Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ziva adalah Kelemahan Terindah
Dinding-dinding rumah aman di Sisilia itu terasa semakin mengecil saat badai di luar bersaing dengan deru mesin helikopter yang mendekat secara ilegal dari arah pantai. Di dalam ruang kendali yang remang-remang, Aiden Volkov berdiri di depan barisan layar monitor, namun matanya tidak tertuju pada pergerakan musuh. Matanya tertuju pada pantulan Ziva di kaca jendela—gadis itu sedang sibuk mengikat tali sandal jepit Swallow-nya dengan karet gelang tambahan agar tidak terlepas saat harus berlari nanti.
Aiden mengepalkan tangannya. Selama bertahun-tahun, ia membangun reputasi sebagai pria tanpa celah. Di dunia bawah tanah Eropa, nama Volkov identik dengan efisiensi yang kejam dan logika yang dingin. Ia adalah mesin yang tidak memiliki titik lunak. Namun sekarang, melihat Ziva yang sedang mengomel pelan tentang debu di sandalnya, Aiden menyadari bahwa benteng yang ia bangun selama puluhan tahun telah runtuh, dan di reruntuhannya berdiri seorang gadis kurir dari Jakarta.
"Ziva adalah kelemahan terindahku," bisik Aiden dalam hati, sebuah pengakuan yang jika terdengar oleh musuhnya, akan menjadi lonceng kematian bagi mereka berdua.
"Tuan, unit The Wraith sudah melewati perimeter luar. Mereka tidak menggunakan bahan peledak, mereka menggunakan gas pelumpuh saraf," lapor Marco melalui interkom. Suaranya terdengar tegang.
Aiden menoleh ke arah Ziva. "Masuk ke dalam kabin perlindungan di balik lemari besi. Jangan keluar sampai aku yang menjemputmu. Jika dalam satu jam aku tidak datang, gunakan terowongan di bawahnya untuk menuju pantai. Ada perahu mesin kecil yang sudah disiapkan."
Ziva berhenti mengikat sandalnya. Ia berdiri dan menatap Aiden dengan sorot mata yang menolak perintah itu. "Bang, lu mau main pahlawan sendirian lagi? Lu baru aja cerita soal masa lalu lu, soal gimana lu benci kehilangan orang. Terus sekarang lu mau gue nunggu di lubang gelap sementara lu di sini jadi sasaran empuk hantu-hantu Rusia itu?"
"Ini bukan soal pahlawan, Ziva! Ini soal perhitungan!" suara Aiden meninggi, gema amarahnya memantul di dinding beton. "Kau adalah satu-satunya alasan aku masih bisa berpikir jernih, tapi kau juga satu-satunya hal yang bisa membuatku melakukan kesalahan fatal. Jika mereka menangkapmu, aku akan menyerahkan seluruh duniaku tanpa berpikir dua kali. Paham?!"
Ziva terdiam. Ia melihat tangan Aiden yang gemetar—bukan karena takut pada kematian, tapi karena ketakutan yang jauh lebih besar: ketakutan akan kegagalan melindungi sesuatu yang berharga.
"Bang Don..." Ziva mendekat, memegang tangan Aiden yang dingin. "Gue tahu gue ini beban buat lu di tengah baku hantam gini. Tapi gue lebih milih jadi beban yang ada di samping lu, daripada jadi beban pikiran lu pas lu lagi nembak musuh. Lu bakal terus-terusan nengok ke belakang kalau gue nggak ada di penglihatan lu."
Belum sempat Aiden membalas, lampu di ruangan itu padam total. Sistem cadangan pun tidak menyala—menandakan bahwa The Wraith telah meretas jaringan pusat listrik dari sumbernya. Suara denting kaca pecah terdengar dari lantai atas.
"Pakai masker gasmu!" perintah Aiden sambil memasangkan alat pelindung ke wajah Ziva dengan gerakan cepat.
Aiden menarik pistol kaliber .45 miliknya dan sebuah pisau taktis. Dalam kegelapan total, ia menggunakan kacamata night vision. Namun, bagi Ziva, dunia menjadi hitam pekat. Ia hanya bisa merasakan genggaman tangan Aiden yang sangat kuat di pergelangan tangannya.
