Semenjak mama dan kakek meninggal, hidup Ryuna seperti kereta api tanpa rel. Memiliki papa, namun dia tak pernah mencintai mamanya dan menginginkan dirinya. Bagi papanya, hidup dengan mamanya itu hanya sebuah kecelakaan dan paksaan.
Memiliki kepribadian introvert dan pendiam. Ryuna sering kali di-bully dan dipandang remeh oleh teman-teman satu sekolahnya.
Hidup Ryuna terasa komplit.
Ya, komplit untuk semua luka dan derita.
Tapi, sikap lembut Barry padanya membuat Ryuna sering kali marah dan tak membutuhkan belas kasihannya.
Barry menegaskan bahwa dia benar-benar mencintainya. Tapi, semua lelaki di mata Ryuna sama saja. Mereka hanya sosok pria kasar yang berhati dingin.
Apakah Barry juga bersikap dingin seperti papanya suatu hari nanti? Apakah mungkin cinta yang dilontarkan Barry itu tidak semata-mata hanya untuk menjebak lalu mempermalukannya di depan semua orang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kei68, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16. Bertemu
'Jika mawar berduri yang ada dalam genggaman itu hanya akan memberikan luka yang dalam, hati yang sesak di saat ingatan kembali muncul bayang-bayangannya. Memang cantik, memang sudah nyaman dan terlihat indah jika dilihat apalagi disentuh. Tapi, jika dipaksakan untuk tidak membiarkannya pergi dari genggaman, itulah yang dinamakan luka, perihlah yang akan menerpa.
Jika terlalu memaksakan untuk tetap bersama kita, terkadang sesuatu yang bukan menjadi hak kita tidak bisa ditahan di kala dia mengharapkan hati yang lain. Sampai sejauh ini seorang Ryuna yang pendiam dan murung telah menemukan kebahagiaannya hingga mampu membuatnya berubah menjadi sedikit ceria dan tidak dingin lagi. Namun, itu hanya bertahan untuk beberapa hari, di kala tak sengaja ia mendapati suatu hal yang membuat hatinya sakit menerima kenyataan itu. Dia mengharapkan hati yang lain, padahal dirinya sudah berharap.
Sudah seminggu berlalu, Ryuna mengenal sosok Pratama sang lelaki dunia maya itu. Terbesit rasa nyaman di saat keduanya memulai percakapan meski sederhana. Tanpa diketahui Viona, klandestin ia menyukai pria itu meski dirinya belum pernah melihatnya secara tatap muka.
Entah mengapa isi pikirannya akhir-akhir ini selalu dipenuhi oleh laki-laki itu. Ryuna tersenyum kecil mengingat semua itu kembali meski dengan hati yang tergores indah yang tak bisa dilihat oleh siapa pun.
Ia akan terlihat baik-baik saja karena wajah datarnya, semenjana hatinya telah mendapati luka yang sudah ternganga lebar.
“Ryuna, i’m coming!” Viona tiba-tiba datang dengan semangatnya.
“Ah iya?” Ryuna berpaling ke samping melihat gadis itu yang tersenyum padanya.
“Datang pagi-pagi banget? Kenapa? gue rasa nggak ada PR.”
“Memang nggak ada,” Jawabnya singkat. "Gue cuma mau datang pagi.” Katanya lagi dengan suara pelan.
Viona tak lagi berkata, dia duduk di bangkunya lalu melihat sekelilingnya. “Rafan belum datang ya?”
Ryuna hanya menatap datar saat Viona sudah menyumbat earphone ke telinganya lalu sibuk dengan ponselnya mendengarkan musik. Rasanya hari ini tidak ada semangat untuk melakukan sesuatu, bawaannya ingin malas saja.
“Huuh...” Ryuna menatap sayu ke arah ponselnya. Melihat seluruh isi chat dengan pria itu tidak akan membuat rasa hatinya sembuh seketika, ia tak tahu entah pria itu orang baik atau mungkin sebaliknya.
“Morning epribadiih...” Suara gendang pecah itu menyadarkan Ryuna yang sempat melamun, disimpannya ponselnya kembali ke saku bajunya jika tidak ingin direbut oleh pria blasteran kw itu.
“Hello, Ryuna. Kenapa dirimu pagi-pagi sudah murung, apa yang bisa aku bantu?” Barry tersenyum lebar sembari mendekati meja Ryuna.
“Tolong menjauh dari gue.” Pintanya dengan tatapan sinis. Ryuna benar-benar menyeramkan saat ini.
“Wah, aku nggak bisa.” Ryuna melambaikan tangannya enggan mau peduli.
“Kenapa kamu nggak mau mencoba buat membuka hati buat aku?” Tanyanya tiba-tiba setelah lama terdiam. Dia duduk di bangku yang ada di depan Ryuna, gadis itu tak menjawab.
Ia menyadari jika cowok itu sedang berbicara serius, tapi menyikapinya dengan pura-pura tidak peduli. Barry merebut buku di tangannya saat Ryuna ingin membacanya.
“Apaan sih, balikin!” Ryuna mencoba merebutnya kembali, tapi Barry menjauhkannya.
“Jawab aja pertanyaanku.”
“Apa sih nggak penting.” Ryuna mencoba mengelak.
