Menikah sekali seumur hidup, itulah impian setiap orang. Tidak ada yang menginginkan perceraian. Namun manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhan lah yang menentukan jodoh serta kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L-viie Ann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SETELAH AKU BERCERAI 16
Masih dengan kisah ku, Olivia !
Aku terpaksa kembali duduk setelah beberapa kali Mas Al menggerakkan kedua alisnya sebagai kode.
" Yu, kamu boleh tunggu diluar " Pinta ku kepada Ayu yang baru saja hendak duduk kembali.
" Ah i-iya Mbak " Ayu mengurung kan niat nya kemudian keluar mengikuti yang lain.
Setelah semua pergi, Mas Al bergerak menutup pintu rapat-rapat. Kemudian ia kembali mendekati ku.
Tak disangka ia bertekuk lutut di bawah kaki ku, aku langsung reflek berdiri dan mundur.
" Apa yang kau lakukan Mas?"
" Aku ingin meminta maaf pada mu Liv"
" Maaf untuk apa?"
" Untuk semua kesalahanku dan dosa-dosa ku padamu "
" Hemhh" Aku menarik diri dan ingin pergi, namun Mas Al cepat bangkit lalu menahan ku .
" Jangan pergi Liv, aku mohon... "
Segera ku singkirkan tangan nya dari menyentuh tubuhku.
" Mas, ingat !! Kita bukan siapa-siapa lagi "
" Aku hanya butuh maaf dari mu "
Ia tetap bersikeras menggapai keinginan nya, seperti Al Segaf yang aku kenal sejak dulu. Untuk memiliki anak pun , ia sampai tega menyingkirkan aku. Dan sekarang ? Apakah dia pikir kata maaf mampu menghilangkan bekas luka di hatiku ? Hemhhh...
" Aku kesalahanku terlalu besar untuk dimaafkan, tapi aku harap kau bisa Sudi melakukannya "
Kembali ia rangkai kata rayuan, tapi apa dia lupa bahwa yang dia hadapi adalah Olivia .
" Jika itu yang kamu inginkan, baiklah. Anggap saja kau tidak pernah mengenal ku Mas, maka semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Tanpa ada salah yang perlu diingat "
Pria yang memiliki mata sebijik sama dengan mata anakku, menatap lekat. Aku membuang muka, tak ingin diri ini terpengaruh dengan mata yang sempat membuat ku setia.
Ku balik badan dan keluar dari ruangan tersebut. Rupanya di depan pintu Ayu dan asisten Mas Al tengah menunggu.
Mas Al mengejar, namun ia diam terpacak di bingkai pintu. Kami sempat beradu pandang saat aku mengajak Ayu pulang.
" Yu tolong hubungi orang rumah, tanya Tasyi ada di mana? Kalau ada di rumah, bawa ke rumah kamu"
Aku memberikan perintah kepada Ayu sambil lalu mengemudi mobil dengan sedikit laju.
" A.. Emm Emang kenapa Mbak ?" Ayu pantas untuk merasa bingung, karena dia belum tahu wajah mantan suamiku.
Ku buang nafas secara perlahan, mengatur perasaan yang berkecamuk di dalam dada.
" Tadi itu Mas Al, Ayahnya Tasyi"
" Serius ?? Kok bisa ?"
" Mungkin MEDIA TBK INDUSTRI Adalah anak cabang MITRA INDUSTRI, karena setahuku MITRA INDUSTRI berkecimpung di bidang yang sama "
" Astaga, terus gimana ini ?? Apa mbak nggak apa-apa melanjutkan kontrak dengan mereka ?"
" Entah lah, harga sudah disetujui. Kau tahu kan pengajuan harga yang ku ajukan, lebih tinggi dari penawaran agen lain "
Ayu mengangguk setuju. Bagaikan pun aku juga harus memikirkan nasib orang-orang yang bekerja di sawah milik ku.
Ayu segera melakukan perintah ku untuk memastikan keberadaan Tasyi, dan ternyata Alhamdulillah Tasyi berada di rumah Ayu bermain sama ponakan Ayu.
" Bu cegah Tasyi pulang ya, kata Mbak Oliv biar nanti berangkat ngaji dari rumah. Bilang aja Mbak Ayu belum pulang "
Aku lega, setidaknya aku bisa mencegah Mas Al untuk tahu mengenai Tasyi. Nggak rela rasanya jika harus Tasyi mengenal Ayahnya, apalagi dia harus terluka jika tahu bagaimana dia dan keluarganya membuang kami.
