NovelToon NovelToon
ISTRI KE 13

ISTRI KE 13

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Mimi Zee

Azimah gadis lulusan SMA yang harus berkorban demi kehormatan keluarganya. ia harus rela menjadi istri muda seorang pria kaya yang sudah kepala lima.

Dalam menjalani kehidupan poligami ia harus mengikuti serentetan peraturan yang merantai kebebasannya. Namun dengan keteguhan dan kecerdasannya ia dapat mengubah pemikiran suaminya dan para istri yang lain. Ia harus bertahan dan menunggu kebebasan dirinya datang dengan sendirinya tanpa melanggar norma-norma agama maupun hukum.

Di tengah kehidupan poligami yang menyiksa batinnya, ia bertemu dengan seorang pengacara tampan yang kemudian mendiami hatinya. Mampukah ia bersatu dengan pengacara tampan itu tanpa kata "selingkuh" ataukah ia memilih setia pada suaminya yang sah. Atau justru berlari dari kehidupan yang pelik.

Novel ini penuh dengan drama, skandal dan intrik para tokohnya. penuh misteri juga peristiwa tak terduga. Bagaimana akhir kisahnya???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimi Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mehmed

"Mana Mehmed?" Tanya Romo.

Makan malam ini tidak akan dimulai jika anggota keluarga belum lengkap. Apalagi Mehmed adalah putra tunggal Romo.

"Akan saya panggil" Salah seorang pelayan segera berlari menuju kamar Mehmed.

Tak lama Mehmed datang dengan setengah berlari. Lengkap sudah.

"Darimana kamu Mehmed, apa tidak lapar?" Tanya Romo.

"Masih banyak tugas Romo" Jawab Mehmed.

"Hmmm kamu sudah kelas tiga ya, jaga kesehatan, jangan terlalu dipaksakan" Kata Romo

"Iya Romo"

"Bune, perhatikan Mehmed, tugasnya semakin banyak. Pastikan makan dan istirahatnya cukup" Romo memberi pesan pada Mbakyu.

Mbakyu mengangguk. Makan malam dimulai dengan diawali doa dari Romo. Jujur saja aku merasa Romo adalah sosok suami yang bertanggung jawab. Sekalipun punya empat istri ia bisa menghidupi semuanya dan tanpa berat sebelah. Ia selalu mengawali makan bersama dengan doa. Ia pun selalu menghindari larangan agama. Hanya saja, dia terlalu tua untuk jadi suamiku.

"Aku bekerja sama dengan pengelola tempat wisata di Bali. Bagaimana menurut kalian?" Tanya Romo.

"Bagus Romo" Kata Mehmed.

"Anakku memang selalu mendukungku, saat kamu lulus SMA nanti, kamu harus belajar pula berbisnis" Kata Romo.

Mehmed tampak senang dengan pujian itu, begitupun Mbakyu sebagai ibunya.

"Besok saya akan ke Bali menilik persiapan itu. Lestari, besok kamu ikut saya" Kata Romo.

Tampak sekali Lestari kegirangan dengan keputusan Romo itu. Aku pun demikian, aku senang ia tak mengajakku. Kulirik Mbakyu, tetap dengan ekspresi datar. Sedang Jenny, seperti tidak mempedulikan itu. Toh dia lebih sering menemani Romo ketimbang yang lain.

Esok hari tiba. Seperti biasa semua sudah berkumpul untuk melepas keberangkatan Romo dan Lestari. Dan kali kedua aku dayang bukan yang paling akhir. Saat aku sudah di ruang depan, Mehmed belum ada. Namun tak berapa lama ia muncul tergopoh-gopoh ditemani seorang pelayan laki-laki.

"Kamu bangun terlambat Mehmed?" Tanya Romo.

"Iya Romo, maaf"

"Sholat subuh?"

"Sudah Romi, habis subuh saya tidur lagi"

"Hmm jangan terbiasa tidur sehabis subuh, menghambat rejekimu" Pesan Tomo.

Mehmed hanya terdiam.

"Tidur jam berapa semalam?" Romo bertanya lagi.

"Dua belas Romo"

"Hmmm apa tugasmu banyak lagi?"

"Iya Romo"

"Apa perlu kupanggilkan guru les privat?"