"Tetap rendah, Ziva. Ikuti tarikan tanganku," bisik Aiden di balik maskernya.
Mereka bergerak menyusuri koridor bawah tanah. Aiden bergerak dengan presisi seorang predator. Setiap kali bayangan musuh muncul dari balik pilar, Aiden melepaskan tembakan yang sunyi namun mematikan. Ia bertarung dengan gaya yang berbeda malam ini; ia tidak lagi agresif mengejar musuh, melainkan bertahan secara obsesif di depan tubuh Ziva.
Bagi para pembunuh dari unit The Wraith, Aiden Volkov adalah legenda. Namun, mereka melihat sesuatu yang berbeda hari ini. Sang Naga tidak lagi bertarung untuk dominasi, ia bertarung untuk sebuah nyawa yang bukan miliknya.
Saat mereka mencoba mencapai pintu keluar darurat, sebuah granat kejut meledak di depan mereka. Cahaya putih yang menyilaukan dan suara berdenging tinggi menghancurkan indra mereka. Ziva terlempar ke samping, pegangan tangan Aiden terlepas.
"ZIVA!" teriak Aiden, suaranya parau karena debu dan efek ledakan.
Dalam kekacauan itu, seorang anggota The Wraith muncul dari balik asap, mencoba menarik Ziva. Ziva, dengan insting bertahan hidup yang konyol namun efektif, menendang tulang kering pria itu dengan sandal jepit Swallow-nya. Meski tidak menyakitkan secara fisik, gerakan tak terduga itu membuat si pembunuh terkejut selama satu detik.
Satu detik adalah waktu yang lebih dari cukup bagi Aiden.
Aiden menerjang tanpa memedulikan peluru yang menyerempet bahunya. Ia menghantam pria itu dengan kekuatan penuh, menjatuhkannya ke lantai, dan menghujamkan pukulan bertubi-tubi hingga pria itu tidak bergerak. Aiden kemudian menarik Ziva ke dalam pelukannya, memeriksa denyut nadi gadis itu dengan tangan yang gemetar hebat.
"Kau tidak apa-apa? Katakan padaku kau tidak apa-apa!" Aiden menangkup wajah Ziva, mengabaikan fakta bahwa mereka masih di tengah medan tempur.
"Gue... gue oke, Bang. Cuma pusing dikit kayak naik komedi putar," gumam Ziva di balik maskernya.
Aiden memeluknya erat, sangat erat, hingga Ziva sulit bernapas. Di saat itulah Aiden menyadari kebenarannya: Ziva bukan hanya kelemahan. Ziva adalah pusat gravitasi dari seluruh keberadaannya. Tanpa Ziva, ia kembali menjadi monster dingin tanpa tujuan. Dengan Ziva, ia menjadi manusia yang memiliki ketakutan terindah.
Mereka berhasil keluar ke arah kebun zaitun saat fajar mulai menyingsing, menyisakan warna ungu dan jingga yang dramatis di langit Sisilia. Namun, pelarian mereka terhenti. Pemimpin unit The Wraith, seorang pria tua dengan bekas luka bakar di lehernya—orang yang dulu merupakan tangan kanan ayah Aiden—berdiri menunggu di bawah pohon zaitun tua.
"Kau sudah banyak berubah, Nomor 44," ucap pria itu dalam bahasa Rusia yang berat. "Dulu kau hanya peduli pada kelangsungan hidupmu. Sekarang kau membawa beban di punggungmu."
Aiden menempatkan Ziva di belakang sebatang pohon besar. "Dia bukan beban, Volkov. Dia adalah alasan kenapa aku masih mengizinkan dunia ini berputar."
"Gadis itu akan menjadi kehancuranmu. Lihatlah dirimu, kau terluka di tempat yang seharusnya bisa kau hindari jika kau tidak melindunginya," pria itu mengangkat senjatanya.
Aiden tidak menjawab. Ia memberikan isyarat pada Ziva untuk tetap diam. Duel itu terjadi dengan kecepatan yang sulit diikuti mata manusia. Baku tembak jarak pendek berganti menjadi pertarungan pisau yang brutal. Aiden bertarung seperti orang gila, mengabaikan rasa sakit di bahunya. Setiap kali ia melihat ke arah pohon tempat Ziva bersembunyi, kekuatannya seolah berlipat ganda.
