Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.
Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Gedung Maverick masih riuh oleh kesibukan karyawan yang bolak-balik membawa berkas. Namun siang itu, lobi dan beberapa lantai seolah punya topik baru yang lebih seru daripada laporan bulanan.
"Serius itu Thalia Anderson? Artis WTBS yang lagi naik daun?" bisik seorang staf perempuan sambil menatap ke arah lift eksekutif yang baru saja menutup.
"Ya! Aku lihat sendiri. Dia datang bawa bekal makanan. Katanya mau kasih langsung ke Tuan Aiden."
"Tidak mungkin..." staf lain menahan tawa tak percaya. "Bos kita itu anti perempuan, kan? Bahkan direktur wanita pun selalu diperlakukan dingin."
Namun, bukti nyata sudah di depan mata. Thalia diizinkan masuk, tanpa dipersulit, bahkan disebut sudah ditunggu di atas.
"Dan yang lebih mengejutkan," timpal seorang pria dari tim akuntansi, "ada anak kecil bersamanya. Lucu sekali. Bocah itu manggil Thalia 'Mama' dan katanya mau kasih makan 'Papa'."
"Papa?!"
Bisik-bisik makin ramai.
"Jangan bilang... itu anak mereka?"
"Diam, jangan sembarangan ngomong! Tapi... bisa saja, kan? Selama ini bos kita memang penuh misteri."
Para karyawan saling pandang, setengah penasaran, setengah takut. Gosip mulai beredar seperti api yang menyambar kertas kering.
Di lantai teratas, suasana jauh berbeda.
Ruang kerja presiden Maverick yang biasanya hening kini dipenuhi aroma masakan hangat. Thalia membuka kotak bekal satu per satu di meja kecil dekat sofa. Ada sup ayam, nasi hangat, dan sayuran segar yang ia masak pagi tadi.
Liam sudah duduk manis, kakinya bergoyang-goyang tak sabar. "Mama... Papa haluc coba sup ini. Enak banget!" katanya dengan cadel khasnya.
Aiden terdiam, lalu perlahan duduk di sofa berhadapan dengan Thalia dan Liam. Ia mengambil sendok, mencicipi sup buatan Thalia. Raut wajahnya tetap dingin, tapi sudut bibirnya nyaris tak terlihat melengkung.
"Bagaimana?" tanya Thalia, canggung.
"Lumayan." Jawaban singkat itu membuat Thalia hampir melempar sendok. Namun Liam sudah menepuk-nepuk paha Aiden sambil tertawa.
"Papa cuka! Papa cukaaa!"
Thalia mendesah geli. "Liam, Papa tidak bilang begitu."
"Papa cuka! Papa makan banyak belalti cuka."
Liam ngotot dengan polosnya.
Aiden mengangkat sebelah alis, lalu menatap Thalia seakan berkata: lihat, aku kalah oleh anak kecil ini.
Mereka bertiga pun makan bersama. Suasana hangat, seperti keluarga sungguhan. Thalia sesekali menyuapi Liam, sementara Aiden tanpa sadar menyeka sisa sup di ujung bibir bocah itu dengan gerakan natural-sesuatu yang tak pernah ia lakukan pada siapa pun sebelumnya.
Thalia memperhatikan pemandangan itu diam-diam, hatinya bergetar. Aiden Maverick yang dingin dan kejam di luar... ternyata bisa lembut juga.
Usai makan, Liam berguling kecil di sofa, menguap. "Mama... Liam ngantuk..."
"Tidur sebentar saja, Sayang," bisik Thalia sambil membetulkan posisi tidurnya.
Aiden menatap pemandangan itu beberapa detik, lalu berdiri mendekat. Tangan besarnya tiba-tiba menutupi mata Liam dengan lembut.
"Aiden? Kau-" Thalia belum sempat bertanya.
