Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Langkah pertama mereka melewati gerbang tidak terasa seperti berjalan biasa, melainkan seperti tubuh mereka ditarik perlahan ke dalam arus yang tidak terlihat.
Membuat pijakan seolah hilang untuk sesaat sementara cahaya keunguan bercampur keemasan menyelimuti seluruh pandangan, menghapus arah dan waktu, hingga yang tersisa hanya sensasi hangat yang menekan lembut, seperti berada di antara dua dunia yang belum sepenuhnya memutuskan untuk menerima atau menolak keberadaan mereka.
Dan di tengah ketidakpastian itu Alexandria tanpa sadar menggenggam tangan Leonard lebih erat sementara Leonard membalas genggaman itu dengan kuat, seolah memastikan bahwa apa pun yang menunggu di sisi lain, mereka tidak akan menghadapinya sendirian.
Perubahan itu terjadi begitu cepat hingga hampir tidak terasa, dan saat kaki mereka kembali menyentuh tanah yang padat dan nyata, dunia di sekitar mereka terbuka dengan cara yang membuat napas Alexandria tertahan, karena langit yang terbentang di atas bukan lagi biru seperti yang ia kenal, melainkan ungu tua yang dalam dengan semburat biru gelap di ujungnya.
Sementara dua bulan menggantung bersamaan, memancarkan cahaya lembut yang jatuh seperti lapisan tipis di atas hutan yang tampak hidup dengan cara yang berbeda, pepohonan menjulang tinggi dengan daun yang berkilau samar, dan udara yang mereka hirup membawa aroma segar yang terasa lebih dalam, seolah setiap tarikan napas mengandung sesuatu yang lebih dari sekadar udara.
Alexandria tidak langsung bicara, matanya bergerak perlahan menyapu sekeliling, mencoba memahami apa yang ia lihat meski semuanya terasa terlalu luas untuk ditangkap sekaligus, sementara Leonard berdiri di sampingnya dengan sikap yang berubah tanpa perlu dijelaskan.
Karena cara ia memandang tempat itu bukan lagi seperti orang yang sedang menjelajah, melainkan seseorang yang akhirnya kembali ke tempat yang pernah ia tinggalkan, dan saat ia akhirnya berbicara, suaranya terdengar lebih berat namun juga lebih pasti.
“Eldoria,” ucapnya pelan.
Alexandria menoleh, menatap wajahnya, lalu kembali melihat dunia di depan mereka dengan napas yang masih belum sepenuhnya stabil, “Ini… dunia tempat kamu berasal…”
Leonard mengangguk sedikit, lalu menatapnya dengan lembut di tengah perubahan yang terasa begitu besar, “Sekarang ini juga tempatmu.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk menenangkan sesuatu di dalam diri Alexandria yang sejak tadi terasa menggantung, meski rasa takjubnya belum sepenuhnya mereda.
Karena setiap sudut dunia ini terasa seperti keajaiban yang hidup, dan untuk beberapa detik mereka berdiri tanpa bergerak, membiarkan semuanya meresap.
Sampai akhirnya Leonard tiba-tiba menegang, bahunya sedikit kaku, matanya menyipit ke satu arah dengan fokus yang langsung mengubah suasana di antara mereka.
Alexandria merasakannya bahkan sebelum ia bertanya, karena genggaman tangan Leonard berubah sedikit lebih kuat, bukan menyakitkan, tapi cukup jelas untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
“Kita tidak sendirian,” ucap Leonard pelan tanpa mengalihkan pandangannya.
Alexandria mengikuti arah tatapannya, dan di antara pepohonan yang berkilau samar, bayangan mulai bergerak, awalnya hampir tidak terlihat karena menyatu dengan kegelapan alami di sana, namun perlahan bentuk itu menjadi jelas.
Empat sosok muncul dengan langkah yang teratur dan tidak tergesa, mengenakan jubah panjang berwarna gelap dengan garis tipis yang berpendar halus di bagian tepinya, wajah mereka terbuka, memperlihatkan ekspresi yang tidak sepenuhnya ramah namun juga tidak langsung bermusuhan, melainkan waspada dan menilai.
Mereka tidak berhenti begitu saja, tapi menyebar secara alami membentuk setengah lingkaran, cukup jauh untuk menjaga jarak, cukup dekat untuk menunjukkan bahwa mereka tidak akan membiarkan dua orang asing melangkah lebih jauh tanpa penjelasan, dan di antara mereka, satu orang melangkah sedikit ke depan, posturnya lebih tegap, tatapannya tajam, seolah terbiasa mengambil keputusan.
“Kau melangkah melalui gerbang tanpa izin,” katanya dengan suara dalam yang tidak perlu ditinggikan untuk terdengar mengintimidasi.
Leonard tidak langsung menjawab, ia hanya berdiri tegak tanpa mundur setengah langkah pun, dan meskipun tidak ada gerakan agresif, aura yang ia pancarkan berubah secara halus namun jelas, membuat Alexandria yang berdiri di sampingnya bisa merasakan pergeseran itu, seperti melihat seseorang yang selama ini ia kenal tiba-tiba menampilkan sisi lain dari dirinya yang jauh lebih besar.
