Harus menikah namun tak aku cintai, lelaki itu adalah kesalahan yang pertama dan terakhir dalam hidupku, kami terbangun di saat sudah saling tak mengenakan pakaian. Kami terjebak di kamar hotel dalam keadaan mabuk dan berakhir dengan kehamilanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhen Dirga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antar
'*Baik, Mbok, nggak apa-apa, Mbok urus saja dulu suami Mbok, Mbok nggak usah mikirin masalah rumah, semuanya nanti saya yang urus,' kata Nesa via telpon.
'.....'
'Iya, Mbok. Assalamu'alaikum*.'
'.....'
Nesa menghela napas panjang, ia melihat jam yang ada di atas nakas, dan melihat jam telah menunjukkan pukul 8, ia sudah terlambat jika menyiapkan sarapan.
Setelah shalat subuh, Nesa tidur kembali, jadi tak merasakan getaran ponselnya yang berdering sejak pagi buta.
Tanpa memperbaiki diri, Nesa langsung keluar dari kamar dan menuju dapur, membuat Nesa terkejut ketika melihat Devan sudah duduk didepan meja makan dengan setelan rapi.
Nesa merutuki dirinya, dan dengan cepat memperbaiki dandanannya, ia sangat malu ketika Devan menatapnya dari atas sampai bawah.
"Kak, maaf, tapi Mbok Nab nggak bisa kerja hari ini, katanya suaminya sakit," kata Nesa, membuat Devan menganggukkan kepala.
Perdebatan mereka yang semalam memang masih segar di ingatan, namun Nesa memilih melupakan dan tak lagi membahasnya.
"Kamu belum cuci muka, 'kan?" tanya Devan, membuat Nesa menganggukkan kepala. Devan terkekeh.
"Apa aku berantakan, Kak?" tanya Nesa.
"Ya nggak berantakan banget. Hanya saja lucu melihat wajahmu, ketika baru bangun tidur."
"Apanya yang lucu sih," kata Nesa kesal, lalu melintasi suaminya menuju dapur. "Kamu mau dibuatkan sarapan apa, Kak?"
Devan terlihat berpikir, dan terus saja terus saja tersenyum melihat wajah istrinya.
"Kak, aku tanya, kamu mau di buatkan makanan apa?" Nesa mengulang pertanyaannya.
"Makanan apa saja," jawab Devan, terus saja menatap istrinya.
Nesa merasa risih ketika melihat tatapan suaminya itu padanya, entah ia belum tahu apa maksud dari tatapan itu, mengejek atau penasaran, atau hal lain.
"Mas, kalau makanan apa saja, gimana sama roti aja?" tanya Nesa lagi, membuat Devan menganggukkan kepala.
"Aku nggak suka roti," jawab Devan.
"Tapi 'kan kamu makan sandwich waktu itu," kata Nesa.
Menurut Nesa, Devan terlalu berlebihan, pasal sarapan harus ribet seperti ini.
"Gimana sama omeled?" tanya Nesa lagi.
"Baiklah. Aku juga udah lama nggak makan omeled, buatin gih, aku ada meeting pagi ini," kata Devan.
Nesa berjalan menuju kompor dan mengenakan celemek, dan memecahkan beberapa telur untuk membuat sarapan.
Sedangkan Devan duduk diam dan memilih menyaksikan Nesa bekerja.
Beberapa menit kemudian, Nesa lalu menyuguhkan omelets buatannya didepan suaminya.
"Ini, Kak, kalau kamu mau nambah, masih ada kok," kata Nesa.
"Wah. Bentuknya bagus, tapi kurang tahu sama rasanya," kata Devan.
Nesa menghela napas panjang, dan menarik kursi lalu duduk dihadapan suaminya.
"Coba aja, Kak, kalau nggak enak, kamu bisa minta apa aja." Nesa bersedekap menatap suaminya.
Devan lalu mencicipinya dan menganggukkan kepala ketika rasanya memang enak, Nesa memang tahu segala hal.
"Gimana, Kak?" tanya Nesa menunggu jawaban.
"Enak. Lumayan," jawab Devan.
"Kenapa nggak bilang enak aja sih, susah amat," gumam Nesa membuat Devan terkekeh melihat wajahnya manyun.
"Ya enak," kata Devan.
Nesa tersenyum lalu beranjak dari duduknya. "Kamu sarapan aja. Aku mau ke kamar dan mandi, hari ini aku harus belanja."
Devan menganggukkan kepala.
Nesa lalu melangkah masuk ke kamarnya, ia menghela napas dan menhacak rambutnya frustasi ketika melihat dirinya dicermin. Ia terlihat berantakan, dan betapa percaya dirinya, dia menampakkan wajahnya yang berantakan didepan suaminya. Sekarang ia mengerti mengapa suaminya itu menertawakannya diam-diam.
Nesa lalu masuk ke kamar mandi.
Sedangkan Devan masih menikmati kopi dan omelets buatan istrinya, rasanya memang enak, bahkan rasanya mengalahkan masakan Lestari.
Devan terus saja tersenyum, ia tak tahu harus mengatakan apa, namun ia terus memikirkan Nesa yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.
Suara ponsel Devan terdengar, membuat Devan merogoh kantung celananya, lalu melihat nama Lestari.
