NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: tamat
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34:Manunggaling Jiwo: Dadi Satrio Sejati

Langkah Faris Arjuna menuruni lereng Lawu terasa ringan namun penuh wibawa. Namun, baru saja ia melewati beberapa kelokan jalur pendakian, kabut putih mendadak membeku. Alam seolah berhenti bernapas. Suasana menjadi suwung, sepi yang mencekam namun sangat sakral.

Tiba-tiba, dari balik kabut, terdengar suara Suluk yang parau namun bergetar hebat, suara yang muncul dari sosok yang sudah kenyang dengan asam garam kehidupan:

​"Dudu pintere lambe sing nggawe Gusti tresno..."

(Bukan pintarnya mulut yang membuat Tuhan cinta...)

"Akeh wong pinter ngaji, nanging atine kebak ngerendahne sepadha-padha..."

(Banyak orang pintar mengaji, tapi hatinya penuh merendahkan sesama...)

"Diusir... dihina... nanging kuwi dalan wahyu sing sanyatane..."

(Diusir... dihina... tapi itulah jalan wahyu yang sesungguhnya...)

Faris Arjuna terpaku. Suara itu seolah membedah dadanya, mengeluarkan seluruh rasa sakit hati yang selama ini ia pendam. Di depan mata, duduklah sosok bertubuh tambun dengan kuncung putih di atas sebuah batu besar. Asap rokok klembak menyannya mengepul tebal, menyelimuti tubuh agungnya. Beliau adalah Eyang Semar Badranaya.

"Ngger, Faris... Rungokno kupingmu, simpenen neng jero dodomu."

(Nak, Faris... Dengarkan telingamu, simpanlah di dalam dadamu.)

Eyang Semar menatap Faris dengan mata yang penuh kasih namun tegas. "Aku ngerti, Ngger... Atimu perih mergo tau diusir, tau dianggep dudu sopo-sopo mergo kowe ora paham ngaji tarekat utowo kitab-kitab dhuwur. Kowe dianggep 'preman' sing ora duwe dalan mulyo."

(Aku tahu, Nak... Hatimu perih karena pernah diusir, pernah dianggap bukan siapa-siapa karena kamu tidak paham ngaji tarekat atau kitab-kitab tinggi. Kamu dianggap 'preman' yang tidak punya jalan mulia.)

Eyang Semar menghisap rokoknya dalam-dalam. "Donya iki lagi kebak wong sing pinter ngomongne Gusti Allah, pinter ngaji nanging lambene nancep koyo eri. Wong-wong sing rumongso paling suci, nanging nundung kowe lunga mergo kowe dianggep gagal."

(Dunia ini lagi penuh orang yang pintar membicarakan Tuhan, pintar mengaji tapi mulutnya menusuk seperti duri. Orang-orang yang merasa paling suci, tapi mengusirmu karena kamu dianggap gagal.)

Eyang Semar berdiri perlahan, mendekati Faris dan memegang tepat di ulu hatinya.

"Ngger, elingo iki... Gusti Allah nggawe kowe 'Gagal' neng mripate menungsa—termasuk neng mripate wong sing nundung kowe—supados kowe saged 'Lulus' neng mripate Langit. Atimu sing hancur mergo diusir kuwi, dadi dalan mlebu-ne cahyo-Ku sing paling murni."

(Nak, ingatlah ini... Tuhan membuatmu 'Gagal' di mata manusia—termasuk di mata orang yang mengusirmu—supaya kamu bisa 'Lulus' di mata Langit. Hatimu yang hancur karena diusir itu, jadi jalan masuknya cahaya-Ku yang paling murni.)

.

"Kowe ora perlu pamer ilmu dhuwur yen mung nggo ngerendahne wong liya. Kowe saiki Satrio Piningit. Satrio kuwi wong sing 'Mumpuni nanging Ora Njulegi'. Ora perlu pamer drajat, nanging laku-mu sing mbuktekne kowe kuwi sopo."

