Terjebak dalam tubuh karakter figuran yang sakit-sakitan, seorang wanita harus bertahan hidup di dunia novel sebelum maut menjemputnya. Demi mendapatkan obat dan perlindungan dari keluarganya yang manipulatif, ia mengajukan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Axion, pria berjuluk "Iblis" kekaisaran.
Namun, pernikahan ini menjadi rumit karena setiap anggota keluarga menyimpan rahasia besar. Axion ternyata menyimpan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang penuh dendam, sementara putra angkat mereka adalah sosok misterius yang aslinya bukan berasal dari dunia manusia.
Meski awalnya penuh ketegangan dan instruksi untuk hidup saling mengabaikan, sikap sang suami perlahan berubah drastis. Pria yang semula dingin itu kini menjadi sangat protektif dan tidak segan bertindak kasar pada siapa pun yang merendahkan istrinya. Hubungan yang seharusnya berakhir dalam setahun kini berubah menjadi ikatan keluarga yang rumit namun tak terpisahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Buang Lulu.
Kastel Argenta tetap terasa damai meski ditinggal oleh sang pemilik, Axion.
Satu-satunya kejadian yang bisa dibilang 'heboh' hari ini hanyalah perdebatan di dapur. Sang kepala koki bersikeras bahwa mulai sekarang, dialah yang akan bertanggung jawab memasak semua hidangan untuk Luceran.
‘Lagipula itu memang bukan tugasku. Mengingat suatu saat nanti aku akan pergi, kurasa ini keputusan yang tepat,’ batin Gabriella dalam hati.
"Ini makanan untuk Nyonya dan Tuan Muda! Aku harus menciptakan mahakarya terbaik seumur hidupku!" seru kepala koki dengan penuh semangat.
Berkat dedikasi luar biasa dari seluruh staf dapur itu, Gabriella kini tengah berjalan menuju kamar Luceran sambil membawa nampan berisi hidangan istimewa.
Namun, langkahnya terhenti tepat di depan pintu saat ia mendengar suara yang tidak biasa dari dalam.
Tap, tap, tap, tap—.
Itu suara langkah kaki Luceran. Rupanya, bocah itu berlari terburu-buru untuk menyambutnya begitu mendengar kedatangan Gabriella.
Membayangkan Luceran yang sedang menunggunya di balik pintu, senyum Gabriella merekah dengan sendirinya.
"Luceran!"
Begitu pintu terbuka, Luceran langsung berlari ke pelukan Gabriella.
Untung saja Gabriella membawa kereta dorong makanan; jika ia membawanya dengan tangan, hidangan itu pasti sudah tumpah karena sambutan yang begitu bersemangat.
"Tidurmu nyenyak?"
"Eung!"
"Tadi malam mimpi apa?"
"Mimpi?"
Luceran memiringkan kepalanya, ia berpikir sejenak, lalu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
"Tidak ada!"
Mendengar itu, hati Gabriella terasa jauh lebih tenang. Setidaknya, meski tidak bermimpi indah, anak itu tidak lagi dikejar mimpi buruk. Itu artinya semalam Luceran bisa tidur dengan nyenyak tanpa perlu menangis lagi.
"Ingat Paman Jerome? Dia yang memasak semua makanan ini khusus untukmu. Ayo makan sebelum dingin."
"Eung!"
Luceran makan dengan sangat lahap sampai kedua pipinya menggembung penuh.
‘Sepertinya dia sangat menyukainya.’
Seiring dengan banyaknya waktu yang ia habiskan bersama Luceran, ada satu fakta menarik yang Gabriella sadari.
Ternyata, setiap kali merasa bersemangat, telinga dan ekor mungil seperti anak anjing akan muncul di tubuh Luceran.
Gabriella terkekeh geli melihat ekor itu bergoyang begitu cepat, seolah sedang mengipasi seseorang dengan tenaga penuh. Namun, 'badai' dari goyangan ekor itu segera menghilang begitu sesi makan mereka berakhir. Dengan penuh kasih sayang, Gabriella menyeka sisa makanan di sudut bibir Luceran.
Mungkin karena mulutnya yang kecil, Luceran selalu saja menyisakan noda makanan di wajahnya, tapi pemandangan itu justru membuatnya tampak semakin menggemaskan.