Devan berdeham dan mengangkat telpon tersebut.
'Halo.'
'Nggak menjemputku?' tanya Lestari dari seberang telpon.
'Kamu udah nggak marah?'
'Aku marah bagaimana pun, kamu nggak ada minta maaf. Jadi percuma saja aku marah.'
'Ya aku minta maaf, Les, aku nggak bisa jemput kamu hari ini, aku ada meeting hari ini.'
'Baiklah. Kalau begitu jemput aku sore nanti.'
'Baiklah. Aku akan menjemputmu.'
'Ya sudah. Aku akan berangkat kerja sekarang.'
'Hem.'
Lestari langsung memutuskan sambungan telpon. Lestari menghela napas panjang karena merasa kekasihnya itu telah berubah, dan perubahannya mencurigakan.
Lagi-lagi suara ponsel Devan terdengar, membuat Devan kembali mengambil ponselnya. Ia melihat nama Argani.
'Hei, Bro,' ucap Devan.
'Lo ada jadwal meeting, dimana lo?'
'Maaf, Kawan, gua nggak bisa meeting, lo bisa kan gantiin gua?'
'Lo mau kemana? Mau bertemu dengan Lestari lagi?'
'Gua ada urusan, yang pasti bukan bertemu dengan Lestari.'
'Lo yakin?'
'Gua yakin, Bro. Gua nggak bohong.'
'Ya udah. Kali ini aja ya gua gantiin lo.'
'Iya. Apa Juno udah berangkat?'
'Jadwal penerbangannya sore ini.' Gani menjawab.
'Baiklah.'
'Ya udah. Gua meeting dulu.'
'Thanks, Bro.'
'Sama-sama.'
Devan lalu memutuskan sambungan telpon.
Sesaat kemudian, wangi jasmine terasa di indera penciumannya. Devan menoleh dan melihat Nesa sudah rapi, Nesa mengenakan rok berwarna coklat dan baju berwarna putih. Membuat Devan menautkan alis melihat penampilan Nesa yang memperlihatkan lutut dan betisnya yang putih.
"Kak, kamu belum berangkat kerja?" tanya Nesa memicingkan mata.
"Apa kamu mau mengenakan itu pergi berbelanja?"
"Yang itu apa, Kak?" tanya Nesa melihat penampilannya.
"Pakaianmu. Kamu seperti akan ke undangan saja."
"Jelek ya, Kak?"
"Nggak jelek sih, hanya berlebihan."
"Jadi aku harus ganti pakaian apa donk?" tanya Nesa, dalam hatinya ia senang ketika dikomentari oleh suaminya sendiri.
"Ganti saja yang lebih sederhana, dan casual."
"Oke deh. Aku ganti."
Nesa kembali masuk ke kamarnya membuat Devan tersenyum melihatnya.
"Bahkan dia terlihat sangat cantik mengenakan pakaian terbuka seperti itu," gumam Devan.
Sesaat kemudian, Nesa keluar dari kamarnya.
"Gimana, Kak?" tanya Nesa.h
"Nah itu lebih baik," jawab Devan, membuat Nesa menggaruk tengkuknya.
"Kamu nggak ke kantor? Kan tadi kata kamu ada meeting," tanya Nesa.
"Meetingnya di tunda, aku akan antar kamu belanja," jawab Devan, lalu beranjak dari duduknya.
"Tapi, Kak, kamu kan—"
"Udah nggak usah cerewet, biar aku antar kamu." Devan berjalan duluan melintasi istrinya, membuat Nesa tersenyum melihat suaminya, apalagi mendengar akan di antarkan.
"Tunggu aku," teriak Nesa membuat Devan tersenyum.
Devan lalu naik ke mobilnya, di susul dengan istrinya yang duduk disamping kemudi. Nesa terlihat casual namun cantik.
"Kemana?" tanya Devan.
"Ke tempat property, Kak," jawab Nesa.
"Untuk cafe kamu?"
Nesa menganggukkan kepala. "Iya, Kak. Tapi aku nggak ganggu pekerjaanmu, 'kan?"
"Kalau ganggu, aku nggak akan mengantarmu."
Nesa tersenyum.
.
.
***Bersambung.
Lanjut nggak nih? Hehe***.
pakai hatimu untuk merasakannya thor, jika jawabanmu itu bukan masalah, berarti kau bersikap adil
tapi jika jawaban mu, melaknat wanita itu, maka simple kau wanita egois karena kau membenarkan perbuatan juno
kalau aku simple wanita mana pun yang sok baik dan perhatian pada suamiku maka aku akan melaknat wanita itu dan harus adil aku juga melaknat siapapun lelaki yang sok baik dan perhatian padaku, itu baru namanya wanita dan istri sejati tidak egois
...masa baca part ni aku sakit hati tau,, pstu bila dia menangis aku pun rasa mcm nk ikut menangis😤
semoga ide ceritanya mengalir terus, aku paham nyati ide cerita itu sulit, semoga kakak selalu lancar yaa
aku paham gimana lelahnya seorang author nyari ide untuk cerita yg ditulisnya, semangat selalu ya thor ☺️
aku pembaca baru nih ☺️✌🏻