“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu yang Membara di Kamar Mandi 21+
Waktu Asar telah tiba. Kinanti memilih mandi dan menunaikan salat sebelum turun ke lantai satu.
Sang suami berpamitan keluar sebentar karena ada hal yang harus diurus. Setelah selesai mandi dan bersiap, Kinanti pun keluar kamar.
CEKLEK!
Meninggalkan kamar, gadis berbaju terusan bunga-bunga selutut itu menuruni tangga. Langkah kakinya terasa sangat pelan area bawah tubuhnya terasa perih. Sesekali ia meringis, tak menyadari ada yang memandangnya sambil mengulum senyum. Kaki mulusnya telah menapak di lantai satu. Mata beningnya menatap Ibu mertuanya yang menunggu di bawah. Ia merasa seperti baru keluar dari persembunyian karena sudah cukup lama tidak keluar kamar.
"Eh, Mbak Kinan sudah bangun!"
Mendengar namanya dipanggil, Kinanti menoleh ke sumber suara. Remaja itu menatapnya penuh semangat dan dengan cepat berlari menghampirinya yang masih berdiri sendirian di depan tangga.
"Mbak Kinan kok lama banget tidur siangnya? Abyan sampai kangen, lho, pengin ketemu dari tadi siang."
Wanita muda itu tersenyum gemas. Ia mengusap wajah adik iparnya yang manja.
"Mbak kecapekan, Dek. Maaf, ya," jawab Kinanti apa adanya.
Mendengar perkataan menantunya, sang Ibu mertua yang tiba-tiba datang terdengar terkekeh. Kinanti menatap Bu Sarasvati dengan senyum sungkan. "Ibu..."
"Tidak apa-apa, Ibu paham. Suamimu masih belum kembali, mungkin sebentar lagi, Nak. Kamu temani Abyan, ya. Kasihan dia dari tadi menunggu," goda Bu Sarasvati.
Kinanti dibuat kepalang malu saat mendengar ucapan Ibu mertuanya.
"Iya, Mbak. Ada Fara sama Ainur di depan," antusias Abyan.
Tanpa menunggu sahutan sang kakak iparnya, Abyan lekas membawa Kinanti ke depan. Kinanti berusaha sebaik mungkin mengimbangi langkah cepat adik iparnya.
"Abyan, pelan-pelan, Nak. Mbak Kinan hampir jatuh itu," tegur Ibunya, membuat Abyan nyengir dan memelankan laju langkah kakinya. Bu Sarasvati dibuat tersenyum lebar. Sebagai orang tua, beliau paham. Putranya tadi terlihat keramas, dan kini menantunya berjalan pelan, hampir terseok saat Abyan tak sengaja menyeret terlalu semangat. Aditya ternyata bergerak cepat, tidak menyempatkan pindah rumah saja setelah acara unduh mantu. Menantu cantiknya itu dieksekusi secepatnya. Tapi tak apa, Bu Sarasvati senang. Beliau antusias.
"OTW cucu pertama," gumamnya, tersenyum senang.
✦ ✧ ✦ ✧ ✦✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦
🌷 Cemburu yang Terbakar di Teras
"Tuh, lihat, Mbak, bagus, kan?!"
Kinanti duduk bersama Abyan, Fara putri tunggal Bu Winda dan juga Ainur putri semata wayang Bu Lita di teras rumah Bu Lita. Kinanti tampak senang bercengkerama dengan pemandangan bunga-bunga yang tertanam di sana, memanjakan mata beningnya. Candaan adik iparnya membuat bibir ranumnya tersenyum kecil.
"Mbak Kinan habis tidur siang, ya? Tadi aku kembali ke rumah Budhe tidak kelihatan Mbak Kinanti," ucap Fara, membuat Kinanti tersenyum malu mengingat apa yang terjadi tadi siang.
"Iya, aku saja saat pulang tidak melihat Mbak Kinanti, hanya ada Abang Aditya mengajakku makan," bukan Kinanti yang menjawab, melainkan Abyan.
"Oh, begitu. Acara kemarin melelahkan, ya? Aku saja melihat Mbak Kinan dan Bang Aditya di atas berdiri terus, salaman dengan para tamu, tidak bisa duduk tenang," ucap Fara, dibalas anggukan oleh Abyan dan Ainur.
Mereka larut dalam obrolan sederhana. Canda demi canda membuat Kinanti tak henti tertawa. Sadar jika sang suami belum juga pulang, ia ingin mengirim pesan. Namun, Kinanti lupa membawa ponsel saat turun. Kini ia hanya diam sambil sesekali menyahuti celotehan Abyan bersama para sepupunya. Tak disadarinya, sedari tadi banyak pasang mata yang memandangnya saat sedang melewati depan rumah Bu Lita. Aura wanita muda itu memang terpancar indah. Tubuh moleknya yang berisi, juga dress putih berhiasan bunga-bunga, nampak manis dan anggun. Para mata yang memandang dari jauh penasaran, siapakah gadis cantik itu.
