NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Trauma masa lalu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.

Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?

Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.

"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.

Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.

Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepingan yang Telah Hancur

Vandini duduk bersandar di sofa empuk di lobi hotel. Ia meletakkan tas dokumen di samping dan menghela napas panjang.

Hari ini sangat melelahkan dengan jadwal rapat dan presentasi yang padat. Meski semua berjalan lancar, perasaan hampa justru muncul saat ia melihat suasana lobi yang tenang.

Ia mengambil ponsel dan mengecek pesan masuk. Sebenarnya ia sudah membaca semua kiriman dari Satura, tapi ia melakukannya hanya karena kebiasaan.

Di sana ada kabar soal anak-anak, gambar karya Cia, dan foto Connan yang bangga memamerkan hasil karyanya. Vandini tersenyum, dadanya terasa hangat saat menatap coretan warna-warni itu. Jemarinya mengusap layar ponsel pelan. Tiba-tiba rasa rindu yang mendalam menyergap hatinya.

Di sinilah ia sekarang, jauh dari rumah, di tempat yang sudah susah payah ia raih. Namun, rasa rindu akan keluarga dan suasana rumah tak bisa ia hilangkan. Ia mencoba menikmati keheningan di sekitarnya. Tapi jujur saja, ia sangat merindukan mereka semua.

"Kangen banget obrolan waktu makan malam," gumamnya pelan. "Kangen cerita-cerita Connan, dan kangen tangan mungil Cia yang selalu cari genggaman."

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada pesan baru dari Satura.

"Semua orang kirim salam dan selamat malam. Semoga harimu menyenangkan ya! Anak-anak tanya kapan kamu pulang. Mereka kangen."

Vandini menatap layar itu lama. Dadanya terasa sesak karena rindu yang makin menjadi-jadi. Ternyata mereka merindukannya, dan rasa rindu di hatinya jauh lebih besar dari perkiraannya. Ia tahu ini harga yang harus dibayar demi kesuksesan dan karir. Tapi rasanya sakit sekali.

"Aku harus balas pesan ini," bisiknya.

Jemarinya mulai mengetik dengan cepat. "Kabarin mereka kalau aku sayang banget sama mereka."

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan kalimat lain. "Dan bilang juga aku kangen banget sama kalian semua di rumah."

Jari-jarinya berhenti di atas layar. Ia menahan diri agar tidak mengetik lebih panjang lagi. Ini adalah jalan yang sudah ia pilih. Bagian dari proses membangun kehidupan yang lebih baik untuk dirinya dan anak anak.

Namun saat menyimpan ponsel kembali ke tas, ia tak bisa membohongi perasaan. Ikatan batinnya pada rumah ternyata jauh lebih kuat dari yang ia kira. Tiba-tiba tangan Vandini mengepal erat memegang benda itu. Sebuah pikiran buruk dan tak diundang masuk ke kepalanya.

Apakah Satura juga pernah duduk di tempat seperti ini?

Tenang di luar, sementara ia di rumah sama sekali tidak tahu apa-apa.

"Setelah rapat selesai, apa pikirannya melayang ke orang lain?" tanyanya dalam hati. "Bukan ke aku?"

Apakah hal seperti ini sudah sering terjadi?

Terutama setelah ia selesai video call mengucapkan selamat malam pada anak-anak dengan suara yang terdengar begitu lembut dan meyakinkan.

Rasa pahit langsung memenuhi tenggorokan. Dada terasa panas dan sesak luar biasa. Vandini menarik napas dalam-dalam, berusaha menyingkirkan beban berat itu. Tapi sia-sia, bayangan itu tak mau hilang. Hanya membayangkan betapa mudahnya pria itu membagi hidupnya dengan orang lain, rasanya hancur sekali.

"Selama ini aku menjaga rumah, urus anak, dan kerja keras," batinnya memberontak. "Aku jaga semuanya dengan hati-hati, tapi kamu hancurkan sedikit demi sedikit sama orang yang bahkan gak aku kenal."

Jantungnya berdegup sangat kencang. Kepalanya pening memikirkan semua kemungkinan buruk itu.

Pertanyaan demi pertanyaan muncul dan menghantam pikirannya. "Apakah selama ini aku gak cukup baik buat kamu? Apa keluarga kita gak pernah berarti apa-apa buat kamu?"

Ia teringat masa-masa lalu. Bagaimana ia memandang Satura, kepercayaan yang diberikan, dan rasa aman karena yakin pria itu bisa diandalkan. Sekarang semua itu terasa begitu bodoh dan menyedihkan. Hanya mimpi yang ia pertahankan karena cinta, tapi ternyata tidak pernah dihargai.

Vandini meletakkan ponsel dengan kasar. Jari-jarinya terlihat gemetar hebat.

Ia mencoba menenangkan diri sambil memandang sekeliling lobi yang ramai. "Gak boleh lemah," katanya pada diri sendiri. "Aku di sini buat diriku sendiri. Karir ini hasil keringatku sendiri. Momen dan kesuksesan ini milikku. Aku gak akan biarin pengkhianatan kamu ngerusak semuanya."

Namun sekeras apa pun ia berusaha, rasa sakit itu tetap ada dan menggerogoti perlahan.

"AKU CUKUP!" teriaknya dalam hati. "Aku bahkan lebih dari cukup! Aku adalah segalanya buat kamu dan buat keluarga ini!"

