Dosen, tampan, muda dan... duda.
Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.
Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.
Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.
Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan
Setelah Adam mengurus cuti dan Erica menyelesaikan ujian tengah semester, seminggu kemudian mereka baru dapat berangkat berlibur. Puncak menjadi tujuan mereka. Kota metropolitan yang panas membuat keluarga kecil itu menginginkan pada suasana segar seperti puncak.
Untuk pertama kalinya Erica merasakan bagaimana menjadi sosok ibu. Mengurus semua perlengkapan yang perlu dibawa untuk si kecil Zhafran. Ia sangat antusias. Sudah lama kesempatan ini Erica nantikan. Menjadi seorang ibu tiri yang baik hati.
Mereka menempati villa milik sahabat Adam, Nicko. Dengan sukarela Nicko mempersilahkan Adam dan keluarga kecilnya untuk menginap beberapa hari disana tanpa sewa sepeserpun. Katanya, sebagai hadiah pernikahan.
Zhafran dalam keadaan terlelap ketika mereka sampai, membuat Erica lebih leluasa membereskan barang bawaannya.
Adam menghampiri Erica yang tengah mengeluarkan pakaian dari dalam koper. "Perlu Mas bantu, Ri?"
Erica menoleh sekilas lalu melanjutkan pekerjaannya. "Nggak usah Mas, sudah hampir beres kok."
Adam tersenyum simpul. Ia melangkahkan kakinya mendekati Erica, lalu dipeluknya tubuh istrinya itu dari belakang.
"Yakin nggak mau honeymoon? Waktunya lagi tepat nih, Zhafran lagi bobo." Bisik Adam dengan manja di telinga Erica.
Erica terkekeh meski jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Matanya melirik ke arah Zhafran yang sedang tertidur lelap. Lalu terdengar Adam tergelak di samping telinganya.
"Tegang banget, sayang." Adam menghadiahi sebuah kecupan di pelipis Erica. "Mas tahu kamu cape, istirahat gih. Biar Mas yang beresin semuanya."
Adam mengambil alih pekerjaan yang sedang di kerjakan Erica. Mau tidak mau Erica menyingkir lalu duduk di tepi ranjang mengamati suaminya yang berbaik hati membantu pekerjaannya.
"Sudah lihat pemandangan di luar belum? Cantik lho, kayak kamu."
"Gombal!" Erica mengulum senyum seraya melangkahkan kakinya ke arah jendela. Mungkin sudah kodratnya perempuan suka di puji, bibir Erica selalu mengulum senyum setiap kali Adam memujinya.
Hembusan angin langsung menerpa wajah Erica. Membelai lembut penuh kemesraan. Pemandangan hijau yang memanjakan mata cukup memberi relaksasi pada kedua bola mata Erica yang tegang.
Beberapa kali Erica menarik napas dalam-dalam lalu dihembuskannya pelan. Suasana puncak benar-benar melancarkan peredaran darah. Tidak ada lagi syaraf-syaraf tegang sisa-sisa menghadapi Mona.
Mona. Erica tidak tahu kemana perempuan itu pergi. Hatinya tidak tega melihat perempuan itu di usir secara kasar oleh Adam. Tapi segala perilaku dan niat busuk Mona membuat Erica tidak tahan serumah dengannya. Biarlah disebut tak punya hati juga, yang penting hatinya tidak terluka.
"Mas.." Kini giliran Erica yang memeluk tubuh Adam dari belakang. Kepalanya ia sandarkan ke punggung Adam.
"Hmmm?" sahut Adam yang masih disibukkan melipat baju.
"Mas tahu kemana mbak Mona pergi?"
Sedetik kemudian Adam terdiam.
"Sudahlah, Ri, jangan bahas dia lagi," jawab Adam kemudian. Ia malas membahas perempuan itu. Cara Adam mengusir Mona membuatnya merasa bersalah. Walau bagaimanapun juga, Mona tetap ibunya Zhafran. Tidak bisa dihapus meskipun rasa bencinya begitu besar.
"Aku cuma mau tahu." Erica berkata lirih, menyadari kesalahannya memilih topik pembicaraan.
"Ri!" Suara Adam meninggi. Saat ini membahas Mona sangat-sangat mengganggu bagi Adam.
"Kamu kan yang minta Mona pergi? Kenapa kamu cari lagi?" Adam menghempas pakaian di tangannya lalu menjauh dari Erica.
"Tolong jangan bahas perempuan itu lagi. Membahas dia hanya membuat Mas stres."
***
Zhafran terbangun dengan rewel. Beberapa kali bocah itu menangis meraung-raung hingga membuat Erica kewalahan untuk menenangkannya. Adam pergi entah kemana. Lelaki itu jadi sedikit arogan semenjak kedatangan Mona di rumah mereka. Sudah dua kali Adam meninggalkan Erica tanpa kabar. Semoga kali ini Adam pulang dengan keadaan lebih baik, bukan lebih buruk. Batin Erica.
Dibaringkannya kembali Zhafran di atas ranjang. Bocah itu kembali terlelap karena kelelahan menangis. Keringat bercucuran di pelipis Zhafran, padahal AC sudah disetel.