"Luceran, bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan ke luar?"
Ia merasa tidak bisa membiarkan anak itu terus-menerus terkurung di dalam kamar. Begitu Gabriella menawarkan ajakan untuk keluar, wajah Luceran seketika berbinar cerah.
"Jalan-jalan?"
"Iya, jalan-jalan."
Begitu mendengar kata itu, ekor Luceran kembali muncul dalam sekejap.
"Aku mau!"
Luceran bahkan sudah bersiap untuk langsung berlari keluar saat itu juga. Melihat anak itu hampir melesat, Gabriella terperanjat dan dengan cepat menangkap tubuh mungilnya. Ia harus bersusah payah menahan dan menenangkan Luceran sampai ekornya benar-benar menghilang.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat.
Begitu pintu benar-benar dibuka, Luceran tidak bisa lagi membendung rasa senangnya. Anak itu langsung bergegas keluar begitu saja.
"Lu—Luceran! Pelan-pelan sedikit!"
Wusss!
Mendengar seruan Gabriella, Luceran sempat menghentikan langkahnya sejenak di tengah lorong dan menoleh ke belakang dengan wajah jahil.
"Kena kau—!"
Namun, tepat saat Gabriella hampir berhasil menggapainya, Luceran justru kembali berlari. Sepertinya ia memang sengaja menunggu momen itu agar bisa bermain kejar-kejaran.
"Luceran! Bukan ke sana, lewat sini!"
Untungnya, meski sedang asyik berlarian, Luceran masih mendengarkan arahan Gabriella dengan baik hingga akhirnya mereka sampai di taman dengan selamat.
Taman di Kastel Argenta sangat luas dan terawat dengan rapi. Rasanya, berjalan-jalan di sini saja bisa menghabiskan waktu satu jam tanpa terasa.
"Kyaa!"
"Tuan Muda melihat ke arahku!"
Melihat Luceran yang tengah asyik berlarian di taman, para pelayan tidak bisa menahan diri untuk tidak berseru gemas.
Melihat sosok Luceran saat ini, sulit membayangkan betapa jauh perubahan yang di alaminya jika di bandingkan dengan saat pertama kali ia menginjakkan kaki di sini.
Dulu, ia tampak seperti binatang kecil yang liar dengan tatapan penuh kewaspadaan. Namun sekarang, sosok itu seolah menghilang sepenuhnya, berganti menjadi seorang anak yang sangat manis. Pipinya mulai berisi dan binar matanya pun tampak begitu jernih, membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa gemas.
Terlebih lagi, wajahnya kini selalu dihiasi senyuman tulus. Suasana ceria itu seolah menular kepada siapa saja yang berpapasan dengannya, hingga mereka tak sadar ikut tersenyum.
Tapi, kenapa semua orang memanggilnya 'Tuan Muda'?
Perlahan, Luceran melangkah mendekati Riley, salah satu pelayan di sana, lalu bertanya dengan polos. Dulu, neneknya sering memanggilnya 'Lulu', jadi ia mengira itu adalah nama aslinya.
Namun, kenapa sekarang semua orang memanggilnya 'Tuan Muda'?
Riley yang mengerti kebingungan itu pun menjawab dengan lembut:
"Itu karena posisi Tuan Muda Luceran lebih tinggi dari pada kami. Itulah sebabnya kami memanggil Anda dengan sebutan 'Tuan Muda'," jelas Riley sambil tersenyum ramah.
‘Oh, jadi posisiku lebih tinggi, ya!’
Luceran langsung paham.
"Sepertinya Tuan Muda merasa bingung karena semua orang memanggilnya begitu," ucap Riley kepada Gabriella yang baru saja menyusul di belakang Luceran.
"Suatu saat nanti, Luceran pasti akan punya teman yang memanggilnya 'Lulu'."
"Lulu?"
"Iya, itu panggilan sayang dari orang yang sudah sangat akrab denganmu nanti."
Luceran memang anak yang cerdas. Ia langsung mengerti maksud perkataan itu dan mengangguk mantap.
"Ung, bener!"
Begitu rasa penasarannya terjawab, ia kembali berlari dengan riang.
"Lu—Luceran!"
