Semua orang pasti memiliki Cinta Pertama..
Kapan waktunya kita tak dapat menentukannya..
Seperti yang dialami Intan , gadis remaja yang kini baru merasakan cinta pertamanya di sekolah menengah pertama..
Bagas kakak kelas Intan, sosok yang selalu membuat jantung Intan berdebar lebih cepat dari biasanya..
Dari sinilah perjalanan cinta Intan di mulai..
Bagaimana kah, kelanjutan kisah cinta pertamanya? akan kah terbalas? ataukah sebaliknya??..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teguran
Hari itu Intan terlihat bosan, karna ia sudah menyelesaikan ulangannya dengan cepat. Bukannya sombong, hanya saja ulangan hari itu memang mata pelajaran yang Intan suka dan kebanyakan soal materinya sesuai dengan yang intan pelajari sebelumnya.
Ia mengedarkan pandangan ke seluruh kelas, tampak teman-temannya masih fokus mengerjakan, ada beberapa juga yang malah santai yang Intan yakini sedang menunggu contekan dari teman lainnya.
Intan, melihat Ifa juga masih fokus mengerjakan ulangannya. Ia tersenyum, mengingat Ifa sudah berusaha keras untuk belajar belakangan ini. Ia pasti akan mendapatkan nilai yang bagus.
"Uda selesai?" tanya Bagas setengah berbisik, setelah dilihatnya Intan yang sudah menutup kertas ulangannya sedari tadi dan ia juga melihat bahwa gadis itu tengah bosan, karna dari tadi Intan terus merubah posisinya.
"Eh, iyaa. Soalnya materinya sesuai semua sama yang aku pelajari" jawab Intan juga setengah berbisik. Kelas masih sepi karna yang lain masih fokus.
"Wah-wah, kamu pinter juga yaa" ucap Bagas sambil tersenyum menggoda.
"Ihh, apa'an sih. Biasa aja kak" jawab Intan gugup melihat senyuman Bagas itu.
"Kakak sendiri uda selesai?" Imbuh Intan yang juga melihat Bagas sudah menutup kertas ulangannya, padahal waktu masih kurang 30 menit lagi.
"Iya, baru saja" jawab Bagas
"Berarti kakak juga pinter dong" ucap Intan balik menggoda Bagas dan Bagas hanya tersenyum salah tingkah, melihat itu Intan menahan tawa.
"Bosen nih kak" ucap Intan, sambil meletakkan kepalanya diatas meja dan menoleh ke arah Bagas.
"Sama, aku juga" jawab Bagas dengan melakukan hal yang sama seperti Intan.
Beberapa saat mereka tetap diposisi masing-masing, saling pandang walaupun pikiran mereka kini sedang mencari topik untuk dijadikan bahan obrolan.
"Eh, Tan. Kamu suka acara ceramah gak?" tanya Bagas, seakan menemukan bahan obrolan bagi mereka.
"Gak semua sih kak, tapi ada satu ceramahnya ustad A, pertama kali aku dikasih tau sama Ifa. Lucu banget jadinya betah deh kalau lagi dengerin, hehe" Ucap Intan sambil mengingat bahwa belakangan ini ia memang suka ceramah ustad A.
"Wahh, Sama dong. Aku juga suka banget sama ceramah ustad A" kata Bagas tersenyum lebar ke arah Intan.
"Beneran?" tanya Intan tak percaya. Ia senang bukan main, ia tak menyangka ia memiliki kesamaan hal yang disuka dengan Bagas.
Makasih Ifa, karna kamu uda ngenalin ustad A ke aku. Dengan begini aku selangkah lebih maju.
Bagas pun mengangguk yakin.
"Kamu tau kan yang bagian perbedaan orang kaya-miskin" tanya Bagas sambil mengingat salah satu tema ceramah.
"Ah iya yang naik angkot sama mobil ac itu kan?" Tanya Intan yang juga teringat dengan sepenggal ceramah dari ustad A.
Kemudian, mereka pun saling menceritakan bagian-bagian dari ceramah yang menurut mereka itu lucu dan tak urung bagi mereka tertawa lepas mengingat bagian ceramah yang lucu itu. Mereka seakan lupa bahwa mereka berada di ruang ujian dan semua sedang fokus saat ini.
Tanpa mereka sadari sudah banyak mata dari teman Intan maupun Bagas yang melihat ke arah mereka, tapi seakan buta Intan dan Bagas masih asyik bercerita dan tertawa.
"Temen kamu tuh lagi bahas apa sih sama Bagas, sampe mereka ketawa kenceng banget gitu. Ganggu konsentrasi aja" omel kakak kelas yang duduk di samping Ifa, sambil melirik ke arah Intan dan Bagas yang tertawa.
