Winda adalah seorang wanita berumur 32 tahun yg sudah menikah dengan Ardi yg berumur 38 tahun.
Pernikahan mereka sudah memasuki umur 7 tahun, akan tetapi belum juga dikaruniai seorang anak.
Winda merasa bahwa hidupnya tidak lengkap bila belum menjadi seorang Ibu.
Keinginannya untuk mempunyai anak sampai membuatnya putus asa.
Sampai suatu saat dimana dia diperkenalkan suaminya denga orang yang bernama Mina....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon green veil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XVI PENDEKATAN
Malam itu, sekitar pukul 19.49, setelah
menidurkan Arjuna Winda keluar dari kamar menuju ke ruang tamu karena malam itu
ada yang mau bertamu dan ketemu dengan Winda. Tamu itu adalah laki-laki yang
ingin diperkenalkan Ayah Winda kepada Winda.
Sebenarnya, Winda sangat tidak ingin ketemu
dengan lelaki lain untuk menggantikan posisi Ardi sebagai suaminya. Selain
Winda sudah nyaman dengan kehidupannya saat ini, dia juga masih belum bisa
melupakan Ardi. Terkadang ada harapan untuk kembali kepada Ardi, akan tetapi keadaan
tidak memungkinkan. Winda merasa sedih, ingin rasanya dia menolak permintaan
Ayahnya untuk ketemu dengan Bowo, lelaki yang ingin diperkenalkan kepada Winda
malam ini. Tapi Winda tidak ingin menyakiti perasaan orangtuanya dengan menolak
permintaan orangtuanya. Winda masih merasa bersalah karena rumah tangganya
tidak bisa dia pertahankan karena ada pihak ke tiga.
Setelah keluar kamar Winda melihat ada sosok
laki-laki yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Laki-laki itu cukup tinggi,
dan layaknya laki-laki setengah baya, laki-laki itu mempunyai perut yang buncit
walaupun tidak bisa dikatakan gemuk, karena sebenarnya perawakannya tinggi
besar.
Winda menyapa tamunya dengan menganggukkan
kepala sambil tersenyum kemudian duduk dekat dengan ayah dan Ibunya.
Bowo yang melihat hal itu jadi gamang karena
sebenarnya dia sudah mau mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Winda
sambil memperkenalkan diri. Akan tetapi perasaan kaget dan sedih ditepisnya,
kemudian sambil menyunggingkan senyum dia duduk. Ditatapnya Winda yang Cuma menunduk.
Tapi lamunannya tentang Winda buyar saat
Ayah Winda bicara,
“Nak, ini anak Bapak yang namanya Winda.
Winda kenalkan ini yang namanya Mas Bowo yang Bapak ceritakan tadi siang” kata
Ayah Winda memulai pembicaraan. Bapak ingin Winda menjabat tangan Bowo untuk
simbol perkenalan.
Ibu Winda menyentuh tangan Winda sebagai
tanda Ibunya menyuruh Winda untuk menjabat tangan Bowo. Winda hanya diam tak
bergeming. Dia hanya tersenyum saja, kemudian dia menangkupkan kedua tangannya
di dada sebagai pengganti salaman karena dia tidak ingin membuat orangtuanya
malu.
“Saya Winda Pak, salam kenal”, kata Winda
sambil tersenyum menghargai tamu yang datang berkunjung. Dalam hati Winda malas
untuk bicara apalagi tersenyum, walaupun begitu dia masih menjaga perasaan
orangtua dan tamunya.
“Saya Bowo Mbak”, kata Bowo memperkenalkan
diri sambil menangkupkan kedua tangannya agak ke depan.
Winda tersenyum kemudian dia menunduk lagi.
Orangtua Winda bingung dibuatnya, mereka
merasa tidak enak kepada tamunya karena sikap Winda yang acuh tak acuh. Untuk
mengatasi situasi yang canggung, Ayah Winda mulai mengajak Bowo mengobrol,
“O ya Nak Bowo, Nak Bowo rumahnya daerah
mana?” tanya Ayah Winda basa basi.
“Saya asalnya sebenarnya daerah S Pak, tapi
saya dapat tugas dari kantor di daerah sini sudah empat tahun ini”, kata Bowo.
“Bapak Ibu masih ada Nak?”
“Iya Pak, mereka masih ada semua”
“Oooo ya”
Kemudian suasana menjadi canggung kembali.
Akhirnya Bowo membuka suara lagi.
“Mereka semua ada di daerah S Pak karena
rumah kami memang di sana. Yang ada di sini cuma saya”
“Berarti Nak Bowo sendirian ya? Sekarang
tinggalnya di mana Nak?”
“Saya tinggal di tempat Pak Warso Pak. Saya
ngontrak rumah di sana” kata Bowo lagi.
