Demian tidak pernah diberi tahu jika tender yang berpeluang untung milyaran itu hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan dengan seorang Direktur yang sudah berkeluarga.
Tanpa pikir panjang, dia pun menarik Sarah, sekretarisnya, ke depan altar Gereja untuk dijadikan sebagai istri sah di detik-detik terakhir tender itu ditutup.
Sarah yang saat itu sedang mumet dengan urusan pekerjaan dan kekasihnya tidak diijinkan untuk protes dan mengelak. Dalam sekejap sebuah cincin berlian sudah melingkar di jari manisnya yang ia takutkan akan merusak semua mimpi-mimpi indahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip baru.
Demian tidak bisa menggambarkan kekecewaan yang kini dia rasakan. Sarah benar-benar pulang ke Jakarta keesokan harinya. Gadis itu berulang kali mengirim pesan permintaan maafnya lewat chat WhatsApp karena Demian menolak membuka pintu kamar hotelnya. Demian benar-benar patah hati melihat Sarah yang masih peduli pada pria yang jelas-jelas selingkuh di depan matanya.
Setelah ini Demian bingung harus bersikap bagaimana kepada Sarah. Sepertinya dia saja yang merasa ada kemajuan di dalam hubungan mereka. Ternyata ciuman-ciuman mereka selama dua hari ini tidak ada artinya bagi gadis itu. Padahal Demian sendiri melakukannya dengan melibatkan seluruh hatinya. Namun sepertinya Sarah hanya menganggap itu sebagai aktivitas biasa untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Buktinya, tidak ada sedikit pun rasa yang muncul di benak gadis itu. Dia tetap bersikap biasa saja dan ketus pada Demian.
Saat pertemuan kedua dengan tim Joseph berlangsung, Demian kebanyakan diam. Narator yang bertanya kepadanya sering kali hanya mendapat jawaban singkat, seperti orang yang tidak fokus. Namun Demian masih bisa melakukan presentasi dengan baik meski pun itu seharusnya bagian Sarah. Sarah yang mungkin sedang menemani Grasian di Rumah Sakit sekarang.
"Pak Demian, Ibu Sarah ada keperluan mendadak ya sampai harus pulang ke Jakarta?" Joseph sempat menyinggung perihal kepulangan Sarah saat meeting selesai. Demian bisa menangkap ekspresi tidak puas dari pria paruh baya itu, membuat Demian ingin tertawa dalam hati. Memang, bertemu Grasian bukanlah tujuan Sarah yang disukai Demian, tapi Demian lebih tidak suka melihat pria tua ini mendekati Sarah di depan matanya.
"Iya, Pak. Saya juga memohon maaf karena ini dadakan. Keluarganya ada yang harus dioperasi dan meminta dia pulang. Pak Joseph tidak keberatan kan jika siang ini makan berduaan dengan saya?" canda Demian.
Jospeh tertawa, "Tentu saja tidak, kebetulan saya punya banyak hal yang ingin didiskusikan dengan anak muda seperti anda. Ayo, saya punya restoran yang recommended di kota ini."
Demian dan Joseph pun menghabiskan waktu mereka berbincang-bincang sambil menikmati hidangan seafood di salah satu sudut kota metropolitan itu. Mereka membahas banyak hal di luar kerja sama mereka. Tentang Kota Surabaya, tentang Amber, tentang marriage life yang sudah berpuluh-puluh tahun, tentang politik dan segala halnya. Hingga Joseph melontarkan satu pertanyaan yang membuat Demian terdiam.
"Lalu Pak Demian dan Ibu Sarah ... katanya sudah menjadi partner kerja empat tahun lebih. Apa kalian tidak pernah punya ketertarikan satu sama lain?"
Demian tersenyum kecil mendengar pertanyaan menjebak itu. Entah apa maksud Joseph menanyakannya, yang jelas dia berharap Amber belum memberitahunya soal pernikahannya dan Sarah.
