NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:676
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sumpah Darah di Balik Meja Lengket

Retakan pada mangkuk keramik berlogo ayam jago itu menjalar lambat, laksana garis takdir yang dipaksa pecah sebelum waktunya. Kuah kaldu yang semula mengepul hangat seketika membeku, menyisakan lapisan lemak putih yang mengeras di bawah tatapan dingin pelayan bermata hitam pekat. Kantin bawah tanah Menara Wijaya masih riuh oleh suara dentang sendok para karyawan magang di sudut lain, namun di sudut meja formika biru ini, waktu telah berhenti berputar. Udara melesat surut, meninggalkan ruang hampa yang sarat akan aroma bunga melati mati yang kian menusuk hidung fana Dika.

Dika masih terduduk di atas kursi bakso plastik merahnya yang meleyot. Kemeja katun hitam grosirannya terasa melekat dingin di punggung, basah oleh keringat dingin yang mengucur deras melewati barisan koyo cabai premiumnya.

“Bumi... bumi beneran mau kiamat di dalam lambung gue!” jerit suara hati Dika di balik batok kepalanya, nadanya naik melengking, kehilangan seluruh karisma singgasana awan

kenapa beranak pinak begini sih?! Gue baru mau menikmati bakso urat jumbo, kenapa musuhnya mendadak berubah dari manajer korup jadi pendekar sekte hitam kosmik yang matanya mirip jenglot?! Sisa energi dewa gue tinggal delapan persen, Lin! Jangankan buat membelah bintang, buat kentut aja sekarang pinggang gue bisa bunyi 'krek' dua kali! Kalau dia nerkam lagi, gue terpaksa pake jurus rahasia paling kuno: pura-pura mati sambil megangin mangkuk kosong!”

Di bawah meja, Lina meringkuk dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Jemarinya mencengkeram erat map berkas dokumen milik Hendra. Melalui jalinan takdir yang bocor, ratapan histeris Dika bergaung jernih di dalam kepalanya, memicu perpaduan rasa ngeri yang mencekam dan rasa gemas yang luar biasa di tengah kepungan aura membunuh.

Sang pembunuh sesat yang menyamar sebagai pelayan itu memutar belati tipis bermata duanya dengan kelenturan yang tidak manusiawi. Senyumannya meliuk licik, memantulkan bayangan lampu neon kantin yang berkedip sepi. "Esensi jiwa Penguasa Takdir... ratusan tahun sekte kami memburu sisa pendar emasmu di seluruh jagat raya, tak disangka kau justru bersembunyi di balik cangkang pemuda miskin yang mati merana karena kelaparan di kota tua ini. Sungguh sebuah ironi yang agung."

Pria bermata hitam itu melangkah maju. Langkah kakinya ringan, tidak meninggalkan suara sedikit pun di atas lantai semen yang lengket. Aura perak dingin di sekeliling tubuhnya memadat, membentuk cakar-cakar gaib tak kasat mata yang bersiap merobek jaringan meridian Dika.

Namun, tepat saat sang pembunuh mengangkat belatinya untuk melakukan tusukan fatal yang kedua, Lina yang berada di bawah meja melihat sesuatu yang janggal pada lembar paling belakang dokumen Hendra yang terbuka akibat guncangan tadi.

Lembar dokumen itu bukan sekadar bukti transfer uang korupsi. Di bagian bawah kertas yang berlapis segel lilin hitam, tertera nama asli Dika yang asli—Dika Pratama—namun di sampingnya bukan tertulis sebagai 'korban fitnah', melainkan sebagai 'Subjek Uji Coba Wadah Roh tingkat tinggi milik Keluarga Wijaya'.

Artinya, Dika yang asli bukan mati karena sial atau karena memegang dokumen rahasia. Tubuh Dika yang asli memang sejak lahir dirancang dan direkayasa genetika spiritualnya oleh Keluarga Wijaya atas perintah Sekte Hitam, sengaja dipersiapkan sebagai wadah kosong untuk menarik turun jiwa Dika sang Penguasa Takdir dari alam atas! Kejatuhan Dika ke bumi bukan sebuah kecelakaan kosmik, melainkan sebuah ritual pemanggilan yang telah direncanakan selama dua dekade!

"Dika! Tubuh lo... tubuh asli lo ini emang sengaja dibikin buat jadi kurungan lo!" teriak Lina, suaranya memecah kesunyian dimensi spiritual, mengirimkan informasi itu langsung ke dalam pusat kesadaran Dika.

Dika tertegun sempurna. Sisa pendar emas di sepasang matanya bergetar hebat. Kenyataan murni itu menghantam batok kepalanya jauh lebih keras daripada pukulan tapak Ki Bersam.

“J-Jadi... dari awal... gue bukan jatuh bebas?” bisik batin Dika, kali ini murni dingin, kehilangan seluruh bumbu komedinya selama beberapa detik. Rasa murka yang purba dan tak terukur bangkit dari dasar jiwanya yang terdalam. “Mereka merekayasa penderitaan pemuda ini... membuat dia kelaparan, memfitnahnya, hingga jiwanya hancur, semua hanya untuk menciptakan wadah keputusasaan yang cukup pekat untuk menarik jiwa dewa gue turun ke bumi? Manusia-manusia fana ini... mereka telah berani mempermainkan anyaman takdir langit!”

Sang pembunuh tertawa mengejek, melihat keterkejutan Dika. "Kau terlambat menyadarinya, Mantan Penguasa! Sekarang, serahkan esensi jiwamu!"