“Aku tidak membutuhkan izin untuk kembali ke tanahku sendiri,” jawab Leonard tenang, namun berat.
Kalimat itu tidak hanya terdengar, tapi terasa, membuat udara di sekitar mereka seperti ikut menegang, dan keempat sosok itu saling bertukar pandang singkat, bukan karena bingung, tapi karena sesuatu dalam ucapan itu memicu pengenalan yang belum sepenuhnya mereka yakini.
Pria di depan itu menyipitkan mata, mengamati Leonard lebih dalam,
“Banyak yang mengaku berasal dari sini, tapi sangat sedikit yang benar-benar… kembali.”
Leonard melangkah satu langkah ke depan, tidak terburu-buru, tidak agresif, tapi cukup untuk menutup jarak dengan keyakinan yang tidak perlu dibuktikan dengan kata-kata tambahan.
“Kalau begitu lihat lebih dekat.”
Udara bergetar sangat halus, hampir tidak terlihat, namun cukup untuk dirasakan, dan tanpa ledakan atau pertunjukan berlebihan, cahaya tipis keemasan mulai muncul di sekitar Leonard, bukan menyilaukan, tapi cukup jelas untuk menunjukkan sesuatu yang tidak bisa disembunyikan, sesuatu yang bukan sekadar kekuatan, melainkan identitas.
Reaksi itu langsung terlihat.
Pria di depan itu menegang, matanya melebar sesaat sebelum ia menunduk sedikit, cukup dalam untuk menunjukkan perubahan sikap tanpa kehilangan kewaspadaan sepenuhnya.
“…Putra mahkota,” gumamnya pelan.
Tiga lainnya langsung mengikuti, sikap mereka berubah, tidak lagi sekadar penjaga yang menghadang, tapi seseorang yang menyadari bahwa mereka berdiri di hadapan sosok yang tidak seharusnya mereka perlakukan sebagai orang asing.
Alexandria menatap Leonard dari samping, jantungnya berdegup lebih cepat bukan karena takut, tapi karena baru sekarang ia benar-benar melihat bagian dari dirinya yang selama ini hanya ia dengar dari cerita, bukan hanya Leonard yang ia cintai, tapi Leonard sebagai bagian dari dunia ini, sebagai seseorang yang memiliki tempat, kekuatan, dan masa lalu yang jauh lebih luas dari apa pun yang pernah ia bayangkan.
Namun Leonard tidak membiarkan momen itu berkembang terlalu jauh.
“Turunkan itu,” katanya pelan, membuat mereka kembali berdiri tegak.
“Aku tidak datang untuk dihormati, aku datang karena aku harus,” lanjutnya, suaranya tetap tenang tapi tidak memberi ruang untuk perdebatan.
Pria di depan itu mengangguk perlahan, lalu mengalihkan pandangannya ke Alexandria, menilainya dengan cara yang lebih serius dari sebelumnya, “Dan dia?”
Leonard tidak ragu sedikit pun, bahkan sebelum pertanyaan itu selesai sepenuhnya.
“Dia bersamaku.”
Jawaban itu sederhana, tapi mutlak, dan Alexandria bisa merasakannya bukan sebagai pernyataan biasa, melainkan keputusan yang tidak akan berubah apa pun yang terjadi.
Pria itu mengamati Alexandria beberapa detik lebih lama, seolah memastikan sesuatu, lalu menarik napas sebelum berbicara lagi dengan nada yang lebih terkendali.
“Kalau begitu kalian harus bergerak cepat, wilayah ini tidak lagi aman, pengaruh Valerius sudah menjalar lebih jauh dari yang seharusnya.”
Nama itu langsung mengubah suasana, membuat udara terasa lebih berat meski tidak ada yang bergerak, dan Leonard menyipitkan matanya sedikit, fokusnya kembali tajam.
“Seberapa jauh?” tanyanya.
Pria itu tidak langsung menjawab, tapi pandangannya mengarah ke kedalaman hutan, ke arah di mana cahaya bulan terlihat lebih redup, seolah ada sesuatu yang menekan dari kejauhan.
“Lebih dekat dari yang kau inginkan,” jawabnya pelan.
Alexandria menelan ludah, merasakan perubahan itu sampai ke dalam dadanya, dan tanpa perlu dijelaskan lebih lanjut, ia sudah mengerti bahwa langkah mereka melewati gerbang tadi bukan sekadar awal perjalanan baru, melainkan titik di mana mereka benar-benar masuk ke dalam sesuatu yang lebih besar, lebih berbahaya, dan tidak bisa dihindari.
Dan di sampingnya, Leonard tidak lagi terlihat seperti seseorang yang terseret ke dalam takdirnya.
Ia terlihat seperti seseorang yang siap menghadapinya.