Kisah ini mencertiakan tentang Zahra gadis manis yang berasal dari desa.
Zahra adalah anak yang sangat berbakti kepada kedua orangtua nya. Dia bertekad menjadi orang sukses.
Zahra pun pergi merantau ke kota untuk bekerja.
Gadis itu tidak pernah menyangka dalam perjalanan hidup nya dia bertemu dengan Pria Tampan dan sukses.
Dialah Arfan pratama, Pria tampan dan sukses tapi sayang dengan kepribadian yang dingin dia selalu gagal dalam hubungan asmara nya.
Akankah Zahra dan Arfan akan bersatu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saffana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA TERSELUBUNG
Sore menjelang waktu maghrib. Zahra gadis manis itu baru saja tiba di stasiun tujuan nya. Gadis itu bergegas langsung menaiki ojek. Guna mempercepat waktu, mengantarkannya ke Rumah sakit tempat Bapak nya di rawat.
Gadis manis itu sudah lebih tenang, butiran air bening pun sudah tak keluar dari kedua netra indahnya.
Dari luar gadis manis itu terlihat sangat kuat dan tegar. Padahal jauh dari lubuk hati nya yang paling dalam dia merasa sangat rapuh, penuh cemas dan ketakutan akan kehilangan.
Perjalanan dari stasiun menuju Rumah sakit tidak terlalu memakan banyak waktu. Sesampainya di gedung besar dengan tinggi yang bertingkat lima itu. Membuat Zahra urung masuk kedalam gedung Rumah sakit daerah tersebut. Gadis itu berdiri terdiam banyak hal dirasakan nya yang tak bisa dia ungkapkan.
Zahra mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Gadis manis itu menghubungi sang Ibu, menanyakan ruangan tempat Bapak nya rawat. Setelah menutup panggilan, tak berselang lama Ibunya Zahra langsung menghampiri nya. Gadis itu sedang menunggu Ibu nya di lobi Rumah sakit tersebut. Dari kejauhan Gadis itu melihat wanita paruh baya bergegas menghampiri nya. Ya dialah sang Ibu tercinta dengan waktu yang cukup lama tak di jumpai nya.
Gadis itu langsung berhambur ke arah wanita paruh baya itu dan langsung memeluk Ibunya. Kedua wanita beda generasi itu saling berpelukan, mencurahkan kerinduan yang beberapa bulan ini baru tersalurkan. ibu dan anak itu saling menguatkan satu sama lain, berharap bisa tegar menghadapi cobaan yang sedang mereka hadapi.
Cairan bening pun tak luput membanjiri wajah keduanya. setelah cukup lama berpelukan, kedua wanita beda generasi itu pun mengurai pelukannya.
"Kenapa malah pulang, ibu kan sudah bilang tunggu aja di sana," tutur ibunya Zahra. Kini Ibu dan Anak itu sedang berjalan menyusuri lorong menuju tempat Bapak nya Zahra di rawat.
"Aku khawatir sama Bapak dan Ibu, gimana kondisi Bapak sekarang Bu?"
"Kondisi Bapak, untuk saat ini cukup stabil. Tekanan darah nya juga sudah normal, tapi … ada penyumbatan di di jantung nya, dari hasil pemeriksaan, jantung Bapak juga mengalami pembengkakan." Ibunya Zahra menjelaskan penyakit yang diderita Bapak nya itu.
"Astagfirullah." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Zahra. Gadis itu tidak mengira kalau Bapak nya mengalami sakit yang separah itu.
"Bukan hanya itu, sakit yang di derita Bapak neng," kata ibunya pada Zahra. Wanita paruh baya itu seakan berat menceritakan semuanya pada anak semata wayangnya itu. Tapi Anak nya juga berhak tau tentang penyakit Bapak nya tersebut.
"Bapak juga sering merasakan sakit kepala yang tak kunjung sembuh, dugaan dokter ada penyakit yang lebih serius dari sekedar sakit kepala biasa. Dokter sudah memberi surat rujukan untuk dibawa ke Rumah sakit besar yang ada di Jakarta. Besok pagi Bapak akan segera dibawa kesana menggunakan ambulance." Ibunya Zahra menjelaskan dengan detail dengan suara lirih pada anaknya teesebut.
Butiran bening langsung meluncur tanpa permisi dari kedua netra indah Zahra. Ibu dan nak itu sudah berada di depan pintu ruangan tempat Bapak nya terbaring lemas tak berdaya. Zahra langsung menghapus jejak tangisan nya mencoba bersikap biasa saja.
