NovelToon NovelToon
Maira : Suamiku Menikahi Pembantuku

Maira : Suamiku Menikahi Pembantuku

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:4.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sujie

Ketika kepercayaan sudah ternodai, akankah hati masih bisa bertahan?

Sebuah perjalanan cinta dan pernikahan antara Maira dan Agam yang diwarnai kehadiran orang ketiga yang sama sekali tak diharapkan oleh keduanya.

Diantara Maira dan Agam maupun Sita yang merupakan orang ketiga disini, tidak ada yang menghendaki hubungan ini sama sekali.

Lalu bagaimanakah akhirnya hubungan ini bisa terjadi?

Bagaimana Agam berjuang meyakinkan Maira dan merebut kembali hatinya yang terluka? Namun selain itu, mampukah Agam menjaga hatinya setelah menikahi Sita?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Sita

Maira mengoleskan salep itu secara perlahan di dada suaminya yang terdapat seperti bekas dicakar sesuatu.

Kenapa perasaanku terus tidak enak seperti ini? Apa yang sebenarnya coba kau sembunyikan dariku, Mas? Aku sudah lama sekali mengenalmu, aku tahu kau orang yang seperti apa. Tapi kali ini, aku juga tidak tahu kenapa hatiku mengatakan jika kau sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi apa? Apa kau terlibat masalah dengan temanmu?

Maira masih mengolesi dada suaminya namun pandangannya terlihat kosong.

"Sayang ...," panggil Agam seraya menyapu udara di depan mata istrinya.

"Mas," jawabnya setengah terkejut

"Apa yang kau pikirkan?" Agam bangun dari posisinya dan membelai kedua pipi istrinya yang duduk dihadapannya.

"Aku mau mandi dulu, Mas. Hari sudah sore," ujar Maira seraya merapikan kotak obat dan membawanya. Ia meletakkan kembali kotak itu ke tempatnya semula.

Kaki putih mulus dan jenjang itu melangkah ke kamar mandi dengan anggun. Meninggalkan suaminya yang masih menatapnya dengan rasa bersalah karena telah membohongi istrinya.

Sembari mengingat apa saja yang ia lakukan di acara semalam, Agam membuang pandangannya ke langit-langit kamar yang terlihat putih bersih itu. Ia berbaring diatas tempat tidurnya, berusaha keras mengingat apa saja yang sudah terjadi semalam.

Tapi sampai kepalanya pusing, ia hanya bisa mengingat jika saat itu ia dan rekan kerja yang lain berada di satu ruangan bersama para bos. Mereka meneguk minuman yang sama dengan yang bosnya minum. Minuman yang baginya terasa sangat tidak enak dan mengunci tenggorokannya.

Minuman yang akhirnya membuatnya tidak mampu mengingat apapun setelahnya. Sedikit saja ia tidak ingat apa yang telah terjadi semalam. Dengan siapa dia pulang pun Agam tak tau.

Sementara itu dikamar mandi Maira tengah menanggalkan semua pakaiannya dan melemparkannya pada keranjang pakaian kotor yang terletak disudut kamar mandinya.

Tapi rupanya ia tidak melemparnya dengan tepat hingga bajunya jatuh ke lantai.

Ia berjalan dan memungut baju itu lalu meletakkannya di keranjang dengan benar. Tapi tidak tahu, alasan apa yang membuatnya ingin sekali mengambil baju suaminya yang juga berada disana.

Kok baunya aneh? Bau apa ini?

Maira mencoba mencium aroma pakaian suaminya yang terasa sangat asing baginya.

Ini bau apa ya? gumamnya seraya berpikir dan mencoba menebak. Tapi karena tidak tahu dan tidak pernah menyentuh sesuatu yang baunya seperti itu, Maira pun menyerah.

