Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.
Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Pagi itu, berita tentang keluarga Anderson masih menghiasi layar televisi, radio, hingga media daring. Video Nadine Anderson bersama Abraham di kamar hotel Maverick sudah ditonton jutaan kali, dibagikan tanpa henti. Nama keluarga Anderson jatuh ke titik terendah dalam sejarah.
"SAHAM ANDERSON CORPORATION TERJUN BEBAS 11% DALAM SEMALAM!"
"SKANDAL NADINE ANDERSON, ANAK TUAN YOSHI, JADI KONSUMSI PUBLIK"
Judul-judul berita itu bertebaran di mana-mana. Para pemegang saham panik, investor menarik diri, dan citra Anderson Corporation hancur berkeping.
Di kantor pusat perusahaan Anderson, Yoshi duduk di kursi utamanya dengan wajah kelam. Tangannya gemetar memegang laporan saham yang merosot. Ia tahu, jika tidak segera mengambil langkah, perusahaannya bisa kehilangan kepercayaan pasar sepenuhnya.
Maka, ia memutuskan satu hal: konferensi pers.
Siang itu, puluhan wartawan berkerumun di ruang konferensi Anderson Corporation. Kilatan kamera bersahut-sahutan begitu Yoshi naik ke podium. Wajahnya tegas, meski dalam hati ia dilanda badai.
"Terima kasih telah hadir," suara Yoshi terdengar mantap. "Saya, Yoshi Anderson, ingin menegaskan terkait pemberitaan yang beredar mengenai putri saya, Nadine Anderson."
Ruangan hening, semua telinga menunggu.
"Benar," lanjut Yoshi, "bahwa Nadine adalah calon istri dari Tuan Abraham, pengusaha ternama yang telah lama menjadi rekan bisnis keluarga kami. Dalam dua hari ke depan, pernikahan mereka akan dilangsungkan secara resmi."
Serentak, wartawan berteriak melontarkan pertanyaan.
"Apakah benar Nadine dipaksa menikah?"
"Apakah ini hanya untuk menutup skandal?"
"Bagaimana dengan masa depan perusahaan?"
Yoshi menatap lurus kamera. "Keputusan ini adalah yang terbaik, dan sebagai seorang ayah, saya hanya ingin memastikan anak saya memiliki masa depan. Nadine adalah gadis baik. Apa yang terjadi hanyalah bukti bahwa ia memang sudah ditakdirkan bersama Tuan Abraham."
Kalimat itu menyambar publik seperti petir. Dengan satu pengakuan, Yoshi menyingkirkan semua kemungkinan menyelamatkan nama Nadine. Ia sendiri yang menegaskan bahwa putrinya akan menikah dengan seorang pria tua, playboy, dan terkenal rakus wanita.
Di rumah keluarga Anderson, Marrie hampir pingsan melihat siaran itu di televisi. Wajahnya pucat pasi, tangannya menutup mulut tak percaya.
"Nadine... Astaga, Nadine..."
Nadine menatap layar dengan mata membelalak, tubuhnya gemetar. "Tidak... Tidak mungkin Ayah mengatakan itu! Aku... aku tidak mau menikah dengan Abraham! Tidak! Tidak!"
Air mata mengalir deras di pipinya. Ia berlari ke arah Marrie, memeluk ibunya erat, suaranya pecah penuh ketakutan.
"Ibu... aku tidak mau! Tolong aku! Aku tidak mau jadi istri ketiga pria tua itu!"
Marrie menepuk-nepuk punggung putrinya, air matanya sendiri jatuh. "Tenang, Sayang... tenang... kita akan cari cara. Ibumu tidak akan membiarkan ini terjadi."
Tapi Nadine hanya bisa menangis. Dalam kepanikan, ia berbisik penuh kebencian.
"Itu semua gara-gara Thalia... kalau bukan karena dia, aku tidak akan terjebak... aku tidak akan jadi bahan hinaan..."
Marrie mengusap rambut putrinya, wajahnya keras penuh dendam. "Kau benar, Sayang. Semua ini pasti ulah Thalia. Suatu hari nanti, kita akan membuatnya membayar. Dua kali lipat lebih menyakitkan dari apa yang kau alami sekarang."
Nadine mengangguk dalam tangis, hatinya menyimpan sumpah kelam.
Sementara itu, di belahan lain, suasana berbeda sama sekali.
Gedung tinggi Maverick Corporation menjulang megah. Lobi marmernya berkilau, dihiasi lampu gantung kristal. Para karyawan sibuk hilir mudik dengan pakaian formal.
