Hanah Rawlee yang tidak sengaja bertemu dengan sosok laki-laki misterius di dalam bus tiba-tiba mengalami hal aneh yang tak masuk akal.
Setelah selamat dari kecelakaan maut 3 tahun lalu, hal janggal dan juga mengerikan terjadi di dalam hidupnya, Hanah bertemu dengan sesosok mahluk mengerikan yang ingin membunuhnya saat di dalam perjalanan. Saat itulah dia bertemu dengan Adia Hiro seorang pemuda pemberani dari pasukan khusus bernama DAF.
Lewat Hiro, sedikit demi sedikit Hanah mengetahui jati dirinya yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diqa alisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
"Dengar. Musuh kita saat ini bukan Kronsf, melainkan iblis penguasa Oedsan ke-9."
dia berkomunikasi dengan teman-temannya sambil membopong tubuhku melewati gang-gang sempit.
"Ku ulangi lagi, musuh kita bukan Kronsf melainkan iblis penguasa Oedsan ke-9. Jadi bersiaplah untuk kemungkinan terburuk!"
Dia meletakkan tubuhku di balik bangunan, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku nya berupa alat P3K.
"Kenapa kau berada di tempat seperti ini!" Ujarnya marah-marah, "apa kau tidak tahu kalau di tempat ini banyak orang hilang karena ada mahluk seperti itu berkeliaran!" Dia benar-benar kesal.
"Aku tidak.."
"Bagaimanapun caraku mengatakan kalau kau sedang dalam bahaya, sepertinya kau tak peduli dengan ucapanku!"
"Ayahku!" Aku tertunduk lesu.
Dia sontak terdiam dan menatapku.
"Dia menghilang. Aku kesini karena mencarinya!"
Hiro menghela napas berat, mengangkat pandangannya ke atas sambil berkaca pinggang. Kemudian menatapku dalam diam dan memalingkan wajahnya dengan cepat.
"Tempat ini sangat berbahaya!" Dia berjongkok sambil mempersiapkan alas perban dan obat. "Yang kau temui tadi adalah alasannya. Orang-orang yang menghilang di tempat ini tak ada yang pernah kembali."
Dia mengangkat pandangannya melihat ke arahku.
"Dan kau tahu apa yang terjadi, meskipun tak ku jelaskan!"
Namun pada saat dia ingin membereskan kaki ku yang terluka, tiba-tiba dia mematung di tempat dan menatap sejuruh.
"Hiro!" Panggilku.
Tapi dia tak bereaksi, dan menatap kaki ku dengan pandangan aneh.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Ini.." dia menunjuk kakiku. "Apa aku salah lihat, bukannya tadi kau terluka?"
Aku memandangi nya kemudian.
Tidak, dia tak salah lihat. Kakiku memang terluka, dan entah bagaimana sekarang malah menghilang.
Grroooommmhhh....
Kami berdua tiba-tiba tersentak.
Suara itu, suara mengerikan itu, berasal dari mahluk tadi.
"Laporkan situasi terakhir?" Pekiknya sambil melempar masker gas dan menindik alat komunikasi yang ada di lubang telinganya.
Dia gelisah dalam diam, dan mendengarkan seksama teman-temannya yang sedang berkomunikasi.
Brrrrooooommmhh....
Grrroooaaarrggghh...
Suara gempuran senjata di iringi oleh suara auman monster, menggema di segala penjuru seperti mimpi buruk. Lalu di susul dengan goncangan gempa bumi ringan dengan cahaya ledakan di sana sini.
"Sialan!" Umpat Hiro sambil mengepalkan tangan.
Dia berjalan menghadap ke arah belakang, diam dengan pandangan gelisah, lalu secara spontan memundurkan langkahnya seperti seseorang yang terpojok.
"Lari!" Gumamnya tertegun.
Aku berdiri di sampingnya.
"LARI!"
Belum sempat tubuhku menyadari situasinya, dia sudah menyeretku bersamanya.
Sepintas dengan langkah cepat dalam keputusasaan, aku melihat mahluk itu mengejar kami dengan tubuh 10 kali lipat lebih besar dari pertama kali aku melihatnya. Dia meruntuhkan bangunan dan membabat habis apapun yang ada di hadapannya.
"Jangan lihat ke belakang!" Hiro menarik lengan bajuku agar tetap fokus berlari ke depan.
Saat mahluk itu melihatku berlari menghindarinya, dia menambah kecepatannya dan menerjang tanpa ampun.
Hembusan angin kuat menerpa punggungku di iringi suara ledakan yang bertubi-tubi.
Dengan susah payah Hiro membimbingku berlarian menghindari puing-puing bangunan yang hancur sepanjang jalan.
