NovelToon NovelToon
Kehendak Atau Pilihan

Kehendak Atau Pilihan

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Wanita Karir / Keluarga & Kasih Sayang / Karir / Persahabatan / Romansa / Tamat
Popularitas:21.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Elga Rista

#Terkadang yang kita anggap obat ternyata adalah luka terhebat#

Novel ini menceritakan seorang laki laki yang bernama Raka Pratama. Raka pernah berpacaran dengan seseorang 5 tahun. Tetapi Ia menjalin hubungan dengan perempuan yang Pondasi hidup nya berbeda. Sehingga Membuat kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka. Dan akhirnya, Ia memilih menyerah.

Luka di hati Raka yang masih basah tersebut , Ia malah bertemu dengan perempuan yang sedang patah hati. mengapa begitu? Rara baru saja mendapatkan kabar bahwa kekasihnya itu dijodohkan dengan perempuan lain. Padahal mereka berdua sudah memikirkan untuk lanjut kejenjang lebih serius.

Dua orang yang sudah patah, bertemu dalam keadaan rapuh. Tanpa sadar mereka saling menjadi sandaran. Bagaimana mereka mengatasi perbedaan dan tekanan dari orang sekitar? Apakah mereka bisa saling menyembuhkan atau justru saling melukai atau bahkan orang yang mereka temui adalah " Jodoh Orang lain "?

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Ikutin terus yaaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elga Rista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Yang Mulai Terbaca

Lalu, lampu hijau menyala.

Mobil kembali melaju.

Tanpa ada kata, tanpa ada permintaan maaf, tanpa ada janji baru.

Hanya hening.

Dan hening itu menjadi jawaban yang paling menyakitkan dari semuanya.

Pagi itu seharusnya berjalan biasa saja. Harusnya seperti itu.

Tapi bagi Rara, sejak ponsel itu berbunyi kemarin malam dan pesan itu muncul di layar ponsel Nayla, dunianya seakan bergeser setengah langkah dari porosnya.

Ia terbangun dengan kepala berat, seperti tidak benar-benar tidur. Matahari belum terlalu tinggi, tapi kamar sudah dipenuhi cahaya lembut yang menembus tirai tipis. Rara mengusap wajahnya, menarik napas dalam.

“Semoga mimpi buruk, semoga mimpi buruk…,” gumamnya pelan.

Tapi ia tahu, itu bukan mimpi. Dan bukan kebetulan.

Karena pesan itu yang ia balas dari nomor asing masuk tepat ke ponsel yang tergeletak di depan dirinya.

Ponsel Nayla.

Sahabat yang selama ini selalu ada, yang tahu semua ceritanya, yang memeluknya saat patah, yang menepuk bahunya saat ia ingin menyerah.

Yang sama sekali tak pernah ia curigai.

Sampai semalam.

Rara menatap langit-langit kamar, mengatur napas. Rasanya seperti ada dua orang dalam dirinya, satu ingin langsung menuntut jawaban, menatap Nayla dan berkata “Kenapa kamu lakukan ini?dan apa tujuannya?"

Dan satu lagi yang lebih tenang tapi jauh lebih menyakitkan ingin diam, memperhatikan, menyusun bukti sebelum menuduh.

Tapi pagi ini, ia hanya ingin bisa bernafas.

Rara menghela napas panjang sebelum akhirnya memaksakan diri bangun. Hari ini ia harus mengajar, harus bertemu anak-anak. Tidak peduli seberapa kacau isi kepalanya, kelas tetap membutuhkan dirinya. Mereka sering menjadi alasan terkuatnya untuk tetap bertahan, tetap tersenyum, tetap merasa bahwa dunia masih menyimpan sisi yang manis.

Ia bangkit pelan dari kasur, menepikan rambut yang jatuh di wajahnya, lalu mengambil ponsel. Tidak ada pesan baru. Tidak dari Dhian, tidak dari nomor misterius, dan tentu saja… tidak dari Nayla.

Hanya ada notifikasi dari grup sekolah, beberapa broadcast, dan reminder tugas.

