NovelToon NovelToon
Immortal Legacy

Immortal Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Misteri
Popularitas:43.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.

Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Gerbang Alam Rahasia

Ngarai Penegak Hukum seolah menahan napasnya. Udara dingin yang biasanya statis kini berputar dengan ritme yang mematikan.

Di sebuah pelataran batu bawah tanah yang luas, berdiri seratus delapan boneka kayu. Namun, ini bukanlah kayu biasa. Itu adalah Kayu Besi Hitam, material yang kekerasannya menyaingi baja murni. Setiap inci tubuh boneka tersebut dipenuhi duri-duri tajam yang mengkilap akibat lapisan racun pelumpuh saraf.

Tetua Mo Yin berdiri di atas sebuah balkon batu, menatap ke bawah dengan ekspresi tanpa emosi. Jarinya menyentuh sebuah cakram giok pengendali formasi.

"Di dunia luar, musuhmu tidak akan diam menunggu kau menyelesaikan Sutra Langkah Hantu," suara Mo Yin menggema di pelataran. "Formasi Boneka Pembantai ini dirancang untuk bereaksi terhadap fluktuasi Qi dan hawa panas tubuh. Semakin besar niat membunuhmu bocor, semakin cepat mereka mengoyakmu. Bertahanlah selama waktu membakar satu batang dupa."

Mo Yin menekan cakram giok tersebut.

KRAAAK! WUSSS!

Mata dari seratus delapan boneka kayu itu seketika menyala merah. Ruang bawah tanah dipenuhi oleh suara derit kayu dan logam yang membelah udara. Boneka-boneka itu tidak hanya bergerak maju-mundur, melainkan berputar, melesat, dan menyerang dari sudut-sudut mati layaknya barisan kultivator ahli.

Di tengah badai duri mematikan itu, Zeng Niu berdiri diam. Jubah hitamnya berkibar tertiup angin dari serangan pertama yang datang.

Sebuah lengan kayu berduri mengayun lurus ke arah pelipisnya dengan kecepatan setara kultivator Pengumpulan Qi Tahap 6.

Zeng Niu tidak menangkis. Ia memejamkan mata, memutar Sutra Langkah Hantu. Ia menarik napas dalam-dalam, mengompres Qi merah kehitaman dan hawa panas dari tubuh Penempatan Tubuh Tahap 5-nya ke dalam sumsum. Suhu tubuhnya anjlok.

Syuut!

Lengan kayu itu hanya menebas bayangan pudar. Zeng Niu telah melangkah mundur sejauh setengah tombak, kakinya menyentuh tanah tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun.

Namun, Formasi Boneka ini terhubung satu sama lain. Menghindari satu serangan berarti masuk ke dalam jangkauan tiga serangan lainnya. Tiga boneka melesat dari titik buta di belakang dan sampingnya.

Zeng Niu membungkuk ekstrem, nyaris sejajar dengan lantai batu, membiarkan duri-duri itu lewat satu inci di atas punggungnya. Ia lalu menggunakan tolakan ujung kakinya untuk meluncur seperti ular.

Di dalam Lautan Kesadarannya, Lei Ling mendecakkan lidah.

“Gerakanmu masih terlalu kaku, Semut! Kau terlalu mengandalkan otot fana-mu!” kritik sang dewi petir dengan angkuh. “Sutra Langkah Hantu menyuruhmu menjadi ketiadaan, tapi kau malah menjadi batu yang menghindar! Jika kau ingin menjadi hantu, jangan hindari serangannya. Lewati celah di antara niat serangan itu!”

Zeng Niu mendengar cemoohan itu, namun otaknya dengan cepat mengekstrak intisari dari ucapan arogan Lei Ling.

Melewati celah di antara niat. Boneka-boneka ini digerakkan oleh formasi yang membaca riak energinya. Jika Zeng Niu meledakkan Qi di kakinya untuk menghindar dengan cepat, formasi itu akan langsung mendeteksi lonjakan energi tersebut dan mempercepat serangan boneka lain.

Sebuah sabetan berputar dari dua boneka sekaligus mengincar leher dan pinggangnya.

Zeng Niu berhenti menekan Qi-nya secara kaku. Ia membiarkan Qi Bencananya menyebar tipis, meniru aliran udara alami di dalam ruangan tersebut. Saat duri beracun itu nyaris merobek kulitnya, ia tidak melompat. Ia mengalir. Tubuhnya meliuk dengan sudut yang sangat tidak wajar, mengikuti pusaran angin yang diciptakan oleh ayunan boneka itu sendiri.