"Ehm....belum perlu Romo"

"Hmm baiklah, jaga dirimu baik-baik" Pesan Romo.

Romo dan rombongan siap berangkat. Tiga mobil sudah menunggu di depan teras. Sebelum pergi, Lestari berpelukan dengan Mbakyu.

"Sudah kubilang kan, akan tiba giliranmu, jadi bersabarlah" Kata Mbakyu pelan.

Lestari tersenyum senang. Tetapi ia hanya berpamitan dengan Mbakyu, tidak denganku dan Jenny. Seperti biasa, Romo dan Lestari berada di mobil yang berbeda. Tiga mobil berangkat bersama.

Aku kembali masuk ke kamarku mengikuti perkuliahan secara online. Namun ternyata Jenny mengikutiku sampai ke kamar.

"Lagi sibuk?" Tanya Jenny.

Belakangan ini Jenny memang sering mendekatiku.

"Sedikit, hanya mengikuti materi online" Jawabku. Dia sudah menyapaku dengan baik maka akupun harus menyambutnya dengan baik pula. Tetapi aku harus tetap hati-hati.

"Wah sibuk sekali ya jadi mahasiswa" Ledeknya. Aku hanya tertawa kecil.

"Nanti aku akan keluar belanja, mau ikut?" Dia menawariku.

"Kayaknya nggak dulu Mbak, soalnya pasti ada tugas dari dosen" Jawabku.

Sebelum bukan itu alasannya, aku hanya tidak ingin terlalu dekat dengan maduku yang lain, bisa jadi aku sedang dijebak.

"Hmm beneran? Aku pikir kamu akan suka kalau kita milih-milih baju, aksesoris, sepatu, Ayolah, udah pernah makan sate bulayak? Yuk coba yuk..."

Aku hanya tersenyum sebagai tanda penolakan.

"Oke, mungkin lain kali bisa ya" Pintanya.

"Insyaallah" Jawabku.

Aku masih belum mengerti apa motif dibalik kebaikannya yang tiba-tiba. Mungkinkah ia akan menjebakku. Tapi sebenarnya jika benar, itu akan mempermudah jalanku untuk diceraikan Romo. Tapi bagaimana jika sebaliknya? Bukannya dicerai malah disiksa hingga aku mati pelan-pelan.

***

Aku sedang bersantai di pinggir kolam renang. Entah kenapa tidak adanya Romo membuatku merasa nyaman di rumah ini. Mungkin karena aku takut Romo menghampiriku dan memintaku bersamanya. Atau karena aku membencinya, atau bisa juga karena aku tidak suka pernikahan ini.

Aku menyaksikan bintang berkerlipan di atas sana. Dulu aku sering begini kalau aku merindukan Firman. Bagaimana keadaannya sekarang, aku harap ia baik-baik saja meski aku sudah tidak sebegitu inginnya bersamanya.

Aku merasa telah berbuat tidak adil pada Firman. Karena aku lebih banyak memikirkan Varun yang bahkan tidak kukenal sepenuhnya. Aku hanya beberapa kali bertemu dengannya tapi rasanya sudah tahunan mengenalnya. Bahkan sulit bagiku untuk tidak memikirkannya. Aku mencintai Firman, tapi tidak seberat ini. Aku tidak tahu apakah aku sudah jatuh cinta. Tapi perasaanku tidak seperti pada Firman dulu.

Sekelebat aku melihat Mehmed di kejauhan. Ini sudah jam dua belas malam tapi anak remaja itu belum juga tidur. Ia sedang berbicara di telepon sambil jalan. Aku mengikutinya dari kejauhan. Ia sedang mengambil air minum di kulkas dapur kemudian naik tangga menuju balkon. Dia sedang berbicara dengan siapa? Bukankah kemarin ia bilang sedang banyak tugas? Apa memang ia sedang bertanya tentang tugasnya pada temannya?

Belum selesai aku mengintai Mehmed, aku dengar suara mobil berhenti di depan rumah. Aku mengintip di atas balkon di sisi yang berbeda dari Mehmed. Dari mobil yang tadi berhenti di depan rumah, keluarlah Jenny seorang diri. Ia pun tidak membawa sopir. Begitu mobil berhenti, seorang pelayan menerima kunci untuk diparkir.