Apa saja yang kupikirkan? Mas Agam tidak mungkin macam-macam. Lagipula kan semalam mas Agam memang menghadiri acara kantor. Pasti dia berinteraksi dengan banyak orang dan berada di ruangan yang sama dengan para tamu lain juga. Mungkin diantara mereka ada yang merokok, ada yang minum al-, tidak ... tidak mungkin mas Agam ikut minum juga. Mas Agam kan tidak pernah minum, tapi bau ini? Baunya melekat sekali, apa iya jika hanya berinteraksi dengan mereka yang minum alkohol bisa sekuat ini baunya?

Maira kembali menciumi pakaian itu. Entah sudah berapa lama ia berdiri disitu sambil berpikir dan berperang dengan batinnya.

Hingga suara dari luar berhasil membuatnya tersadar.

"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Agam dari luar.

"Iya, Mas. Aku baik-baik saja," jawab Maira menenangkan suaminya. Ia lalu meletakkan pakaian itu kembali dan membuang pikiran dan rasa penasarannya pada suaminya.

Maira pun bergegas menuju shower dan membasahi tubuhnya dibawah pancuran airnya.

*****

"Makan malam kita pesan delivery order aja ya, Mas?" tanya Maira setelah selesai berpakaian dan memulas wajahnya dengan make up tipis.

"Iya nggak apa-apa."

Mereka berdua pun bersiap-siap turun. Hanya satu yang Maira harapkan, ia berharap Sita sudah lebih sekarang. Ia tidak ingin gadis itu benar-benar meminta berhenti bekerja dengannya.

"Mas, sebentar ya! Aku mau ke kamar Sita dulu," ujar Maira saat mereka menuruni anak tangga terakhir. Tanpa mendapat persetujuan dari suaminya, Maira segera melangkah ke kamar Sita.

"Sita, ini Mbak!" serunya. "Tolong buka pintunya sebentar!".

"Mbak Maira."

"Mbak masuk, ya?" pinta Maira yang hanya mendapat anggukan dari pembantunya. Ia lalu masuk dan menutup rapat pintu kamar itu lalu mengajak Sita duduk bersamanya diatas tempat tidur.

"Kamu sudah lebih baik?" tanya Maira hati-hati, ia bertanya karena melihat Sita sudah lebih rapi dari sebelumnya. Gadis itu juga sepertinya sudah habis mandi.

"Sita," panggilnya lagi karena Sita tidak merespon dirinya.

"Iya, Mbak. Sita sudah lebih baik," jawab Sita lirih sambil menunduk.

"Alhamdulillah kalau begitu, Mbak harap kamu bisa menganggap Mbak bukan hanya sebagai majikan kamu. Kamu bisa anggap Mbak sebagai teman atau bahkan sebagai kakak kamu. Jadi kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita atau berbagi sama Mbak. Mbak juga berharap agar kamu tetap disini dan tetap kerja sama Mbak."

Ya Allah, mbak Maira memang baik. Tapi pak Agam ....

Kenapa harus seperti ini? Aku ingin berhenti saja dan pergi dari rumah ini, tapi tadi bapak bilang bapak lagi butuh uang buat bayar hutang di rentenir. Ya Allah, aku harus bagaimana? Jika aku bertahan disini dan pada akhirnya mbak Maira tau jika pak Agam pernah meniduri ku, bagaimana perasaannya nanti? Aku tidak ingin mbak Maira juga terluka karena hal ini, biarkan aku saja menanggung hal ini. Tapi kalau aku pergi dari sini aku harus kemana? Harus cari kerja dimana? Aku sendiri belum tahu seluk beluk kota ini.

Sita terus menunduk dan memainkan dua ibu jarinya yang ia satukan.

"Sita? Mbak ada salah kata, ya? Maafin Mbak, ya. Tidak seharusnya Mbak bilang ini dulu. Ya udah kamu istirahat aja dulu. Mbak mau pesan makanan, ada yang pengen kamu makan malam ini?" tanya Maira mencoba mencairkan suasana. Tapi Sita hanya menggeleng dan mencoba tersenyum untuk menghargai majikannya itu.