Sret! Sret!

Beberapa duri berhasil menggores ujung jubahnya, meninggalkan garis merah tipis di pipi dan lengannya. Racun pelumpuh langsung mencoba menyusup masuk, namun Dantian berdarah Zeng Niu yang telah terbiasa menelan racun Teratai Jantung Darah hanya mencernanya layaknya camilan ringan.

Waktu berlalu. Setengah batang dupa. Tiga perempat batang dupa.

Kecepatan boneka kayu besi kini telah mencapai batas maksimal, menciptakan badai duri yang tidak menyisakan ruang gerak lebih dari selebar telapak tangan.

Mo Yin yang menonton dari atas balkon menyipitkan matanya. Ia bisa melihat transisi yang mengerikan pada muridnya. Awalnya, Zeng Niu menghindar dengan kekuatan fisik. Kini, pemuda itu benar-benar terlihat seperti asap. Ia berjalan menyusuri badai duri tanpa memancarkan setitik pun aura kehidupan. Tarian kematiannya begitu senyap, begitu dingin.

TENG!

Suara lonceng logam berbunyi, menandakan waktu satu batang dupa telah habis.

Mo Yin menghentikan formasi. Seratus delapan boneka kayu itu seketika membeku di tempat.

Zeng Niu berdiri di tengah pelataran. Napasnya teratur, matanya kosong. Beberapa sayatan dangkal menghiasi kulit abu-abuannya, namun tidak ada satu pun luka fatal. Ia telah memadatkan Sutra Langkah Hantu ke dalam insting dasarnya.

Mo Yin melompat turun dari balkon, mendarat tanpa suara di depan Zeng Niu. Pria pucat itu melemparkan sebuah botol porselen kecil.

"Salep Pendingin Sumsum. Oleskan pada lukamu," ucap Mo Yin datar. "Kau memiliki pemahaman tempur seorang monster. Tapi kau tidak bisa istirahat. Lonceng Puncak Surga baru saja dibunyikan."

Zeng Niu menangkap botol itu. "Apa artinya?"

"Artinya, masa damai penuh kepalsuan di akademi ini telah dihentikan sementara," Mo Yin berbalik, menatap ke arah pintu keluar ngarai yang gelap. "Akademi mempercepat pembukaan Alam Rahasia Darah Besi. Semua murid dari Pelataran Luar hingga Murid Dalam yang berada di bawah ranah Foundation Establishment diwajibkan masuk."

Mo Yin tersenyum sinis. "Secara resmi, mereka mengatakan ini adalah kesempatan emas untuk memanen ramuan spiritual berusia ratusan tahun dan mencari warisan kuno. Tapi kau dan aku tahu kebenarannya. Akademi sedang kehabisan 'bahan' untuk eksperimen di Lembah Hukuman. Mereka butuh darah segar, dan Alam Rahasia adalah pemotongan massal yang paling elegan."

Tepat saat itu, langkah kaki yang tergopoh-gopoh terdengar dari lorong batu. Bao Tuo berlari masuk dengan napas tersengal-sengal, wajah bundarnya bermandikan keringat dingin. Di belakangnya, Lin Xiaoyu melangkah cepat dengan raut wajah sangat tegang.

"S-Saudara Niu! Guru Mo Yin!" Bao Tuo langsung berlutut, nyaris menangis. "Pengumuman... pengumuman dari Aula Inti! Alam Rahasia Darah Besi dibuka tiga hari lagi! Hukum akademi menyatakan, siapa pun yang menolak masuk akan langsung dieksekusi atas tuduhan pembelotan!"

"Ini jebakan maut," Xiaoyu menimpali, suaranya sedikit bergetar. "Aku baru saja menyadap pembicaraan dari murid Paviliun Pedang. Alam Rahasia ini tidak pernah dibuka sepuluh tahun lebih cepat dari jadwal. Selain itu, kudengar sekte-sekte luar, termasuk Sekte Pedang Langit dan Sekte Iblis Darah, menekan akademi untuk membiarkan jenius mereka ikut masuk dengan dalih 'pertukaran persahabatan'!"

Zeng Niu menatap botol porselen di tangannya, matanya berkilat dingin. Faksi-faksi besar di luar akademi jelas belum menyerah mencari pedang dewa yang hilang di Ngarai Guntur. Mereka mengirim anjing-anjing pelacak mereka menyamar sebagai peserta pertukaran ke dalam Alam Rahasia untuk menyisir setiap sudut dan membunuh siapa pun yang mencurigakan.

