"Pulanglah, Nak!" Caroline menghubungi Sarah dan memintanya pulang. Sudah bertahun-tahun Sarah meninggalakan rumah seorang rumah seorang pembunuh berantai, kini ia kembali. Kembali menghadapi cinta yang dia miliki untuk ayahnya dan tubuh yang di kubur di sana.
Ada rahasia yang belum terungkap di dasar Mile Stone yang terkenal kejam. Sarah harus menghadapi, dan mencari tahu apa yang sebenaranya tersembunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Saat Sarah berusia dua belas tahun, ia memiliki bekas luka karena kail pancing. Alih-alih menangis karena luka itu, Sarah justru merasa bahagia sebab ia belajar cara memancing. dan ayahnyalah yang mengajarinya. “Tidak apa-apa,” ucap Samuel. “Semua orang akan terkena kail pancing untuk pertama kalinya memancing. Coba lagi ya.” Ia memasukkan ujung jarinya yang berdarah ke dalam mulutnya dan tersenyum.
Setelah itu, Sarah hanya memerlukan dua kali percobaan lagi untuk memasukkan tali pancing ke dalam lubang kail, sambil mengajukan pertanyaan kepada ayahnya tentang proyek bersama mereka. “Kenapa aku tidak bisa mengikat tali di ujung tongkat saja?” Sarah tahu bahwa ayahnya senang menjelaskan berbagai hal kepadanya, senang mengajarinya.
Samuel suka menjadi orang yang bisa menunjukkan pada putrinya bagaimana dunia ini. “Yah,” ia berkata dengan sabar, “Karena jika kamu menangkap ikan besar, ikan itu mungkin akan mematahkan tongkat kecil ini menjadi dua. Namun, jika kamu melilitkan tali pada tongkatnya,” tambahnya sambil menelusuri tali itu dengan ujung jari yang kasar, “tidak masalah jika tongkatnya putus, karena kamu masih punya talinya. Jika kau tidak melakukannya, ikannya mungkin akan kabur. Kau tidak ingin membiarkan ikan besar lolos, bukan?”
Sarah mengangguk mengerti, mereka mulai mengarungi sungai, dan berhenti ketika air sungai telah mencapai pertengahan paha Sarah. Samuel menyelipkan alat pancingnya ke bawah lengannya, kemudian ia merogoh sakunya, dan mengeluarkan sebuah toples kecil. Ini adalah stoples yang sangat dikenal Sarah, setiap kali ayahnya berencana pergi memancing, Samuel menyerahkan stoples itu pada malam sebelumnya, agar putrinya bisa pergi ke halaman dan mengisinya.
Samuel membuka stoples itu dan memasukkan ibu jari dan telunjuknya ke dalam stoples, lalu ia mengeluarkan salah satu penjelajah malam yang melar dan berliku-liku yang digali Sarah tadi malam, kemudian cacing itu di selipkannya ke kail.
"Apakah kamu siap?" Samuel bertanya, dan Sarah hampir mengatakan tidak, tapi dia tahu bahwa jawaban yang benar adalah ya, jadi dia mengangguk.
“Bagus,” ucap Samuel. “Sekarang, perhatikan daddy."
Sarah mengangguk lagi, ia menyaksikan ayahnya mengangkat lengannya tinggi-tinggi di atas kepalanya, membiarkan kailnya menjuntai jauh di belakangnya, lalu ia mencambuk lengannya ke depan, dan sedetik kemudian, beban pada tali pancingnya jatuh ke dalam air sejauh enam kaki. Sarah pun melakukan hal yang di contohkan oleh ayahnya.
...****************...
Satu jam memancing tak ada satu pun ikan yang mereka dapatkan, selama itu pula Sarah terus mendengarkana ayahnya mengeluarkan lelucon tentang gajah di atas pohon. “Hei, Sarah. Menurutmu kenapa gajah tidak bisa berenang?” ayahnya bertanya.
Sarah sudah mendengar ribuan kali lelucon ini, tapi ia menyukai percakapan ini, ayahnya membuat lelucon hanya dengan tujuan membuatnya tertawa, sehingga Sarah pun tertawa dengan tujuan membuat ayahnya bahagia, ia bersikap seolah-olah lelucon itu baru ia dengar.
Belum sempat Sarah menjawabnya, Samuel berteriak karena ia merasakan ikan di pancingannya. Ia mencoba menarik tongkat dari tangannya, “Tarik!” gumamnya sambil meraih dan meraih tali pancingnya, hingga akhirnya ikan itu memecahkan permukaan air, dan oh.Oh.
“Itu indah sekali,” ucap Samuel ketika berhasil menangkap ikan pancingannya. Ikan itu meronta-ronta, berjuang melawan cengkeraman ayahnya. Warnanya hijau keperakan dan ditutupi bintik-bintik coklat tua. Kelihatannya halus, bukannya bersisik. Sarah mau tidak mau berpikir kalau itu tampak seperti katak yang salah belok.
“Kita akan mengajak ikan ini makan malam." Samuel mendekatkan wajah ikan itu hingga menempel ke pipi putrinya. "Dia berhak menciummu sebelum dia di goreng," ucapnya sembari tertawa.
Sarah pun tertawa. "Ya, itu lebih baik. Aku lebih suka di cium ikan daripada di cium Brandon yang menyebalkan itu," seketika Sarah menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia sama sekali tak sadar dengan apa yang baru saja ia katakan, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Samuel berhenti tertawa, dan langsung menatap putrinya dengan serius “Apa katamu?” katanya.
Sarah berusaha keras memikirkan sebuah kebohongan untuk menyelamatkan dirinya, tapi ia sama sekali tak pernah berbohong kepada ayahnya. “Apa Brandon pernah menciummu?"
