NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukti Untuk Menghancurkanku

Bab 31 – Bukti Untuk Menghancurkanku

“Dan… ayah Anda membawa bukti untuk menghancurkan Nona Alya.”

Suasana taman yang tadi dipenuhi ketegangan romantis mendadak berubah menjadi sedingin es.

Alya menatap Riko tak percaya.

“Menghancurkanku? Apa maksudmu?”

Riko menunduk ragu.

“Itu kabar yang beredar di antara para tetua, Nona. Mereka bilang ayah Tuan Kael punya senjata rahasia untuk menjatuhkan nama baik Nona.”

Kael berjalan mendekat perlahan. Wajahnya datar tanpa ekspresi.

Alya sudah tahu satu hal tentang pria ini: Saat Kael terlalu tenang… itulah saat yang paling menakutkan.

“Siapa yang menyebarkan omong kosong itu?” tanya Kael pelan tapi menusuk.

“Beberapa kepala cabang keluarga. Mereka sudah berkumpul semua di aula utama sekarang.”

“Siapa yang paling vokal dan berisik?”

Riko ragu sepersekian detik.

“Paman Viktor.”

Kael mengangguk singkat.

“Bagus.”

Alya mengernyit bingung.

“Bagus apanya? Situasi lagi kacau!”

“Berarti aku tahu siapa yang harus kupukul duluan nanti.”

“KAEL! Fokus!”

Alya memijat pelipisnya frustrasi.

“Kita bahas dulu soal aku yang mau dihancurkan ini bisa nggak sih?!”

Kael menoleh padanya, tatapannya sedikit melunak.

“Tenang. Tak ada satu orang pun yang berani menyentuhmu.”

“Masalahnya mereka mau pakai ‘bukti’ buat jatuhin aku.”

“Biarkan saja.”

“BIARKAN?!” bentak Alya kaget.

Kael mendekat satu langkah, suaranya turun menjadi gelap dan serius.

“Kalau mereka berani menyerangmu… itu sama saja memberi aku izin dan alasan untuk menghancurkan mereka balik.”

Jantung Alya berdetak kacau.

“Kenapa setiap kalimatmu terdengar seperti ancaman tapi juga romantis gini sih?”

“Karena aku orangnya efisien.”

 

Mereka berjalan menuju aula utama.

Riko berjalan di depan membuka jalan.

Alya berjalan di samping Kael.

Dan entah sejak kapan, tangan mereka saling bergenggam erat.

Alya menoleh ke bawah.

“Kapan kamu pegang tanganku?”

“Tiga detik yang lalu.”

“Kenapa?”

“Supaya kau berhenti gemetar dan gelisah.”

“Aku nggak gelisah!”

Kael menatap lurus ke depan.

“Kau berkeringat dingin.”

Alya langsung menarik tangannya ingin melepaskan.

“Itu karena cuaca panas!”

Tapi Kael justru menggenggamnya kembali lebih erat dan tak melepaskan.

“Itu bohong.”

Alya mendengus kesal… tapi tak berusaha melepaskan lagi.

Dan sialnya… genggaman itu justru membuatnya merasa sedikit lebih tenang.

Saat mendekati pintu aula, suara keramaian terdengar jelas dari dalam. Suara orang tua yang berbicara keras, tawa sinis, dan bisik-bisik tajam.

Tiba-tiba Serena muncul dari balik sudut dinding sambil membawa gelas jus buah.

“Ah, akhirnya pemeran utama datang juga.”

“Kamu minum jus saat mau perang keluarga gini?” tanya Alya heran.

“Aku butuh vitamin dan hiburan, sayang.”

Serena melirik tangan mereka yang saling menggenggam, lalu menyeringai jahil.

“Oho, manis sekali.”

Alya langsung melepaskan tangan Kael cepat-cepat.

“INI TAKTIS! DEMI KEAMANAN!”

Kael menambahkan dengan wajah datar,

“Benar. Sangat efektif.”

Serena tertawa kecil.

“Masuk saja sana. Mereka sudah lapar darah dan menunggu keributan.”

 

Pintu aula besar terbuka.

Ruangan itu luas megah dan dipenuhi sekitar tiga puluh orang keluarga Lorenzo yang tampak berkuasa dan kaku.

Meja panjang di tengah ruangan. Lambang keluarga tergantung besar di dinding utama.

Saat Alya melangkah masuk bersama Kael, semua kepala serentak menoleh ke arah mereka.

Tatapan mereka bermacam-macam: ada yang penasaran, ada yang jijik melihat gadis baru, ada yang menatapnya seperti menaksir harga barang.

Alya langsung ingin berbalik badan dan kabur keluar.

Kael menyadarinya, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Alya pelan.

“Bernapas. Jangan tunjukkan lemah.”

“Aku mau lempar kursi ke mereka satu-satu.”