Winda hanya diam dan berharap tamunya segera
pulang. Tapi apa daya dia tidak berani bilang kepada Ayahnya. Ayah Winda merasa
tidak enak kepada Bowo kemudian berkata,
“O ya Nak Bowo, ini saya tinggal sebentar
sama Ibu ya. Ini tadi mau beli vitamin ke Apotek belum jadi” kata Ayah Winda
membuat strategi agar Winda bisa ngobrol dengan Bowo.
“Win, Ayah ke Apotek bentar ya. Temani Pak
Bowo dulu ya. Ayah sama Ibu Cuma sebentar beli vitaminnya” kata Ayah Winda
sambil memberi kode kepada Ibu Winda dan Winda.
Winda yang melihat hal itu merasa jengah dan
marah, akan tetapi dia tidak bisa menolak. Setelah Ayah Winda pergi, Winda
masih tertunduk dan bingung mau mulai pembicaraan dari mana.
Bowo yang menjadi tambah canggung kemudian
memulai pembicaraan,
“Maaf ya Mbak, kalau kedatangan saya
mengganggu Mbak Winda” kata Bowo.
Winda yang mendengar hal itu menjadi tidak
enak hati, kemudian dia menjawab,
“Tidak apa-apa kok Pak”, kata Winda, padahal
di dalam hatinya berkata sebaliknya.
“Nama anaknya Dik Winda siapa ya?”
‘Dik? Dik? Dia manggil aku Dik?’ Winda merasa
terganggu dengan panggilan Bowo yang tiba-tiba berubah. Mungkin kalau dari awal
Bowo memanggilnya Dik tidak akan mengganggu pikirannya. Winda yang merasa
terganggu dengan kedatangan Bowo, apapun yang dilakukan Bowo dia tidak suka. Karena
mungkin dia belum siap membangun hubungan dengan lelaki lain sekarang ini.
“Arjuna Pak” jawab Winda.
“Dik, kalau panggilnya Mas saja gimana?
Soalnya saya merasa canggung kalau dipanggil Pak”, kata Bowo memberanikan diri.
Winda yang mendengar hal itu Cuma berusaha mengendalikan
senyum di wajahnya yang berusaha hilang dari wajahnya diganti dengan ekspresi
cemberut.
“Iya Mas” kata Winda akhirnya.
“Tapi gantian saya yang merasa canggung” kata
Winda lagi.
“Kalau lama-lama bakal terbiasa kok Dek”
‘Lama-lama?’ batin Winda. Karena Winda
berpikir untuk bertemu dengan Bowo untuk pertama dan terakhir kalinya. Pertemuan
ini hanya untuk menjaga perasaan Ayah dan Ibu Winda.
“Iya Mas” jawab Winda akhirnya untuk
menghormati tamu.
Mereka mengobrol dengan canggung sampai
orangtua Winda datang. Winda merasa lega karena orangtuanya datang. Akhirnya
Bowo ngobrol dengan kedua orangtua Winda lagi dan sesekali Winda ikut bicara
ketika Ibu Winda menyentuh Winda sebagai bentuk kode agar Winda ikut menimpali
pembicaraan.
Setelah sekitar dua jam berlalu, Bowo pamit
untuk pulang dan berjanji untu ke rumah Winda lagi untuk bertamu dan menjaga
tali silaturahmi.
Setelah Bowo pergi, Winda langsung masuk
kamar dan tidur di samping Arjuna.
Sedangkan Bowo pulang dengan masih berharap
dia bisa ketemu lagi dengan Winda, karena dia tidak ingin membujang terlalu
lama. Apalagi dia sudah dijuluki Bujang Lapuk oleh kedua orangtuanya karena
tidak kunjung menikah.
Bowo melihat Winda pertama kali ketika Winda
pergi ke Bank tenpat dia bekerja untuk menabung. Setelah selesai menabung Winda
ngobrol dengan teman Sdnya yang tak lain adalah anak buah Bowo. Setelah Winda
berlalu, dia tanya kepada Danu teman Winda perihal Winda. Danu bercerita semua
yang dia ketahui tentang winda. Dan tanpa sadar sejak saat itu dia memikirkan
Winda kemudian jatuh hati kepada Winda. Kemudian dia memberanikan diri untuk
menemui Winda dengan minta tolong kepada Danu untuk menyampaikannya kepada
Winda. Akan tetapi oleh Winda tidak pernah ditanggapi.
Setelah itu Bowo mengubah strategi untuk
menemui kedua orangtua Winda serta Winda di rumah Winda, sehingga Winda tidak
bisa menolak lagi. Bowo bertekad untuk mendekati Winda. Bowo percaya diri kalau
wanita apalagi sudah janda tidak akan menolaknya karena dia punya kerjaan yang
bagus, paras yang lumayan dan badan yang cukup bagus walaupun perutnya sedikit
menonjol karena tidak sempat berolahraga.
mending bobo...
bikin kesel/eneg dehhh..