NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 16: Memulai Kembali dari Nol

Tiga minggu telah berlalu sejak malam terakhir Mia ditangkap. Tiga minggu yang terasa seperti tiga tahun bagi Aisha. Bukan karena waktu berjalan lambat, tapi karena begitu banyak yang berubah dalam waktu sesingkat itu.

Arka sekarang tinggal di apartemennya sendiri, sementara Aisha dan Baskara tinggal di rumah lama di kawasan permata hijau. Bukan keputusan yang mudah. Aisha sempat ragu apakah ia sanggup tinggal sendirian di rumah yang penuh kenangan itu. Tapi Baskara yang meminta.

“Aku kangen rumah kita, Bu,” kata Baskara ketika Aisha bertanya mau tinggal di mana. “Aku kangen kamarku, kangen taman belakang, kangen ayunan di teras.”

Jadi mereka kembali. Bukan sebagai keluarga utuh, tapi sebagai ibu dan anak yang mencoba membangun kembali kehidupan dari puing-puing kehancuran.

---

Pagi itu, Aisha bangun lebih awal dari biasanya. Ia berdiri di dapur, memanggang roti dan membuat kopi. Di luar jendela, matahari mulai menyingsing, menyapa dedaunan di taman belakang yang mulai menghijau kembali setelah sekian lama tidak terurus.

Baskara masih tidur. Lengannya yang digips sudah dilepas seminggu lalu, meski dokter masih menganjurkan untuk tidak menggunakannya terlalu berat. Anak itu senang sekali. Ia sudah bisa bermain sepeda lagi, sudah bisa menulis, sudah bisa memeluk Aisha dengan kedua tangan.

Aisha tersenyum mengingat betapa bahagianya Baskara ketika gips itu dilepas. Anak itu berlari keliling rumah, menggerak-gerakkan tangannya ke segala arah, berteriak, “Bu, lihat! Tanganku sudah sembuh! Aku bisa peluk Ibu dengan dua tangan!”

Aisha memanggang roti, menyiapkan selai cokelat dan pisang. Sarapan favorit Baskara. Ia sudah hafal selera anaknya tanpa perlu bertanya lagi.

Pukul tujuh, Baskara turun dengan mata masih setengah terbuka. Rambutnya acak-acakan, piyamanya kusut, tapi senyumnya sudah mengembang begitu mencium aroma roti panggang.

“Bu, hari ini aku mau ke sekolah,” katanya sambil duduk di meja makan.

“Ibu tahu. Nanti Ibu antar.”

“Aku mau naik sepeda.”

“Sepeda? Jarak rumah ke sekolah lumayan jauh, Nak.”

“Tapi aku kangen naik sepeda. Dulu kan Ibu selalu antar aku naik sepeda?”

Aisha tersenyum. Dulu, sebelum semuanya hancur, ia memang sering mengantar Baskara naik sepeda ke sekolah. Baskara duduk di kursi belakang, tangannya memeluk pinggang Aisha, bercerita tentang mimpi-mimpinya semalam.

“Baik, Nak. Nanti kita naik sepeda. Tapi Ibu harus ganti baju dulu.”

Baskara tersenyum senang. Ia makan rotinya dengan lahap, sesekali mencelupkannya ke susu cokelat.

---

Setelah sarapan, Aisha mengganti pakaiannya dengan kaus dan celana jeans. Ia mengeluarkan sepeda dari gudang—sepeda tua berwarna merah yang dulu sering ia gunakan. Sepeda itu masih layak pakai, meski sedikit berkarat di beberapa bagian.

Baskara sudah menunggu di halaman dengan helm di kepala. Ia tersenyum lebar, melompat-lompat kecil tidak sabar.

“Ayo, Bu! Cepat!”

Aisha mengayuh sepeda keluar dari halaman. Baskara duduk di kursi belakang, tangannya memeluk pinggang Aisha erat-erat.

Perjalanan menuju sekolah Baskara memakan waktu sekitar dua puluh menit. Mereka melewati jalan-jalan yang dulu sering mereka lalui bersama. Baskara bercerita tentang teman-temannya, tentang guru yang baik hati, tentang pelajaran matematika yang ia sukai.

Aisha mendengarkan dengan saksama, sesekali bertanya, sesekali tertawa. Ia merasakan kehangatan yang lama hilang. Kehangatan menjadi ibu yang dicintai anaknya.

Di depan gerbang sekolah, Baskara turun dari sepeda. Ia melepas helmnya, menatap Aisha dengan mata berbinar.

“Bu, makasih ya sudah antar.”