Pria tua itu akhirnya tumbang dengan pisau Aiden bersarang di dadanya. Sebelum napas terakhirnya, ia berbisik, "Kau benar-benar mencintainya... malang sekali bagi seorang raja sepertimu."
Aiden terjatuh berlutut, napasnya tersengal-engal. Darah merembes dari luka di bahu dan lengannya. Ziva segera berlari keluar dari persembunyiannya, mengabaikan aturan keamanan apa pun.
"Bang Don! Lu berdarah banyak banget!" Ziva menangis, merobek bagian bawah kaosnya untuk menahan pendarahan di bahu Aiden.
Aiden menatap Ziva, lalu ia tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sangat langka dan tulus. Ia menyentuh pipi Ziva yang terkena noda tanah.
"Ziva... mereka benar. Kau adalah kelemahanku," bisik Aiden. "Karena kau, aku tidak bisa lagi menjadi predator yang sempurna. Aku menjadi penakut. Aku takut pada hari esok, aku takut pada peluru, aku takut pada kegelapan."
Ziva menggelengkan kepalanya sambil terus menekan luka Aiden. "Nggak, Bang. Lu bukan penakut. Lu cuma baru ngerasa punya sesuatu yang layak diperjuangin lebih dari sekadar takhta."
Aiden menarik Ziva ke dalam dekapan hangatnya, mengabaikan rasa sakit di tubuhnya. "Kelemahan ini... adalah hal terindah yang pernah kumiliki. Aku lebih memilih mati melindungimu daripada hidup selamanya sebagai naga yang kesepian di atas tumpukan emas."
Saat Marco dan bala bantuan akhirnya tiba untuk membersihkan sisa-sisa musuh, mereka menemukan pemandangan yang akan menjadi legenda di antara anak buah Volkov. Sang Raja Mafia, yang ditakuti seluruh daratan Eropa, sedang duduk bersandar di pohon zaitun tua dengan luka-luka di tubuhnya, sementara seorang gadis dengan sandal jepit Swallow sedang sibuk mengomelinya sambil membalut lukanya dengan potongan kaos.
Aiden tidak marah saat Ziva memarahinya karena terlalu nekat. Ia justru menikmati setiap kata yang keluar dari mulut gadis itu. Ia menyadari bahwa kekuatannya selama ini adalah kebohongan yang ia ciptakan sendiri, dan kelemahannya—Ziva—adalah kebenaran yang menyelamatkannya.
"Bang, dengerin gue nggak sih?! Jangan senyum-senyum terus, ini lukanya dalem tau!" seru Ziva kesal.
"Aku mendengarkan, Ziva. Aku selalu mendengarkan," jawab Aiden pelan.
Di bawah sinar matahari Sisilia yang mulai menghangat, Aiden Volkov tahu bahwa perang ini masih jauh dari selesai. Lorenzo masih ada, dan dunia bawah akan terus mengincar titik lemahnya. Namun, ia tidak lagi takut. Jika Ziva adalah titik lemahnya, maka ia akan menjadi perisai paling tak tertembus di dunia untuk melindungi kelemahan terindah itu.
Sandal jepit Ziva yang sekarang dipenuhi lumpur Sisilia tampak kontras di samping sepatu bot militer Aiden yang berdarah. Dua dunia yang berbeda, satu takdir yang saling mengikat. Malam itu, Naga Hitam telah menerima takdirnya: bahwa ia bukan lagi sekadar penguasa, melainkan seorang pelindung dari satu-satunya cahaya yang tersisa di hidupnya.
"Ayo pulang, Ziva," ajak Aiden sambil berdiri dengan bantuan tangan Ziva.
"Pulang ke mana, Bang? Rumah aman kita kan udah berantakan?"
"Ke mana pun kau berada, itulah rumahku sekarang."
Ziva tersipu, lalu ia memapah Aiden menuju kendaraan yang sudah menunggu. Di tengah keheningan kebun zaitun, sebuah pengakuan telah terpatri: bahwa cinta bukanlah penghalang bagi seorang raja, melainkan kekuatan yang membuatnya tak terkalahkan.