Bagaimana ini semua bisa terjadi? Aku akan menikah dengan ayah dari mantan kekasihku. Mantan? kami tak bisa disebut mantan karena tidak ada kata putus dalam hubungan kami 5 tahun yang lalu.
Aku semakin gelisah. Meremas tanganku begitu kencang diatas pangkuanku. Apa yang akan Marcus katakan? Apa dia akan mengatakan pada Andrew mengenai hubungan kami di masa lalu? Apa dia akan menentang hubunganku dengan Andrew? Apa dia akan menghinaku wanita jalang mata duitan? Apa dia akan- Oh ya tuhan, aku bisa gila.
˙˙°♡°˙˙
Hanya satu harapan Shelina, menikah dengan pria yang bisa memberikannya kebahagiaan. melepas semua kehidupan kelam dan gelapnya.
Dan Andrew Cho menawarkan hal itu padanya. Duda tampan yang berumur dua kali dari umur Shelina. Pria yang memperlakukannya begitu sopan dan baik. Pria yang tak pernah menghina atau mengatakan jalang murahan kepadanya.
Namun rencana pernikahan mereka terancam karena Marcus Cho- putra Andrew menentang keras pernikahan itu. Kekasih dari masa lalu Shelina, Cinta pertamanya. Pria yang lebih tua dibanding Shelina. Marcus membenci Shelina dan akan melakukan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan dan mengusir wanita itu dari Mansion keluarga Cho
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maylisa Azhura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Hilang Kontrol
"Kenapa? Kau takut?" Sebelah alisnya terangkat menantangku. Hal yang tidak kusukai adalah ketika seseorang merendahkanku. Terkutuklah ego-ku karena aku tidak ingin menolak tantangan Marcus.
"Baiklah, aku setuju."
Marcus menyeringai. Sudut hatiku mengatakan aku akan menyesali keputusan ini. Tapi aku tak bisa menarik kata-kataku lagi. Shit, damn for my ego!
"Oke, kau masih ingat cara bermainnya bukan?" Aku langsung mengangguk.
"Baiklah." Marcus mulai mengganti permainan ps ke game battle naruto. Lalu aku memilih karakter yang akan aku gunakan.
"Akan kubuat kau melepaskan bajumu," bisik Marcus di telinga kananku. Hembusan dan suara seraknya menggetarkan tubuhku. Membuat aku merinding oleh hasrat yang tiba-tiba saja menjalariku. Aku melirik ke arah Marcus. Dia menyeringai, ia pasti senang sudah mengerjai dan mempengaruhiku seperti tadi. Aku tak akan kalah.
"Kau lupa jika kancing bajumu lebih sedikit dibanding milikku. Kita lihat siapa yang lebih dulu menanggalkan bajunya." Aku sudah GILA. benar-benar gila. Bagaimana mungkin aku menyetujui permainan ini? Ini berbahaya! Apa yang akan terjadi jika salah satu dari kami sudah melepaskan baju? Apalagi jika yang pertama kali adalah aku. Great, aku sukses gila!
˙°♡♡♡°˙
Sudah empat puluh lima menit aku dan Marcus bermain ps. Skor sekarang adalah lima banding tiga. Aku kalah telak. Sudah lima kancing bajuku yang terbuka. Tinggal satu lagi yang tersisa. Jika aku kalah sekali lagi maka seluruh kancing terbuka dan tubuh atasku terekspos dengan jelas. Aku sengaja membuka dari kancing terbawah. Tapi tetap saja. Sialan!
Aku melirik ke arah Marcus. Pria itu juga sudah membuka tiga kancing bajunya. Kaos yang dia kenakan memang hanya memiliki sedikit kancing dan kini dia sudah membuka semuanya.
Alisku terangkat. Kurasa lima kancingku tak sia-sia. Aku hanya butuh satu kemenangan lagi dan Marcus sukses kalah dan melepaskan bajunya. Sudut bibirku tertarik untuk menyeringai.
"Sepertinya tak ada lagi kancing baju yang bisa kau lepaskan. Apa kau masih mau melanjutkan permainan ini?" Mata tajam Marcus menatapku garang.
Tentu saja, pria itu tak mau kalah. Jadi dia pasti akan melanjutkan permainan gila ini.
"Tentu saja tidak. Sudah kukatakan aku akan membuatmu melepaskan baju, Shelina."
Aku kembali menyeringai. Walau kini skor lima banding tiga dan Marcus menang. Tapi saat ini aku jauh lebih unggul. Aku hanya membutuhkan satu kemenangan lagi dan Marcus pasti akan kalah. Dan aku masih memiliki satu kancing baju sebagai pertahanan.