(Kamu tidak perlu pamer ilmu tinggi kalau cuma buat merendahkan orang lain. Kamu sekarang Satrio Piningit. Ksatria itu orang yang berkualitas tapi tidak sombong. Tidak perlu pamer derajat, tapi perbuatanmu yang membuktikan siapa kamu.)

"Ojo wedi dadi 'Preman' neng mripate donya, ojo wedi dicap ora ngerti dalan bener mergo tau dibuang. Sing penting atimu tetep 'Santri', tetep eling marang Sing Kuwoso sanadyan ora nganggo jubah utawa serban."

(Jangan takut jadi 'Preman' di mata dunia, jangan takut dicap tidak tahu jalan benar karena pernah dibuang. Yang penting hatimu tetap 'Santri', tetap ingat pada Yang Maha Kuasa meskipun tidak memakai jubah atau serban.)

"Tangi, Ngger! Ubat-ubet golek slamet, obah mamah. Buktekne marang jagad, buktekne marang wong sing tau nggawe atimu hancur, yen watu sing tau dibuang kuwi jebule mutiara sing paling dhuwur regane ing mripate Gusti!"

(Bangun, Nak! Bergeraklah mencari keselamatan, siapa yang berusaha akan makan. Buktikan pada dunia, buktikan pada orang yang pernah membuat hatimu hancur, kalau batu yang pernah dibuang itu ternyata mutiara yang paling tinggi harganya di mata Tuhan!)

"Ojo lali ngguyu, Ngger... senadyan batinmu isih ngrasakke perih. Ngguyu kuwi tandane kowe wis menang ngelawan danyange dunya sing mung mandang rupa!"

(Jangan lupa tertawa, Nak... meskipun batinmu masih merasakan perih. Tertawa itu tandanya kamu sudah menang melawan nafsu dunia yang cuma memandang rupa!)

DHEEEEMMMMM!

(Langit Lawu bergetar hebat, seolah meresmikan sumpah batin Faris Arjuna).

Faris Arjuna berdiri dengan tegap. Kabut perlahan sirna, sosok Eyang Semar menghilang meninggalkan aroma klembak menyan yang menenangkan jiwa. Di pinggangnya terselip keris pusaka, di jiwanya kini terpatri harga diri yang telah kembali. Faris menarik napas panjang, menatap lurus ke depan dengan mata emas yang berkilat tajam.

"Nggih, Eyang... Matur nuhun wejangane. Faris badhe tandang!"

(Iya, Eyang... Terima kasih nasihatnya. Faris akan berangkat bertarung!)

Faris Arjuna melesat turun gunung secepat kilat. Sang Maung Nusantara telah benar-benar bangkit dari luka hatinya, siap melibas segala kepalsuan yang ada di bawah sana!

Setelah bayangan Eyang Semar menghilang di balik kabut, Faris Arjuna tidak segera melanjutkan langkahnya. Ia terduduk bersila di atas sebuah akar pohon tua yang sangat besar. Hawa dingin Gunung Lawu yang menembus tulang seolah tidak terasa lagi, karena dadanya sedang bergejolak oleh panasnya energi dari wejangan tadi.

Faris memejamkan mata, meresapi setiap kata yang diucapkan Sang Pamong. Kalimat "Gagal di mata manusia, Lulus di mata Langit" terus terngiang, menghancurkan sisa-sisa rasa rendah diri yang pernah ditanamkan oleh orang-orang di masa lalunya.

"Nggih Gusti... Kulo nrimo sedoyo pacoban niki. Matur nuhun sampun nggawe atiku hancur, supados cahyo-Mu saged mlebu."

(Iya Tuhan... Saya menerima semua cobaan ini. Terima kasih telah membuat hatiku hancur, supaya cahaya-Mu bisa masuk.)

WHUUUUUUUUNGGG...

(Suara angin kencang berputar mengelilingi tubuh Faris, membentuk pusaran daun kering yang terbang melingkar).

