“Kamu bukan mandul, Jani... Dia aja yang nggak ngerti caranya bikin anak.”
Pandu berbisik di telinga Anjani—tepat setelah tubuhnya gemetar dalam pelukan pria yang benar-benar tahu letak gairah dan luka.
Anjani duakan dan dicerai di hari anniversary pernikahan. Ditampar kenyataan pahit: suaminya berselingkuh dengan mantan dan mertuanya menyalahkan rahimnya yang dianggap “kosong”.
Padahal yang kosong... bukan rahimnya, tapi hati suaminya.
Datanglah Pandu—teman suaminya, seorang dokter kandungan, dan lelaki yang diam-diam sudah jatuh cinta sejak lima tahun lalu.
Dan malam itu, di bawah cahaya temaram dan bisikan lembut, Pandu membuktikan semuanya,
Bahwa tubuh Anjani subur.
Bahwa luka Anjani bisa sembuh.
Dan bahwa cinta yang dalam bisa mengisi tempat yang selama ini tak pernah disentuh dengan benar.
Satu kali disentuh Pandu... dua garis merah muncul. Dan hidup Anjani tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dara85, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETIKA UDAH MENTOK SALING CINTA?
Pandu berlalu dari rumahnya, meninggalkan Anjani menuju rumah sakit.
“Aku berusaha, Mas. Aku mau jatuh cinta sama kamu,” ucap Anjani pelan sambil berjalan kembali masuk ke dalam rumah.
“Oke… terus… aku ngapain nih?”
Anjani kebingungan. Ia tak tahu harus mengerjakan apa.
“Ehm… nonton TV aja deh.”
Anjani berbaring di dalam kamar, menonton televisi. Tak sengaja, ia melihat dompet milik Pandu yang tertinggal.
“Kayaknya ini emang isi uang doang, nggak ada identitas lain. Aku telepon dia aja lah.”
Anjani menghubungi Pandu.
“Iya, Beib. Belum jauh ini, kenapa?” jawab Pandu dari seberang telepon.
“Mas… dompet kamu ketinggalan.”
“Iya, sengaja. Nanti kamu mungkin mau beli apa-apa, jadi pakai uang itu aja, Beib.”
“Serius, Mas? Tapi kamu percaya sama aku kalau soal uang sama dompet…?”
“Kamu tanggung jawab aku sekarang. Aku percaya sama kamu.”
Anjani tersenyum, mendengar ucapan Pandu yang menegaskan bahwa kini ia adalah tanggung jawabnya.
•••
Tujuh hari mereka satu rumah.
“Mas, ini bekal kamu. Habisin, loh.” Anjani meletakkan kotak makan berwarna biru di atas meja makan.
“Iya... Beib,” sahut Pandu, yang hendak masuk ke kamar mandi.
“Terus... apa kita nggak buat anak, Mas?” tanya Anjani sambil mendongak dan dengan jahil mencoba membuka kancing baju Pandu.
Tanpa banyak bicara, Pandu langsung menggendong Anjani ke dalam kamar mandi.
“Ayo,” ucapnya sambil tersenyum dan membuka kemejanya.
“Mas... maaf... aku cuma iseng... belum siap...” Anjani mulai gugup dan memeluk dirinya sendiri, ketakutan saat melihat tubuh kekar Pandu dari jarak dekat.
“Gimana sih, Beib? Tadi kamu yang ngajak. Aku bisa, loh... bahkan sambil berdiri.”
“Hah?! Mas... anu... aku... malam aja deh, Mas... please...” Anjani menatap Pandu dengan tatapan bingung bercampur malu.
“Hahaha. Kamu takut?” Pandu mendekat perlahan.
Anjani tersudut ke dinding kamar mandi.
“Mas, jujur... iya, aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut sakit...”
“Calon janda kok masih polos gini?” goda Pandu sambil tertawa pelan.
“Mas... jangan gitu. Aku lihat... kamu... eh... ya gitu deh.”
“Gitu gimana, Sayang?” Pandu menatap matanya dalam-dalam, lalu mengusap pipinya lembut.
Anjani hanya menunduk. Pandu pun menarik tubuhnya ke dalam pelukan, membiarkannya bersandar di dadanya yang hangat dan kokoh. Ia mencium kening Anjani perlahan, penuh kasih.
“Aku nggak akan nyakitin kamu. Aku cuma pengen kamu nyaman, tenang. Kita nggak harus buru-buru,” bisik Pandu.
Anjani mengangguk kecil. Mereka saling menatap, sebelum bibir mereka kembali bertemu dalam ciuman yang pelan namun dalam. Pandu memangkun Anjani dan membawanya duduk di atas pahanya.
Ciuman itu tak sekadar mesra. Tangan Pandu mulai menyusuri punggung Anjani, sementara jemari Anjani menggenggam bahu Pandu erat, seakan takut kehilangan pijakan.
Saat Pandu menciumi leher dan bahu Anjani, nafasnya mulai tak beraturan. Anjani memejamkan mata, menyerahkan diri pada dekapan yang membuatnya merasa aman, bukan sekadar diinginkan—tapi dicintai.
“Aku nggak nyangka... kamu bisa sehangat ini, Mas,” bisik Anjani dengan suara bergetar.
