karya ini terdapat alur maju mundur ya, baca beberapa bab baru baru bisa mengerti jalan ceritanya.😁
Garina Jelita, gadis malang yang telah disia siakan selama 10 tahun, ia berada dititik terendahnya saat suami yang ia percaya mampu melindunginya justru mengusirnya dari kehidupannya.
percayalah penyesalan akan selalu ada bagi mereka yang berbuat kesalahan, namun waktu belum tentu memberi kesempatan bagi mereka untuk menebusnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deodoran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Tuan sampai di Jakarta nanti saya hendak meminta ijin tidak masuk sampai malam" ujar Pak Ahmad dengan pandangan mata pada Sagara yang saling bertemu di spion tengah.
Sagara hanya mengangguk sebelum menimpali. Ia menutup beberapa berkas ditangannya yang sepanjang perjalanan diperiksanya. Andai Jhon tidak sakit tentu Sagara tidak kewalahan begini.
"Baik, pulang nanti aku juga ingin istirahat full" jawab Sagara memberi ijin.
"Terima kasih Tuan, Garina pasti sudah tidak sabar" Ucap Pak Ahmad dengan gumaman diujung kalimatnya yang sebenarnya tidak ditujukan untuk Sagara.
Garina?
Susah payah Sagara akhirnya menelan Saliva setelah mendengar nama Garina digumamkan.
Sagara bisa melihat binaran bahagaia yang terpancar dari netra pria 45 tahun didepannya. ia melonggarkan Dasi yang melingkar dilehernya, rasanya dirinya menjadi pria brengsek yang mencuri ciuman pertama seorang Gadis muda yang begitu dihargai oleh ayahnya.
"Pasien Sadar!!" Seorang perawat jaga yang bertugas di ICU memencet bel dan memberitahu kondisi terkini Sagara Ganendra yang kini sudah menggerakkan jarinya dan perlahan membuka matanya setelah terlelap diambang kematian selama lima malam sejak kecelakaan fatal yang menimpanya dan Pak Ahmad.
Yah Mobil yang dikendarai Sagara terbalik setelah dipepet dan ditabrak oleh dua buah minibus yang mengikuti mereka dari Bandung.
Para Dokter melakukan tindakan yang biasa mereka lakukan untuk pasien yang baru bangun dari komanya. Sebenarnya tak ada luka berarti yang dialami Sagara ditubuhnya, hanya beberapa memar. namun trauma kecelakaan saat ia harus melihat bagaimana mobilnya hangus terbakar didepan mata setelah pak Ahmad berusaha mengeluarkannya dari dalam dan justru dirinya yang terjebak sehingga meledak bersama mobil membuatnya begitu frustasi.
"Pa-k A-hmad" Ujar Sagara terbata.
Nyonya Elisa tak berhenti mengecup pucuk kepala putranya, ia bersyukur sang Pewaris Ganendra selamat dari kecelakaan maut yang hampir merenggut nyawa anaknya.
Kecelakaan itu ternyata didalangi oleh orang kepercayaan mendiang suaminya di Surabaya yang kasus korupsinya tengah diusut sang putra.
Sebagai seorang Ibu dan salah satu pemilik Saham di Ganendra group Nyonya Elisa menggunakan pengaruhnya untuk membuat semua yang terlibat mendekam di jeruji besi dengan tuduhan pembunuhan berencana dan memastikan mereka akan dijatuhi hukuman seumur hidup. Meski Sagara tidak mati namun ia tetap kehilangan sang supir dalam tragedi itu.
"Ma...pak Ahmad ma"
"Pak Ahmad" Nyonya Elisa menghela nafas sebelum menjawab " Pak Ahmad meninggal Saga, tubuhnya hangus terbakar"Lanjut Nyonya Elisa penuh penyesalan.
.
.
.
Kehilangan terberat bagi seorang anak perempuan adalah saat sang cinta pertama pergi untuk selama lamanya. Garina tak pernah tahu seberapa sakit saat kehilangan ibunya namun ia merasa hancur berkeping keping saat melihat sang tubuh ayahnya kaku dan sulit dikenali.
Tepat 7 hari sang ayah meninggalkannya sendiri di dunia, Garina hanya bisa menatap kosong dua buah batu nisan yang saling berdampingan.
Gadis 17 tahun itu tersenyum miris, entah ia harus bahagia atau apa? Melihat usaha orang orang Ganendra yang memindahkan makam ibunya tepat disamping makam sang ayah.
Dua orang tanpa harta yang tubuhnya terbaring disebuah pemakaman mewah yang kabarnya satu makam saja bisa seharga mobil mini bus.
Garina menatap sekeliling, hamparan taman makam yang dipenuhi rerumputan dan beberapa bunga bunga bermekaran indah benar benar memanjakan matanya ditambah lagi beberapa patung yang seakan memiliki nilai seni menambah estetik pemakaman ini.
"Ini sudah sangat sore, kita kembali lagi besok" Suara Bariton Byan mengintrupsi yang sejak tadi berdiri dibelakang Garina yang masih betah duduk diatas Rerumputan sambil mengusap nisan sang ayah.