Ifa hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia tak bisa mendengar obrolan mereka, hanya tawa dan cekikikan yang ia dengar. Ia pun menoleh ke arah Intan dan Bagas. Dengan iseng ia mengabadikan lagi momen itu. Biar Intan nanti pasti bakal malu kalau lihat itu. Ucapnya dalam hati, ia juga geram dengan Intan, konsentrasinya terganggu gara-gara mendengar tawa mereka berdua.
"Intan!! Bagas!! Diam!!" seru guru penjaga dengan keras ke arah Intan dan Bagas, ia sudah sedikit bersabar menanti agar Intan dan Bagas sadar kalau mereka sedang di ruang ujian, tapi makin lama tawa mereka berdua semakin menjadi.
Mendengar teriakan itu, Intan dan Bagas langsung menoleh mereka seakan baru tersadar dimana mereka berada saat ini. Dapat Intan lihat guru penjaga itu sedang melotot tajam ke arahnya dan Bagas. begitupun juga teman-teman dan kakak kelasnya, mereka sedang menatap Intan dan Bagas tajam, seakan mengatakan 'syukurin'.
"Kalian ini dari tadi ibu biarkan supaya kalian sadar ada dimana, kok malah makin kenceng ketawanya. Sadar atau tidak kalian ini ada di ruang kelas, apa kalian tidak kasihan dengan teman kalian yang konsentrasinya terpecah karna tawa kalian" omel guru penjaga. Intan dan Bagas hanya saling lirik dan menunduk.
"Sekarang kalian pilih aja, diam atau keluar" sambung guru penjaga lagi.
"Maaf" ucap Intan dan Bagas bersamaan.
Kemudian, suasana kelas kembali berjalan normal.
Intan melirik ke arah Bagas yang kebetulan Bagas juga melirik ke arahnya, mereka saling pandang kemudian menahan tawa bersama. Mereka seakan geli dengan apa yang baru mereka alami.
Aku harap bisa seperti ini tiap hari
Untuk pertama kalinya Intan tidak bingung atau sedih ketika ditegur oleh guru. Malah sebaliknya, ia seakan rela ditegur tiap hari asal bisa ketawa seperti itu lagi dengan Bagas.
Intan menunduk membenamkan wajahnya dibalik lipatan tangannya, menyembunyikan wajahnya yang terasa memanas, ia tersenyum senang.
------------------
"Kamu tadi tuh, ngobrolin apa sih sampe ketawa kayak gitu, ganggu konsentrasi tau gak" omel Ifa saat mereka berjalan ke kantin.
"Ngomongin ustad A, kamu tahu kak Bagas juga suka dengerin ceramah ustad A, jadi deh tadi kita ngetawain bagian-bagian lucu diceramah" jawab Intan sambil tersenyum senang.
"Makasih ya Fa, karna kamu uda ngenalin ustad A ke aku. Seneng banget deh aku hari ini" sambung Intan sambil memeluk Ifa senang.
Ifa yang semula geleng-geleng ketika tahu apa yang membuat Intan ketawa seperti itu di kelas tadi, kini syok saat tiba-tiba Intan memeluknya erat seakan tak mau melepaskannya, untung saja Ifa bisa menahan keseimbangan tubuhnya, jika tidak mungkin mereka berdua sekarang sudah berguling di tanah dan dijamin deh bakal jadi pusat perhatian banyak orang.
"Ish, hati-hati dong Tan. Untung nih kita gak jatuh" omel Ifa yang hanya mendapatkan cengiran oleh Intan.
"Makasih doang basi Tan. Gak ada niatan bayarin jajanan aku hari ini gitu" sambung Ifa dengan menatap Intan penuh makna.
"Dasar, banyak maunya. Tapi karna aku lagi berbaik hati sekarang, maka aku bayarin deh jajan kamu hari ini" jawab Intan yakin.
Mendengar itu Ifa langsung berteriak senang dan berlari masuk ke kantin terlebih dahulu. Membeli semua makanan yang ia suka.
Intan yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia memang tahu kalau temannya itu suka makan, dan siap-siap aja deh jadi tekor hari ini untuk membelikan Ifa jajan.
.
.
.
Bersambung..
harusnya tokohnya sudah SMA minimal kelas 9 lah
sukaaa ceritanyaaa thorrr 😍
tinggalin jejak juga yaaa di novelku ASIYAH AKHIR ZAMAN 😊
mari qt slg dukung. like balik novel q
the thunder's love
mari saling mendukung terimakasih
Kutunggu kedatangan kalian.
Terima kasih.