Belati beracun itu melesat lurus menuju jantung Dika. Kecepatannya melampaui batas kecepatan suara fana, membelah udara kantin bawah tanah hingga mengeluarkan suara wush yang memekikan telinga spiritual.

Di ambang batas kematian yang mutlak, di mana sisa energinya hanya menyisakan angka delapan persen, Dika tidak lagi mencoba menggeser tumit atau meliuk tipis menghindari serangan. Gerakan fisik seperti itu hanya akan mematahkan pinggang encoknya. Sebaliknya, ia justru melepaskan seluruh kendalinya atas tubuh fana tersebut.

Dika membiarkan tubuhnya merosot pasrah dari kursi plastik meleyotnya, jatuh telentang di atas lantai semen yang dingin dan kotor.

Plot twist keempat: Jatuhnya Dika ke lantai bukan karena kalah, melainkan sebuah kalkulasi takdir yang sangat presisi.

Saat punggungnya yang ditempeli lima lembar koyo cabai premium itu menghantam lantai semen yang dingin, perbedaan suhu yang ekstrem antara panasnya mentol cabai dan dinginnya lantai semen memicu letupan energi kejut hidrolik di dalam otot lumbarnya. Rasa sakit yang luar biasa dahsyat menyengat saraf pusatnya, namun di saat yang sama, hentakan rasa sakit itu justru membuka paksa satu simpul meridian yang selama ini tersumbat oleh memar bekas pertarungan melawan Ki Bersam!

Aliran energi emas purba yang mandek di area tulang ekor mendadak meledak, menyembur naik menembus sembilan tingkat meridian tubuhnya, mendongkrak sisa energinya dari delapan persen melonjak drastis menjadi tiga puluh persen dalam hitungan sekejap mata!

Ting!

Dua jari tangan kanan Dika yang berada di atas lantai bergerak laksana kilatan petir yang menyambar di tengah malam buta. Ia menjentikkan jarinya tepat ke arah mata pisau belati yang hanya berjarak satu senti dari hidungnya.

Jentikan kali ini bukan lagi sekadar sentuhan ringkih pemutus darah. Ini adalah Jentikan Pembalik Poros Langit.

Klang!!!

Suara hantaman itu begitu nyaring di dimensi spiritual, laksana genta perunggu raksasa kuil langit yang dihantam palu godam. Belati beracun milik sang pembunuh seketika hancur lebur menjadi serpihan debu besi yang berkilauan di udara. Tidak berhenti sampai di situ, gelombang pembalik takdir dari jentikan Dika merambat naik melalui lengan perak sang pembunuh, meremukkan seluruh tulang lengan dan menghancurkan fondasi kultivasi hitam di dalam tubuhnya dalam waktu satu detik saja.

"Aaaaaagh!!!"

Pria bermata hitam itu menjerit histeris, tubuh kurusnya terlempar lurus ke belakang sejauh lima meter, menghantam gerobak etalase kaca abang bakso hingga pecah berantakan. Pyarrr! Kuah kaldu panas dan ratusan butir bakso tumpah ruah, mengubur tubuh sang pembunuh sekte sesat yang kini kelojotan di atas lantai dengan mata yang perlahan kembali memutih normal, kehilangan seluruh kekuatan gaibnya.

Kantin bawah tanah mendadak sunyi senyap laksana kuburan kuno. Beberapa karyawan magang yang berada di ujung ruangan menatap ke arah sudut meja Dika dengan pandangan kaku dan penuh teror, tidak mengerti bagaimana sebuah pertengkaran pelayan kantin bisa menyebabkan gerobak bakso meledak hancur berantakan.

Dika berdiri perlahan dari lantai semen. Gerakannya kini tidak lagi tersendat-sendat oleh linu. Semburan energi tiga puluh persen tadi telah membekukan sementara rasa sakit di pinggangnya, meskipun ia tahu bayaran encok pasca-ledakan ini akan jauh lebih mengerikan esok hari. Mantel wol hitamnya kembali ia sampirkan di pundak dengan satu ayunan tangan yang penuh keagungan mutlak seorang Penguasa Takdir sejati.

"Sampaikan pada pemimpin sektemu, dan pada Keluarga Wijaya," ucap Dika, suaranya rendah, berat, dan bergaung laksana guntur di malam hari, membuat seluruh kaca lobi kantin bergetar halus. "Mereka mungkin yang merancang wadah ini untuk menarikku turun ke bumi. Namun, mereka lupa satu hal... sekali kaki seorang Penguasa Takdir menginjak tanah fana, maka seluruh belantara beton ini kini telah berubah menjadi panggung eksekusi bagi kesombongan mereka."

“Hahaha! Mantap bener kharisma gue barusan!” sorak batin Dika yang asli, kembali meronta dengan tingkat kepuasan yang konyol begitu aura membunuh mereda. “Rasakan itu ledakan energi koyo cabai premium! Tapi astaga... ini tiga puluh persen energi cuma bertahan lima belas menit! Lin, buruan tarik gue keluar dari basement ini sekarang juga! Sebelum ini kuah bakso panas yang tumpah di lantai mengenai sandal jepit gue! Perut gue makin perih, dan kita harus segera cari tempat persembunyian baru sebelum Keluarga Wijaya sadar kalau wadah buatan mereka justru bakal menghancurkan menara mereka!”

Lina merangkak keluar dari bawah meja, wajahnya masih pucat namun sepasang matanya memancarkan tekad yang kokoh. Ia mendekap erat tas kanvas berisi dokumen rahasia rekayasa tubuh Dika, lalu menyusupkan bahunya di bawah ketiak kiri Dika, memapah sang mantan dewa yang bersiap menghadapi badai Jakarta yang sesungguhnya.

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!