"Nyonya, bukankah sebaiknya kami saja yang melayaninya?" tawar salah satu pelayan yang melihat Gabriella kewalahan mengejar anak itu.
"Tidak usah. Kami hanya berkeliling taman, tidak perlu sampai seperti itu."
Gabriella menolak tawaran para pelayan dengan halus demi kenyamanan mereka, lalu kembali bergegas menyusul Luceran.
Sepanjang jalan, suasana terasa hangat. Gabriella bisa mendengar gumaman para pelayan—setengahnya berisi pujian gemas untuk Luceran, dan setengahnya lagi berupa kekhawatiran untuk dirinya yang tampak kelelahan. Meski begitu, jalan-jalan mereka kali ini terasa lancar.
Luceran tiba-tiba berhenti sejenak untuk mencium aroma di sekitarnya.
Hah, hah...
Kesempatan itu tidak di sia-siakan Gabriella untuk mengatur napas. Ia berdiri membungkuk sambil menyeka butiran keringat yang membasahi keningnya.
‘Kenapa rasanya aku seperti dipaksa maraton...?’
Jantungnya berdegup kencang, kakinya gemetar, dan kepalanya terasa sedikit pusing.
Saat ia sedang berusaha menenangkan diri, seorang tukang kebun yang berada di dekat sana menghampiri dan menyapa dengan ramah.
"Aduh, Nyonya. Apa Anda tidak merasa kedinginan?"
"Sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan cuaca Utara, jadi tidak apa-apa."
"Nyonya ini bisa saja bercanda. Cuaca seekstrem ini mana mungkin bisa di biasakan hanya dalam waktu beberapa minggu?"
Padahal, alasan sebenarnya Gabriella tidak merasa dingin adalah karena tubuhnya sudah telanjur panas setelah berlarian mengejar Luceran tadi.
Sambil mengobrol santai dengan si tukang kebun, Gabriella sesekali melirik ke arah Luceran. Ia tetap waspada kalau-kalau anak itu tiba-tiba melesat pergi lagi.
Untungnya, Luceran tidak menjauh. Ia justru mendekat ke arah Gabriella dan ikut mendengarkan percakapan mereka dengan patuh, sebelum akhirnya berseru:
"Nyonya!"
Semua orang terkejut dan langsung menoleh ke arah Luceran.
"Nyonya?"
Saat Gabriella bertanya balik, Luceran mendongak menatapnya dengan mata berbinar sembari berseru, "Nyonya! Ayo jalan!"
Nyonya, ayo jalan.
Satu kalimat yang diucapkan Luceran dengan wajah polos itu seketika membuat Gabriella—bahkan si tukang kebun—membeku di tempat.
"Apa maksudmu, Luceran?"
"Mau ke sana juga!"
Sepertinya pikiran Luceran benar-benar hanya terfokus untuk menjelajahi taman.
‘Apa dia mengira namaku adalah Nyonya?’
Di Kastel Argenta, memang tidak ada seorang pun yang berani memanggil Gabriella dengan sebutan nama aslinya. Karena semua orang memanggilnya 'Nyonya', Luceran mungkin berpikir bahwa ia pun harus memanggilnya dengan sebutan yang sama.
Tampaknya Luceran sudah menganggap Gabriella sebagai bagian dari keluarga sekaligus teman dekatnya.
Melihat Gabriella yang hanya diam membisu, Luceran hanya bisa memiringkan kepalanya dengan bingung.
"Luceran, kau tidak boleh memanggilku 'Nyonya'."
Gabriella pun berlutut dengan satu kaki untuk menyamakan tinggi badannya dengan Luceran.
Selama ini, Gabriella memang sudah memberi tahu Luceran bahwa mereka adalah keluarga, namun ia belum berani mengatakan dengan jujur bahwa dirinya adalah 'ibu tiri' bagi anak itu. Ia khawatir Luceran akan terkejut atau merasa tertekan lagi.
‘Menambah anggota keluarga dan mendapatkan ibu baru adalah dua hal yang sangat berbeda.’
Meski begitu, Gabriella sadar hal ini tidak bisa disembunyikan selamanya. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk berterus terang.
"Aku adalah ibu tirimu."
"Ibu tiri?"
