Memiliki suami yang penyayang dan pengertian merupakan suatu anugerah yang patut di syukuri oleh setiap wanita, suami yang bertanggung jawab dan selalu jujur tentang apa pun. namun sayang semuanya sirna ketika sang suami menyembunyikan suatu rahasia besar yang akan menghancurkan rumah tangga yang bahagia itu. akan kah rahasia itu terbongkar ataukah akan tetap tersembunyi dengan rapat? nantikan kelanjutannya yahh!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon janda#hot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.16.
POV: ARGA III
Entah mengapa weekend kali ini, Kanya meminta ijin padaku untuk tinggal satu atap lagi dengan Lia. Padahal dia juga tahu, jika ada dia hasratku seolah tidak bisa lu kontrol lagi.
Kanya terlalu cantik dan seksi. Aku sendiri tak paham kenapa perempuan secantik dia mau ku jadikan yang kedua, apalagi mau menjadi madu sahabatnya sendiri.
Katanya aku sangat perhatian dan penuh cinta pada istri dan anak, karena itulah membuat dia kagum dan iri melihat kebahagiaan sahabatnya sendiri. Hal itu jugalah yang membuat dia menyetujui untuk menikah siri denganku. Dia butuh cinta dan kasih sayang dariku, mungkin juga karena selama ini dia tidak pernah merasakan cinta dari laki-laki manapun.
"Mas! Si Lia mana yah?" tanya Kanya setelah ku berikan bubur ayam untuknya.
Dia bilang saat ini ia sedang ngidam, karena itulah aku berusaha mencari bubur itu untuknya, meski harus berkeliling mencari tukang bubur ayam.
"Lia lagi nganter Aska ke sekolah sayang," jawabku sambil menuangkan bubur ayam kedalam mangkuk untuk menyuapinya sedikit demi sedikit.
"Perut aku sakit banget, mas. Tadi ku lihat ada bercak-bercak disana! Sebaiknya sekarang juga kita ke dokter sebelum Lia pulang! Aku takut dia akan curiga," ucap Kanya lagi sambil meringis kecil seperti sedang menahan kesakitan.
Aku pun mengangguk pelan. Tanpa berpikir panjang segera membopongnya masuk kedalam mobil. Bik Mirna terlihat sangat terkejut melihatku membopong Kanya dengan begitu mesra.
"Bik! Tolong bilang sama Lia kalau aku mengantar Kanya ke dokter sebentar, ya. Kalau menunggunya pulang, takut Kanya akan kenapa-kenapa!" pamit ku pada Mirna yang masih berdiri bengong.
Bik Mirna mengangguk pelan sambil berjalan menutup pintu gerbang. Segera ku percepat laju kendaraanku agar segera sampai di rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, aku meminta perawat untuk segera membawa Kanya ke UGD karena saat ini Kanya terlihat sangat pucat dan lemah. Aku benar-benar tak ingin melihat Kanya lemah seperti ini lagi, apalagi saat ini Kanya sedang mengandung darah dagingku.
Kuraba dompet yang biasa ku selipkan di saku samping celanaku namun tak ada disana. aku mencoba tenang mencari dompetku namun hasilnya tetap sama dompetku itu tidak di temukan. Karena lelah mencari aku memutuskan untuk duduk sambil memikirkan dimana keberadaan dompetku itu.
Benar saja aku lupa, dompet itu tertinggal diatas meja disamping bubur ayam tadi. Aku lupa memasukannya kembali kedalam saku celanaku.
"Aduh! Kenapa aku sangat ceroboh sih? Semoga saja Lia tidak menemukan dompetku itu! Jangan sampai mengecek isi ATM itu, aku yakin dia akan sangat kaget mengetahui nominal uang yang berada di dalam ATM itu. Semoga melihatnya, bisa sangat berbahaya. Aku sengaja menabung uang itu untuk membelikan Kanya sebuah rumah yang megah setelah ia melahirkan nanti.
***
Suasa rumah begitu hening. Mobil Arga pun tak lagi berada di garasi. Dia pasti sudah ke kantor, apalagi tadi Anggi sengaja membuat drama agar dia segera pergi ke kantor pagi ini dengar buru-buru. Sedangkan Kanya mungkin kembali beristirahat di kamarnya, dia sedikit demam mungkin karena baru trisemester pertama jadi masih mual dan pusing.
Lia mengucap salam saat memasuki rumah, terdengar bi Mirna menjawab salamku dengan gugup. Wajahnya terlihat pucat, sambil menunduk gugup ia seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Bik Mirna ada apa? Kenapa wajah bibi sangat pucat? Apa bibi sedang sakit? katakanlah bi atau ada sesuatu yang ingin bibi bicarakan dengan saya?" tanya Lia. Lalu Lia meminta putranya untuk masuk dan berganti pakaian.
Bik Mirna mengajak ku untuk duduk di sofa ruang tengah, dia pun duduk di sebelahku.
"Maaf yang non, kalau bibi salah tapi sepertinya ada sesuatu yang spesial antara pak Arga dan mbak Kanya. Mereka berdua terlihat sangat mesra, tadi pak Arga menggendong mbak Kanya untuk dibawah ke dokter, dia mual-mual hebat seperti orang yang sedang hamil muda!" ucap bi Mirna sedikit ragu dan takut. Mungkin saja ia takut jika Lia akan marah saat mendengar laporannya.
"Terimakasih yah karena sudah memberitahu saya tentang hal ini, mereka berdua memang ada hubungan yang spesial bi! Saat ini Kanya sudah hamil beberapa Minggu!" ucap Lia terbata bata.
Meski selalu mencoba untuk terlihat kuat namun hati Lia tetap sakit jika kembali menceritakan tentang pengkhianatan suami dan sahabatnya itu. Rasanya seperti di tikam berkali-kali, perih dan hancur berantakan.
"Astaghfirullah...jadi non sudah tahu tentang hubungan mereka berdua? Non begitu kuat dan sabar menghadapi mereka berdua," ucap bi Mirna lirih.
Lia mencoba tersenyum tipis mendengar ucapannya, bi Mirna kemudian memeluk Lia pelan untuk mencoba menguatkannya.
"Saya sudah tahu beberapa hari yang lalu bi, belum terlalu lama juga. Saat ini saya juga sudah ajukan gugatan cerai, biar saja mereka bebas, bi. Saya sudah capek melihat sandiwara mereka berdua!" ucap Lia lagi
Bi Mirna ikut menitikan air mata setalah mendengar cerita Lia, dia pasti juga tak menyangka jika Kanya yang ku sayangi dengan tulus selama ini menikung aku dari belakang.
"Ya sudah kalau begitu non. bibi doakan non selalu sehat dan kuat yah. percayalah semuanya akan mendapatkan balasannya," ucapnya lagi. Setelah itu bi Mirna pamit ingin kembali menyelesaikan pekerjaannya.
demi jalang murahan.... dan jga nafsumu... km rela khilangan rumah yg nyata😅😅😅
jika berkenan kita saling dukung yuk