Tenggorokannya tercekat. Ia menahan air mata agar jangan sampai jatuh di tempat umum. Kesedihan itu perlahan berubah menjadi api kemarahan yang besar.

"Kamu ambil kepercayaanku, kamu hancurin kehidupan kita, dan kamu anggap aku kayak barang gak berguna," gerutunya kesal.

Bayangan wajah Satura yang terlihat cuek dan tak peduli muncul di benaknya. Rasa kecewa itu makin menyakitkan dan menusuk ulang hatinya. Dengan napas yang mulai tak beraturan, Vandini berdiri dari tempat duduknya. Tangannya masih gemetar.

Ia tak sanggup lagi duduk diam dengan pikiran-pikiran mengerikan ini. Ia harus pergi dari sana sekarang juga. Langkah kakinya membawanya menuju pintu keluar. Udara malam yang sejuk langsung menerpa wajah, terasa sedikit menenangkan.

"Aku pasti bisa lewatin ini," tekadnya kuat. "Gak ada pilihan lain. Demi aku, demi anak-anak, dan demi kehidupan yang mau aku perjuangin."

Saat menatap bintang-bintang di langit malam, ia membuat janji pada dirinya sendiri. Ia tak akan pernah lagi membiarkan siapa pun membuatnya merasa kecil dan tidak berharga.

***

Satura duduk sendirian di kamar hotel. Ruangan itu terasa hampa dan dingin, sama sekali tak terasa seperti rumah. Keheningan di sekitarnya justru membuat pikirannya makin berisik. Ia teringat semua hal yang sudah terlepas dari genggamannya.

Beberapa hari lalu, ia sempat pulang dan bertemu anak-anak. Momen itu manis, tapi justru membuat rasa sakitnya makin perih saat harus kembali menyendiri.

Vandini sudah bilang jelas kalau dia butuh waktu dan ruang sendiri buat sembuh. Satura sudah janji bakal menghargai keputusan itu.

"Aku harus cari tempat tinggal tetap, kan?" gumamnya pelan sambil menatap layar ponsel.

Jemarinya menelusuri iklan apartemen dan rumah sewa. Tapi setiap kali mau memilih, ada rasa berat yang menahan dada.

"Kalau Aku pilih satu tempat ini, berarti Aku beneran nyerah ya? Berarti hidup Aku emang harus jauh dari mereka selamanya?" batinnya bertanya-tanya.

Ia akhirnya mematikan layar HP. Belum sanggup mengambil keputusan final yang begitu menyakitkan. Kamar hotel ini memang sementara, tapi setidaknya masih memberinya harapan. Menutup pintu dan pergi selamanya adalah hal yang belum siap ia lakukan.

"Aku nggak ada di sini karena udah nyerah. Aku masih sayang banget sama dia," bisiknya meyakinkan diri sendiri. "Tapi cinta itu bukan memaksa buat tetap ada kalau nggak diharapin. Cinta itu ngerti kapan harus mundur biar dia bisa sembuh."

Satura kini duduk di bar hotel, menunduk memandangi gelas anggur di tangannya. Dinginnya gelas sedikit meredakan panasnya rasa malu yang membakar dada. Ia menegak sedikit. Rasa pahit alkohol mengalir turun, tapi tak mampu menghapus kekosongan di hatinya.

Suasana bar sepi, tapi pikirannya justru ricuh. Bayangan kesalahan masa lalunya terus berputar tanpa henti.

"Gila ya, dulu kita punya segalanya. Rumah, keluarga, semuanya sempurna," pikirnya getir. "Tapi kenapa sih Aku bisa sebego itu? Ngehancurin semua cuma karena ego dan keputusan bodoh Aku sendiri."

Ia mengingat bagaimana dulu Vandini selalu memandangnya penuh percaya dan cinta. Kepercayaan itu kini sudah hancur lebur karena ulahnya.

"Buat apa sih semua itu? Cuma seneng sesaat, tapi sekarang Aku kehilangan dia selamanya."

Tangannya mencengkeram gelas kuat-kuat. Rasa benci pada diri sendiri makin memuncak.

"Siapa sih orang yang Aku liat sekarang? Bukan Satura yang dulu. Aku gagal jadi suami, gagal jadi ayah yang mereka butuhin."

Ia menghela napas panjang, berusaha menahan emosi yang mau meledak. Penyesalan itu terasa begitu menyiksa.

"Aku nggak tahu bisa benerinnya gimana. Aku nggak tahu mereka mau maafin Aku atau nggak. Tapi Aku nggak bisa terus-terusan lari dari kenyataan. Aku harus berubah, Aku harus jadi lebih baik."

Malam itu, ia hanya bisa diam menenggak minumannya sambil berharap suatu hari nanti, ia bisa memaafkan dirinya sendiri dan menyusun kepingan hidup yang hancur ini kembali.

1
Eva Rosita
bagus
Fifi: makasi,kak 🥰
total 1 replies
Uthie
bertahan wanita hebat 👍👍😡
Uthie
bangkit lah wanita-wanita hebat yg tersakiti oleh pasangan gak tau diri kalian 👍😡😡
Uthie
mungkin kondisi di jaman sekarang yaa... yg sewajarkan apa yg terlihat saja, namun main di belakang ☹️
Uthie
sakit banget itu pasti... sesak 😢
Uthie
Mampir 👍👍👍👍
Fifi: makasih kak, udah berkenan mampir🙏😍
total 1 replies
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
Fifi: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!