Kisah seorang gadis yang terjerat hubungan sangat rumit, dia menikahi seorang pria yang sama sekali tidak dia kenal.
Gadis itu mengambil keputusan dalam desakan yang tidak bisa dipungkiri. Keinginan, cinta pertama serta cita-citanya dia lupakan karena suatu tragedi yang menimpanya.
Di suatu ketika dia mengetahui rahasia besar, kenapa suaminya menikahinya? Dan rahasia itulah yang membuat gadis itu berubah 180°.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia dan Niat
Muezza meletakan tas dan melepas jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Entah berapa kali gadis itu menghela napas berat dan entah apa yang mengusik pikirannya saat ini, yang pasti dia terlihat letih dan tidak bergairah melakukan apa pun.
Sekian lama terbengong menatap rembulan dari jendela, gadis itu berdecih lalu menarik handuk yang tergantung di belakang pintu. Selepas mandi dia melaksanakan sholat isya’ ditadahkan kedua tangannya lalu dia memanjatkan doa dengan khusyuk.
Masih dalam balutan mukena Muezza bersholawat nabi lalu menyebut nama Alun dengan hati yang tulus. Ketika dia mengusap wajahnya dengan lembut gadis itu mengingat sebuah kertas yang diberikan Alun saat bekerja tadi.
Segera dia melepas mukena, Muezza berjalan menuju meja belajarnya lalu meraih secarik kertas yang ada di dalam tas cokelat yang dia bawa kerja. Netranya menatap tulisan tangan Alun, tampak rapi dan tertulis deretan peraturan. Ada beberapa peraturan yang menurutnya tidak masuk akal sama sekali.
“Apa ini? Apa Mario, Satria dan Fenny mendapatkan hal sama sepertiku?” tanyanya sambil merebahkan tubuh di atas kasur yang empuk.
...Peraturan untuk karyawan baru Yoman kafe.
...
...1. Harus datang 20 menit sebelum kafe dibuka
...
...2. Karyawan baru harus menemani pemilik kafe mengobrol
...
...3. Tidak boleh protes atas keputusan ini
...
...4. Harus menaati aturan
...
...5. Berpenampilan rapi dan menarik
...
...6. Jangan pernah telat
...
...7. Jangan pernah mengabaikan kebersihan kafe
...
...8. Tidak boleh menunjukkan surat ini pada siapa pun
...
“Aku harus menanyakan hal ini pada Mario. Jika peraturan ini benar aku akan melakukannya, jika tidak ...?” Muezza berguling dan mengubah posisi tidurnya menjadi tiarap.
Gadis itu masih memandangi kertas yang diberikan Alun, banyak pertanyaan yang harus dia tanyakan. Namun, dia takut pria itu sibuk atau sudah tidur.
Iseng-iseng dia melihat kontak Mario, ingin rasanya dia mengirim pesan atau menelepon pria itu.
“Auk ah, pusing aku.” Karena dilema Muezza berguling dengan kaki yang terus bergerak tiada henti.
Gadis yang memiliki tahilalat di ujung hidung tersebut memejamkan mata sambil memantapkan hati untuk menelepon Mario—pengelola kafe sekaligus sahabat karib Alun.
“Bismillah, semoga diangkat sama dia.” Mengangguk dengan hati yang mantap.
Suara khas panggilan terdengar nyaring, tanpa dia sangka Mario mengangkat panggilan teleponnya.
“Halo?” sapa Mario di ujung telepon.
Gadis itu berdeham dan dengan rasa canggung dia membelas sapaan Mario.
“Assalamualaikum,” ucapnya dengan tenang.
Terasa ditampar, Mario terkekeh menjawab salam Muezza.
“Waalaikumsalam. Ada apa manis?” tanya Mario.
“Sebelumnya aku minta maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu.”
“No problem girl. Ada yang bisa gue bantu?” tukas Mario setelahnya dia kembali melontarkan pertanyaan.
“Hmm, begini. Tadi aku dikasih sebuah kertas yang menjelaskan peraturan buat karyawan baru, apakah semua karyawan termasuk kamu melakukan itu juga?” beber Muezza dengan posisi tubuh menyandar di tembok.
Mario yang semula antusias kini diam, pria itu tidak mengeluarkan suara sedikit pun sehingga membuat Muezza salah tingkah di kamarnya.
“Halo, Rio?” Muezza memastikan sambung teleponnya.
“Iya, ada apa Mue?”
“Dih kamu ini. Pertanyaan aku enggak di jawab!” cetus Muezza yang tidak terima diabaikan.
“Bentar, gue sedikit lupa. Coba lo foto lalu kirim ke gue!” perintah Mario yang mencoba mencerna semua aduan Muezza.
Tak perlu menunggu lama, gadis itu bergerak cepat melaksanakan perintah Mario. Di sana pria itu terkekeh ketika membaca semua rentetan peraturan yang dibuat Alun, dengan tangan yang mengusap kening. Mario menjawab pertanyaan Muezza.