Gadis itu melihat Bapaknya sedang berbaring tertidur, wajah nya sangat pucat di tubuhnya terpasang beberapa selang yang membantu untuk meringankan sakit yang dideritanya.
Zahra langsung berhambur memeluk sang Bapak yang sangat dia cintai di dunia ini. Butiran bening itu meluncur deras keluar dari sudut matanya. Sungguh melihat penderitaan Bapak nya membuat dia lemah tak berdaya.
Bapak nya terbangun, Pria paruh baya itu melihat anak perempuan satu-satunya Menangis tersedu memeluk dirinya.
"Ra … Anak Bapak kenapa nangis?" lirih Pria paruh baya itu pada anak nya dengan suara yang pelan. hampir tak terdengar dengan jelas.
Mendengar suara sang Bapak, Gadis itu langsung menghapus air matanya. Gadis itu menatap netra sendu yang baru saja terbuka.
"Bapak … kenapa bisa sakit sampai separah ini," ujar Zahra menatap sendu pada Bapaknya.
"Bapak nggak apa-apa Neng, kondisi Bapak sudah jauh lebih baik sekarang," jawab Bapak nya meyakinkan Zahra agar tidak membuat anak nya khawatir.
Ibunya yang sedari awal menyaksikan interaksi Bapak dan Anak itu langsung meneteskan air mata. Wanita paruh baya itu berdoa di dalam hatinya, berharap di beri kekuatan dan selalu tegar dalam menghadapi cobaan yang menimpa keluarga nya itu.
***
Arfan sedang disibukan dengan pekerjaan nya membantu kasir di Bawah. Restonya itu semakin hari semakin ramai tak jarang Bos nya itu membantu. Berhubung masih belum mendapatkan pegawai baru Arfan terpaksa ikut meringankan beban karyawan nya yang terbatas itu. Pria tampan itu sebenarnya tidak tega melihat semua karyawan keteteran, tapi, mau bagaimana lagi belum ada satupun orang yang cocok menurut Pria tampan itu. Ada beberapa pelamar yang datang, malah Arfan tidak menerimanya.
Pengunjung yang sedang makan pun saling berbisik, terutama kaum hawa mereka menatap takjub melihat wajah tampan yang dimiliki Arfan.
"Kok, ada ya manusia sempurna seperti Cowok itu," bisik salah satu Gadis pada teman di sebelahnya yang duduk tak jauh dari meja kasir.
"Iya,ganteng nya setara aktor-aktor terkenal, badan nya tinggi, putih, hidung mancung dan bentuk bibirnya seksi banget, tipe gue banget!" sahut temannya menimpali ucapan teman yang duduk di sebelahnya.
Tak lama Arfan memanggil Agung. Pria itu sedikit tidak nyaman menjadi pusat perhatian. Apalagi suara obrolan para Gadis yang sedang melihat nya cukup keras. Semua yang mereka ucapkan terdengar oleh Arfan.
"Gung, tolong kemari!" Perintah Arfan suaranya sedikit keras sehingga Agung langsung menoleh dan langsung menghampiri Bosnya itu.
"Iya Pak," jawab Agung.
"Saya sudah lelah, tolong kamu gantikan." Arfan berkata pada agung menyuruh karyawan nya itu menggantikannya.
"Baik, siap Pak!" Agung pun langsung berpindah posisi dan Arfan langsung melangkah pergi menuju ruang kerja nya.
Para Gadis yang sedang duduk pun terlihat kecewa karena objek yang mereka kagumi sudah tak terlihat lagi.
Arfan sudah merebahkan dirinya di atas sofa panjang di ruang kerja nya.
Pria itu menekan nomor ponsel menghubungi Rian kembali.
"Tut,tut," bunyi sambungan telepon terhubung.
Tak lama Rian yang jauh di sebrang sana menerima panggilan telepon dari Arfan.
"Halo," jawab Rian singkat.
Arfan langsung mengeluarkan suara nya berbicara pada Rian
"Gue bakal naikan jabatan lo!" ujar Arfan dengan nada terdengar serius pada sahabat nya itu.
"Hah, serius … lo nggak bohong kan?" Rian sangat terkejut sekaligus senang mendengar ucapan yang baru saja dia dengar.
"Tapi dengan satu syarat," lanjut Arfan tersenyum bibirnya melengkung terangkat ke atas.
LOgiKA