Aku baru ingat, tadi siang ia mengajakku belanja, tapi apakah ada toko yang masih buka hingga jam segini? Dia belanja sendirian?

Tak lama kemudian, terdengar suara ribut dari ruang depan. Aku mengintip dari lantai atas.

"Romo torak akan tahu kalau Mbakyu tidak kasih tahu!!" Suara Jenny dengan nada tinggi.

"Jika aku menyembunyikan ini berarti aku tidak pantas memimpin para istri!" Suara Mbakyu tak kalah tinggi.

"Oh pemimpin? Bukankah kita semua dalam posisi yang sama??"

"Apa malumu sudah hilang dengan berkata begitu?"

"Ahhh udah lah aku capek, kalau mau ngadu, ngadu aja, kita lihat siapa yang akan dipercaya Romo"

"Harusnya kamu bisa jaga diri selama suamimu tidak ada"

"Jangan sok suci, memangnya aku tidak tahu Mehmed itu anak siapa?"

"Jangan bawa-bawa Mehmed, ingat siapa kamu sebelum Romo menikahimu"

"Yang jelas, kita berdua sama, jadi jangan menasehatiku, ngerti?"

"Kamu sudah tidak menghormatiku lagi? Setelah apa yang kulakukan untukmu?"

"Alah jangan ungkit-ungkit masa lalu itu, kalau mau aku bisa bayar semuanya biar Mbakyu puas"

"Kamu memang tak tahu diri"

"Mbakyu yang tak tau diri, ngaca dong, udah tua juga. Mending urusin anakmu itu jangan sampai ada yang tahu dia anak siapa"

Jenny berlalu meninggalkan Mbakyu yang terpaku sendiri. Aku hendak turun, tapi dari seberang aku melihat Mehmed. Ternyata ia juga mengintip sepertiku. Ia melihat ke arahku. Wajahnya sedih. Lalu ia berlalu menuju balkon tempat dia berada tadi. Kuberanikan diri mendekati Mehmed. Bagaimana pun ia hanyalah anak-anak. Ia butuh hiburan di saat seperti ini.

"Med" Panggilku.

Dia menoleh.

"Aku tidak apa-apa Bu" Katanya.

"Aku lega dengernya. Med, auu kagum dengan kamu, aku ingin bisa kayak kamu" Kataku.

Mehmed menoleh kearahku penuh heran.

"Kenapa Ibu ingin seperti aku?"

"Kamu itu...ibarat batu karang yang ada di pinggir pantai. Kuat, keras meski digiris sama ombak"

"Hmm, jangan menghiburku Bu" Katanya dengan tawa setengah mengejek.

"Apa mereka memang sering bertengkar seperti itu?" Tanyaku heran.

"Hanya sesekali, jika Romo tidak di rumah"

Aku manggut-manggut.

"Bu Azimah, kenapa Ibu mau menjadi istri keempat?" Tanya Mehmed setelah diam beberapa saat.

Aku terperangah, anak muda itu menanyakan sesuatu yang sensitif. Mendengar pertanyaan itu hatiku remuk. Tidak tahukah ia bahwa aku juga ingin seperti dia, mengejar cita-cita tanpa harus dikurung seperti ini.

"Karena aku menyayangi orang tuaku. Ini adalah bukti baktiku pada orang tuaku" Jawabku lirih.

"Sama, aku berusaha tersenyum di depan Ibuku, aku berusaha menahan amarahku, agar Ibuku tenang" Katanya.

Baru kali ini aku mengetahui perasaan Mehmed yang sesungguhnya. Anak semuda itu, ya g kupikir kuat seperti batu karang, ternyata juga rapuh di dalam. Tapi ia berusaha menyembunyikan di dalam senyum polosnya.

"Aku pikir kamu nyaman dengan kehidupan poligami Romo" Kataku.

"Tidak ada gunanya melawan. Aku berusaha ikhlas, menerima kenyataan berada pada kehidupan majemuk dalam satu atap yang sama"

Pernyataan itu sungguh di luar dugaan. Anak itu masih SMP, tapi kalimatnya dipaksa dewasa oleh keadaan. Mehmed uang masih muda saja bisa, kenapa aku harus bersedih tiap hari tiap malam. Aku ingin seperti Mehmed, menjalani hidup ini mengalir seperti air.

