Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Ibu, apakah kita akan benar-benar pulang ke rumah?" tanya Rasya dengan suara lirih.
Dia tahu dengan keputusan Rania yang akan kembali ke rumah besar mereka. Rumah yang tak pernah memberi Rasya ketenangan dan kebahagiaan. Rumah yang selalu memberinya tekanan besar untuk mengikuti kemauan semua orang. Rumah yang tak pernah mengizinkannya bermain selayaknya anak-anak lain.
Di lorong rumah sakit itu, mereka berjalan bergandengan tangan. Saling menggenggam erat seolah-olah waktu akan kembali merenggut kebersamaan mereka. Mendengar pertanyaan Rasya, Rania menghentikan langkah. Ia berjongkok di hadapan sang anak, menggenggam kedua tangannya.
Dengan senyum manis penuh cinta ia berkata, "Tentu saja, sayang. Kita harus kembali karena itu adalah rumah kita. Kita beri tahu mereka siapa penguasa sesungguhnya di rumah itu."
Mata Rania membulat penuh tekad, semangatnya yang menggebu mengalir ke dalam hati Rasya. Anak kecil itu pun mengangguk mantap, menepis keraguan serta ketakutan akan rumah yang seperti neraka dunia baginya itu.
Rania tersenyum, mencubit gemas pipi anaknya. Rasya terlihat kurus, tidak seperti anak seusianya. Ia mengusap kepala Rasya dan kembali menggandeng tangannya. Berjalan di lorong menuju cahaya terang di masa depan kehidupan mereka.
"Ibu, bukankah Ibu datang bersama teman Ibu? Di mana dia? Kenapa tidak pernah terlihat lagi?" tanya Rasya teringat pada dokter Pri yang menyelamatkannya dari penculikan bersama sang supir.
Rania tercenung, hatinya bertanya-tanya ke mana perginya laki-laki itu? Setelah mengantar mereka ke rumah sakit, tak lagi tampak batang hidungnya. Namun, kemudian Rania tersenyum, saat teringat tentang kenangan masa kecil mereka.
"Mungkin dia kembali ke rumahnya. Namanya Primark, Ibu memanggilnya Pri. Sekarang, dia adalah seorang dokter, tapi tidak praktek di kota ini. Tidak apa-apa, dia pasti baik-baik saja," ucap Rania sembari tersenyum manis.
Rasya menganggukkan kepala pelan, dia tak lagi bertanya sampai tiba di halaman rumah sakit. Jalanan dipadati kendaraan, para pedagang pun berjajar di sepanjang jalan. Rania mengajak Rasya untuk makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalan ke rumah mereka.
"Ibu, aku ingin makan ayam goreng. Aku pernah melihatnya di televisi, sepertinya itu enak," ucap Rasya menunjuk sebuah restoran dengan gambar ayam goreng tepung yang besar di atasnya.
Rania terenyuh, mengusap kepala anaknya dengan hati yang sedih. Ayahnya adalah orang terkaya di kota Anggrek, tapi anaknya hanya pernah melihat saja ayam goreng itu. Tanpa sadar, air matanya menetes dan Rania segara menghapusnya.
"Ayo, Ibu akan mengajakmu makan ayam goreng sepuasnya," ajaknya seraya menggenggam tangan Rasya.
"Hore! Ayam goreng!" Rasya melompat, genggaman di tangan ibunya menguat, ia menarik Rania untuk berlari. Tak sabar ingin segera mencicipi rasa ayam goreng itu.
Rania memesan berbagai macam ayam goreng dan ayam bakar di restoran itu. Semuanya ia hidangkan di hadapan sang anak yang sudah tak sabar ingin melahapnya. Mata kecil Rasya berbinar terang, hidangan di hadapannya benar-benar menggugah selera. Hampir satu meja penuh, semuanya adalah ayam.
"Ibu, bolehkah aku memakan semua ini?" tanyanya sembari mendongak, menatap Rania penuh harap.
"Tentu saja, sayang. Minum ini dulu," Rania memberikan segelas jus buah kepada Rasya.