Pandu tersenyum. “Kamu subur, Sayang,” bisiknya, sebelum kembali mendaratkan ciuman panjang di bibir Anjani.
Lidah keduanya terpaut, bergelut menjadi satu di dalam rongga mulut dan saling tarik ulur.
“Mas ...” bisik Anjani, saat Pandu tengah mencumbu lehernya.
“Kenapa?” ucap Pandu dengan suara pelan.
“Jadi aku bisa hamil?”
“Bisa,” ucap Pandu.
Pandu menghentikan kegiatan mengasyikkan itu ketika melihat jam menunjukkan pukul lima sore pada tembok kamar mandinya.
“Kok berhenti, Mas?”
“Aku harus kerja. Nanti aku telat. Aku nggak suka main sebentar kayak gini, Yang. Aku mandi dulu. Kamu mau ikut aku mandi?”
Keduanya mandi bersama sambil sesekali berciuman dan tertawa. Namun lucunya, Anjani tak siap melihat ukuran senjata milik Pandu. Ia meminta Pandu untuk mengenakan celana dalam saat mandi bersama.
Anjani membantu Pandu berpakaian seperti biasanya selama tinggal satu atap.
“Jangan kerja berat, tiduran aja, tunggu aku balik, jam tiga pagi,” bisik Pandu sambil memeluk Anjani.
“Oke, Mas. Hati-hati kerjanya. Terus, aku izin ngerumpi sama ibu-ibu sini, boleh kan?”
“Geng halu kamu itu?” tanya Pandu sambil menahan tawa.
“Hahaha, iya geng aku, Mas.”
•••
Selama beberapa hari terakhir, Anjani kini memiliki geng beranggotakan para ibu muda di sana. Ia pun didapuk menjadi admin dalam grup aplikasi berwarna hijau itu dan menjadi wakil ketua dari Geng Sayuran.
Syarat menjadi anggota geng: harus memiliki tingkat ke haluan yang tinggi pada artis drakor atau boyband Korea yang mereka sukai. Jika tidak, mereka tidak bisa bergabung dalam geng itu.
Bahkan, Anjani berkhayal jika Junkook adalah adiknya dan Jimin adalah sepupunya.
Bukan hanya itu, skin aplikasi hijau mereka pun bergambar artis Korea.
Terkadang, Pandu hanya menggeleng kepala saat melihat tingkah Anjani yang kadang tertawa sendiri dan menangis bersamaan saat menonton drakor.
Pandu menjadi korban kekerasan dari Anjani ketika sedang menonton adegan selingkuh atau hal yang menyedihkan. Memukul dan menggigit Pandu, itu yang Anjani lakukan saat khusyuk menonton drakor.
Sore itu mereka berpisah. Pandu bersiap pergi untuk bekerja. Anjani bersemangat. Ia berlarian menuju rumah ketua geng, tempat para anggota sudah menunggunya.
“Maaf, telat, Ibu-ibu,” ujar Anjani sambil mengatur napas dan tersenyum cerah.
“Iya, kagak apa-apa. Laki lu baru pergi kan?” tanya salah satu anggota geng sambil mengunyah camilan.
“Iya, baru aja,” jawab Anjani sambil duduk di kursi teras.
“Eh ... laki lu balik lagi tuh!” ucap seorang ibu lainnya sambil menunjuk ke arah kendaraan Pandu yang berhenti di depan rumah.
“Loh, kok? Tunggu ya,” kata Anjani cepat, lalu berlari kecil kembali ke rumah.
Anjani berlari menuju mobil Pandu yang sudah berhenti di depan pagar rumah.
“Mas, kok balik lagi?” tanya Anjani dengan napas memburu.
“Belum cium kamu tadi,” sahut Pandu sambil membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
Pandu turun dari mobil dan langsung mencium Anjani dengan lembut.
“Ciuman dulu dia,” celetuk salah satu anggota geng dari kejauhan.
“Eh buset ... mesra banget,” sahut yang lain, tertawa geli sambil menutup mulut.
“Hahaha ...,” tawa mereka berderai di antara kehebohan kecil itu.
Tanpa disadari oleh Pandu dan Anjani, adegan mesra itu ternyata disaksikan geng ibu-ibu dari balik pagar teras rumah ketua geng.
Mereka akhirnya berpisah. Pandu kembali ke mobil dan membunyikan klakson saat melewati depan rumah.
“Maaf, tadi laki aku mau cium dulu,” ucap Anjani polos, sambil kembali duduk bersama gengnya.
“Iye, Jani ... kita pada liat,” sahut seorang anggota geng sambil tertawa ngakak.
Mereka pun tertawa bersama dan kembali melanjutkan rumpian yang sempat tertunda—tentang drakor, boyband, dan halu-halu yang membahagiakan.
dah kita hidup damai sejahtera aja lah
makanya gaes,kalau mau ngapa ngapain bawa kaca dulu dirumah yaaa
jadi pastiin orang ga bisa balikin omongan kita🤣🤣
mudah mudahan beneran tobat yaa
bukan kumat 🤣🤣
jangan dalem dalem liatnya,yg ini mau juga lagi. repot dah😔🤭🤣