Yun Zhu hanyalah seorang murid rendahan dari Sekte Qingyun. Tanpa orang tua, tanpa latar belakang yang berarti—ia hanya bisa masuk sekte itu secara kebetulan setelah sebuah bencana menghancurkan hidupnya.
Akar spiritualnya lemah, bakatnya pun nyaris tak terlihat. Di mata orang lain, ia tak lebih dari sampah yang tak layak diperhitungkan. Tatapan meremehkan dan hinaan telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun takdir mulai berbalik arah ketika Yun Zhu secara tak terduga memperoleh sebuah kekuatan misterius—kekuatan yang perlahan akan mengubah nasibnya… dan mengguncang dunia yang selama ini merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Adu Pukulan
Pertempuran di halaman kediaman keluarga Yan mencapai puncaknya. Yun Zhu dan Yan Huan saling beradu tinju dengan kecepatan yang sulit diikuti mata telanjang, menciptakan dentuman keras yang menggetarkan udara.
Debu dan asap tebal membubung tinggi ke langit, menjadi saksi betapa dahsyatnya setiap hantaman yang mereka lancarkan di tengah arena yang kini retak-retak.
Api merah menyala semakin berkobar hebat di kedua kepalan tangan Yan Huan, memancarkan panas yang menyengat hingga ke barisan penonton.
"Tinju Api Kedua! Haa!"
Yan Huan meluncurkan serangkaian pukulan bertubi-tubi ke arah Yun Zhu. Serangan itu datang dari segala arah, atas, kiri, kanan, hingga bawah dengan ritme yang mematikan.
Namun, Yun Zhu menunjukkan ketangkasan yang luar biasa. Ia menghindar dengan gerakan-gerakan minim yang sangat efisien, seolah sudah memprediksi setiap arah datangnya tinju api tersebut.
Tiba-tiba, kaki Yun Zhu menapak kuat pada tanah pualam, lalu tubuhnya menghilang seketika dalam sekejap mata.
Yan Huan tersentak dan segera berbalik dengan refleks cepat. Ia menyilangkan kedua tangannya untuk melindungi dada, tepat di saat Yun Zhu muncul dari udara kosong dengan sebuah tendangan memutar yang sangat kuat.
BUGH!
Hantaman kaki Yun Zhu mendarat telak pada pertahanan Yan Huan. Tubuh Tuan Muda itu terpental mundur dengan sangat keras, kakinya terseret jauh di atas tanah hingga meninggalkan bekas garis dalam yang panjang.
Meskipun demikian, semangat bertarungnya tidak padam. Ia mendongak dengan tatapan mata yang masih berapi-api dan penuh gairah.
"Hanya ini?!" serunya menantang, mengabaikan rasa sakit yang mulai menjalar.
Sebagai jawaban, Qi hitam yang kelam mulai menyelimuti kedua tangan Yun Zhu, memadat hingga membentuk lapisan zirah tipis yang menyeramkan.
Ia menarik satu kakinya sedikit ke belakang, mengambil ancang-ancang, lalu kembali melesat maju dengan kecepatan yang jauh melampaui sebelumnya.
"Terima ini!"
Yun Zhu menghujani Yan Huan dengan pukulan bertubi-tubi yang mengandung kekuatan penghancur. Yan Huan tidak tinggal diam dan membalas setiap serangan itu dengan tinju apinya.
Kedua kekuatan yang bertolak belakang itu saling beradu di udara, menciptakan percikan energi yang luar biasa hingga akhirnya memicu sebuah ledakan besar yang mengguncang seluruh pondasi kediaman keluarga Yan.
Di balkon lantai atas, mata Yan Qingchen membelalak lebar karena terkejut.
"Bagaimana mungkin!" serunya sambil menghantamkan tangannya ke pinggiran balkon kayu hingga retak. "Ada jenius seperti ini juga ternyata!"
Di sampingnya, Yan Chu benar-benar dirundung rasa khawatir yang amat sangat. Dadanya berdenyut kencang, naik dan turun dengan tidak teratur di balik kain merahnya.
Pipinya yang putih perlahan merona kemerahan karena luapan emosi dan kecemasan yang mendalam. Ia meremas jemarinya sendiri hingga memutih, menatap ke arah kepulan asap di bawah sana dengan mata emas yang berkaca-kaca.
'Bagaimana jika tuan muda kalah... akan seperti apa nasibku.'
Perlahan-lahan, asap dan debu sisa ledakan mulai menipis ditiup angin. Sosok Yun Zhu dan Yan Huan mulai terlihat kembali, keduanya masih berdiri tegak di tengah arena yang hancur.
Namun, keheningan itu hanya bertahan beberapa detik. Tubuh Yan Huan perlahan-lahan goyah, kekuatannya telah mencapai batas. Ia terhuyung sejenak sebelum akhirnya jatuh dan terbaring diam di atas tanah.
Yun Zhu berdiri diam di sana, napasnya sedikit memburu. Ia memegang bahu kirinya yang terasa nyeri akibat hantaman api, namun tatapannya tetap tenang.
Dia menang!