Berteman cukup lama, tidak cukup bagi seorang pemuda bernama Bara Zayyan berani mengakui perasaannya pada seorang gadis cantik bernama Alisa Aileen Nathania yang tak lain adalah teman satu kelasnya sendiri.
Namun sikap dan perlakuan Bara selama ini pada Ica nama panggilan untuk gadisnya, membuat siapapun bisa menerka jika Bara memang punya perasaan lebih pada gadis itu.
Hingga akhirnya Bara memilih pergi jauh setelah lulus dari SMA dengan membawa rasa yang belum sempat terucap.
"Aku pergi bukan bermaksud untuk menghapus rasa ini, hanya saja aku sedang berjuang untuk memantaskan diri ini untukmu. Kelak saat kembali, aku berharap kita bisa bersama meski nanti keadaanmu mungkin tak lagi sama. Namun aku pastikan saat itu cintaku masih tetap sama" Bara Zayyan
"Kenapa tidak dari dulu kamu memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa, mengapa harus menunggu waktu yang begitu lama. Dan maaf, saat ini kita sudah tidak bisa bersama karena mungkin keadaanku yang tak lagi sama" Alisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risalah_Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan
Tanpa terasa kini masa pertunangan Ica dan Kahfi sudah memasuki tahun kedua. Itu artinya tidak lama lagi pernikahan mereka akan segera dilangsungkan.
Dalam kurun waktu dua tahun, hubungan keduanya nampak jauh dari konflik. Meski dikampus Kahfi menjadi salah satu the most wanted yang sangat digilai para mahasiswi dikampusnya, namun sejauh ini Ica belum pernah melihat atau mendengar jika tunangannya ini bermain dibelakang. Entah karena fakultas yang mereka ambil berbeda, jadi sangat jarang sekali mereka ada jam kuliah yang sama. Atau memang Ica yang sengaja mengabaikan hal itu.
Icapun juga nampak acuh manakala dirinya sering di datangi para gadis yang mengaku fans berat Kahfi. Tak jarang para perempuan itu datang pada Ica dengan marah-marah, ada yang menyuruh Ica buat ngelepas Kahfi, ada yang memintanya agar dikenalkan pada Kahfi, atau ada yang hanya sekedar minta agar diberi nomer ponselnya dan masih banyak lagi.
Bagi Ica selama mereka masih bertindak dalam batas wajar, dia memilih untuk tidak menghiraukan mereka. Karena bagi Ica tujuannya kekampus hanya satu, yaitu belajar dan belajar. Untuk urusan yang lain Ica tak mau ambil pusing.
"Mah....Ica dimana, ada yang mau papa bicarakan penting. Mama sama Ica papa tunggu diruang keluarga" Pak Hariz yang terlihat baru datang langsung menghampiri istrinya. Jika melihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya ada hal penting yang akan dibahas oleh suaminya ini.
Dan kini disinalah mereka berada. Setelah memanggil Ica, bu Sarah mengajaknya langsung menuju ruang keluarga untuk bergabung dengan pak Hariz yang nampaknya sudah menunggu mereka disana.
Melihat istri dan anaknya sudah datang, pak Harizpun langsung membicarakan hal yang sejak awal ingin disampaikannya tadi.
"Mah....tanggal pernikahan Ica dengan Kahfi sudah ditentukan. Mereka akan menikah bulan depan"
Deg.....
Jantung Ica rasanya terhenti sejenak. Ucapan papanya barusan terasa seperti suara petir disiang bolong.
Sungguh dirinya tidak menyangka jika rencana itu masih berlanjut. Melihat bagaimana kedua orang tuanya dan juga Kahfi yang hampir setahun ini sudah tidak pernah lagi membahas masalah pernikahan mereka. Membuat Ica berfikir jika mungkin diantara kedua orang tua itu sudah ada kesepatakan untuk menundanya minimal sampai mereka menyelesaikan kuliahnya.
Namun diluar dugaan, nyatanya mereka sudah mempersiapkan segalanya dengan begitu matangnya. Bahkan disini yang terlihat paling antusias adalah mamanya Kahfi.
Menurut penjelasan papanya barusan, semua urusan dekorasi, gedung, undangan, MUA, sampai masalah cateringpun semua sudah dipersiapkan dengan sempurna. Hanya tinggal satu saja, yaitu fitting baju untuk kedua mempelai.
"Ca....papa harap kamu tidak keberatan dengan keputusan ini. Dan lagi rencana ini sudah kamu ketahui sejak awal kamu sama Kahfi bertunangan. Jadi papa harap kamu untuk tidak mencari alasan agar bisa menghindar dari pernikahan ini"
Ica yang diajak bicara memilih untuk diam saja. Sungguh dirinya masih terlihat begitu kaget dengan apa yang papanya ucapkan barusan.
"Ca....kamu denger kan maksud omongan papa barusan" Pak Hariz nampak bertanya karena Ica yang dari tadi terlihat hanya diam saja tanpa sekali saja mau menanggapinya.