"Besok Abyan juga pulang telat karena ada tugas kelompok. Nur, kamu mau barengan tidak pulang sekolah?" ucap Abyan.
"Boleh."
Di luar, Aditya sudah tiba di rumah sang Ayah. Memarkirkan mobil hitamnya di garasi. Turun dari mobil hitamnya, pria tampan itu menyugar rambut hitam tebalnya. Kaus hitam polos, celana, dan kalung berwarna emas menambah pesona pria matang dan mapan. Sesekali ia mengangguk singkat, membalas sapaan beberapa pekerja di sana.
Saat hendak masuk, ia mendengar panggilan dari seberang. Aditya melihat sang istri yang sedang duduk di teras bersama sang adik dan sepupunya. Tersenyum tipis, Aditya mempercepat langkahnya. Pria tampan itu ingin lekas menemui sang istri. Namun, ia sudah dihadang oleh Pak Wijaya yang datang. Agar tak terlihat kurang sopan, Aditya menyanggupi ajakan Ayahnya untuk mengobrol di teras rumahnya.
Iris mata hitamnya sesekali melirik sang istri yang terlihat sangat cantik sore ini. Bibirnya menyahuti semua obrolan ringan bersama sang Ayah. Sampai pada akhirnya, ada seorang pemuda yang mendekati sang istri—yang sedang berjalan ke arah rumahnya bersama sang adik—sambil membawa bunga dan memberikan bunga itu pada wanitanya.
*Sialan!* batin Aditya sontak mengeraskan rahangnya.
Ia menatap tajam pemuda yang ia tebak adalah salah satu pekerjanya yang baru, seperti perkataan Ayahnya barusan.
"Eh, tidak usah, Mas. Maaf," tolak Kinanti dengan halus.
"Buat Mbaknya. Dari saya, hehehe..." ucap pemuda itu sambil nyengir.
"Jangan, Mas. Yang punya nanti marah," ucap Abyan, memberikan peringatan.
"Halah, cuma kasih bunga saja, kok, Dek," ucap santai pemuda itu.
"Mohon diterima, ya, Mbak, hehehe," tambah pemuda itu. Mau tak mau Kinanti menerima.
Sayup-sayup Aditya mendengar percakapan singkat mereka. Godaan yang terdengar membuat dada Aditya bergemuruh hebat, menahan kecemburuannya. Pemuda tengil itu melempar senyum sok tampannya.
*Benar-benar! Tidak bisa dibiarkan!* batin Aditya menahan amarah.
"Loh, Aditya mau ke mana?"
Tanpa menjawab suara Ayahnya, Aditya langsung melangkah lebar mendekati sang istri. Kinanti yang baru sadar suaminya tiba pun langsung sumringah, namun senyuman itu langsung menghilang.
GREP!
Pinggangnya diraih oleh Aditya. Pria tampan itu tampak kesal bukan kepalang.
"Jangan aneh-aneh. Dia istri saya," ucap Aditya datar.
Setelah mengatakan itu, Aditya langsung menggiring sang istri masuk ke dalam rumah, tanpa menggubris semua tatapan mata di sana.
"Masalah baru lagi," gumam Pak Wijaya.
"Aditya sudah pulang?" Bu Sarasvati dan Bu Winda yang sedang sibuk di dalam terkejut dengan kepulangan putra sulungnya yang tiba-tiba. Bingung mendapati Aditya yang tampak marah.
"Loh, Aditya, ada apa, Nak?"
Tak menjawab sepatah kata pun, Aditya tiba-tiba menggendong sang istri dan menaiki anak tangga. Bu Sarasvati sampai melongo. Bu Winda menoleh kanan kiri, bertanya pada yang di luar ada apa, tapi semuanya diam. Ia berharap cemas, semoga Kinanti tak kenapa-napa di atas sana. Baru tadi melihat wanita muda itu menuruni tangga pelan-pelan, dan sekarang akan dieksekusi lagi.
✦ ✧ ✦ ✧ ✦✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦ ✧ ✦
🔥 Mandi Bersama di Bawah Amarah
Aditya membanting pintu kamarnya dengan sebelah kaki. Pria tampan itu tampak berapi-api, tak terima istrinya digoda di depan matanya sendiri.
"Mas," cicit Kinanti.
Diturunkan tubuhnya. Aditya tergesa membuka resleting dress Kinanti. Pakaian itu teronggok di lantai. Sialnya, bunga itu masih Kinanti genggam. "Mas, kok dilepas?"
