Diputusin pas lagi sayang- sayangnya tentu membuat nyesek dan sakit hati. Itulah yang dialami oleh Vina yang di putus oleh Dafa. Putus tanpa kejelasan yang dilakulan Dafa membuat Vina pusing tujuh keliling memikirkan kesalahan yang mungkin diperbuatnya.
Namun, perlakuan Dafa yang sama ketika mereka masih berpacaran menambah pening Vina. Perhatian- perhatian diberikan pada Vina, membuat gadis itu yang belum move on hampir goyah.
Apa sebenarnya alasan Dafa memutuskan hubungan jika masih memberikan perhatian dan harapan? Lalu, apakah Vina dapat bertahan hingga akhir atau malah goyah dan kembali jatuh?
Ikuti kelanjutan hubungan keduanya yang penuh dengan lika- liku dan berbagai emosi yang menguras hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Fujiwara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kimo Dan Mercy
Bel tanda pelajaran sudah usai berdering, anak- anak SMA 20 serempak berhamburan keluar dari kelas masing- masing. Begitu pula dengan kelas IPA 5. Vina bersama dengan Candra berjalan bersama keluar dari kelas. Di tangan kanannya terdapat buku yang ia pinjam dari perpustakaan tadi.
“Lo pulang sama siapa, Vin?” tanya Candra.
“Bareng Bang Eky.”
“Loh, dia nggak ada PM?”
“Nggak ada katanya, gue juga udah telpon tadi.”
“Oke, kalo gitu gue balik duluan ya? Bye, Pina sayong,” Candra berjalan menuju tempat parkir dengan kedua tangan melambai pada Vina.
Vina pun memilih menunggu Eky di dekat pos satpam, di sana ada bangku jadi dirinya bisa duduk sembari kembali membaca bukunya lagi. Namun baru saja hendak membuka buku itu, seseorang duduk di sebelahnya tanpa izin.
“Vin, nanti sore mau bareng ke bazarnya? Gue juga mau kesana nih,” ucap Fena.
“Sorry, gue nanti di jemput Kak Galang.”
“Hmm oke deh, nanti gue ajak temen gue aja. Gue pulang dulu, ya? Bye Vina.”
Vina hanya mengangguk melihat kepergian Fena, setelahnya ia kembali fokus pada bukunya. Gadis itu mulai membaca judul- judul bab itu.
“Hmm, sampai mana tadi gue?” gumam Vina mengingat- ingat.
Vina menganggukkan kepala membaca poin yang keempat yaitu fokus dengan apa yang sedang dikerjakan. Gadis itu terdiam memikirkan saat ini ia sedang sibuk melakukan apa. Ketika sedang mencari- cari, tiba- tiba suara klakson yang sangat berisik mencemari pendengarannya.
TIN! TIN! TIN!
“Pak Cahyo! Lihat adik saya nggak?” tanya seseorang yang suaranya sudah sangat di hafal Vina.
Vina bangkit dari duduknya, ia memasukkan buku itu ke dalam tas dan menghampiri Eky yang masih nangkring di motornya. Vina menggeplak bahu Eky.
“Malu- maluin lo, Bang! Mana helm gue?!”
Eky hanya nyengir tanpa sedikit pun merasa berdosa, ia menyerahkan helm milik Vina. Gadis itu segera memakainya.
“Pak Cahyo! Kita pulang dulu, jangan rindu besok kita bertemu,” pamit Eky.
“Maaf, Pak. Abang saya agak sakit.”
Pak Cahyo hanya tersenyum melihat tingkah anak- anak itu, berkat senyuman maut Pak Cahyo itu seketika anak- anak SMA 20 yang belum pulang menghentikan langkah mereka untuk menikmati senyum langka milik satpam sekolah itu.
Eky melajukan motornya untuk pulang ke rumah, Ayah dan Bunda masih di rumah Nenek sampai besok. Kakak beradik itu memutuskan untuk delivery makanan lewat aplikasi B-food.
“Kunci rumah yang bawa Faris, kan?” tanya Vina.
“Ada di gue nih.”
“Lah terus Faris gimana?!”
Motor Eky berhenti tepat di depan rumah, Vina turun untuk membuka pagar yang memang tadi pagi tidak di gembok. Terjawab sudah pertanyaan Vina tadi. Dilihatnya Faris tengah rebahan di teras bersama si Oren yang tadi pagi di bawa ke sekolah.
“Akhirnya kalian pulang, udah kering gue di luar.”
“Lebay, biasanya aja sok- sokan pengen mengeringkan diri,” celetuk Eky.
“Bang, nanti sore gue mau keluar sama temen.” pamit Vina yang sedang membuka pintu.
“Temen siapa?”
“Kak Galang.”
“Kemana, Kak? Gue mau ikut,” tanya Faris cepat.
“Ke bazar di Mall M. Ngapain ikut sih? Di rumah aja lo sama Bang Eky.”
“Dek, ambilin minum dong!” perintah Eky yang sudah merebahkan tubuhnya pada sofa yang berada di ruang keluarga.
“Organ tubuh lo masih lengkap ambil sendiri,” jawab Vina naik keatas hendak ke kamarnya.