"Sarah itu adik sahabat saya, Pak. Saya sudah menganggapnya sebagai adik. Tidak lebih," jawabnya dengan santai dan percaya diri. Sebisa mungkin membuat Joseph berhenti memikirkan apa pun yang ada dipikirannya saat ini tentang dia dan Sarah.
"Hahaha, kalau saya jadi Pak Demian, mungkin saya sudah poligami loh. Soalnya saya melihat Ibu Sarah itu unggul dalam banyak hal."
Hati Demian sedikit terbakar mendengar ucapan random yang dilontarkan Joseph. Poligami katanya? Dasar tua bangka! Jangan-jangan selama ini dia sudah berimajinasi yang tidak-tidak tentang Sarah di kepalanya. Jika bukan karena mereka adalah partner bisnis, tangan Demian sudah sangat gatal ingin meninju wajah pria itu.
"Benar sekali, Pak. Karena keunggulannya itulah semua pekerjaan saya menjadi lebih mudah. Mungkin jika tanpa Sarah, saya akan kesulitan dalam banyak hal," Demian masih tersenyum manis. Kali ini dia benar-benar teringat wajah Sarah yang sudah dirindukannya.
"Saya mengerti. Oh iya, kapan Pak Demian melamar Amber?"
Pertanyaan menjebak lainnya. Untung saja Demian dan Amber sudah sepakat dengan satu jawaban, jika kelak keluarga Amber mempertanyakan hubungan mereka.
"Saya dan Amber sudah selesai, Pak. Amber sebenarnya sudah memiliki pria lain ..."
*****
Saat ini Sarah sedang duduk kursi ruang tunggu tempat dimana Grasian sedang dirawat. Tidak ada orang lain di sana selain dirinya. Bahkan keluarga Grasian pun tidak ada yang datang.
Tadi pagi, sesampainya di bandara, Sarah langsung menuju Rumah Sakit dan langsung menemui pria yang masih berstatus sebagai kekasihnya itu. Sarah memilih mengesampingkan egonya yang sebenarnya berkata untuk tidak perduli. Dia paham bagaimana hubungan Grasian dengan keluarganya. Kosongnya ruang tunggu operasi saat ini adalah jawabannya.
Sarah mendesah sambil memperhatikan ponselnya. Chat-nya ke Demian hanya dibaca oleh pria itu, tidak ada niatan membalasnya sama sekali.
Apa aku harus meneleponnya? Batin Sarah.
Tapi dia pasti masih marah, kalau dia tidak mengangkat teleponnya, bisa-bisa aku semakin kepikiran. Hm ... biarlah, nanti juga baik sendiri. Lanjut Sarah bermonolog dalam hati.
Lampu di atas pintu ruang operasi berubah menjadi hijau, itu artinya operasi sudah selesai. Sarah cepat-cepat menyimpan ponselnya dan bangkit dari kursi. Dia menunggu sampai pintu itu terbuka dan tenaga medis keluar.
"Dengan keluarga Pak Grasian?" tanya seorang Dokter yang dikenal Sarah adalah Dokter yang bertugas menangani Grasian tadi.
"Iya, Dok. Saya kekasihnya."
"Operasi Bapak Grasian berjalan lancar. Sebentar lagi beliau sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat inap," jelas si Dokter sambil tersenyum. Seperti ada kepuasan batin karena sudah melalui jam operasi dengan lancar.
"Baik, Dokter. Terimakasih atas kerja kerasnya," Sarah membungkukkan sedikit badannya untuk memberi hormat.
Setelah Dokter tadi berlalu, pintu ruangan itu kembali terbuka. Kali ini suster dan perawat keluar sambil menggiring brankar dimana Grasian masih tertidur di atasnya. Ralat, mungkin bukan tertidur, tapi masih belum sadarkan diri karena masih di bawah pengaruh obat bius.
Sarah mengikuti perawat menuju kamar VIP yang sepertinya sudah dipilih Grasian. Sesampainya di dalam kamar, perawat memindahkan Grasian ke kasur dan mengatur semua keperluannya.