Di pintu masuk, dua sosok menarik perhatian.
Seorang wanita muda cantik dengan aura elegan, dan seorang bocah kecil tampan yang menggenggam tangannya. Thalia bersama Liam.
Thalia membawa kotak makan siang dengan senyum ringan di wajahnya. Setelah kejadian semalam, ia ingin mengucapkan terima kasih langsung pada Aiden. Ia tahu, kalau bukan karena pria itu, mungkin namanya sudah hancur.
Resepsionis di meja depan nyaris ternganga melihat keduanya. Ia mengenali Thalia sebagai salah satu peserta ajang WTBS, artis baru yang sedang naik daun. Kini ia berdiri anggun di lobi Maverick, sambil membawa bocah lucu yang memanggilnya "Mama".
"Selamat siang..." Thalia menyapa ramah. "Saya ingin menemui Tuan Aiden Maverick. Bisakah Anda memberitahunya bahwa Thalia datang?"
Resepsionis itu menatapnya seolah tak percaya. "T-Tuan Aiden...?" Ia menoleh ke rekannya, berbisik cepat. Semua orang di kantor tahu, bos besar mereka itu terkenal dingin dan tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Bahkan rumor mengatakan, Aiden membenci perempuan.
Tapi sekarang, seorang artis cantik berdiri di lobi, membawa seorang anak kecil, dan mengaku ingin menemui sang CEO.
Dengan cepat, resepsionis menghubungi Lucas lewat telepon internal. "Tuan Lucas, ada Nona Thalia di lobi bersama seorang anak kecil... Dia bilang ingin menemui Tuan Aiden..."
Beberapa menit hening. Lalu suara Lucas yang tenang terdengar. "Izinkan mereka naik. Tuan Aiden sudah menunggu."
Resepsionis itu hampir menjatuhkan teleponnya. Dengan gugup ia tersenyum pada Thalia. "Silakan, Nona. Lift eksekutif sudah siap. Anda dipersilakan langsung ke lantai atas. Tuan Aiden menunggu Anda di ruangannya."
Thalia mengangguk sopan. "Terima kasih."
Liam menggenggam erat tangannya, matanya berbinar penasaran melihat gedung tinggi penuh orang dewasa. "Mama... kita ketemu Papa ya?" tanyanya dengan suara yang menggemaskan.
Thalia tersenyum lembut, mengelus kepala Liam. "Iya, Sayang. Kita mau kasih makan siang ke Papa."
Bisik-bisik langsung terdengar di sekitar lobi.
"Itu Thalia kan? Artis yang baru booming?"
"Aku lihat di TV! Dia beneran ke sini?"
"Kenapa bos besar kita mau repot menerima tamu wanita? Selama ini kan anti sekali dengan perempuan..."
"Dan... anak kecil itu siapa? Putra Thalia? Atau..."
Spekulasi mulai bertebaran, rasa ingin tahu semakin membuncah. Tidak ada yang tahu bahwa Thalia adalah istri sah Aiden, dan Liam adalah anak angkat yang kini memanggil Aiden dengan sebutan Papa.
Lift eksekutif berdering terbuka. Thalia menggandeng Liam masuk, pintu tertutup di belakang mereka.
Sementara itu, di lantai kerja tertinggi, Aiden Maverick duduk menunggu. Ekspresinya dingin seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang samar di matanya sebuah antisipasi yang jarang muncul.
Pintu kantor Aiden terbuka pelan. Thalia melangkah masuk sambil membawa kotak makan siang, Liam menggenggam tangannya dengan antusias.
Aiden yang duduk di balik meja kerjanya menoleh. Tatapannya dingin seperti biasa, tapi begitu melihat Thalia dan Liam, ada kilatan berbeda di matanya-hangat, samar, sulit ditebak.
"Aku membawakan makan siang," ujar Thalia pelan. "Sebagai ucapan terima kasih... untuk semalam."
Aiden bangkit, melangkah mendekat. "Kau tidak perlu repot," katanya datar. Namun begitu kotak itu taruh di atas meja, aroma hangat memenuhi ruangan. Liam sudah tidak sabar duduk di sofa, menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.
"Papa, makan baleng Mama, ayo!" serunya dengan suara cadel yang membuat siapa pun bisa meleleh mendengarnya.
Aiden menatap Liam sebentar, lalu akhirnya mengalah dan mendekati istri dan anaknya.
lanjuttttt/Kiss/