Pria itu menunduk cepat, bibirnya menyambar bibir Thalia. Ciuman yang singkat namun dalam, membuat Thalia terhenyak.
Matanya membesar, tubuhnya menegang.
Dalam hati ia ingin mengumpat: Dasar pria gila! Tapi kenyataannya, ia tidak mengelak. Ia hanya membiarkan, pasrah dengan desiran panas yang mendadak menjalar ke wajahnya.
Saat Aiden melepaskan ciuman, ia masih menutupi mata Liam yang tidur dengan tenang.
Bibirnya melengkung tipis.
"Itu bayaran karena aku sudah menolongmu," katanya dingin, tapi suaranya rendah menggoda.
Thalia menatapnya tak percaya. Wajahnya memanas. "Kau... kau pikir aku rela?" suaranya bergetar.
Aiden menunduk sedikit, matanya menusuk. "Kenyataannya, kau tidak menolak."
Thalia tercekat. Kata-kata itu menampar sekaligus membuat jantungnya berdetak semakin liar.
Ia berbalik, pura-pura membereskan kotak bekal, berusaha menutupi pipinya yang merah padam. "Aku... aku hanya tidak ingin membangunkan Liam," dalihnya pelan.
Aiden tidak menjawab, hanya mengamati dari belakang dengan tatapan yang sulit ditebak. Senyum samar itu kembali muncul, seolah ia baru saja memenangkan sebuah permainan.
Sementara itu, di lantai bawah, gosip semakin menggila.
"Aku dengar Tuan Aiden menunggu mereka di atas. Itu artinya hubungan mereka dekat sekali."
"Anak kecil itu manggil Aiden 'Papa'. Jangan-jangan... mereka sudah menikah diam-diam?"
"Tidak mungkin! Kalau bos kita menikah, media pasti tahu."
"Siapa bilang? Dia kan misterius. Bisa saja."
Karyawan-karyawan mulai berspekulasi liar. Ada yang kagum, ada yang iri, ada pula yang takut. Karena satu hal pasti: siapa pun wanita yang bisa menembus dinding es Aiden Maverick, pasti bukan orang biasa.
Dan sore itu, nama Thalia Anderson resmi masuk ke daftar gosip kantor Maverick-sebuah rahasia yang masih misteri, namun perlahan akan membuka pintu menuju hubungan yang lebih dalam.
**
Suasana kantor Anderson Corporation siang itu memanas bukan karena rapat bisnis, melainkan karena pertengkaran keluarga. Pintu ruangan presiden terbanting keras, menampilkan Marrie yang masuk dengan wajah merah padam sambil menggandeng Nadine.
"Aku tidak akan membiarkanmu menikahkan Nadine dengan Abraham!" seru Marrie lantang. "Kau gila, Yoshi? Anak kita masih muda, masa depannya masih panjang!"
Nadine ikut menangis, suaranya serak. "Ayah, kumohon... aku tidak mau! Abraham sudah tua, jijik! Aku lebih baik mati daripada jadi istrinya!"
Yoshi yang duduk di kursi besar hanya menatap keduanya dengan sorot dingin. Ia menghentakkan berkas di meja, membuat suara keras menggema. "Diam kalian berdua! Kalian pikir aku punya pilihan lain? Dunia sudah melihat Nadine di ranjang Abraham! Saham kita anjlok, reputasi hancur! Satu-satunya jalan menyelamatkan keluarga ini adalah pernikahan!"
"Tidak! Itu bukan solusi!" Marrie balas membentak. "Kau tega menyerahkan putrimu hanya untuk menutup aib? Kau lebih peduli pada saham daripada anakmu sendiri?"
"Cukup, Marrie!" Yoshi berdiri, suaranya mengguncang ruangan. "Kalau Nadine tidak mau menikah dengan Abraham, maka aku akan menceraikanmu. Kau dengar itu? Aku akan menceraikanmu, Marrie!"