"Jika pasien sudah siuman, Ibu bisa panggil saya," pesan si perawat sebelum meninggalkan kamar tersebut. Sarah mengangguk tanda mengerti.
Sepeninggal perawat tersebut, Sarah duduk di sebelah kasur Grasian. Dia memandangi pria yang terlihat pucat itu dengan rasa iba. Ya, iba. Prihatin. Karena di saat begini pria itu hanya sendiri, bahkan Desty pun tidak kelihatan batang hidungnya.
Sarah sedikit goyah dengan pendiriannya. Amarahnya kepada pria itu karena sudah selingkuh seakan memudar. Di saat keadaan kritis seperti ini, pria itu justru memintanya yang datang. Bukan Desty, bukan juga keluarganya. Grasian masih menganggapnya sebagai orang yang paling dia butuhkan, yang paling dia percaya bisa selalu ada di sampingnya. Tapi bagaimana bisa dia tetap mengkhianati Sarah seperti itu?
Sarah begitu lelah. Penerbangan yang sangat dadakan lalu harus kejar-kejaran dengan jam operasi Grasian. Dia menidurkan kepalanya di sisi tubuh pria itu dan membiarkan dirinya terlelap beberapa saat kemudian.
*****
Sarah yang sudah terlanjur pulang ke Jakarta memilih untuk masuk kantor pagi ini. Berhubung sebelumnya dia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya sampai jadwal yang seharusnya mereka kembali dari Surabaya, Sarah memilih untuk mempersiapkan keperluan meeting perdana dengan Gottardo Group besok. Selain itu dia juga mempersilahkan divisi yang ingin melapor padanya jika ada kendala mau pun jika ada laporan yang akan diberikan ke Demian.
Sarah melihat jam analog di atas mejanya. Sudah jam dua siang, namun Demian belum mengabarinya soal penerbangannya hari ini. Berdasarkan tiket yang kemarin dia beli, seharusnya Demian sudah flight dan akan tiba di bandara sekitar pukul empat sore. Sarah juga sudah menelepon supir pribadi Demian untuk menanyakan apa pria itu sudah menghubunginya, namun supir pribadinya juga belum mendapat kabar apa pun.
Menghindari kesalahan, Sarah meminta supir pribadi Demian untuk stand by di bandara saja. Mungkin Demian tidak sempat atau kelupaan untuk memberi kabar, namun Sarah wajib dan harus ingat jika tidak mau mendapat amukan bosnya itu.
Namun hingga pukul setengah lima sore, Sarah mendapat info dari supir kalau Demian tidak muncul di bandara. Sarah sedikit bingung dan mencoba menghubungi pria itu. Anehnya teleponnya sudah aktif, namun tidak kunjung di jawab. Itu artinya dia sudah landing.
Saat jam pulang kantor, Sarah memutuskan akan ke apartemen Demian. Dia memasuki lift karyawan umum karena dia tidak sedang jalan bersama Demian. Sekelompok karyawan perempuan yang tidak terlalu dia kenal dari divisi mana sudah ada di dalam lift dan tersenyum ramah saat dia masuk. Mungkin dia tidak mengenal setiap karyawan kantor itu dengan detail, namun semua orang tentu mengenal Sarah, si sektetaris utama pak Direktur.
"Eh, lanjut dong gosip lo tadi ...," saat lift sudah berjalan, seseorang di belakang Sarah mulai berbisik.
"Ssttt ... ada Bu Sarah," bisik yang lain dengan suara yang lebih pelan.
"Kan gue kepo. Lo tau dari mana Pak Demian udah merried?"
Sarah tidak salah dengar. Perempuan itu jelas sekali menanyakan tentang Demian yang sudah menikah. Bagaimana isu itu bisa muncul? Sarah tiba-tiba berdebar. Bagaimana seandainya kebenaran itu terungkap?
Saat lift terbuka, Sarah buru-buru keluar. Dia harus menemui Demian secepatnya.
*****