Aditya memberi tanda diam, lalu langsung menggendong sang istri ala koala. Kinanti sontak mengalungkan tangannya di leher suaminya, takut jatuh. Kaki panjang Aditya berjalan menuju kamar mandi.
"Mau ke mana ini?" Kinanti mulai was-was. Tentu saja.
"Aku sudah mandi, Mas," peringatnya ketika sang suami mulai membuka pintu kamar mandi yang entah mengapa sekarang nampak mengerikan.
"Mandi lagi sama Mas."
"Tapi—"
Bibir Kinanti dibungkam oleh ciuman menggebu Aditya.
"Mas cemburu, Sayang."
CEKLEK!
Kamar mandi ditutup dari dalam, dan pintu terkunci.
"Mau ke mana?"
Sang istri berniat melarikan diri. Dengan cepat Aditya menahannya.
"Mas Adi, tenang, Mas. Aku—"
Keduanya kembali berpagutan. Pria tampan itu meraih pinggang sang istri yang hanya memakai pakaian dalam, mendorong sang istri ke dinding. Aditya melepas ciuman mereka sejenak dan melucuti pakaiannya sendiri. Menyalakan shower, keduanya basah seketika.
"Mas..." Kinanti ketar-ketir.
Seringai Aditya kembali hadir. Dengan cepat ia melempar bunga itu ke lantai kamar mandi yang basah. Aditya mendekat ke arah sang istri.
"Mas Adi..."
"Beraninya dia menggodamu, Sayang," geramnya tertahan.
Baru hendak Kinanti menyahut, bibirnya lagi-lagi diraup habis oleh sang suami. Kinanti memejamkan matanya. Mau lari pun ia tak bisa. Tubuh kekar sang suami sudah berada di depannya. Menjauhkan wajahnya sejenak, Aditya bernapas memburu di depan wajah sang istri. Tangan nakalnya sudah merambat untuk melucuti pakaian dalam sang istri.
"Mas, tunggu. Kita baru saja melakukannya tadi siang."
CUP!
Segala keraguan telah sirna, menyisakan dua raga yang kini tak lagi berjarak, terbakar oleh api gairah yang sama. Ia akan kembali menghajar istrinya di dalam kamar mandi. Kali ini, semakin mendorong sang istri ke dinding, Aditya mengangkat sebelah kaki Kinanti. Beringas sekali, sampai Kinanti dibuat menggeram tak karuan.
"arghh Maasshh..." Kinanti menahan diri karena Aditya menuntaskan segala kecemburuannya dalam satu penyatuan yang dalam, membuat Kinanti tak berkutik.
"Aakhhh!!" Kinanti memekik keras tak tertahankan.
Aditya kembali menghentak kuat. Deru napasnya berderu kencang. Pria tampan itu benar-benar terbakar gairah dan cemburu.
"Mas tidak akan berhenti, Sayang."
Keduanya kini menyatu dalam keintiman yang panas bersandar di dinding kaca. Kinanti berada di depannya, menempel dengan erat. Desahan Aditya. Kinanti tak menampik ia juga merasakan hal yang sama, meskipun diawali sedikit lebih kasar dan tergesa-gesa.
"Mashh...."
"Nikmat, hemmhh? Kamu milik Mas, Sayang. Hanya milik Mas. Siapa pun tak ada yang boleh memilikimu," suaranya berat dan tebal.
Aditya menggerakkan dengan cepat dan kuat. Kinanti mendesah. Tak jarang ia sampai memekik, gelombang rasa yang keluar di bawah sana. Bercinta sambil berdiri seperti ini gaya baru baginya, dan ini terasa lebih dalam. Aditya melakukannya dengan beringas, membiarkan gairah yang membakar menyatukan mereka dalam ritme yang tak terkendali.
"Maaasshh ahh..." Bibir Kinanti kembali dibungkam ciuman Aditya, yang tampak beringas.
"Mas tidak akan berhenti sampai amarah Mas reda, Sayang," Aditya menghentak kuat.
"Pelan-pelan, mashhh..."
Mengulum cuping telinga sang istri, Aditya tak mengindahkan rengekan Kinanti. Malah tubuh molek itu diangkat ke gendongan. Aditya membawa Kinanti ke puncak gairah dan mengabaikan protes kecil istrinya.
"Dalam banget, Mas Adiiihh."
Aditya menatap buas sang istri. Bibirnya menyeringai. Suara desahan, jeritan, geraman, juga rengekan di dalam kamar mandi sana terdengar sangat berisik, juga erotis. Aditya jika cemburu bukan main seramnya. Kinanti dibuat kewalahan tak karuan. Dalam satu hari saja, Aditya kembali menagih haknya untuk kedua kali hari ini.
Bersambung__
_____
VISUAL STYLE MBAK KINAN DAN MAS ADI😁