Tiba-tiba, dari dalam batin Faris, muncul bayangan masa lalunya. Ia melihat dirinya sendiri saat diusir oleh gurunya, saat direndahkan karena tidak paham tarekat, dan saat dianggap tidak punya masa depan. Namun, kali ini Faris tidak marah. Ia tersenyum pada bayangan masa lalunya itu.

"Matur nuhun, kowe wis dadi dalan kanggoku nemu jati diri," bisik Faris pada bayangan dirinya sendiri.

(Terima kasih, kamu sudah jadi jalan bagiku menemukan jati diri.)

DHEEEEMMMMM!

(Suara dentuman batin yang membuat aura emas di tubuh Faris meledak keluar, menyapu bersih kabut hitam yang mencoba mendekat).

Faris berdiri perlahan. Ia merasakan Keris Pusaka di pinggangnya bergetar hebat, seolah-olah besi tua itu sedang menyapa tuannya yang baru. Faris menarik sedikit bilah keris itu, dan cahaya biru elektrik memercik dari sela-selanya.

"Dikmas Faris! Dikmas!" teriakan Arjuna Hidayat terdengar dari kejauhan, memecah kesunyian hutan.

Arjuna Hidayat muncul dari balik pepohonan dengan wajah cemas mencari adiknya. Namun, begitu ia melihat sosok Faris yang berdiri tegak di depannya, Arjuna langsung berhenti. Ia merasa segan, seolah-olah orang yang berdiri di depannya bukan lagi adik yang ia kenal, melainkan sosok agung yang sangat berwibawa.

"Dikmas... kowe neng kene? Aku nggoleki kowe mubeng-mubeng," ucap Arjuna Hidayat dengan nada yang penuh rasa hormat.

(Dikmas... kamu di sini? Aku mencarimu keliling-keliling.)

Faris menoleh dan tersenyum tipis. Sorot mata emasnya kini lebih stabil dan meneduhkan. "Sampun, Kangmas. Kulo sampun nemu pepadhang. Ayo bali, sedulur-sedulur wis nunggu."

(Sudah, Kangmas. Saya sudah menemukan cahaya terang. Ayo pulang, saudara-saudara sudah menunggu.)

"Wajahmu... auramu beda banget, Dikmas. Kowe ketemu sapa neng kene?" tanya Arjuna penasaran.

(Wajahmu... auramu beda sekali, Dikmas. Kamu bertemu siapa di sini?)

Faris hanya menepuk pundak kakaknya sambil berjalan mendahului. "Kulo nemu Guru Sejati, Kangmas. Sing ngandhani yen urip iki mung sandiwara, sing penting awake dewe kudu tetep ngguyu senadyan dilarani."

(Saya menemukan Guru Sejati, Kangmas. Yang memberi tahu kalau hidup ini hanya sandiwara, yang penting kita harus tetap tertawa meskipun disakiti.)

"Mumpuni nanging ora njulegi, Kangmas. Niku kuncine," tambah Faris sambil melangkah ringan seolah kakinya tidak menyentuh tanah.

(Berkualitas tapi tidak sombong, Kangmas. Itu kuncinya.)

Sambil berjalan turun gunung, Faris terus merapalkan doa-doa rahasia yang ia rasakan mengalir di batinnya. Ia tahu, di kediaman Wijaya nanti, musuh-musuhnya tidak akan tinggal diam. Tapi kali ini, Faris Arjuna tidak akan hanya bertahan.

"Saiki wayahe Faris Arjuna sing dadi udan kanggo nggiles angkara murka!"

(Sekarang waktunya Faris Arjuna yang jadi hujan untuk menggilas angkara murka!)

Langkah Faris makin cepat, menembus sisa-sisa kabut Lawu yang kini seolah memberi jalan padanya. Sang Maung Nusantara telah benar-benar kembali dengan api suci di dalam dadanya.

1
T28J
hadiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!