"Terima kasih, Bu." Rasya meminum jus tersebut, dan mengambil sepotong ayam goreng tepung yang pernah dilihatnya.
"Mmmm ... ini enak! Shakira berbohong kepadaku. Dia mengatakan anak kecil tidak boleh makan ayam goreng. Tapi, dia hampir setiap hari memesan makanan seperti ini. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh saja," cerocos Rasya dengan mulut yang penuh.
Sekali lagi hati Rania terpukul. Air matanya kembali jatuh tanpa dikomando. Ia menepisnya, memalingkan wajah dari sang anak.
Uhuk!
Rasya tersedak karena terlalu lahap menyantap hidangan itu.
"Pelan-pelan, sayang. Tidak akan ada yang merebut makananmu," ucap Rania sembari mengusap punggung Rasya dan memberinya minum.
Anak itu hanya tersenyum, kemudian makan dengan perlahan. Rania mengepalkan tangannya, api dendam semakin bergejolak di dalam hatinya. Bayangan wajah mereka bertiga, satu per satu datang seolah-olah sedang mengejek Rania. Ia curiga, adik tiri Hadrian dan istrinya terlibat dalam pembunuhannya.
Rasya melirik jendela kaca yang memperlihatkan halaman restoran. Di sana, tiga orang anak kecil dengan pakaian lusuh berdiri beberapa meter dari jendela restoran. Mereka menatap Rasya yang sedang makan, menatap ayam goreng di tangannya. Wajah mereka terlihat lelah, juga terlihat lapar.
Rasya menghentikan makannya, meletakkan ayam di piring. Rania yang melihat itu mengernyitkan dahi bingung. Tiba-tiba, Rasya bangkit tanpa berkata-kata. Rania dengan cepat mencekal tangannya.
"Ada apa?" tanyanya bingung.
Rasya mendekati ibunya, menatap ke luar jendela, kemudian menatap hidangan di meja.
"Ibu, makanan ini terlalu banyak. Meskipun enak, aku tidak sanggup menghabiskan semuanya," ucap Rasya penuh sesal.
"Lalu, kita bisa membungkusnya dan membawanya pulang ke rumah," sahut Rania sembari mengelus pipi Rasya.
"Atau kita ajak mereka makan bersama saja. Sepertinya, mereka lapar," timpal Rasya sembari menunjukkan keberadaan tiga anak kecil di luar jendela.
Rania menoleh dan tersenyum. Ia berbalik kepada Rasya, meminta untuk tetap duduk.
"Duduklah! Ibu yang akan mengundang mereka ke sini." Ia bangkit setelah diangguki Rasya.
Rania menghampiri ketiga anak kecil itu, menatap mereka dengan perasaan tak tentu. Lalu, tersenyum dengan tulus.
"Anakku mengundang kalian untuk makan. Apakah kalian tertarik menerima undangannya?" ucap Rania menatap ketiga pasang mata sayu yang terlihat lelah.
Mereka saling menatap satu sama lain, kemudian menggeleng bersama-sama.
"Kami kotor. Pakaian kami pasti akan mengotori restoran itu. Pemilik restoran tidak akan mengizinkan orang kotor seperti kami untuk masuk ke dalam," ucap salah satu anak seraya mengajak dua lainnya untuk pergi.
Bagi mereka, cukup melihat saja sudah membuat perut mereka bisa merasakan kenyang.
"Tunggu! Masuklah, anakku pasti kecewa jika aku tidak berhasil membawa kalian," sergah Rania dengan cepat. Ia menatap ketiganya dengan tatapan memohon.
Mereka menghentikan langkah, menoleh dengan ragu.
"Aku yang akan bertanggungjawab," tambahnya lagi meyakinkan mereka.
Akhirnya mereka mengangguk dan ikut Rania masuk ke dalam. Rasya senang melihat itu, dia bahkan memberikan tempat duduknya dan berpindah ke sisi sang ibu.
"Makanlah! Habiskan!" katanya menyodorkan ayam goreng yang tadi dimakannya dan dilihat mereka.
"Terima kasih," ucap mereka tulus.
Brak!
Brugh!
Argh!
"Ada apa?"
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