Ia menyeret langkah menuju kamar mandi, mencuci wajah dengan air dingin, membiarkan ketegangan di tubuhnya sedikit larut.

Hampa.

Rara menggigit bibir bawah. “Oke… hari ini harus normal. Seolah gak ada apa-apa.”

Ia mengangguk pada dirinya sendiri.

Karena kalau ia menunjukkan kecurigaan, Nayla bisa saja menjadi lebih hati-hati… atau lebih berbahaya.

Di Sekolah

Koridor sekolah ramai seperti biasa. Suara langkah anak-anak, tawa kecil, dan obrolan guru-guru lain mengisi udara. Semua tampak sama , kecuali Rara.

Ia berjalan membawa buku, tapi pikirannya melalang entah ke mana.

Bu Sinta menyapanya, “Pagi, Bu Rara. Kamu kelihatan capek, Kamu nggak apa-apa?”

Rara tersenyum kaku. “Kurang tidur, Bu.”

“Oh ya sudah, nanti istirahat ya. Jangan dipaksakan.” jawab Bu Sinta sambil tersenyum lembut.

Ia mengangguk sambil tersenyum paksa, padahal yang sebenarnya terjadi bukan sekadar kurang tidur.

Pikiran Rara terus melayang pada tiga hal yang berputar seperti film rusak, yaitu Nama Dhian, Nomor misterius dan yang pasti Nayla.

Dan semuanya terhubung lebih kuat dari yang ingin ia akui.

Di kelas, anak-anak mulai belajar. Rara mengajar seperti biasa, mengoreksi tugas, memberi gambaran soal, tapi beberapa kali ia kehilangan fokus hingga harus mengulang penjelasannya.

“Bu Rara ngantuk ya?” tanya salah satu murid polos.

Rara tertawa kecil. “Iya, Bu kurang tidur. Tapi ayo lanjut ya.”

Namun dalam hatinya, ia tahu ia bukan sekadar ngantuk.

Ia sedang berperang.

Saat istirahat, Rara duduk di ruang guru. Ia membuka bekal, tapi sendok di tangannya hampir tidak bergerak. Pandangannya mengarah ke ponsel di atas meja, Tidak ada pesan masuk sama sekali. Kenapa Ia sekarang menunggu pesan dari nomor misterius itu? Padahal kemarin dia tidak berharap ada pesan masuk dinomor itu. Ia baru membuka botol minum ketika ponselnya bergetar. Dan Ia cepat cepat melihat siapa yang menelepon tersebut.

Dan disana muncul nama Nayla. Dan hati Rara mulai deg deg an tidak karuan. Tetapi Rara tetap mengangkatnya.

“Halo?”

“Ra, kamu lagi di mana?” suara Nayla terdengar ceria meski sedikit terburu-buru. Sepertinya ia menelpon dari kantor.

“Di sekolah, lagi istirahat.” jawab Rara pelan

“Hah, tumben kamu ngangkat cepat.” ucap Nayla dengan nada sedikit kesal

Rara terkekeh kecil. “Lagi pegang HP aja.”

“Kamu kenapa?” tanya Nayla cepat, seperti radar sahabat yang tidak pernah padam.

“Nggak kenapa-kenapa.” Jawab Rara dengan nada lirih

“Ra…” nada Nayla berubah. Serius. “Aku tahu kamu. Kalau kamu bilang ‘nggak kenapa-kenapa’, biasanya kamu lagi kenapa-kenapa.”

Rara memandang meja. Ia ingin bercerita. Ia ingin meluapkan semuanya. Tapi sesuatu dalam dirinya menahan. Karena itu semua ada sangkut pautnya dengan sahabat nya itu yaitu nayla

“Beneran, La. Aku cuma capek.”

“Capek mikirin siapa?” Nayla menembak.

Rara terdiam.

Nayla menghela napas. “Oke. Kalaupun kamu nggak mau cerita, nggak apa-apa. Selesai kerja, aku langsung ke kosan kamu ya.”

“Hah? La, nggak usah—”

“Aku ke sana. Titik. Kita makan, atau nonton, atau cuma duduk bengong sambil ngatain hidup. Terserah kamu nanti maunya apa.”