“Sama-sama, Nak. Ibu jemput jam satu, ya?”

“Iya, Bu. Tapi... Bu, boleh aku minta sesuatu?”

“Apa?”

Baskara meraih tangan Aisha, menggenggamnya erat. “Aku mau Ibu janji. Ibu nggak akan melakukan hal bodoh lagi. Ibu nggak akan ketemu Om Ren lagi. Ibu nggak akan ninggalin aku lagi.”

Aisha menunduk. Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan. Ia berlutut di hadapan Baskara, menatap mata anaknya.

“Ibu janji, Nak. Ibu tidak akan melakukan hal bodoh lagi. Ibu tidak akan ketemu Om Ren lagi. Ibu tidak akan meninggalkan kamu lagi. Ibu janji dengan hidup Ibu.”

Baskara tersenyum, lalu memeluk Aisha. Pelukan yang erat, hangat, penuh dengan cinta yang selama ini sempat pudar.

“Aku percaya Ibu, Bu.”

Baskara berlari masuk ke sekolah, melambai pada Aisha dari balik pintu gerbang. Aisha melambai kembali, tersenyum meski air matanya jatuh.

---

Sepulang dari mengantar Baskara, Aisha tidak langsung pulang. Ia memutar sepedanya ke arah pasar tradisional di dekat rumah. Ia ingin membeli sayur dan buah segar. Sudah lama ia tidak memasak untuk Baskara. Selama di Surabaya dan di Bali, mereka hanya makan makanan instan atau masakan orang lain.

Sekarang, di rumah mereka sendiri, Aisha ingin kembali memasak. Bukan karena ia harus, tapi karena ia ingin. Memasak adalah caranya menunjukkan cinta. Dan ia ingin Baskara tahu bahwa ia dicintai.

Di pasar, Aisha membeli wortel, brokoli, ayam potong, dan ikan segar. Ia juga membeli buah apel dan jeruk, serta camilan kesukaan Baskara. Ketika hendak pulang, ia bertemu dengan seorang wanita yang dulu sering menjadi langganannya di pasar.

“Bu Aisha? Lama tidak lihat. Pindah?” tanya wanita itu ramah.

“Iya, Bu. Sempat tinggal di luar kota beberapa minggu. Sekarang kembali lagi.”

“Anak Ibu, Baskara, bagaimana? Sehat?”

“Sehat, Bu. Sudah besar. Sekarang kelas tujuh.”

“Wah, sudah SMP? Cepat sekali waktu berlalu.”

Aisha tersenyum. “Iya, Bu. Cepat sekali.”

Mereka berbincang sebentar, lalu berpamitan. Aisha mengayuh sepedanya pulang, membawa belanjaan yang cukup berat. Tapi ia tidak merasa lelah. Ada kebahagiaan kecil yang mengalir di hatinya.

---

Di rumah, Aisha membersihkan sayur dan buah yang baru dibeli. Ia menyimpannya di kulkas, lalu mulai memasak untuk makan siang. Ia akan mengantarkan makan siang ke sekolah Baskara, seperti dulu.

Ia memasak ayam goreng, tumis brokoli wortel, dan sup jagung. Aroma masakan memenuhi seluruh rumah, mengusir aroma debu dan sepi yang selama ini menempel.

Aisha teringat pada Arka. Pria itu belum pernah ke rumah sejak mereka kembali. Arka sibuk dengan urusan hukumnya—menjadi saksi dalam kasus keluarga angkatnya, membantu polisi mengumpulkan bukti, dan sesekali menjenguk Mia di rumah rehabilitasi.

Aisha dan Arka masih berkomunikasi, tapi hanya sebatas tentang Baskara. Tidak lebih. Mereka berdua sepakat untuk memberi ruang satu sama lain. Luka masih terlalu segar untuk dipaksakan sembuh.

Tapi Aisha tidak menyesal. Ia belajar bahwa cinta tidak selalu berarti bersama. Kadang, cinta berarti melepaskan. Melepaskan ekspektasi, melepaskan tuntutan, dan menerima bahwa setiap orang punya jalannya masing-masing.

---

Pukul dua belas, Aisha berangkat ke sekolah Baskara dengan kotak makan di keranjang sepeda. Ia tiba tepat ketika bel istirahat berbunyi. Baskara berlari keluar, wajahnya berseri-seri melihat Aisha.

“Bu! Ibu masak apa?”

“Tebak.”

“Ayam goreng?”

Aisha tertawa. “Kamu pintar.”

Mereka duduk di bangku taman sekolah. Baskara makan dengan lahap, sesekali menyuapi Aisha. Aisha menerima suapan itu dengan senyum lebar.