Hening seketika. Nadine terisak keras, Marrie membeku di tempat. Kata-kata itu seperti pisau menancap di dadanya. Seumur hidup bersama Yoshi, ini pertama kalinya sang suami mengucapkan ancaman perceraian.
"A-apa kau bilang?" Marrie bergetar. "Kau tega mengancamku begitu?"
Yoshi menatap tajam. "Ini keputusan. Tidak ada yang bisa mengubahnya. Nadine harus menikah dengan Abraham. Kalau tidak, kau dan putrimu boleh angkat kaki dari rumahku."
Marrie kehilangan kata-kata. Bibirnya bergetar, matanya berkaca-kaca. Ia hanya bisa terdiam, pasrah pada keputusan kejam itu.
Nadine jatuh berlutut di lantai, menangis pilu sambil meraih tangan ibunya. "Ibu... aku tidak mau... tolong aku..."
**
Di sebuah penthouse mewah di bangunan pinggir kota, tirai sutra menjuntai menutupi jendela besar. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau anggur merah yang baru saja dituang ke gelas kristal. Di ranjang king size berlapis satin, Abraham terbaring santai dengan dada terbuka, tubuh tambunnya masih ditemani seorang wanita muda berkulit mulus.
Wanita itu mendekat, membelai d4da Abraham sambil terkikik genit. "Tuan, kau tidak pernah bosan padaku?" godanya.
Abraham tertawa rendah, tangannya merem4s pinggul sang wanita. "Aku tidak pernah bosan pada yang indah, Sayang. Tapi aku juga selalu butuh koleksi baru. Kau tahu, aku pria yang penuh selera."
Sebelum bibir mereka kembali bertemu, ponsel di nakas berbunyi. Abraham mendengus kesal, meraih ponsel itu tanpa peduli. Begitu melihat nama di layar, tawanya berubah puas. "Yoshi," gumamnya.
Ia mengangkat panggilan itu. "Halo, Tuan Yoshi. Ada kabar baik untukku?"
Suara Yoshi terdengar tegang di seberang.
"Pernikahanmu dengan Nadine akan dilangsungkan dua hari lagi. Semua sudah dipersiapkan. Aku ingin kau segera mentransfer dana yang telah kita sepakati. Aku tidak punya waktu lebih lama."
Mata Abraham berkilat, senyumannya lebar.
"Dua hari lagi? Ha... bagus! Aku memang tidak sabar menunggu. Anakmu cantik, Yoshi. Akan jadi tambahan manis dalam koleksiku." Ia terkekeh, suaranya penuh nafsu. "Soal dana, jangan khawatir. Uang bagiku hanya sepele. Kau akan menerimanya secepatnya."
Yoshi menutup panggilan dengan nada dingin.
Abraham meletakkan ponselnya, wajahnya kembali dipenuhi g4irah.
Wanita muda di sampingnya melirik penasaran.
"Apa kabar baik itu?"
Abraham menepuk bokongnya kasar, membuatnya terkekeh geli. "Aku akan menikah lagi, Sayang. Koleksi baruku-gadis muda segar. Kau akan segera punya 'adik' di r4njangku."
Wanita itu pura-pura cemberut, lalu kembali menempel manja. Abraham tertawa keras, melanjutkan permainan m3sum mereka tanpa rasa bersalah.
Di saat yang sama, ia sudah menyiapkan kebohongan untuk istri pertamanya dan yang kedua. Keduanya percaya Abraham sedang melakukan perjalanan bisnis. Padahal kenyataannya, ia sedang berlibur mesra dengan selingkuhan baru-wanita yang mungkin saja akan dijadikan istri keempat jika ia bosan dengan Nadine kelak.
Bagi Abraham, pernikahan hanyalah permainan. Wanita hanyalah koleksi. Dan sebentar lagi, Nadine Anderson akan resmi menjadi bagian dari daftar panjangnya.
lanjuttttt/Kiss/