Rara akhirnya tersenyum. Hangat sekali punya sahabat seperti ini.

“Oke…” jawabnya pelan.

“Oke ya,” kata Nayla mantap. “Kalau kamu butuh aku dari kantor langsung kabur pun mau, tapi jangan bikin aku khawatir diam-diam.”

Telepon ditutup.

Rara membeku.

Itu kalimat yang biasanya menenangkan.

Tapi sekarang terasa seperti pisau yang membuka sesuatu.

Karena Nayla tahu.

Terlalu tahu.

Sampai-sampai Rara bertanya dalam hati:

Selama ini aku cerita ke kamu… atau kamu yang memantau semuanya?

Setelah jam sekolah selesai, Rara beres-beres. Ia memutuskan pulang cepat hari ini. Kepalanya berat, dadanya lebih berat lagi.

Di rumah, setelah mandi dan berganti pakaian, Rara duduk di meja belajar. Ponselnya tergeletak di samping laptop. Ia membuka jendela sedikit, membiarkan angin menerpa.

Lalu ia membuka chat WhatsApp.

Tidak ada pesan baru dari Dhian.

Hanya pesan semalam—yang terakhir ia balas.

Tiba-tiba, notifikasi bunyi.

Rara tersentak. Dan ternyata.......

( BERSAMBUNG...)

Ikuti kisahnya di bab selanjutnya ✨

Jangan lupa beri komentar, saran, dan like

Karena dukungan kalian merupakan semangat untuk author membuat cerita. Terima Kasih sudah membacanya❤️

1
Vania M.
kok sedyhhhhh aku nyaaaa/Sob/
Vania M.
ya ampun fajarrrrrrr👍Laki laki tidak suka basa basi ini🤣🤣
Vania M.
semangat fajarr😍
Elga Rista Septina
Hehe makasih banyak ya kakak-kakak. 🤍 Senang banget lihat kalian ikut menebak dan seru-seruan bareng. Semoga alur ceritanya tetap bikin penasaran yaa, jangan lupa ditunggu kelanjutan bab berikutnya. 🥰✨
Elga Rista Septina
makasih banyak ya kakak-kakak semua atas doa, semangat, dan dukungannya. 🥹🤍 Semoga kita semua selalu diberi kesehatan, kebahagiaan, dan dimudahkan segala urusannya. Untuk novel baru, mohon ditunggu yaa, author lagi nyiapin cerita terbaik buat kalian. Semoga nanti bisa nemenin hari-hari kalian lagi. Terima kasih sudah selalu setia menemani perjalanan author. 🤍✨🌷
Andita f.
Lanjut novel baru thor🙏🤣
Andita f.
lanjut💪
Andita f.
ya ampunnn🤣
Melinda Alvina
ya Allah sedihhh😭😭 Semangat terus kak. Ditunggu novel selanjutnya 🤗😁
Melinda Alvina
Alhamdulillah😍👍🙏
Melinda Alvina
loh sama fajar? bagusss😍
Cut Anggraini
Raka & fajar😍😍
alisyha
Alhamdulillah😍ga sesuai ekspektasi ku sih aku pikir sama Raka, ternyata sama fajar🤭 lanjut thor🤣🙏
Alzahra Dwi Anjar
gas poll fajarrrr🤣
Cut Anggraini
plot twist baru nih🤣
Elga Rista Septina
Terimakasih atas dukungannya🤗
Melinda Alvina
Haduh👍
Alzahra Dwi Anjar: astaghfirullah raka🤣
total 1 replies
Cut Anggraini
lanjut 🙏
Elga Rista Septina
WKWKWK ya ampun, kompak banget nih kalian ngerasain gemesnya. 🤣🤍 Makasih ya kakak-kakak udah selalu kasih komentar dan semangat buat author. Ditunggu aja kelanjutannya yaa, semoga nanti bisa menjawab rasa penasaran kalian. Doain author biar rajin update terus. Selamat menikmati ceritanya dan jangan lupa jaga kesehatan yaa. 🥰📚🤍
alisyha
Luar Biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!