Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar Pengantin Tanpa Cinta
POV Zayn
Zayn Devandra tidak pernah menyukai paksaan.
Namun malam ini ia kembali berada dalam situasi yang sama.
Dipaksa oleh keadaan.
Lebih tepatnya dipaksa oleh ayahnya sendiri.
Mobil berhenti di depan hotel mewah yang menjulang tinggi, dengan lampu-lampu yang menyala elegan di sepanjang fasadnya. Tempat ini bukan sembarang hotel eksklusif, tertutup, dan jelas bukan tempat yang bisa diakses semua orang.
Zayn turun lebih dulu.
Tanpa berkata apa pun.
Tanpa menoleh.
Namun ia tahu
Aluna mengikutinya.
Sepanjang perjalanan menuju kamar, suara Aluna sesekali terdengar.
Celoteh kecil.
Pertanyaan ringan.
Komentar polos tentang tempat yang ia lihat.
Hal-hal sederhana.
Namun entah kenapa
Malam ini
Semua itu terasa lebih bising dari biasanya.
“kenapa kita tidak pulang kerumah,Zayn pasti hotel ini mahal” gumam Aluna pelan.
Zayn tidak menjawab.
“Apa semua orang di acara tadi menginap di sini juga?”
Tidak ada jawaban.
“Atau cuma kita saja, padahal pulang kerumah gratis,untuk apa kita datang kemari,atau jangan jangan kamu mau melakukan sesuatu padaku ya?”
Zayn menghela napas pelan.
Pendek.
Menahan sesuatu.
Ia tahu
Aluna tidak bermaksud mengganggu.
Namun pikirannya sedang penuh.
Terlalu penuh untuk menanggapi hal-hal ringan seperti itu.
Sebelum masuk ke lift, satu hal terlintas di benaknya.
Instruksi ayahnya.
Matikan ponselmu.
Zayn mengeluarkan ponselnya.
Menatap layar sebentar.
Nama itu bahkan belum muncul
Tapi ia sudah tahu.
Jika malam ini tersebar
Jika berita itu sampai ke Selena,,
Selena tidak akan tinggal diam.
Tanpa ragu
Ia mematikan ponselnya.
Layar itu gelap.
Seperti keputusan yang ia buat.
Pintu lift terbuka.
Mereka masuk.
Dan untuk beberapa detik
Hening.
Aluna berdiri di sampingnya.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Namun cukup untuk membuat kehadirannya terasa.
Zayn tidak menoleh.
Namun ia sadar
Gadis itu juga diam sekarang.
Mungkin mulai merasa canggung.
Atau mungkin
Mulai mengerti situasinya.
Lift berhenti.
Pintu terbuka.
Dan mereka melangkah keluar.
Kartu kamar disentuhkan.
Pintu terbuka perlahan.
Zayn masuk lebih dulu.
Langkahnya terhenti.
Ia tidak bergerak.
Kamar itu
Terlalu sempurna.
Lampu redup dengan pencahayaan hangat.
Lilin-lilin kecil menyala di beberapa sudut ruangan.
Kelopak bunga tersebar rapi di lantai dan tempat tidur.
Aroma lembut memenuhi udara.
Semuanya
Terlalu jelas.
Seperti kamar pengantin.
Zayn menghela napas panjang.
Lalu berdesis pelan—
“Ini pasti kerjaan Ayah.”
Ia menutup pintu di belakangnya.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
Ayahnya tidak setengah-setengah.
Tidak pernah.
Jika sudah menginginkan sesuatu
Ia akan memastikan segalanya mendukung ke arah itu.
Zayn mengatupkan rahangnya.
“Benar-benar keras kepala…”
gumamnya pelan.
Ia terdiam sejenak.
Lalu
Tanpa sadar
Tatapannya beralih.
Aluna.
Gadis itu berdiri tidak jauh darinya.
Wajahnya jelas terkejut.
Matanya menyapu ruangan dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Zayn memperhatikannya.
Lebih lama dari biasanya.
Dan di saat itu
Satu hal menjadi jelas.
Ia tidak bisa.
Bukan seperti ini.
Bukan dalam keadaan seperti ini.
Jika ia melakukannya
Tanpa keinginan Aluna
Tanpa persetujuannya
Maka itu bukan hanya menyakiti gadis itu.
Tapi juga
Menghancurkan sesuatu dalam dirinya sendiri.
Dan Zayn
Tidak menginginkan itu.
Aluna menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
“Apa yang sebenarnya direncanakan Tuan Misra dengan semua ini?” tanya Aluna pelan.
Zayn terdiam sejenak.
Lalu
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Bukan senyum.
Lebih seperti sindiran.
“Ternyata kamu tidak sepolos itu.”
Aluna mengerutkan kening.
“Dan kamu paham dengan apa yang terjadi.”
Ia berjalan perlahan.
Menjauh sedikit.
Memberi jarak.
“Keinginan Ayah tetap sama,” lanjutnya datar.
“Tidak pernah berubah.”
Zayn menghela napas.
Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
“saya tidak suka ditekan.”
Suaranya lebih rendah.
Lebih jujur.
“Dan akhir-akhir ini…”
Ia berhenti sejenak.
“Ayah selalu menekan saya ”
Tatapannya kembali ke Aluna.
“Untuk melakukan kewajiban saya sebagai suamimu.”
Hening.
Kalimat itu menggantung.
“Dan itu…”
Zayn menggeleng pelan.
“saya tidak bisa.”
Aluna menatapnya.
Lebih serius sekarang.
“Aku masih belum mengerti satu hal,” ucapnya pelan.
Zayn menunggu.
“Kenapa kamu tidak pernah menyentuhku… sejak kita menikah?”
Pertanyaan itu
Langsung.
Tanpa ragu.
Zayn terdiam.
Untuk beberapa detik
Ia tidak menjawab.
“Padahal kamu setuju menikah denganku,” lanjut Aluna.
Zayn mengalihkan pandangannya sejenak.
“Semua itu… keinginan Ayah.”
Jawaban itu keluar pelan.
Tapi cukup jelas.
Hening.
Aluna tidak langsung berbicara.
Namun tatapannya berubah.
“Jadi sekarang?” tanyanya akhirnya.
Zayn menoleh.
“Apa kamu akan melakukan kewajiban itu juga… karena keinginan Ayahmu?”
Kalimat itu
Menggantung di udara.
Tidak ada jawaban.
Zayn menatapnya.
Lama.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun maknanya
Tidak.
Karena ini bukan lagi tentang paksaan.
Bukan lagi tentang kewajiban.
Tapi tentang pilihan.
Dan untuk pertama kalinya
Zayn benar-benar dihadapkan pada sesuatu yang tidak bisa ia jawab dengan logika.
Tatapan mereka bertahan.
Tidak ada yang mengalihkan.
Di antara lilin-lilin yang menyala…
Di antara bunga-bunga yang tersusun rapi…
Di dalam kamar yang dipersiapkan dengan satu tujuan
Ada dua orang
Yang berdiri dengan jarak.
Dengan perasaan yang belum jelas.
Dengan keputusan yang belum diambil.
Dan satu pertanyaan
Yang belum memiliki jawaban.
Apakah ini hanya tentang kewajiban…
Atau sesuatu yang mulai berubah tanpa mereka sadari?
Ada yang mau kasih masukan ??
Komentar ya??