Sejak Pak Ahmad meninggal Byan tak pernah meninggalkan Garina. Seperti hari ini ia sudah mengikuti gadis itu mulai dari keluar paviliun, naik bis hingga ke pemakaman yang lebih mirip taman ini,meski gadis itu selalu nampak tak Acuh padanya karena Garina sudah mengetahui prihal jati diri yang selama ini disembunyukan Byan.
Garina tak sengaja mendengar salah satu staff kantor yang hadir di pemakaman menyapa Byan sebagai Tuan muda Byantara Ganendra. Hanya Garina saja yang bodoh dan Naif sampai tidak menyadari hal tersebut selama 2 tahun ini. Ia ingin marah namun lagi lagi status membuatnya harus tunduk dan menerima segala kebohongan Byan.
Gerimis mulai turun namun Garina sama sekali belum meninggalkan tempatnya.
"Garina pulanglah, tolong jangan mengacuhkanku seperti ini" pinta Byan memelas seraya ikut duduk disamping gadis itu dan memegang bahunya.
"Maafkan aku Tuan muda jika mengacuhkan anda" Garina menepis tangan Byan perlahan.
"Aku hanya merasa tidak pantas berbicara dengan anda" lanjutnya lagi, terdengar begitu formal.
Byan mengeraskan rahangnya mendengar pernyataan Garina.
'Tidak pantas berbicara denganku tapi kau berciuman dengan kakakku?' Byan hanya bisa meneriakkan kalimat itu dalam benaknya, ia tak mungkin melayangkan protes ditengah kondisi Garina yang seperti ini.
"Garina maaf sudah tidak jujur padamu!" Byan setengah berteriak saat melihat Garina sudah beranjak meninggalkan kuburan dan dirinya.
"Bukan hanya tidak jujur, tapi Tuan muda menipuku" ujar Garina tanpa menoleh namun mengepalkan kedua tangannya. Semua yang keluar dari bibir Byan nyatanya hanya sebuah kedustaan.
"PUKUL AKU! TAPI JANGAN MENGACUHKANKU" Teriak Byan melihat Garina yang berjalan semakin jauh. Akhirnya ia mengeluarkan apa yang ia pendam beberapa hari ini melihat tingkah Garina.
Garina berhenti sejenak lalu berbalik, ia tersenyum seraya berjalan pelan menghampiri Byan yang masih terpaku ditempatnya.
"Aku tidak berani melakukannya. Tolong jangan lagi bersikap seperti ini ada pembatas yang begitu kokoh diantara kita. kau adalah seorang Byantara Ganendra sedangkan aku hanyalah anak yatim piatu yang menumpang hidup dikeluargamu" terang Garina dengan tatapan sendunya.
"Maaf karena menipumu, aku takut kau bersikap seperti ini jika mengetahui diriku yang sebenarnya" balas Byan penuh penyesalan.
"Bahkan melihatmu pun aku merasa tak pantas" Garina tersenyum miris.
"Lalu bagaimana dengan Sagara Kakakku?" kali ini tatapan Byan penuh rasa ingin tahu.
"Tuan Sagara?" bingung Garina, mengapa Byan justru membahas Sagara.
Namun belum sempat Garina kembali mengulang pertanyaannya sebuah suara terdengar bergetar memanggil namanya.
"Garina Jelita" Pria diatas kursi Roda itu menatap Sendu kearah Garina yang berdiri tepat dihadapan adiknya.
"Tuan Jhon?" Mata Garina berkaca kaca melihat kondisi pria yang ia fikir Jhon. Mungkinkah pria itu juga mengalami kecelakaan bersama ayahnya namun selamat seperti Sagara? Tentu saja Jhon adalah asisten Sagara pasti ia akan selalu ikut bersama Sagara.
Sementara pria yang berdiri dibelakang kursi roda atasannya memicingkan matanya.
Apa anak pak ahmad barusan memanggilnya? Apa gadis kecil itu mengenalnya?
Dan kini semua pertanyaan Byan terjawab, pemuda dengan IQ Ganendra yang diatas rata rata itu bisa langsung menyimpulkan jika Garina mengenal Sagara sebagai Jhon, hanya dengan melihat setiap ekspresi ketiga orang dihadapannya.
.
.
Garina begitu sulit memaafkan kebohongannya namun begitu mudah menerima Sagara bahkan setelah mengetahui siapa Sagara sebenarnya pria yang memiliki kuasa yang dengan mudahnya menyuarakan dengan lantang akan bertanggung jawab kepada Garina dengan menikahinya.
Penolakan yang ditunggu Byan dari sang ibu nyatanya tidak ada. Elisa justru merestui pernikahan bawah tangan itu karena usia Garina yang masih dibawah umur.
Elisa begitu bahagia mematahkan hati seorang pemuda berusia 15 tahun. Ia memang selalu berfikir jika tak bisa membalas perbuatan ibunya setidaknya anaknya bisa merasakan betapa sakitnya saat seseorang yang begitu kita idam idamkan direbut orang lain.
#baru up krn sdh berduka🙏
Terimakasih thor tuk karya hebatnya
Padahal novel ini udah ku baca berulang kali 😭