Namanya Diandra,wanita berusia 27 tahun sudah menikah dengan suaminya yaitu Bagas berusia 30 tahun,dan usia pernikahannya sudah sampai di 4 tahun. Tetapi hingga kini mereka belum dikarunia seorang anak. Diandra dan Bagas bersabar karena mereka percaya semua itu adalah kehendak Tuhan. Tetapi tiba tiba Diandra merasa ada yang berubah dari suaminya terutama sikap Bagas. Diandra mencoba menepis perasaannya itu dan masih berpikir positif pada suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yasmin Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Keputusan Diandra
Diandra membuka korden kamarnya perlahan,sinar matahari pagi menembus dari balik jendela dan rasa hangat pun mulai terasa seperti sedang memberikan pelukan pada Diandra.
Diandra menatap keluar jendela kamarnya berusaha menikmati kehangatan sinar matahari itu. Matanya masih sembab karena tangisa yang masih terus dia keluarkan sepanjang malam. Tapi Diandra lelah untuk terus meratapi kesedihannya,dia ingin bangkit dan melewati ini semua dengan segala kekuatan yang masih tersisa dan juga harapan.
Diandra meyakinkan dirinya pasti dia bisa melewati ini semua,dia bisa melepas kepedihan dan rasa sakit ini.
Ponsel Diandra berdering,sekilas Diandra menatap layar dan melihat nama Bagas yamg muncul dilayar. Diandra enggan mengangkat,sampai akhirnya mati. Tetapi tidak lama ponsel nya berdering lagi,Diandra melangkah menuju ketempat tidurnya mengambil ponsel yang dia letakkan di atasnya.
Diandra hanya menggenggam ponselnya,matanya terpejam merasakan hatinya yang semakin perih.
Tidak lama deringan itu mati kembali,tetapi tampaknya Bagas tidak menyerah karena lagi lagi ponsel Diandra berdering lagi. Akhirnya Diandra mengangkat dan dia hanya terdiam tidak menyapa.
*Di,," seru Bagas perlahan.
*Di,bisakah kita ketemu? *
*Aku ingin kita bicara,aku mau bicara sama kamu dan menjelaskan semuanya,aku,,,aku minta maaf Di*
*Gak ada yang harus kita bicarakan,aku akan bereskan semua barang barang kamu yang ada di rumah ini,dan akan menaruhnya di luar rumah,silahkan kamu ambil,jangan pernah lagi kamu injakkan kakimu ke rumah ini* Akhirnya Diandra bersuara dengan tegas pada Bagas.
*Maksudmu Di*
*Maksudku? Kamu tanyakan maksudku? Kamu masih gak paham dan merasa gak bersalah dengan perbuatan jahatmu itu?*
*Aku minta maaf Di,,aku aku sayang sama kamu* jelas Bagas tampak merayu Diandra.
*Sudah cukup Bagas,sudah cukup semuanya,gak ada lagi yang harus kita bahas,aku tidak menerima penjelasan apapun darimu*
*Tapi Di,aku hanya ingin menjelaskan kalau aku khilaf,aku menyesal*
*Khilaf katamu? Bagaimana bisa kamu bilang khilaf tetapi kamu sudah membuat Sinta hamil,dan itu kan yang kamu inginkan,memiliki seorang anak,dan kamu lebih memilih memilikinya dari Sinta*
"Aku ke rumah ya Di" pinta Bagas memelas.
"Iya,tapi hanya untuk mengambil pakaianmu,dan itupun hanya sampai di depan pintu" jawab Diandra sambil mematikan ponselnya. Setelah itu dia melempar benda mungil itu keatas kasurnya karena kesal. Setelah itu Diandra bergegas membereskan pakaian Bagas yang ada di dalam lemari,sebenarnya dia malas untuk menyentuh barang barang Bagas,tapi itu harus dia lakukan karna dia tidak ingin Bagas masuk ke dalam rumahnya. Tanpa melipat atau merapikan pakaian pakaian itu,Diandra langsung saja memasukkan ke dalam koper,menyumpal isinya jadi satu dengan barang barang Bagas yang lainnya. Setelah selesai Diandra menyeret koper itu keluar kamar dan menaruhnya di teras rumah. Diandra tidak akan membuka pintu untuk Bagas dan memberi kesempatan pada Bagas untuk berbicara karena semua itu sudah tidak perlu lagi. Diandra mengunci pintu rumahnya dan kembali masuk kedalam kamarnya. Kembali berbaring di atas kasurnya. Diandra berjanji dalam hati kalau dia tidak akan lagi menoleh kebelakang,tidak akan memberi ruang dan kesempatan pada Bagas meski Bagas memohon,karena hatinya sudah sangat sakit,apalagi saat ini Sinta sudah mengandung anak Bagas,betapa luar biasa penghianatan yang sudah mereka berdua lakukan padanya.