Dunia Sarah Wijaya jungkir balik setelah mendapat pelecehan dari seorang pria yang begitu ia segani dan hormati.Sebanyak asa yang mebumbung angan seakan sirna menjadi sebuah kemalangn. “Pergi! Menjauhlah dari hidupku selamanya”.Sarah wijaya “Jangan membenci takdir,maaf,kalau aku hanya singgah bukan untuk menetap”.Lingga Pratama. Tiada tebusan yang paling berharga atas rasa sakit tidak dianggap oleh seorang yang begitu diharapakn kehadirannya.Waktu telah merubah segalanya,membawa Lingga dalam penyesalan tam berujung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Hada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Sementara Lingga sejak tiba di kamarnya sedari tadi mondar -mandir kaya orang kurang waras. Gegara perkataan ibunya yang mengatakan hendak membawanya ke jalur hukum, entah mengapa dia jadi kepikiran.
Pria itu duduk dengan gelisah,mengusak rambutnya frustrasi. Kembali berdiri tidak tenang.
“Duh ….. gimana kalau mama beneran lapor polisi, terus polisi beneran nangkap gue. Nggak lucu, masa gegara insiden ini gue masuk penjara. Sial banget sih hidup gue.”
Panggilan masuk dari kekasihnya sampai Lingga abaikan sebab keadaan dirinya yang tengah kacau. Pria itu hanya melirik ponselnya kemudian melemparnya begitu saja ke kasur.
“Sial,sial!” umpat Lingga tak tahu harus melakukan apa. Apalah dirinya harus mengaku saja.
“Tidak, biar bagaimanapun semua sudah terlanjur. Lagian Sarah juga tidak mau jujur, kenapa gue harus mengiyakan.”
Lingga terus mencari cara bagaimana agar perbuatan nya tidak di ketahui oleh orang lain, termasuk orang tuanya. Terlebih ini sangat memalukan. Ayah Re hisa dipastikan murka jika sampai tahu kebenarannya. Sedangkan Mama Alice, mungkin akan mencoret nya dari KK.
Lingga tentu saja sedang tidak tenang. Hal yang sangat wajar karna ulannya yang bisa terbilang pengecut. Tentu saja Sarah tidak mau berterus terang. Gadis itu tidak mau kalau ujungnya mendapa pertanggung jawaban dari pria brengsek itu.
Sarah bahkan kekeh menginginkan agar aborsi saja.
“Astagfirullah ….. tenangkan dirimu sayang, ibu tidak merasa keberatan kalau memang ini yang terbaik, tapi apa boleh?” tanya Bu Maryam ragu. Takut nanti membahayakan untuk Sarah juga.
“Kalau di lakukan atas seizin medis, dan di boleh kan karna suatu kemodhorotan Sarah akan melakukan jalan itu, Bu, Sarah tidak mau hamil anak hasil pemerkosaaan.”
Terdengar miris sekali memang, beban mental terenggut kehormatan saja sudah membuatnya terguncang, di tambah harus hamil atas insiden itu. Siapa pun wanita di luar sana juga pasti tidak akan mau hamil dengan cara menjijikkan seperti itu.
“Ibu paham sayang, kita harus mencari keadilan. Kalau kasus ini benar-benar di bawah ke ranah hukum, kamu siap? Semua orang akan banyak tahu tentang keadaanmu saat ini.”
Sarah termenung sejenak, dia tidak ingin ramai. Hanya saja ingin bayi ini lenyap dari perutnya.
“Bukanya sudah banyak yang tahu ya Bu. Bu Alice dan mungkin suaminya, Raja dan Dokter sama perawat yang menangani Sarah.” Gadis itu tidak bisa menutupi fakta itu.
Maksud ibu halayak luas Sa, masyarakat sekitar kita tentunya. Teman-teman kampus, semua orang yang mungkin selama ini di lingkungan kita.”
Biar bagaimanapun Bu Maryam lebih sayang mental anaknya di jaga. Tak jarang perempuan yang terkena pelecehan malah mendapat perundungan, atau bahkan di anggap sebelah mata. Dunia kadang kejam.
“Sarah harus bagaimana Bu?” tanya gadis itu bingung.
“Kita tunggu Bu Alice dulu ya Nak, kita perlu pendapat beliau yang akan bantu,” ujar Bu Maryam galau.
Sarah pikir, Bu Alice dan Pak Re tidak mungkin akan mau melanjutkan kalau ternyata anak merekalah tersangkanya. Sarah tidak peduli, kalaupun mereka tahu kebenarannya,asalkan tidak lagi hamil, setidaknya mengurangi beban stress yang menimpa kepalanya.
“Tenangkan dirimu, kamu butuh fisik yang sehat dan kuat. Kita akan melewati ini sama-sama. Apapu keputusan kamu nanti, ibu akan selalu mendukungmu, Nak.” Bu Maryam membawa putrinya kedalam pelukan.
Setidaknya kini beban Sarah berkurang satu, ia bisa mencurahkan isi hatinya pada ibunya. Malam ini sepertinya akan menjadi malam terdamai, di temani sang ibu tidur dalam dekapannya. Tidak peduli keadaan putrinya seperti apa. Ibu yang akan selalu ada setia menemani dalam suka dan duka.
*****
Dikediaman rumah Pa Regan. Ju Alice menyiapkan makan malam sendiri. Perempuan itu sudah jarang sekali melakukan itu. Namun, karna Bu Maryam tidak di rumah, tentu ia haru menyiapkan makanan untuk suami dan anaknya.
“Lingga kenapa belum turun juga, biar aku panggil dulu Pah,” ujar Bu Alice menyambangi kamar putranya.
Saat perempuan itu mengetuk pintu. Lingga baru saja selesai mandi.
“Ga, ayo turun makan malam!” seru Bu Alice membuka pintunya, setelah mengetuk lebih dulu.
“Bentar Ma, nanti Lingga nyusul,” ujarnya tengah merapikan rambut.
“Kamu udah sholat?” tanya Bu Alice sebelum beranjak.
“Nanti Lingga sholat.” Jawab pria itu datar.
“Sholat dulu, trus turun makan malam. Papa mau ngomong kan sama kamu,” ujar Bu Alice mengingatkan.
Benar juga, apa yang ingin Pa Re bicarakan Lingga tentu saj bertanya-tanya. Tumben sekali ayahnya ingin ngobrol berdua. Apakah ini tentang dirinya yang tak kunjung selesai skripsi.
Lingga menjadi banyak pikiran. Ia turun bergabung ke meja makan. Terlihat ibu dan ayahnya sudah hendak memulai.
“Ini piring kamu Ga, hari ini mama bikin sambal cumi ini kesukaan kamu kan? Ayo makan!” ujar Bu Alice mengambilkan porsi untuk Lingga juga.