“Nanti saja. Setelah menang.”

Di ujung ruangan, ayah Kael duduk di kursi utama setinggi takhta, menatap mereka dengan wajah datar dan dingin.

“Datang juga kalian.”

Kael menarik kursi di sebelahnya untuk Alya duduk.

“Aku membawa alasan kemenanganku.”

Alya melotot kecil ke arahnya.

“Aku bukan alat peraga!”

“Bukan.”

“Terus aku apa?”

Kael duduk di sampingnya dengan tenang.

“Gangguan favoritku yang paling berharga.”

Alya ingin marah, tapi saat melihat beberapa wanita tua di seberang meja menatapnya dengan tatapan iri dan kaget, entah kenapa rasanya sedikit menyenangkan.

 

Seorang pria tua berperut buncit dengan banyak cincin emas di jarinya berdiri tegak. Wajahnya merah padam.

“Kael, kita mulai rapat sekarang.”

Riko berbisik cepat ke arah Alya.

“Itu Paman Viktor, Nona.”

“Yang mau dipukul duluan tadi?”

“Ya betul.”

Alya mengangguk setuju. “Masuk akal, mukanya memang menyebalkan.”

Viktor menunjuk jari telunjuknya tepat ke wajah Alya.

“Sebelum kita membahas pemilihan pemimpin baru, kita harus bahas soal gadis ini dulu!”

Alya menegakkan punggungnya, siap menghadapi serangan.

Kael bersandar santai di kursi, tapi rahangnya terlihat mengeras tanda menahan amarah.

Viktor mulai melontarkan tuduhan.

“Dia anak luar nikah! Dibesarkan di luar keluarga! Tidak jelas asal-usul, tidak jelas loyalitas, dan yang paling parah… tidak jelas moralnya!”

Dari sudut ruangan, Serena bertepuk tangan pelan mengejek.

“Wah, pembukaannya jelek sekali. Klasik banget.”

Viktor mengabaikannya dan terus bicara.

Ayah Kael di ujung meja hanya mengangkat tangan memberi izin.

“Lanjutkan.”

Kael menatap tajam ke arah pamannya itu.

“Kalau dia berani menyebut satu kata lagi soal moral, aku patahkan rahangnya.”

Suaranya pelan tapi cukup terdengar sampai ke ujung ruangan. Tak ada yang bisa memastikan dia bercanda atau serius.

Viktor menelan ludah gugup, tapi tetap nekat melanjutkan aksinya.

“Ada bukti kuat kalau gadis ini mendekati Kael hanya demi uang, kekayaan, dan kedudukan! Dia pemburu harta!”

Alya tersentak kaget.

“APA?!”

Viktor langsung melempar beberapa lembar foto ke atas meja dengan keras.

BRUK!

Foto-foto itu berserakan. Isinya adalah foto Alya di butik mahal, foto Alya masuk mobil mewah Kael, dan foto Alya memegang kartu kredit hitam yang pernah dipinjamkan Kael dulu.

Ruangan langsung riuh rendah.

“Lihat itu!”

“Benar kan pemburu harta!”

“Memalukan sekali!”

Alya berdiri ingin membela diri.

“Itu tidak seperti yang kalian pikirkan! Aku—”

Belum selesai bicara, Kael sudah berdiri lebih dulu.

Suara kursinya diseret keras menandakan kemarahan.

Seluruh ruangan langsung hening total.

Kael mengambil satu foto, melihatnya sekilas dengan santai, lalu tiba-tiba dia tertawa kecil.

Tawa yang justru terdengar jauh lebih menyeramkan daripada saat dia marah besar.

“Ini yang kalian sebut bukti?” tanya Kael datar.

Viktor mencoba terlihat tegas.

“Sudah cukup jelas kan?!”

Kael menatapnya tajam.

“Foto yang ketiga itu. Lihat baik-baik.”

Viktor bingung. “Apa apa?”

“Itu kartu kredit pribadiku.”

“Ya! Jadi bukti dia—”

Belum selesai bicara, Kael melempar kembali foto itu tepat ke wajah Viktor dengan keras.

“Kalau dia benar-benar pemburu harta dan mata duitan… kenapa sampai sekarang kartu itu belum dipakai sama sekali? Bahkan limit-nya tak terbatas!”

Seluruh ruangan terdiam.

Alya berkedip-kedip. Oh iya… benar juga!

Kael mengeluarkan dompetnya, lalu meletakkan kartu kredit hitam yang asli di atas meja di depan semua orang.

“Aku memberinya kartu ini tiga minggu yang lalu. Bebas dipakai belanja apa saja.”

Ia menoleh sebentar ke arah Alya.

“Dia mengembalikannya padaku cuma karena alasannya… warnanya jelek dan tidak cocok dengan gaya dia.”

JLEB!

Ruangan hening sejenak… lalu terdengar suara tawa tertahan dari beberapa sudut.