"Ya sudah, nanti kalau makanannya udah datang Mbak antar kesini, ya?"

Maira meraih dan mengusap punggung tangan Sita kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya.

"Mbak," panggil Sita.

"Iya?" Maira berbalik dan melebarkan matanya.

"Sita akan tetap disini," ujarnya seraya tersenyum sedikit ragu.

"Alhamdulillah, terimakasih ya, Sita." Maira kembali duduk ditempatnya semula dan meraih gadis yang usianya belum genap dua puluh tahun itu. Ia merangkulnya layaknya sedang memperlakukan adik perempuannya.

"Ya udah, Mbak mau keluar dulu ya. Mau pesan makanan buat kita semua." Maira tersenyum dan pergi dari kamar Sita dengan perasaan lega. Tapi tidak demikian yang sedang Sita rasakan. Gadis itu masih bimbang dengan keputusannya. Tapi kebaikan Maira membuatnya tidak bisa mengecewakan permintaannya itu.

Aku tidak tahu ini keputusan yang salah atau benar. Tapi aku tidak bisa memikirkan diriku sendiri saat ini. Bapak sedang sangat butuh uang sekarang. Aku hanya berharap kedepannya semua akan baik-baik saja, batin Sita.

1
Reichan Muhammad
kapan bikin karya baru torr
Surati
bagus
Vindy swecut
keren👍🏻
Enung Samsiah
pokonya yg kasihn disini yg pling mnderita cuma sita,, agam pengecut
Enung Samsiah
endingnya nggk seru, sita ksihn ggk pernah bhgia, apalagi agam pengecut nggk punya hatii bngett
Enung Samsiah
tpi yg lbh kasihn itu sita, sakit hatinya tidk bisa marah pd siapapun, nyesekkk,,,
Enung Samsiah
kasim nggk punya hati,,,
Enung Samsiah
pk kasim ngebiarin dosa nggk punya hati bngett brengsekkkk,,
Enung Samsiah
susah hamil karena kecapean mungkin pada sibuk pagi pergi pulang mlm,,
Anonim
Ppp p0..00.0
Armi Armi
cari tu yg agak tuaan, ini mah si meira yg cari penyakit....
Hasian Marbun Ian ayurafanisa
bnyak yg coment masalah pembantu yg masih muda, menurut aq bkn masalah pembantu tua ato mudanya tapi agamnya yg salah karena gk teguh pendirian
Tut Eny
lanjut
i am wiyya
kasihan sita.. walaupun rela tp nyatanya maira agam dan orangtunya agam jahat dan egois... bukan kesalahan sita sepenuhnya...
~R@tryChayankNov4n~
blm rilis ya thor novel barunga....
gw intip koq gk ad🙃
~R@tryChayankNov4n~
otw ngintip...👍👍💛💛
Helsey Khalila
bikin sita ama reza thorr kasian sita
Keiza Alfaro
sebenarnya yg salah disini adalah Maira kalau dia sudah merelakan Agam untuk menikah dengan Sita seharusnya dia juga memberikan hak yg sama dengan Sita.tp nyatanya apa hanya ketidak adilan yg diterima oleh Sita hingga menyakiti hati Sita dan Agam lah yg menanggung dosa karena tidak bisa berbuat adil kepada kedua istrinya.kalau kita tidak rela berbagi ranjang dengan wanita lain jgn pernah meminta suami kita menikah lagi.kalau maira wanita yg terpilih pasti dia akan ridho untuk dimadu,pasti dia akan ridho membagi suaminya dengan istri keduanya.
Helsey Khalila
seorang istri yg berhati mulia
sari emilia
mk nya kl ga pernah minum ga usah so so an ikut kaim dajal jd double kn dosanya mabok n berzinah untunh ga sekalian spt kisah zurais
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!