“Semua karyawan lakuin itu semua jadi lo harus nurut. Kalau boleh tahu kapan Alun kasih ini ke lo?” katanya sambil mencari bertanya.
“Tadi waktu aku dipanggil ke taman belakang. Di situ juga ada kamu, ‘kan?” sahut Muezza di seberang sana.
“Oh ....” Setelah puas ber-oh Mario memberi saran pada Muezza, “berusahalah menepati semua peraturan itu, jangan sampai dia ngamuk!”
Muezza menepuk jidatnya sebab dia merasa kakak sahabatnya itu benar-benar eror.
“Mario, makasih ya sudah bantu aku!” ucap Muezza riang dan pria di sana juga membalas ucapan terima kasih tersebut lalu setelahnya sambungan telepon itu terputus.
“Ada-ada saja peraturannya,” keluh Muezza seraya meletakan kepalanya di atas bantal
***
Di tempat yang jauh Laras mendorong tubuh Alun dan menelisik kamar kakak prianya yang terbilang sangat rapi, berbeda dengan kamar pria lain.
Kakaknya itu terlalu over protektif akan kebersihan, itu sebabnya ruangan ini selalu bersih dan rapi tatkala pemiliknya keluar rumah.
Sebelah alis Laras terangkat sambil terus meneliti meja belajar sang kakak.
“Kehidupan Abang selalu flat, ya. Tidak ada tanda-tanda ....” Gadis itu sengaja menggantung ucapannya.
“Tanda-tanda apa?” sahutnya kesal, “sebenarnya kamu mau ngapain ke sini?” lanjut Alun setelah mendudukkan diri di ranjang tempat tidurnya.
“Enggak ada hal penting hanya meneliti kehidupan Abang saat ini. Kira-kira Abang normal atau abnormal,” cicit Laras setelah membuka sebuah buku.
“Apa maksud ucapanmu?” Mata Alun mendelik menatap sang adik.
“Canda bestie, peace!” Laras mengangkat tangannya yang menunjukkan kedua jarinya yang membentuk huruf V.
“Keluar Ayas! Tinggalkan kamarku saat ini juga. Aku mau tidur!” usirnya seraya mendorong tubuh adik kesayangannya.
Sekuat tenaga Laras menahan diri agar Alun berhenti mendorongnya keluar dari kamar ini.
“Abang!” pekiknya lirih.
“Apa?” tanya Alun dengan kedua tangan di pinggang.
“Bisa enggak jangan dorong-dorongan aku!”
Alun menurunkan kedua tangannya lalu, bertanya dengan suara yang lembut.
“Adikku yang cantik dan imut, bolehkah abangmu ini bertanya?” rayu Alun dengan senyum yang dibuat-buat.
Laras merapatkan bibir menahan tawa, sungguh geli melihat kakaknya bersikap manis seperti ini.
Gadis itu mengedipkan kedua matanya berulang kali, lalu angkat bicara.
“Apa yang mau Abang tanyakan?” tanya Laras memastikan.
“Rahasiaku yang mana yang kamu ketahui? Dan ... dari siapa kamu mendengar rahasia itu?” desak Alun dengan tutur bahasa yang lembut.
Laras bergerak gelisah, gadis itu selalu memalingkan wajahnya kala sang kakak mencoba menatap matanya.
“Ayo, dong Yas!” todong Alun tidak segan-segan mengguncang lengan adiknya sedikit kasar.
“Abangku yang tampan, adikmu ini tidak mengetahui apa pun. Tadi itu aku hanya asal bicara,” kilahnya seraya melepas genggaman tangan sang kakak.
“Jangan bohong Yas!” lanjutnya sambil mencekal pergelangan tangan Laras.
“Sudah aku bilang, kalau tadi itu aku hanya asal bicara. Cukup ya, Bang!” sanggah Laras seraya menarik hendel pintu.
Kepergian Laras membuat Alun gelisah, ucapan adiknya itu sangat mengganggu pikirannya. Dia benar-benar tidak percaya akan pernyataan adiknya, Alun berpikir Laras tidak mungkin asal bicara karena gadis itu akan mengoceh karena dia memiliki suatu bukti untuk mendasari ucapannya.
Kantuk yang tadi hampir mengantarnya ke relung mimpi kini pergi entah ke mana. Pria berkulit sawo matang tersebut berjalan mondar-mandir bak setrika merapikan kekusutan pakaian.
Dan berulang kali Alun menjambak rambutnya, “Apa yang harus aku lakukan agar dia berbicara. Membujuk gadis itu sangat menyulitkan,” keluhnya dalam decihan hati.
“Beri aku petunjuk-Mu!”
jangan jangan sudah firasat ini😑😑jangan bikin mereka kehilangan ayah 🥺
sabar yah mue , ingin kuliah tapi liat kondisi keuangan 😓😓😓😓😓😓