Wajah Viktor memerah padam karena malu.

Alya sendiri memerah karena malu mendengarnya.

“KAEL! Kenapa diumbar ke semua orang?!”

Serena bertepuk tangan heboh dari kursinya.

“Aku cinta sekali sama gadis ini! Gokil!”

Viktor panik dan mencoba menyelamatkan situasi.

“Itu tidak membuktikan apa-apa! Hanya kebetulan!”

Kael berjalan perlahan mendekati meja pamannya itu, langkahnya berat dan mengintimidasi.

“Benar. Itu tidak membuktikan apa-apa.”

Ia menundukkan wajahnya tepat di hadapan Viktor.

“Yang jadi bukti kesalahan besar adalah… kau berani membuntutiku, memotret diam-diam, dan berani menyerang wanita yang berada di bawah perlindunganku.”

Tatapan mata Kael berubah sangat membunuh.

“Kau membuat kesalahan yang sangat fatal, Paman.”

Viktor mundur selangkah ketakutan.

“A-aku hanya menjaga nama baik keluarga!”

Kael tiba-tiba menghantam meja dengan telapak tangannya.

BRAKK!!!

Meja itu bergetar hebat, membuat gelas dan kertas berantakan.

“Kau bahkan tidak bisa menjaga tekanan darah tinggi dan kolesterolmu sendiri! Jangan sok suci!”

Alya di belakang menutup mulutnya menahan tawa.

Ini bukan waktu yang tepat untuk tertawa… tapi kalimat itu terlalu lucu dan pas!

 

Ayah Kael akhirnya angkat bicara dengan suara berat.

“Cukup.”

Suaranya saja cukup membuat semua orang kembali diam dan takut.

Ia menatap lurus ke arah Alya.

“Jadi kau bilang kau bisa membela diri sendiri, kan?”

Alya menelan ludah. Ini ujian sesungguhnya.

Kael menoleh sedikit padanya. Dia tidak menolong, tidak bicara. Dia memberi ruang bagi Alya untuk membuktikan dirinya sendiri.

Alya menarik napas panjang, lalu berdiri tegak. Tangannya dingin, tapi suaranya berusaha keluar dengan tegas.

“Ya. Aku bisa.”

Ia memandang seluruh orang di ruangan itu satu per satu.

“Kalian bilang aku pemburu harta? Kalian bilang aku cuma mau uang?”

Ia menunjuk ke arah Kael.

“Pria ini menyebalkan, arogan, posesif, dan paling suka mengatur hidup orang lain seenaknya!”

Beberapa orang menahan napas kaget. Serena tersenyum bangga.

“Kalau aku benar-benar mengejar uang dan kemewahan… aku pasti sudah memilih pria kaya yang lebih ramah dan lebih sopan darinya!”

Beberapa tawa kecil pecah di ruangan itu. Suasana mulai berubah.

Kael menatapnya dari samping dengan wajah datar.

“Kau sedang berpidato atau menghinaku?”

“Dua-duanya!” jawab Alya santai.

Gadis itu lalu menatap semua orang lagi dengan lebih berani.

“Aku tidak pernah minta dilahirkan ke dunia ini. Aku tidak pernah minta jadi bagian dari keluarga besar dan rumit ini.”

Suaranya makin kuat dan berwibawa.

“Tapi kalau kalian pikir aku ini wanita murahan yang bisa dibeli, dipakai, atau dihancurkan cuma dengan gosip murahan dan foto-foto tidak jelas…”

Ia menepuk meja pelan.

“…berarti kalian memang belum kenal siapa aku sebenarnya.”

Ruangan sunyi total.

Bahkan ayah Kael pun menatapnya dengan tatapan yang berbeda, seolah baru menyadari gadis di depannya ini bukan mainan.

Kael… tersenyum kecil.

Senyum bangga. Dan itu jauh lebih berbahaya daripada ancaman apa pun.

Ayah Kael menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu mengangguk pelan.

“Menarik.”

Tiba-tiba dia mengeluarkan satu map tipis dari samping kursinya dan melemparkannya ke tengah meja.

“Kalau begitu mari kita lanjut ke bukti yang sebenarnya.”

Kael dengan cepat mengambil map itu dan membukanya.

Wajahnya yang tadi tenang… mendadak berubah beku dan pucat.

Tangannya berhenti bergerak.

Alya panik melihat reaksi itu.

“Apa itu, Kael? Isinya apa?!”

Kael menatap lembaran kertas di tangannya dengan mata terbelalak.

Untuk pertama kalinya malam itu… pria yang selalu terlihat kuat dan tak terkalahkan ini tampak benar-benar terguncang.

“Itu…”

Ia mengangkat wajahnya menatap ayahnya dengan napas tertahan.

“…Itu hasil tes kehamilan Alya.”

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!