam benaknya. Pria ini hanya diam tidak bergerak dengan mata menatap Hana lama.

"Reigan?" tegur Hana dingin.

Tubuh Reigan bergerak melepaskan tangan Hana seraya menggeram. Lalu bergerak menjauh. Pria itu memilih duduk di kursi dan memperhatikan Hana dari jauh.

"Yah, itu lebih baik. Makanan akan siap sebentar lagi."

Begitu Reigan menjauh, ia langsung melangkah maju tanpa membuang waktu. Gerakannya sangat efisien; ia menyalakan kompor, memasukkan bahan-bahan yang sudah diiris Reigan ke dalam panci yang mengepul, dan mengaduknya dengan ritme yang konstan.

Sepuluh menit kemudian, kepulan uap beraroma gurih dan rempah segar memenuhi udara apartemen yang dingin.

Hana mematikan kompor. Dengan tenang, ia menuangkan sup daging itu ke dalam mangkuk porselen putih, lalu membawanya menuju meja makan bersama sepasang sendok dan garpu. Ia meletakkan mangkuk itu tepat di hadapan Reigan dengan gerakan yang rapi, tanpa menimbulkan denting sedikit pun pada permukaan meja kaca.

Reigan menatap mangkuk sup yang mengepul di hadapannya, lalu perlahan menunduk menatap sendok dan garpu yang tertata rapi tanpa cela. Ketukan kaku dari langkah kakinya sendiri saat menuju meja makan tadi masih terasa di udara, namun keefektifan Hana di dapur benar-benar membungkam sisa kejengkelannya.

"Makanlah. Sebentar lagi waktunya kamu berangkat," kata Hana sambil menyiapkan mangkuk dan alat makan.

"Aku tidak punya jam khusus untuk datang ke gedung Valerius."

"Aku tahu. Setidaknya seorang pemimpin harus bisa bersikap bertanggungjawab bukan?"

"Kau sedang mendikteku?"

"Tidak mungkin," dengus Hana. "Jangan terus mengajak berdebat. Aku hanya mencoba menjadi orang baik yang mengingatkan."

Kalimat Hana terus mengusik egonya. Perempuan ini terus masuk ke dalam hatinya untuk mengobrak-abrik.

Dari seberang meja, bola mata Hana terus mengamati Reigan. Melihat pria itu makan dengan lahap, ia yakin bahwa cara memasaknya sudah sesuai dengan standar pria ini. Seleranya ternyata tidak serumit yang diduga. Kepala Hana mengangguk tanpa sadar.

"Ada apa?" tanya Reigan, menghentikan sendoknya. Matanya menyipit tajam, mempertanyakan anggukan kepala itu.

"Apa?" Hana balas bertanya. Dia yang tidak merasa bahwa anggukan kepalanya ditemukan oleh Reigan, bingung.

"Barusan."

Kening Hana mengerut. "Aku tidak paham."

"Kamu menganggukkan kepala," tuntut Reigan, seolah tindakan Hana adalah bagian dari konspirasi yang harus ia pecahkan.

Oh, dia melihatnya?

"Oh itu." Ada senyum tipis. "Ternyata kamu mau makan apa yang aku masak."

Reigan mendengus pelan, kembali menyendok supnya, "Selama kamu tidak menaruh racun dalam makananku. Kenapa? Kamu senang?"

"Bukan. Setidaknya, aku juga bisa makan apa yang ingin aku makan. karena kemungkinan selera kita tidak sama. Makanlah, jika memang itu bisa membuatmu kenyang."

Reigan tidak menyahut lagi, namun rahangnya mengeras samar. Kalimat terakhir Hana terdengar begitu kasual, jenis perhatian praktis yang dilemparkan tanpa minat.

Namun, bagi pria yang terbiasa dikelilingi orang-orang yang mencari muka didepanya, cara Hana mengurusnya seolah ia hanyalah bagian dari rutinitas domestik yang harus diselesaikan benar-benar menyengat harga dirinya, sekaligus memicu rasa penasaran yang semakin berbahaya.

1
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
Riri
kayak horor punya suami kek Regan
Kusyanti Handayani
thorrr llamnnjuttt lah
E F
lanjuttttt thor dobleeeee🙏💪😍
E F
lanjuttt thor💪😍
Lady Ve: Terima kasih tetap baca.
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
Kusyanti Handayani
semangat ladyyyy lanjooootttt
E F
tq thor🙏😍
semangattttt
lanjutttt😄💪
Anonim
❤️❤️❤️
pawon ngebul
kakak othor pokoknya getar hrs update biar g getir nungguinya😩🥺🥺🥺🥺🙏🙏🙏🙏
Lady Ve: 🤣🤣🤣🤣. iya tenang ....
total 1 replies
Kusyanti Handayani
bikin bedebar hanaaaa
Kusyanti Handayani
lanjuttttt
Herlin
Hana..... Sangaaar
Lady Ve: 🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
E F
tq thor🙏😍
lanjuttt
smangattt💪😄
Lady Ve: Terima kasih😊
total 1 replies
E F
lanjuttt thor🙏😍dobleeee💪😄
Lady Ve: Siap. terima kasih sudah baca.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!