"Iya. Mulai sekarang, aku yang akan menjadi ibumu."
Gabriella sempat merasa cemas. Bagaimana kalau Luceran teringat keluarga lamanya dan malah menjadi sedih?
"Jadi, kau tidak boleh memanggilku Nyonya. Kau harus memanggilku Ibu."
"..."
"Hanya kau satu-satunya orang di sini yang boleh memanggilku Ibu. Apa kau paham?"
Membayangkan reaksi apa yang akan diberikan Luceran, rasa takut tiba-tiba menyergap hingga Gabriella tak sadar memejamkan matanya rapat-rapat.
Namun, saat ia perlahan membuka mata—.
Luceran hanya tersenyum lebar ke arahnya.
"Ibu! Ayo ke sana bersamaku!"
Tanpa ada raut sedih sedikit pun di wajahnya, Luceran segera menarik lengan Gabriella.
"Tunggu, tunggu sebentar. Luceran!"
Gabriella yang terkejut pun refleks bangkit berdiri. Dengan posisi tubuh yang masih agak membungkuk, ia berusaha menahan Luceran yang sudah bersiap untuk berlari lagi.
"Kali ini, ayo jalan sambil berpegangan tangan."
Sejujurnya, Gabriella kewalahan jika harus terus berlarian mengejar Luceran. Ia berpikir, jika mereka berpegangan tangan, Luceran tidak akan bisa lari seenaknya dan ia bisa sedikit bernapas lega.
Luceran menatap telapak tangan yang terulur di depannya itu sejenak, lalu tanpa ragu meletakkan tangan kecilnya di sana.
Tap.
Gabriella menggenggam erat tangan mungil itu.
Angin yang menerpa pipi mereka memang masih terasa dingin, namun tautan tangan yang hangat itu membuat rasa dinginnya tak lagi terasa.
......................
‘Lelahnya.’
Setelah puas bermain dengan Luceran, Gabriella merasa tubuhnya bisa tumbang kapan saja.
Padahal ia hanya menemani anak itu bermain sebentar, tapi fisiknya benar-benar kewalahan mengimbangi stamina Luceran yang tak ada habisnya.
‘Seharusnya dulu aku lebih rajin berolahraga...’
"Ibu!"
Gabriella yang sedang memijat lengannya yang tak berotot itu menoleh ke arah Luceran. Anak itu tampak segar dan wangi karena baru saja selesai mandi.
Tap, tap, tap.
"Mau keluar lagi!"
Bagi Gabriella, ucapan itu bagaikan petir di siang bolong.
"Sudah, hari ini sampai di sini saja. Kita pergi lagi besok, ya?"
"Besok pergi lagi!"
"Iya. Besok kita main lagi."
Untungnya, Luceran tidak keras kepala. Gabriella mengembuskan napas lega dalam hati sambil mengusap lembut rambut Luceran.
"Tidurlah lebih awal supaya hari esok cepat tiba."
Kini tiba saatnya bagi Gabriella untuk kembali ke paviliun terpisah.
Setelah memastikan Luceran terlelap, ia melangkah keluar kamar dan bergegas menuju kediamannya. Namun, baru beberapa langkah, ia merasa ada seseorang yang sedang membuntutinya.
Tap, tap, tap.
"Luceran?"
Benar saja, pelakunya adalah Luceran.
"Kita kan sudah sepakat untuk berhenti bermain hari ini. Ayo kembali ke kamarmu."
"Tapi Ibu kan Ibuku," jawab Luceran dengan tatapan yang berubah sendu saat Gabriella mencoba membujuknya kembali.
"Aku mau bersama Ibu."
Anak yang tadi begitu penurut dan tidak rewel meski sesi bermain telah usai, kini justru mengatupkan bibirnya rapat-rapat dengan keras kepala.
‘Mungkin dia belum paham kalau kami harus tinggal di kediaman yang berbeda.’
Akan sulit menjelaskan kepada Luceran bahwa ayahnya, Axion, tidak suka jika Gabriella berlama-lama di kediaman utama. Saat Gabriella masih kebingungan menghadapi kegigihan Luceran yang tak mau mengalah sedikit pun, tiba-tiba anak itu berucap:
"Jangan buang Lulu."