"Tetap melihat ke depan!" Teriak nya mengingatkan ku agar terus berlari apa pun yang terjadi.
Tiba-tiba sebuah mobil tua melayang melewati reruntuhan dan jatuh tepat di hadapan kami dalam keadaan terbakar.
Serentak kami berdua berhenti dan melihat ke arah belakang.
Belasan mobil dan puing bangunan melayang menerjang kami seperti hujan, monster tulang belulang itu ternyata menggunakan akalnya untuk tak membiarkan kami lolos begitu saja di hadapannya.
Hiro mengambil langkah dengan berdiri tepat di hadapanku, memasang kuda-kuda dan bersiap mengeluarkan senjatanya. Debu merah kehitaman berterbangan di sekitar tubuhnya, dalam waktu beberapa detik terlihat sebuah bazzoka di lengan kanannya dengan bentuk 2 kali lebih besar dari sebelumnya.
Hiro membidik puing-puing dan mobil yang berterbangan, menangkisnya dengan serangan yang sama kuat dengan senjata yang dia punya. Benda-benda itu pun meledak di udara dan menebarkan serpihan kecil seperti pertunjukan kembang api di malam tahun baru.
Namun ternyata serangan dari monster itu semangkin beringas, dia terus melayangkan benda apapun yang ada di dekatnya untuk menggempur kami tanpa ampun. Saat Hiro fokus dengan benda-benda yang ada di angkasa, dia pun lengah dan membiarkan tubuhnya terkena hantaman serangan langsung dari monster itu berupa tombak tulang yang mengenai senjatanya. Tubuh Hiro terpental jauh beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Aku terpekur mundur menatap Hiro dengan tubuh gemetar. Dia terluka parah dengan darah yang mengucur melewati wajah dan pelupuk mata.
Grrroooommmhhh....
Monster kerangka itu berlari mendekat ke arahku dengan kecepatan penuh seakan dia benar-benar marah saat melihat kehadiranku.
Tapi, sesuatu terjadi padanya saat memasuki jarak 20 meter dari tempat ku berdiri. Monster itu terpental jauh seakan sesuatu sedang menghalanginya.
Dia tambah marah, dan langsung menerjang lagi ke arahku dengan serangan yang beringas. Namun anehnya, lagi-lagi dia terpental jauh tanpa mampu mendekatiku barang semeter pun.
Mendapati pemandangan aneh itu, aku langsung menyadari jika sesuatu sedang menghalangi nya. Seperti sebelumnya, sebuah perisai transparan mengelilingiku, melindungiku dari serangan monster itu.
Meskipun aku tak tahu pasti apa yang telah terjadi. Tapi perisai ini, telah menyelamatkan hidupku sebanyak dua kali.
"Apa ini, apa yang terjadi!" Hiro berjalan dari balik reruntuhan mendekatiku.
"Hiro!"
Aku beranjak dari tempatku dan langsung memapahnya yang terluka.
"Kau baik-baik saja?" Tanyaku.
Tapi dia tak menggubris dan menatap mahluk kerangka itu yang terus terpojok karena tak mampu menembus sesuatu yang tak terlihat.
"Hiro!" Panggilku.
Dia tersentak dan melihat ke arahku.
"Ini," Dia mengernyitkan dahi menatapku, "ulahmu?"
"Apa?"
Dia masih memandangiku dengan tatapan yang sama.
"Apa maksudmu?" Tanyaku balik.
Grrrrooooaaaarrrghhhh...
Kini dia marah, marah besar. Suara aumannya bahkan bisa terdengar dari radius ribuan mil di sebrang pulau sana.
Sulur-sulurnya terangkat ke atas mengibas dengan cepat, ke empat kakinya kuat mencengkram tanah, kemudian dia mengangkat pandangannya kelangit seolah sedang melakukan sesuatu yang berbahaya.
Kraakkk kraakk krakkk...
Seluruh tubuhnya mengeluarkan gemerisik patahan tulang yang terdengar mengerikan, api hitam menyala-nyala keluar dari tubuhnya dengan panas yang bahkan sampai terasa ke tubuhku, lalu muncul banyak tulang runcing seperti gigi taring memenuhi tubuhnya, bobotnya juga bertambah dengan ukuran 10 kali lipat lebih besar lagi dari perubahan yang tadi.
ini kebenarannya tapi kenapa kedengerannya jadi kek omong kosong 🤣
Tapi perasaan gak ada yang berubah. Ngapain lu hapus bab lama, padahal komentar sama like-nya udah bejibun
Baca bab baru kaga idep
mana Ujan Meteong?!