“T-tidak,” jawab Sarah.
Setetes air mata mengalir di pipinya, lalu menetes lagi, dan kemudian Sarah tidak bisa berhenti menangis. Perlahan lengannya melingkar di pinggang ayahnya, sambil menangis Sarah menceritakan jika beberapa hari yang lalu Brandon menghadang dan mejegalnya hingga sepedanya terjatuh, kemudian Brandon menciumnya.
"Dan kamu bilang pada mommy jika kamu baru saja terjatuh?”
Dengan ragu-ragu, Sarah mengangguk. “Ya,” jawabnya. "Aku minta maaf aku berbohong."
"Ayolah," ucap Samuel. “Ayo kita pulang!” Ia berbalik dan berjalan menuju daratan, Sarah pun mengikuti. Hari yang menyenangkan itu, sekarang jadi hancur. Semua itu karena mulut besarnya yang keceplosan.
Tiba di tepi sungai, Samuel membereskan alat pancingnya tanpa menoleh sedikit punke arah Sarah, hal ini membuat Sarah merasa bersalah. “Aku benar-benar minta maaf, dad,” ucapnya dengan bersungguh-sungguh, ia menyadari akan kesalahannya.
“Saa, kamu tidak perlu meminta maaf. Kamu tidak salah, dia yang salah. Dia telah membuatmu jatuh dan mengambil kesempatan dengan memciummu." Samuel menatap Sarah dengan hangat. "Dan soal mommy, memang sudah seharusnya kau berbohong padanya karena jika kau jujur, akan menimbulkan masalah."
"Hah" Sarah terkejut, ayahnya sama sekali tak marah padanya, dia justru mendukungnya.
"Sepertinya teman kecilmu, Brandon, sudah menjadi laki-laki. Kau harus berhati-hati dengannya,” Samuel kembali ke alat pancingnya, memasukan semuanya ke sebuah kotak khusus.
"Maksud daddy?"
Samuel kembali menatap putrinya, ia menjelasakan bahwa Brandon bukan lagi seorang bocah, melainkan sudah memasuki masa pubertas, rasa keingintahuannya akan sek*ualitas mulai muncul.
"Apa daddy juga dulu seperti itu?"
Samuel menggeleng. "Daddy mencium gadis yang benar-benar daddy pacari, bukan menjegal di jalan lalu menciumnya. Lain kali, jika Brandon atau siapa pun berbuat seperti itu kepadamu laporkan pada daddy karena tidak menutup kemungkinan dia akan melakukan hal yang lebih nekat. Kau begitu berharga, anakku."
Sarah menganggukan kepalanya mengerti. “Bagus. Sekarang, mari kita bawa pulang ikan ini dan bersihkan dia untuk makan malam."
...****************...
Saat mereka memasuki halaman rumah, Samuel tidak langsung turun dari mobil, ia mengetukkan jarinya ke kemudi dan tersenyum ke arah Sarah. “Sebaiknya hal ini tetap menjadi rahasia di antara kita” Samuel mengedipkan matanya pada putrinya. “Mommymu tidak perlu tahu, nanti daddy yang akan membereskan soal Brandon agar dia tidak berbuat seperti itu lagi.”
Sarah mengangguk, dan menarik napas lega. Ia begitu senang karena ayahnya begitu bijak, di tambah sekarang ia memiliki sebuah rahasia dengan ayahnya. “Aku tidak akan cerita dengan mommy, tapi bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Tentu saja.”
“Kenapa kamu membiarkan mommy begitu jahat pada daddy?” tanya penasaran, sebab setiap kali mereka bertengkar, ia selalu melihat ayahnya lah yang selalu mengalah.
Samuel ragu-ragu sebelum menjawab. “Yah, Sarah. Kadang-kadang memang begitulah yang terjadi antara suami dan istri. Dia adalah orang pertama yang mencintai daddy, lalu kemudian kamu hadir,” ucapnya. “Dan sekarang ada dua orang yang mencintaiku, aku merasa beruntung memiliki kalian jadi apa sulitnya bersabar dengan orang yang sudah sangat mencintai daddy?"
Sarah yakin, pria seperti ayahnya tidak akan berselingkuh, karena jika dia melakukan itu dia tidak akan punya keluarga lagi, dan ayahnya begitu mencintai keluarga ini. "Dad, terima kasih telah mengajakku memancing."
“Daddy senang mengajakmu memancing.” Samuel mengangguk ke arah ikan di pangkuan Sarah. “Kamu hebat sekali, Saa. Daddy bangga padamu." Samuel meletakkan tangannya yang besar di atas kepala Sarah, dan kehangatan diri pria itu merembes ke rambut Sarah, itulah hal yang paling Sarah inginkan.
semua dibikin teka teki smpai mnuju bab2 akhir...
Ga ada clue alasan atau apa yg melatarbelakangi Samuel melakukan pesugihan/kejahatan...membuat reader mencoba menebak nebak apa yg terjadi 🤭🤭
Overrall ceritanya seru dan menarik..
pesan dari cerita ini.., hiduplah dengan rasa syukur yg telah Tuhan berikan..jangan pernah brrsekutu pada jin utk menghalalkan segala keinginan kita.
akhir yg bahagia utk mereka
tp paling tidak Sarah bs melihat wajah ibunya yg sperti dulu
Apakah ini alasan ibunya Sarah..agar sarah pergi dan jangan pulang ke rumah? agar tidak diambil darahnya...
apa dia mahluk yg menyebabkan ayahnya Sarah melakukan pesugihan..
berarti selama ini Sarah juga tauu klu ayahnya melakukan pesugihan...