Ditanya seperti itu, membuat Ica tak enak hati untuk mengabaikannya. Dengan berat hati Ica terpaksa menjawab pertanyaan yang dilontarkan papanya pada dirinya dengan menganggukkan kepalanya
"Pah....Mah....Ica pamit kekamar dulu"
Terlihat Ica memilih untuk beranjak lebih dulu begitu dirasa papanya sudah selesai berbicara. Dirinya tidak berminat sama sekali untuk sekedar bertanya atau menanggapi masalah pernikahannya ini. Sungguh Ica masih sedikit kaget dan butuh waktu untuk sendiri. Untuk dirinya mencerna semua keadaan ini.
Bu Sarah nampak memberi kode pada suaminya agar membiarkan Ica untuk beranjak lebih dulu. Menurut bu Sarah, biarlah untuk sementara waktu membiarkan Ica untuk sejenak memikirkan ini. Karena bu Sarah yakin kalau Ica tidak akan melakukan hal-hal bisa membahayakan dirinya.
"Bar.....gak terasa udah dua tahun lamanya. Dan selama itu pula aku belum pernah sekalipun tau tentang bagaimana keadaanmu" Ica terlihat memeluk erat jaket milik Bara.
Entah kenapa disaat seperti ini Ica malah teringat akan sosok Bara. Dan setiap kali dirinya merindukan Bara pasti dia akan langsung mengambil jaket milik Bara yang dulu sempat tertinggal padanya dan langsung memeluknya. Bahkan sampai saat ini jaket itu belum sekalipun pernah Ica cuci. Ica takut jika dia mencucinya maka bau parfum Bara yang melekat pada jaket itu pudar.
Icapun kemudian mengambil sesuatu dari dalam lemari kecil yang berada disalah satu sudut kamarnya.
Selama pernikahan itu belum terjadi, maka selama itu pula aku tidak akan pernah berhenti berharap semoga rasaku ini bisa terhubung dengan rasamu. Hingga hatimu disana bisa tergugah untuk memperjuangkanku menggapai restu dan mengikatku dengan ikrar suci didepan penghulu.
Tanpa sadar jemari lentiknya mulai menari, menggoreskan kata demi kata yang mewakili kondisi perasaannya saat ini.
Sudah menjadi kebiaasan Ica, dirinya selalu menjadikan buku hariannya sebagai teman untuk mengungkapkan segala bentuk perasaannya. Karena dengan ini Ica merasakan jika dirinya seolah menemukan teman untuk menampung segala keluh kesahnya. Dan berbagi setiap kebahagiaan yang dirasakannya.
Sementara jauh diseberang sana, Bara seolah merasa ada yang aneh dengan perasaannya. Ditengah tidurnya yang mulai lelap, tiba-tiba dirinya terjaga. Entah kenapa bayangan Ica tiba-tiba muncul begitu saja tepat dipelupuk matanya. Wajahnya nampak begitu jelas sekali. Saking jelasnya, Bara sampai mengira jika Ica saat ini seperti sedang berada dihadapannya.
"Kenapa tiba-tiba kamu hadir Ca, apakah ada suatu hal yang terjadi padamu. Atau mungkin ini karena aku yang begitu merindukan kehadiranmu" Bara terlihat berguman sendiri.
Barapun menggeserkan dirinya dari posisinya saat ini. Tangannya terlihat meraih ponsel miliknya yang berada diatas nakas. Dia membuka ponsel itu dan langsung mencari sesuatu disana.
Rupanya foto Ica yang menjadi objek tujuannya. Barapun terlihat memandangi wajah gadis yang sampai saat ini masih setia menempati relung hatinya.
Ingin rasanya Bara menyapa gadisnya meski hanya lewat udara. Namun entah kenapa sampai saat ini dia belum juga memiliki keberanian untuk melakukannya.
Barapun memilih kembali merebahkan tubuhnya. Meski sulit, Bara tetap memaksa memejamkan kedua bola matanya agar bisa terlelap.
Dirinya tak ingin berlama-lama menatap foto itu. Karena setiap kali melihatnya, Bara merasa menjadi seorang laki-laki pengecut. Bagaimana tidak, dirinya sudah seperti seorang prajurit yang pulang sebelum sampai dimedan perang. Bagai seorang pendaki yang memilih turun sebelum sampai pada puncaknya karena takut akan aral yang mungkin saja melintang.
Kesalahan terbesarnya adalah dirinya memilih pergi tanpa sekalipun berusaha mengatakan pada gadis yang teramat dicintainya tentang apa yang dirasakannya selama ini dengan alasan yang sama sekali tidak masuk akal.
"Dua tahun lagi Ca, apapun keadaanmu aku akan tetap mengungkapkannya. Karena saat itu tujuanku kembali hanya untuk kamu". Ucap Bara dalam hati. Dan setelah mengatakan itu, Bara kembali berusaha memejamkan kedua matanya agar bisa terlelap.
jangan lupa mampir di karyaku ya kak🙏
semangat terus nulisnya
lah". ❌