"Lantas apa yang membuatmu bersedih?" Tanyaku memancing.

"Apa yang Ibu tahu tentangku?"

"Tidak banyak, hanya seorang putra tunggal kesayangan Romo"

"Apakah benar aku putranya?"

Pertanyaan macam apa itu. Seorang anak seharusnya tidak bertanya apakah ia benar anak kandung atau anak pungut. Dasar korban FTV.

"Kamu termakan omongan Mbak Jenny" Jawabku berusaha membuatnya tenang.

"Bagaimana menurut Ibu?"

"Aku tidak percaya"

"Aku.....ingin tak percaya itu, tapi...."

Pikiran Mehmed pasti goyah karena apa yang dikatakan Jenny. Jujur akupun demikian. Aku jadi bertanya-tanya dalam hati, benarkah Mehmed anak kandung Romo, atau justru Jenny yang benar. Setidaknya malam ini aku menjalin hubungan baik dengan anak tiriku itu.

Malam semakin larut. Aku tidak bisa tidur nyenyak. Aku terpikir oleh Mehmed yang menanggung beban seorang diri di tengah kemewahan yang ia terima. Terkadang, beban hidup bukan disebabkan oleh faktor luar. Bisa juga beban hidup diciptakan oleh pikirannya sendiri. Berbagai pertanyaan muncul dalam benak dan diciptakan sendiri. Aku melihatnya pada Mehmed. Ia harus mengatur perasaannya sendiri, ia harus melawan penolakan dalam dirinya agar mampu berdamai dengan keadaan. Memiliki empat Ibu, tentu bukanlah hal yang lumrah dalam kehidupan anak semuda itu. Entahlah, Mehmed pasti sering tidak bisa tidur sepertiku

***

1
Zeldaa ༼⁠✩
keren cerita nyaa
momy luqy_
keren kaka..q suka ceritanya. ngga ad yang q skip deh pokoke👍😘
momy luqy_
Luar biasa
kiwicream
ceritanya bagus banget kak. bener2 antimainstream beda dari yg lain. sampe q begadang buat dengerin ini saking penasarannya
bunda DF 💞
bagua banget ceritanya,, bukan ttg ceo,, bukan ttg bucin"an,,, ttg poligami yg ruwet,, perebutan harta,, tp dikemas dgn keren n bikin penasaran
ossy Novica
dari sana saja bandot tua itu tak sadar juga ., sudah berapa orang istrinya meninggal
ossy Novica
jangan alasan poligami sebagai sunnah Rasul. Kebajakan itu di salah gunakan . Contohnya Romo , wanita hanya sebagai budak nafsu kalo tak berguna di ceraikan tampa apa2 Dia ngak sadar , sudah banyak istri tapi susah dapat keturunan , mungkin Allah sayang sama si anak ka4na itu di ambil cepat dari pada menderita nantinya.
ossy Novica
Varun tidak bisa di percaya ,berhati hatilah Imah ....
ossy Novica
jangan nampakkan rasa tak suka ,berhati hatilah Imah
Endah Windiarti
bagus banget ceritanya
Yuyun Haryanto
Jd baper bacanya Thor. ikutan 😭😭😭
Yuyun Haryanto
azimah biarpun tdk mencintai Romo tp dia tetap baik dgn Romo. dia sll ingin mencari keadilan tanpa memanfaatkan untuk kepentingan sendiri. azimah sosok yg tulus, cerdas.
Hera sasuwe
suka ceritanya menarik
Yuyun Haryanto
ternyata Halimah licik jg
Yuyun Haryanto
iih kok jg ngeri yah. tiap mimpi JD kenyataan. dulu wkt disekap digudang jg. manggil jg datang. sprt saling terkoneksi tanpa telepon.
Yuyun Haryanto
ternyata cinta itu buta yah Varun. GK ngeri apa menghadapi Romo ?
Yuyun Haryanto
ceritanya bagus Thor. gk bisa bayangin hidup serumah dgn 4 istri.
Asinan May
kereeeennnnn
xandn.na
bagus banget
Isnay Maulani
maacih thor 🙏
cerita baguuusss...
seruuu...
sukses trs tuk karya2nya 💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!