“Dek…”
Faris langsung melengos sebelum Eky sempat menyelesaikan ucapannya, membuat cowok itu mendengus sebal. Mau tidak mau, akhirnya ia bangkit dan berjalan malas menuju dapur.
Sore harinya, Galang menjemput Vina di rumah gadis itu menuju Mall M untuk acara bazar komunitas pecinta kucing. Vina turun dari mobil Galang, diikuti cowok itu. Suasana Mall sudah ramai dengan orang- orang yang membawa masing- masing hewan peliharaannya. Tidak lupa Vina membawa Mercy dan Galang membawa Kimo kucing Persia berbulu abu- abu. Mereka berdua berjalan menuju stand bazar.
“Lah, baru sampe lo?” tanya salah seorang anggota komunitas, seorang perempuan dengan kucing orennya.
“Iya, tadi gue jemput temen gue,” jawab Galang meletakkan kandang Kimo di meja, “Kenalin, ini Vina.”
“Hai, Vina. Nama gue Dewi, salam kenal ya?”
“Iya, Kak,” jawab Vina tersenyum.
“Duduk dulu, Vin. Bentar lagi acaranya mau mulai.”
Dalam bazar ini ada berbagai macam acara. Contohnya, cat fun, lomba foto owner bersama kucing, lomba makan bagi kucing, lomba fashion show kucing dan lain sebagainya. Ada juga beberapa stand yang menjual berbagai perlengkapan perawatan untuk hewan peliharaan.
Fokus Vina buyar saat mendengar suara yang tidak asing baginya. Gadis itu menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari asal suara itu. Matanya berbinar saat menemukan sumber suara itu. Galang yang duduk di sebelah Vina, masih fokus bermain dengan Kimo yang dikeluarkan dari kandang.
“Kak, gue nitip Mercy sebentar ya? Gue mau beli sesuatu.”
“Mau beli apa? Gue temenin ya?”
“Nggak usah, Kak. Deket kok belinya, nanti gue juga beliin lo. Nitip Mercy dulu…”
Vina segera pergi dari sana membuat Galang mengernyit bingung, mau kemana Vina. Wajah gadis itu terlihat senang tadi. Namun Galang hanya mengedikkan bahu, ia kembali bermain dengan Kimo dan Mercy. Beruntung dua kucing itu akur saat mereka berdua berdekatan. Galang tersenyum simpul melihat Kimo dan Mercy bermain bersama.
“Coba aja yang punya juga bisa kayak gitu,” gumam Galang.
Namun kemudian cowok itu merasa geli sendiri dengan gumamannya tadi. Hari ini Kimo berencana mengikuti lomba fashion show. Galang sudah menyuruh staff- nya untuk mendandani Kimo se- tampan mungkin. Kini Galang tengah menunggu Kimo selesai dandan bersama dengan Mercy.
Di lain tempat, Vina sedang mengantri di salah satu penjual jajanan kaki lima. Perutnya keroncongan saat mendengar suara speaker dari gerobak abang penjual ini. Vina bergerak gelisah, dirinya sudah terlalu lama meninggalkan Mercy.
“Bang, cepet dikit dong. Kasihan kucing saya nunggu lama,” ucap Vina.
“Sabar, Neng. Ini masih goreng lagi, yang tadi udah habis.”
Vina mendengus sebal, ia memperhatikan abang penjualnya menggoreng bahan untuk odading. Di depan gerobaknya ada tulisan besar yang bisa merusak mata jika terus diperhatikan. Tulisannya adalah “Odading Ironmen” dengan gambar Ironman, tapi wajahnya menggunakan wajah Hanoman.
“Vina?”
“Vin, gue cari- cari. Lama am…”
Vina menoleh mendengar suara itu. Di depannya ada tiga orang tengah menatapnya. Namun tidak lama, karena selanjutnya tiga orang itu malah saling menatap.
“Jadi lo mau beli odading? Kenapa nggak bilang sih?” tanya Galang menggelengkan kepalanya.
“Hehehe, kirain tadi cuma sebentar. Eh, taunya ternyata abangnya lama.”
“Acaranya udah mulai, Kak?” tanya Fena pada Galang.
“Iya, udah sekitar setengah jam yang lalu. Langsung masuk aja.”
‘Cih, jadi tadi bilang mau ngajak temen. Ternyata ngajak dia?’ batin Vina menatap sosok yang berdiri di sebelah Fena, sosok itu tengah menatap tajam Galang.
...🐈🐈🐈...
Salam hangat dari Pak Cahyo bukan bapaknya Vina
dah punya gc ayo gunakan para membernya
😂😂😂😂 lagi seru-seru, baca pertarungan mereka....tegang dengan emosinya Juno. Eh kox gambar mas Kardi mendelik 🤣🤣🤣
Si bunda juga iseng banget, sampe nyuruh semua anaknya beli minyak goreng promo
Untung sukses bund 👍👍😂😂
Eh Ekky, kamu kox sepertiku, yang suka maling mangga 🤣🤣 dan selalu sukses juga 😂😂 sumpah deh, nih cerita eh, episode....judulnya Maling Mangga yang Gesrek 🤣🤣🤣
pagi pagi absen dimari
kolom misi tertera karya Author lain 🤦🤦🤦
Omegot NT mah
duh....nostalgila dehh
kalian bikin kepengen 😥😥