Erica bergerak untuk mengambil tissue di atas nakas, tapi ternyata pergerakan Erica tidak disetujui Zhafran. Bocah itu menyusupkan tangannya ke dalam blouse Erica, mencari sesuatu yang biasa menemani Zhafran tidur.
Bibir Erica mengatup rapat. Menahan agar mulutnya tidak terkikik geli ketika Zhafran meletakkan tangan mungilnya di atas buah dadanya dengan sesekali membuat gerakan horizontal.
Ya Tuhan, apa yang anak ini lakukan? ucap Mona dalam hati.
"Kamu kenapa, Ri?"
Suara Adam membuat mata Erica yang semula di tutup rapat-rapat kini terbuka lebar-lebar. Erica menghela napas lega sembari menunjuk tangan Zhafran yang membuat blouse nya tersingkap.
Adam mendekat, mengamati lebih dekat apa yang terjadi.
Erica kembali mengatupkan bibir dengan mata melotot ketika Zhafran menarik-narik pakaian yang membungkus tubuh bagian dalamnya.
Seketika Adam tertawa menyadari apa yang terjadi. Bibir Erica mengerucut mendengar Adam tertawa geli.
"Mas!" Bisik Erica dengan nada membentak.
Adam naik ke atas ranjang, disusupkannya tangan Adam ke dalam blouse Erica. Membuat mata Erica hampir loncat.
"Jangan berpikir kotor dulu, Mas mau narik tangan Zhafran," ucap Adam seolah tahu apa yang Erica pikirkan. Lalu, Adam mengeluarkan tangan Zhafran dari dalam blouse Erica.
Erica bernapas lega lepas di gerayangi tangan mungil Zhafran. Ia memaklumi Zhafran, bocah itu masih kecil dan belum bisa melepas kebiasaannya ketika masih diberi ASI oleh Mona. Erica jadi geli sendiri membayangkan Mona selalu melakukan hal tersebut untuk membuat Zhafran tertidur. Mereka meninggalkan Zhafran agar kembali tertidur tanpa terganggu oleh kedua orangtuanya.
Hari semakin sore. Langit senja dengan warna jingga yang menggoda terlihat begitu nyata di balik jendela kaca. Erica memang bukan pengagum senja, tapi senja sore itu membuatnya terpana.
Dengan duduk bertemankan Adam, Erica menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu. Bercerita tentang bagaimana mereka bertemu dan merajut cinta selalu menarik untuk di bahas. Beberapa kali Erica menutupi wajahnya karena malu saat Adam bercerita betapa polosnya dia, dan Adam dengan wajah bangga bercerita tentang keberaniannya melamar gadis itu. Mereka larut dalam nostalgia.
Adam meletakkan tangannya di pinggang Erica, sesekali ia mengeratkan pelukannya setiap kali menemukan hal gemas. Selalu ada penawar di setiap luka, begitu kata pepatah. Adam dan Erica merupakan penawar satu sama lain. Saling menyembuhkan luka yang mereka miliki.
"Berapa besar rasa cinta Mas sama aku?" Tanya Erica, iseng. Matanya mendongak menatap wajah Adam dari bawah.
"Tidak tahu," jawab Adam sekenanya.
"Masa tidak tahu."
Adam terdiam sesaat, sebelum berkata, "Rasa cinta Mas buat kamu itu seperti Diskrit, tidak bisa diukur dan Kontinu, tidak bisa dihitung. Tapi cinta Mas buat kamu bisa divisualisasikan dalam bentuk perkataan, perbuatan dan tindakan."
Seketika wajah Erica bersemu bersamaan dengan bibirnya yang berkedut menahan tawa.
"S3 menggombal seorang programmer."
Adam tergelak menyahuti komentar Erica yang dapat menebak gombalannya. Padahal, ia belum menyampaikan materi visualisasi data di kelas tapi Erica sudah tahu saja materi yang akan diberikan. Hampir saja gagal gombalan Adam.
"Visualisasi cinta untuk istriku sayang." Satu kecupan kembali mendarat di pipi Erica.
Mengecup Erica sudah menjadi hobi lagi bagi Adam. Dalam sehari entah berapa kali ia mendaratkan bibirnya di bagian tubuh Erica, entah itu di bibir, kening, dahi, hidung, pipi, atau puncak kepala.
Suara deheman seorang lelaki menginterupsi kecupan yang Adam lancarkan bertubi-tubi di wajah Erica. Seketika mereka terperanjat menyadari ada orang lain di villa itu.
"Jagung siap dibakar," ucap lelaki tersebut sambil menunjukkan sebakul jagung tanpa rasa bersalah.
Di belakang Rey dengan bakul jagungnya, ada Nicko membawa pemanggangan, dan Hans dengan alat pancing di tangannya.
"Kalian sudah sampai rupanya," sapa Adam ketika mendapati ketiga sahabatnya tengah berdiri di ambang pintu. Tak ayal, hal tersebut membuat Erica membulatkan matanya.
Seolah mengerti apa yang Erica pikirkan, Rey segera berbicara. "Terimakasih atas undangannya, Adam."
Adam kamu harus sadar
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