“Bagiku penting. Apa kamu tega membiarkan aku terus suka sama kamu?” tanya Barry berterus terang.
Apa salahku? Kamu sendiri yang menumbuhkan rasa suka itu. Ryuna berteriak kesal dalam hati.
“Ryuna. Coba lihat aku...”
“Gue sudah lihat.” Potongnya dengan kesal.
Barry bingung, entah bagaimana caranya ia mengungkapkannya. “Ryu...”
“Bar, aku nggak bisa. Satu alasannya karena ada orang lain yang aku sukai saat ini.” kata Ryuna dengan jujur. Ia tak mau lagi jika Barry terus-menerus mengganggunya.
Tentu saja perkataan itu membuat Barry maupun Viona terkejut, jarang-jarang gadis itu mengungkapkan perasaannya karena gadis itu dinilai penuh misterius.
Terutama bagi Viona yang kembali memutarkan pikirannya. Dia memang menyumbat earphone di kedua telinganya, tapi tak ada musik yang didengarnya, dia sengaja mematikannya saat mendengar Barry baru saja datang dan mengajak Ryuna berbicara serius.
Ya, dia mendengar semua isi percakapan mereka. Sudah diduganya jika Ryuna masih terbawa perasaan kepada pria itu. Sungguh aneh, bagaimana bisa dia menyukai seorang lelaki yang belum pernah dilihatnya secara langsung.
“Hah?” Barry tercengang mendengar jawaban itu. Dia tak menyangka selama ini sosok perempuan dan pendiam itu ternyata telah menyukai orang lain.
Ryuna pun tersadar dengan apa yang baru saja diucapkannya, ditutupnya mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya.
Kenapa aku harus bilang yang ini? Ryuna merutuki dirinya sendiri. Ia melirik Viona yang sedari tadi hanya diam di bangkunya menatapnya dengan tatapan sinis, senyumnya terukir miring.
Tak siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan dihujani oleh mereka, Ryuna sudah keburu kabur untuk menghindar.
“Hoi, Ryuna! Kok malah pergi sih?” Viona berdesis pelan.
Ryuna tak mendengarkan panggilan dari temannya itu, ia terus menyusuri koridor sekolah yang sepi.
“Huuh, apa-apaan sih mulut ini nggak bisa diajak kerja sama aiish...” Ryuna malah memanyun-manyunkan bibirnya. Semenjana jantungnya sudah berdetak tak karuan.
Tiba-tiba ia berhenti di tempat, bingung entah mau pergi ke mana lalu ia memutuskan untuk kembali saja ke kelas, daripada pergi tak tentu arah, biarkan saja mereka bertanya apa pun padanya. toh, ia tidak akan menjawabnya nanti. Saat dibaliknya tubuhnya hampir saja menabrak seseorang yang hendak berjalan melewatinya. Spontan Ryuna mundur menghindari orang itu.
Rasanya ingin kabur dan mengumpat, tapi kakinya tak bisa diajak kerja sama, entah kenapa berat untuk melangkah saat ini. Matanya terus menatap kedua bola-bola indah itu. Matanya, alis matanya yang tegas, hidungnya, bibir tipisnya, bentuk wajah itu, rambutnya yang tercukur rapi. Ryuna sangat hapal dengan semua itu, memang rasanya tidak terlalu familiar. Karena ia pernah melihatnya melalui sebuah foto, wajahnya tidak banyak berubah.
Mukanya kayak anak-anak, tapi umur sudah lanjut. Ryuna masih sempat-sempatnya berkata seperti itu dalam hati. Dengan berusaha menyadarkan dirinya, dimundurkannya langkah kecilnya sebelum akhirnya ia berputar untuk benar-benar lari dari hadapan pria itu.
“Tunggu!”
Ryuna memejamkan matanya sembari menggigit bibir bawahnya. Gawat! Ini salahmu Ryuna! Begitulah yang ada di pikirannya. Apakah dia akan mengenalinya?
Derap langkah itu semakin dekat dan kini sepasang kedua kaki besar berbalut sepatu converse hitam les putih itu berhenti tepat di depannya.
Ryuna masih tetap menunduk dengan detak jantung yang berdebar-debar, dalam hati dia membaca ayat kursi agar dia segera menghilang. Tapi, percuma saja orang itu tak juga pergi.
Mau tak mau diangkatnya dagunya untuk mendongak melihat cowok itu yang masih setia menatapnya. Sepasang bola mata mereka bertemu tanpa ada batasan lagi. Ryuna memundurkan langkahnya, kenapa dirinya harus bertemu dengan orang ini?
“Lo... Ryuna?” Tanyanya dengan ragu. Dia seperti mengingat-ingat sesuatu.
Seketika badai topan dan angin bergemuruh membuat pikiran Ryuna terombang-ambing, hatinya bagai gunung yang akan meletus tanpa henti, dan membanjiri lautan daksanya yang kini kian membeku.
Di... dia... Pratama?
Terima kasih
semangat dan sukses selalu ya
jgn lupa mmapir ya 🤗😍
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
sukses iya kak untuk karyanya
jangan lupa mampir di karya pertamaku yang menceritakan tentang cowok letoy yang selalu ditolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏
salam damai dari keturunan raja