"Ayo kita mulai lagi." Ucapku bersemangat. Kali ini aku harus menang.
Beberapa menit kemudian.
'Player 1 win'
"Shit." Dengan kesal aku membanting stik ps yang aku pegang. Sialan bagaimana bisa aku kalah? Sedikit lagi aku bisa menang. Darah dari karakter yang Marcus gunakan tinggal sedikit lagi. Sial, aku kalah cepat dalam melakukan serangan.
Marcus tertawa keras melihat kekesalanku.
"Ayo, lepaskan kancing terakhirmu." Aku mendengus keras dan dengan berat hati membuka kancing baju teratasku. Wajahku memanas. Tubuh bagian atasku terbuka dan Marcus pasti bisa melihat bra hitamku dengan jelas.
Sudut mataku melirik ke arah Marcus. Benar saja. Pria itu tengah menatap dadaku. Aku kesulitan menelan saliva. Ini bukan pertama kali seorang pria melihat tubuhku tapi entah mengapa aku malu sekali mendapat tatapan intens Marcus ke arah dadaku. Dan keheningan yang tercipta diantara kami memperparah perasaan tak tenangku.
"Lebih besar dari terakhir kali kulihat. Sepertinya 'dia' tumbuh dengan baik." Aku menoleh dengan cepat. Mata Marcus mengunci tatapanku. Ada gairah yang terpancar dari sorot matanya. Dan perkataannya sukses memercik api dalam tubuhku. Kilasan memeori lima tahun yang lalu melintasi pikiranku. Membuat tubuhku semakin panas dan mendamba.
Entah siapa yang bergerak lebih dulu. Kini jarak diantara kami berdua mengecil. Bahkan wajahku sangat dekat dengannya. Aku terhipnotis oleh mata hitam segelap langit malam milik Marcus. Tubuhku bergetar dengan hawa panas yang menyiksa. Udara disekitar berkurang membuat aku kesulitan menarik nafas.
Dalam satu gerakan cepat tangan Marcus meraih tengkukku dan bibirnya menyambar pasangannya. Marcus menciumku. Kesadaranku menghilang dan tergantikan oleh gairah yang membara. Aku membalas ciuman Marcus. Manis dan memabukkan. Ya Tuhan, aku merindukan bibir ini. Bibir lembut dan semanis madu yang merupakan heroinku. Aku melupakan semua masalah pelik mengenai status kami sekarang. Seakan Marcus membawaku kelangit ke tujuh dan melupakan tempatku berpijak sebelumnya.
Aku terhanyut dan semakin terbutakan oleh ciuman Marcus. Tanganku sudah melingkar erat di lehernya. Ciuman kami semakin panas dan menggairahkan. Perlahan Marcus mendorong pundakku. Hingga punggungku berbaring di atas karpet. Kami masih saling berciuman.
Tangan Marcus membelai tubuhku. Membuat aku mendesah di sela ciuman panas kami. Getaran hasrah itu semakin membutakanku. Panas membara seakan ingin menghanguskan. Tangan Marcus bahkan sudah menyuntuh dadaku. Aku mendesah lirih. Marcus melepaskan bibirku. Matanya mengunci dan atensinya hanya tertuju pada mataku. Seakan menarikku untuk kembali terpesona padanya.
"Seperti dugaanku, 'dia' semakin besar." Kilatan gairah di mata Marcus membuat aku semakin terbakar. Tanganku mengelus dada Marcus. Dan perlahan menyusup ke balik kaosnya. Menyentuh perut berotot Marcus secara langsung.
"Marcus!" Teriakan seseorang memanggil nama Marcus menghentikan pergerakkan tanganku. Mataku membesar dan telingaku waspada.
"Marcus!" Itu bukan halusinasiku. Itu memang suara seseorang. Tangan Marcus masih aktif meremas dadaku. Aku tersentak oleh kesadaran yang menghampiri dan menatap Marcus yang menindihku tak percaya lalu sedetik kemudian mendorongnya. Aku bangkit dan duduk menjauh dari pria itu. Kedua tanganku dengan cepat merapatkan baju untuk menutupi dadaku.
Kesadaranku kembali sepenuhnya. Apa yang baru saja kami lakukan? Kami berdua hampir saja melakukan ... oh Tuhan, dimana aku meletakkan otak kecilku saat semua itu terjadi? Aku masih menatap Marcus tajam. Pria itu juga menatapku begitu intens, gairah dalam sorot matanya masih begitu jelas. Tangannya terulur ingin meraihku kembali. Namun aku menggeleng keras dan menjauh.
__________
Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih
Happily Ever After Lina n Marc