" Mulai besok, apapun masalah yang harus berhadapan dengan Media TBK INDUSTRI, aku mengandalkan kamu Yum Kalau pun butuh tanda tangan ku? Kamu bawa saja berkas pulang "
Ayu mengangguk mengerti, Setibanya di rumah. Ternyata ada mobil terparkir, hatiku sedikit khawatir. Aku takut itu adalah Mas Al, tapi setelah ku dekati, Ternyata mobil Fadil. Lega rasanya.
" Ada Fadil Mbak " Wajah Ayu berubah sumringah, aku mengiyakan. Dia berjalan lebih cepat di depan ku. Sepertinya Ayu menyukai Fadil.
" Mas Fadil " Sapa Ayu , pria jangkung nan tampan itu menoleh. Senyumannya cukup membuat siapapun tergugah, termasuk diriku. Tapi aku sadar diri, Fadil tidak sesuai untuk ku.
" Baru aja " Jawab nya, Ayu duduk di kursi kosong tepat di samping Fadil.
" Kalian ngobrol dulu ya, aku masuk dulu "
Niat hati tak ingin mengganggu mereka
" Liv, aku ada perlu sama kamu"
Langkah ku seketika itu berhenti.
" Sama aku ?"
Fadil membenarkan dengan penuh keyakinan.
" Ada apa ?"
" Aku ingin bicara empat mata "
Tanpa ku sadari, mataku bertembung dengan mata Ayu yang nampak kecewa.
" Ya udah, Ayu pulang dulu ya Mbak. Mau ngecek Tasyi" Nampak Ayu menutupi rasa kecewanya.
" Oh iya, cepat balik ya Yu... Aku mau mandi soalnya, kasian nggak ada yang nemenin Fadil "
Ayu tersenyum kikuk, ia gegas masuk melewati pintu belakang untuk pulang ke rumah nya yang tidak jauh dari rumah ku.
" Ada apa Dil?" Aku bertanya setelah kami duduk berhadapan dengan dibatasi sebuah meja berukuran persegi.
" Emmm Gini Liv, Aku minta maaf jika lancang. Tapi aku harus mengatakannya,, Sebenarnya... Aku ingin ngajak kamu ketemu kedua orang tua ku"
Tubuh ini bagaikan terkena sengatan listrik beribu-ribu wath. Apa aku tidak salah dengar ? Maksud Fadil gimana nih?
" Untuk acara apa?" Tanyaku gugup.
" Emmm Aku.. Aku udah cerita sama mereka tentang kamu. Dan aku ... Aku berniat untuk menikahi kamu "
Kepala ku langsung berdenyut sakit, kok jadi gini sih?.. Kan yang suka Fadil adalah Ayu, kenapa dia melamar ku?
" Kamu nggak salah kan Dil?"
" Nggak !" Fadil menggeleng cepat.
" Aku janda loh "
Setidaknya Fadil sadar maksud dari ucapan ku.
" Yang gadis masih banyak Loh Dil, Ayu... Dan banyak lagi yang lain. Kenapa harus aku?"
Fadil tersenyum sembari menundukkan kepala, kemudian ia mengangkat wajahnya kembali.
" Hukum nikah tidak ada syarat janda ataupun gadis "
Aku tersudut, Fadil memang anak lulusan pesantren. Jadi dia tahu mengenai hukum tersebut.
" Aduh ... Gimana ya Dil?"
Ku garuk kepala ku yang sebenarnya tidak gatal.
" Apa yang kamu pertimbangkan lagi? Tasyi udah besar loh, udah seharusnya dia memiliki figur seorang Ayah "
Iyah! Aku tahu itu.. Tapi apa harus kamu? Memang sih, aku tahu Fadil anaknya baik banget. Dari keluarga terhormat dan terpandang di daerah ku. Tapi menjadi istri nya adalah sesuatu yang sangat mustahil.
" Mbak... "
Tiba-tiba suara Ayu terdengar, aku menoleh dan melihat Ayu datang tergopoh-gopoh.
" Ayahnya Tasyi nelpon "
DEGH!!!
Ku tatap wajah Ayu dan telfon yang disodorkan padaku secara bergantian. Ngapain Mas Al nelfon Ayu? Aduh!! Baru saja aku tidak memikirkan dia, tiba-tiba saja dia nelfon. Dasar cowok gil4!
Aku umpat dia dalam hati saja, malu jika harus berkata kasar di depan Fadil.
😂😂