Bao Tuo memegang kaki Zeng Niu. "S-Saudara Niu, kita tidak bisa masuk ke sana! Jika faksi luar ikut campur, itu bukan sekadar mengumpulkan herba. Itu adalah perang pembantaian! Ribuan kultivator saling bunuh di ruang tertutup!"

Zeng Niu menendang pelan tangan Bao Tuo. "Berdiri. Babi yang terus merengek di depan rumah potong hewan hanya akan membuat tukang jagal mengasah pisaunya lebih cepat."

Zeng Niu menoleh ke arah Tetua Mo Yin.

"Guru," ucap Zeng Niu, suaranya sedingin bilah es. "Apakah di dalam Alam Rahasia itu ada Inti Yao tingkat lanjut dan herba spiritual untuk Foundation Establishment?"

Mo Yin menyeringai lebar, menampakkan deretan gigi putihnya yang mengerikan. Ia tahu persis apa yang ada di pikiran muridnya. Kematian bagi orang fana adalah ujung jalan, tapi bagi Iblis, itu adalah prasmanan.

"Alam Rahasia Darah Besi adalah serpihan medan perang kuno," jawab Mo Yin. "Di dalamnya terdapat Bunga Teratai Jiwa Hitam, Akar Tulang Naga, dan kawanan monster purba yang intinya cukup untuk membuat Dantianmu meledak berkali-kali lipat. Sumber dayanya cukup untuk memicu perang antar benua."

Mata hitam Zeng Niu memancarkan kilatan merah yang buas. Dantiannya yang lapar berdenyut seolah merespons nama-nama sumber daya tersebut. Ia berada di Pengumpulan Qi Tahap 3, namun pondasinya telah memakan biaya yang setara dengan seluruh kekayaan faksi kecil. Untuk mencapai Tahap 4 dan menembus Pemadatan Sumsum ke tingkat berikutnya, ia butuh lautan energi murni.

"Bagus," Zeng Niu mengepalkan tangannya. "Bao Tuo, Xiaoyu. Kumpulkan semua Poin Kontribusi yang tersisa. Beli seluruh jimat peledak, racun pelumpuh, dan perisai pertahanan yang bisa kalian temukan di Pasar Hantu."

"K-Kau benar-benar mau masuk ke medan perang gila itu?!" Xiaoyu menelan ludah.

Zeng Niu menatap ke arah bayangan lorong gua. "Akademi mengira mereka mengirim domba untuk eksperimen mereka. Faksi luar mengira mereka mengirim serigala untuk mencari pedang. Kita akan membiarkan mereka saling menggigit, lalu kita yang akan memungut tulang-tulangnya."

Zeng Niu menggenggam udara kosong, seolah mencekik leher musuh yang tak kasatmata.

"Persiapkan diri kalian. Tiga hari lagi, kita ubah Alam Rahasia itu menjadi kuburan massal mereka."

1
Hendra Saja
bagus
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
eka suci
lanjut💪
Xiao Bar
gaspoolllkk
Xiao Bar
lanjut
saniscara patriawuha.
bantaiiiii sudahhhhh manggg otorrrrtt
saniscara patriawuha.
sumberrr dayaaaa ituuuuu.....
saniscara patriawuha.
gasssss pollllll
eka suci
ngga apa" belajar pemahaman baru ya putri 💪
saniscara patriawuha.
gassssd pollllll...
eka suci
tingkat aja tinggi baru nyadar hewan peliharaan nya mati setelah seminggu😥 lanjuuut 💪
saniscara patriawuha.
sikattttt sudahhhhh
eka suci
gengsi sang putri setinggi langit cuma turun sebatas awan😄
Sang_Imajinasi: wajib,karna terlahir dengan sendok emas 🤭
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini mohon bantuan untuk beri rating bintang dan vote nya.. 🙏 Penilaian kalian sangat berharga bagi author tetap semangat untuk update cerita ini. TERIMA KASIH.... ✌️
Xiao Bar
lanjut
Xiao Bar
gas thor
saniscara patriawuha.
lanjoooottttt deuiiiii...
saniscara patriawuha.
gassdd pollll polllannn...
saniscara patriawuha.
gasssss pollllll....
Ardi Ansyah
putrinya sang asurah manani thor
Sang_Imajinasi: ada disini 🤭
total 1 replies
eka suci
lanjut petualangan 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!