Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keruntuhan Menara Gading
Langkah kaki yang terseret dan denting rantai besi bergema di lorong-lorong gelap menuju perut bumi Keraton Amarta. Seno berjalan di depan dengan obor di tangan, sementara Ki Ageng Suro mengawasi dari belakang dengan tatapan yang sarat akan duka. Udara yang semula hangat dan harum di Bangsal Utama kini berganti menjadi hawa lembap, pengap, dan berbau karat.
Nastiti diseret paksa oleh dua pengawal Jagabaya. Begitu pintu sel besi yang berkarat terbuka, ia di dorong masuk ke dalam ruangan sempit berlantai tanah yang dingin. Pakaian beludru hitamnya yang mewah kini terkena noda debu, dan sanggulnya yang bertahta permata mulai berantakan.
“Lepaskan aku! Kalian tidak tahu siapa aku?!” Jerit Nastiti, jemarinya mencengkeram jeruji besi dengan tenaga yang gila. “Aku adalah calon Permaisuri kalian! Aku adalah darah biru Cakraningrat! Arya… Mas Arya pasti akan menyesal! Dia hanya sedang emosi!”
Nastiti memukul-mukul jeruji besi itu hingga tangannya memerah. Di dalam hatinya, tidak ada secuil pun rasa sesal. Yang ada hanyalah api amarah yang membara karena rencananya gagal di detik terakhir. Ia merasa dunia ini tidak adil karena memihak pada gadis desa itu, sementara dirinya yang sempurna harus mendekam di tempat yang hanya layak untuk binatang.
Berbeda dengan Nastiti yang histeris, Ibu Suri ditempatkan di sel yang berseberangan. Ia masuk dengan langkah yang masih dipaksakan tegak, meskipun batinnya hancur. Saat pintu besi berdentum menutup di belakangnya, ia menatap ke sekeliling ruangan yang hanya berisi dipan kayu tanpa alas dan sebuah lampu minyak yang redup.
“Hina…” desis Ibu Suri, suaranya parau. “Seorang Ibu Raja, diperlakukan seperti seorang pengkhianat negara. Darahku adalah darah murni, aku adalah penjaga tradisi leluhur!”
Ia duduk di atas dipan dengan kaku, menolak untuk membiarkan tubuhnya menyentuh dinding yang kotor. Baginya, ini bukan sekedar hukuman fisik, melainkan penghinaan terhadap seluruh garis keturunan bangsawan yang ia agung-agungkan. Ia merasa Arya telah melakukan dosa besar karena lebih memilih martabat seorang rakyat jelata daripada martabat ibunya sendiri.
“Kau telah membunuh ibumu sendiri, Arya,” gumamnya dalam kegelapan. “Kau telah menukar kemurnian istana ini dengan darah rendahan.”
Di sel paling ujung, Ningsih bersimpuh di sudut ruangan, memeluk lututnya. Ia tidak meronta, tidak juga mengumpat. Air matanya mengalir tanpa suara, membasahi lantai tanah. Ia tahu ia bersalah karena membiarkan rasa takut pada penguasa mengalahkan hati nuraninya.
“Maafkan hamba Nimas Sekar… maafkan hamba,” isaknya pelan. Ia tidak peduli akan gelap dan dinginnya penjara ini. Baginya, melihat Nimas Sekar tertidur dalam maut yang ia antarkan adalah penjara yang jauh lebih mengerikan daripada tembok batu manapun.
Seno berdiri di tengah lorong, menatap kedua wanita bangsawan itu dengan pandangan dingin. Ia memadamkan salah satu obor, membuat suasana semakin gelap.
“Nikmatilah kesunyian ini,” ucap Seno datar. “Di atas sana, rakyat yang kalian rendahkan sedang menyatukan kekuatan untuk membangunkan Nimas Sekar. Jika beliau bangun, kalian akan melihat betapa kuatnya cahaya yang kalian coba padamkan. Dan jika beliau tidak bangun…” Seno menjeda sejenak, membuat Nastiti terdiam ketakutan. “… maka kalian tidak akan pernah melihat matahari lagi selama sisa hidup kalian.”
Seno dan Ki Ageng berbalik, meninggalkan lorong penjara itu. Suara langkah mereka perlahan menghilang, digantikan oleh suara isak tangis Ningsih dan geraman amarah Nastiti yang menggila dalam kegelapan. Di bawah tanah keraton yang megah, kini tersimpan bangkai kesombongan yang sedang menunggu penghakiman akhir dari waktu.
Sementara itu, di atas sana, Arya kembali bersimpuh di samping Sekar, menanti sebuah keajaiban yang akan menentukan nasib semua orang di istana ini.