“Bu, besok Ibu masak lagi, ya,” kata Baskara sambil mengunyah.

“Ibu masak setiap hari. Kamu mau masak apa?”

“Soto. Soto kesukaan Ayah.”

Aisha terdiam sejenak. “Kamu kangen Ayah?”

Baskara mengangguk. “Ayah jarang telepon. Ayah bilang Ayah sibuk. Tapi aku kangen.”

Aisha mengusap rambut Baskara. “Nanti Ibu bilang sama Ayah, minta Ayah main ke rumah. Kamu mau?”

“Mau banget!”

Aisha tersenyum. Ia akan menelepon Arka nanti. Bukan untuk dirinya, tapi untuk Baskara.

---

Sore harinya, setelah menjemput Baskara pulang sekolah, Aisha menelepon Arka. Pria itu mengangkat setelah dua kali dering.

“Aisha? Ada apa?”

“Baskara kangen kamu. Kapan kamu main ke rumah?”

Diam sejenak. “Besok. Aku ada waktu. Aku bisa main sore, antar Baskara makan malam.”

“Baik. Aku kabari Baskara.”

“Aisha,” Arka memanggil sebelum Aisha menutup telepon. “Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Untuk menjaga Baskara. Untuk tidak menyerah. Untuk... menjadi ibu yang baik untuknya.”

Aisha tersenyum. “Sama-sama, Arka. Dia anak kita.”

Panggilan berakhir. Aisha memegang ponselnya, merasakan ada kehangatan di dadanya. Bukan cinta—tapi rasa syukur. Syukur karena mereka masih bisa berkomunikasi dengan baik demi Baskara.

---

Malam harinya, setelah Baskara tidur, Aisha duduk di teras belakang. Rumah itu gelap dan sunyi, tapi tidak lagi mencekam. Aisha merasa damai. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama.

Ia memandangi langit malam. Bintang-bintang bertaburan, bulan bersinar terang. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma bunga melati dari taman tetangga.

Aisha teringat pada Ren. Pria itu tidak pernah lagi menghubunginya setelah telepon terakhir. Aisha mendengar dari Arka bahwa Ren pindah ke luar negeri. Entah ke mana. Mungkin ia memulai hidup baru. Mungkin ia juga berusaha memperbaiki kesalahan.

Aisha tidak peduli. Ren adalah bagian dari masa lalunya yang kelam. Ia tidak ingin membawa masa lalu itu ke masa depannya.

Ia juga teringat pada Mia. Wanita itu masih dalam perawatan psikologis. Arka sering menjenguknya, meski Mia masih sulit diajak bicara. Tapi setidaknya, Mia mau makan, mau minum, mau menjalani terapi.

Aisha berdoa semoga Mia cepat sembuh. Bukan karena ia ingin memaafkan, tapi karena ia tahu bahwa kebencian hanya akan meracuni hati.

---

Pukul sepuluh malam, Aisha masuk ke dalam rumah. Ia memeriksa Baskara yang masih terlelap, lalu pergi ke kamarnya sendiri. Kamar yang dulu ia bagi dengan Arka, kini hanya ia tempati sendirian.

Ia berganti pakaian, merebahkan tubuh di tempat tidur. Matanya terpejam, pikirannya melayang ke mana-mana.

Ia memikirkan masa depan. Tentang apa yang ingin ia lakukan. Tentang bagaimana ia ingin membesarkan Baskara. Tentang bagaimana ia ingin memperbaiki hubungan dengan Arka, setidaknya sebagai teman.

Ia juga memikirkan tentang dirinya sendiri. Tentang apa yang ia inginkan, bukan sebagai ibu atau mantan istri, tapi sebagai Aisha. Wanita yang pernah jatuh, tapi bangkit kembali. Wanita yang pernah tersesat, tapi menemukan jalannya.

Aisha tersenyum dalam gelap. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi ia tidak takut. Ia sudah melewati yang terburuk. Selebihnya, hanya perjalanan yang harus dijalani.

---

Keesokan harinya, Arka datang sore hari. Ia membawa buah tangan untuk Baskara—sebuah buku gambar baru dan pensil warna. Baskara senang sekali, langsung membuka bungkusnya dan mencoba menggambar.

Arka dan Aisha duduk di ruang tamu, ditemani secangkir teh hangat. Mereka berbincang tentang Baskara, tentang sekolah, tentang rencana liburan nanti.

“Baskara minta kita liburan ke pantai,” kata Aisha. “Seperti dulu.”

