NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Emas dan Darah

Dua tembakan Dina menggema di seluruh basement. Satu peluru mengenai tumpukan emas, memercikkan api. Satunya lagi merobek lengan salah satu pencuri.

Tapi Jaka Sembung tidak panik.

"Aneh," suaranya dingin, kedua tangannya mulai mengeluarkan asap hitam tipis. "Polisi biasanya tidak bisa menemukan tempat ini. Siapa yang membantumu, Inspektur?"

Dina tidak menjawab. Pistolnya tetap terarah ke kepala Jaka. "Menyerahlah. Semua akses keluar sudah ditutup."

"Semua akses? Hah." Jaka tersenyum lebar—senyum yang tidak normal, terlalu lebar untuk wajah manusia. "Kau pikir kami butuh pintu?"

Dalam sekejap, Jaka menghilang.

All-Seeing Eye: Target menggunakan Teknik Langkah Sunyi. Kecepatan: 45. Tidak terdeteksi oleh penglihatan normal.

"DINA, MERUNDUK!"

Aditya berteriak sambil menghambur ke depan. Tangannya mendorong Dina ke kiri. Satu detik kemudian, pilar beton tepat di belakang mereka hancur oleh pukulan telanjang.

Jaka muncul dari kegelapan, tinjunya masih mengepal, asap hitam mengepul dari lengannya.

"Kau bisa melihatku, bocah?"

Aditya menelan ludah. Di panel statusnya, angka-angka bertuliskan kontras yang mengerikan:

Jaka Sembung:

· Level Kultivasi: 5 (Alam Bela Diri Tingkat Awal)

· Kekuatan: 52

· Kecepatan: 45

· Skill Aktif: Pukulan Bayangan, Langkah Sunyi, Cakar Malam.

Status Host:

· Kekuatan: 8

· Kecepatan: 8

· Stamina: 10

Tidak mungkin menang.

"DIALIHKAN!" teriaknya pada Dina.

Tapi inspektur itu sudah bangkit, pistolnya kembali terangkat. "Aku tidak lari dari penjahat!"

"Dia bukan penjahat biasa!"

Jaka tertawa. "Wanita keras kepala. Cocok untuk sandera."

Ia menghilang lagi.

Aditya memutar otak. All-Seeing Eye bisa melacak posisi Jaka, tapi matanya tidak cukup cepat untuk mengikuti kecepatan 45. Yang bisa ia lakukan adalah membaca arah gerakan dari panel sistem.

Target bergerak: 11 derajat ke kanan. Kecepatan menurun. Mempersiapkan serangan ke arah Inspektur Dina.

"KANAN, DINA, RENDAH!"

Dina merunduk dan berguling ke samping. Cakar hitam Jaka menyambar udara kosong, tepat di atas kepalanya.

"ADA YANG MENYEBALKAN DARI KAU, BOCAH!" Jaka meraung, wajahnya berubah liar. "Kau bukan polisi. Kau bukan kultivator juga. Tapi kau terus mengganggu rencanaku!"

Tiga anak buah Jaka mulai bergerak. Masing-masing mengeluarkan belati dari balik jubah. Mereka mengepung Aditya.

"Bos, biarkan kami yang urus dia."

"Jangan bunuh," Jaka menyeringai. "Aku mau tahu bagaimana dia bisa mendeteksi kita."

Aditya melangkah mundur. Punggungnya menyentuh dinding beton dingin.

Pilihan:

Lawan. Kekuatan tidak cukup.

Kabur. Dina akan mati.

Gunakan sesuatu yang lain.

Matanya mengedar. Tumpukan emas batangan. Kaleng bensin untuk genset cadangan. Kabel listrik menjulur dari langit-langit. Dan di sudut, sebuah kotak logam bertuliskan "BAHAYA: MUDAH MELEDAK"—tempat penyimpanan bahan kimia untuk pembersih industri.

Itu dia.

"Inspektur Dina!" Aditya berteriak. "Percayai aku lima detik?"

"Apa?!"

"PERCAYA ATAU KITA MATI!"

Dina menatapnya—ragu, frustasi, putus asa—lalu mengangguk cepat.

Aditya mengambil napas. Lalu melakukan sesuatu yang tidak akan pernah ia duga dilakukan oleh dirinya yang dulu.

Ia berlari ke arah para pencuri.

BODOH!" salah satu pencuri mengayunkan belatinya.

Tapi Aditya tidak menyerang. Ia melompati tumpukan emas, meraih kaleng bensin, dan melemparkannya ke atas—ke arah kabel listrik yang menggantung.

"KABUR!"

Ia menyambar tangan Dina dan menariknya berlari.

Jaka menyadari apa yang terjadi. Matanya membelalak. "JANGAN—"

Terlambat.

Kaleng bensin mengenai kabel listrik yang telanjang. Percikan api. Lalu—

BOOOM!

Ledakan besar menghancurkan langit-langit basement. Api menjalar ke tumpukan bahan kimia. Seluruh ruangan bergetar. Beton mulai runtuh.

10 menit kemudian.

Aditya dan Dina berdiri di depan gedung Pradipa Tower, dikelilingi oleh lima mobil polisi dan dua ambulans. Asap hitam mengepul dari pintu basement. Petugas pemadam kebakaran berlalu-lalang.

Dina mematung, pistolnya masih di tangan. Seragamnya kotor, rambutnya berantakan. Tapi dia hidup.

"Bagaimana... kau tahu semua itu?" suaranya serak.

Aditya menghela napas. "Saya tidak bisa menjelaskan sekarang. Tapi yang penting..."

"Dua tewas, dua tertangkap," Maya tiba-tiba muncul di samping mereka, menyilangkan tangan. Wajahnya tanpa ekspresi. "Jaka Sembung termasuk yang tertangkap. Lukanya parah, tapi dia selamat."

"Dan emasnya?" Dina bertanya.

"Hancur. Tapi bukan itu yang paling menarik." Maya menatap Aditya. "Nyonya Alesha ingin bicara denganmu. Sekarang."

Aditya mengangguk lemah. Lalu menoleh ke Dina. "Inspektur, misi selesai."

Dina membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Pertanyaan-pertanyaannya masih menggantung: siapa sebenarnya pemuda ini, bagaimana dia bisa melihat sesuatu yang mustahil, dan kenapa dia membantunya.

Tapi mungkin sekarang bukan waktunya.

"Kita akan bicara lagi, Pratama," katanya akhirnya. "Ini belum selesai."

DING!

Misi Sampingan Selesai: Bantu Inspektur Dina Memecahkan Kasus Perampokan.

Hadiah: 200 Koin.

Bonus: Kepercayaan Inspektur Dina (+30%).

Total Koin: 360.

Misi Baru Tersedia: Tertangkap Basah—Identifikasi Pengkhianat di Kepolisian yang Melindungi Klan Malam.

Hadiah: 400 Koin, Skill Book: Silent Step (Level 1).

Aditya membaca panel itu sambil berjalan menuju lift. Hatinya berdebar.

Silent Step. Teknik yang sama yang digunakan Jaka. Kalau dia bisa mempelajarinya...

"Kau tersenyum," suara Maya memotong lamunannya. "Barusan selamat dari maut, dan kau tersenyum."

"Hanya memikirkan sesuatu."

"Apa?"

Aditya menatap pintu lift yang terbuka. Di dalam, Alesha sudah menunggu—wajahnya campuran antara marah dan lega.

"Itu baru permulaan, Kapten Maya," bisik Aditya. "Ini baru permulaan."

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!