Arka mengangguk. “Kita bisa atur. Mungkin bulan depan, setelah urusan hukumku selesai.”

“Bagaimana dengan Mia? Apa kabarnya?”

“Mia lebih baik. Dia mulai mau bicara. Terapis bilang kemajuannya bagus. Tapi masih butuh waktu.”

Aisha menghela napas. “Semoga cepat sembuh.”

Arka menatap Aisha. “Kau benar-benar sudah memaafkannya?”

Aisha tersenyum tipis. “Aku tidak tahu apakah itu maaf. Tapi aku tidak ingin membenci siapa pun lagi. Aku lelah.”

Arka mengangguk. “Aku juga.”

Mereka terdiam beberapa saat. Baskara berlari masuk dengan buku gambarnya.

“Bu, Ayah, lihat! Aku gambar kita bertiga di pantai!”

Aisha dan Arka melihat gambar itu. Tiga sosok digambar dengan pensil warna—Baskara di tengah, Aisha di kiri, Arka di kanan. Matahari besar di atas, laut biru di bawah, dan awan putih bergelantungan di langit.

“Bagus sekali, Nak,” puji Aisha.

“Kamu jago menggambar,” puji Arka.

Baskara tersenyum bangga. “Nanti kalau kita liburan beneran, aku mau foto. Biar bisa aku gambar lagi.”

Mereka bertiga tertawa. Tawa yang hangat, yang mengisi ruang tamu dengan kebahagiaan sederhana.

---

Malam harinya, Arka pamit pulang. Baskara memeluknya erat-erat sebelum pergi.

“Ayah, besok main lagi, ya,” pinta Baskara.

“Besok Ayah sibuk. Lusa ya? Ayah janji.”

“Lusa, ya, Ayah. Jangan lupa.”

“Ayah tidak akan lupa.”

Arka menatap Aisha sekilas. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi ia hanya tersenyum. Aisha membalas senyumnya.

“Hati-hati di jalan, Arka.”

“Iya. Kau juga jaga diri.”

Arka berjalan keluar, masuk ke mobilnya, dan melaju perlahan meninggalkan rumah. Aisha berdiri di teras, melambai sampai mobil itu hilang di tikungan.

Baskara berdiri di sampingnya, menggenggam tangan Aisha.

“Bu, Ayah sama Ibu baikan lagi, ya?”

Aisha menunduk, menatap Baskara. “Ibu dan Ayah sedang berusaha, Nak. Kami tidak tahu apakah kami akan bersama lagi. Tapi kami berdua sayang kamu. Itu yang penting.”

Baskara mengangguk, meski matanya sedikit berkaca-kaca. “Aku hanya mau Ayah dan Ibu bahagia. Kalau Ibu bahagia sendiri, aku ikut bahagia. Kalau Ayah bahagia sama Ibu, aku juga bahagia.”

Aisha memeluk Baskara. “Ibu bahagia, Nak. Ibu bahagia karena punya kamu.”

Mereka berpelukan di teras, di bawah langit malam yang cerah. Bintang-bintang bertaburan, bulan tersenyum tipis.

Aisha tahu, perjalanan masih panjang. Luka masih akan terasa kadang-kadang. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak berjalan sendirian. Ia punya Baskara. Ia punya harapan. Dan ia punya tekad untuk menjadi lebih baik.

---

Tengah malam, ketika Baskara sudah tidur, ponsel Aisha berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak disimpan.

*“Aisha, ini Mia. Aku tahu kau mungkin tidak mau mendengar suaraku. Tapi aku hanya ingin bilang... maafkan aku. Maafkan aku karena hampir menyakiti Baskara. Maafkan aku karena membuatmu takut. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Aku akan menjalani pengobatan. Aku akan berusaha sembuh. Terima kasih untuk Arka, yang masih mau menjengukku. Dan terima kasih untukmu, yang tidak membenciku. - Mia”*

Aisha membaca pesan itu berulang kali. Air matanya jatuh—bukan karena sedih, tapi karena lega.

Ia membalas pesan itu.

*“Mia, aku memaafkanmu. Semoga cepat sembuh. Semoga kau menemukan kebahagiaan. - Aisha”*

Pesan itu terkirim. Tidak ada balasan. Tapi Aisha tidak perlu balasan.

Ia mematikan lampu, membaringkan tubuh di tempat tidur. Pikirannya tenang, hatinya damai.

Di luar, bulan bersinar terang, menerangi taman belakang yang mulai mekar. Bunga-bunga yang sempat layu, kini mulai tumbuh lagi.

Seperti hidupnya. Seperti hatinya. Perlahan, tapi pasti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!