Mohon bijak memilih bacaan!
Mampir ke IG @oceannavinli untuk lihat visual
🍃🍃🍃
Dalam keadaan mabuk berat, Selena salah masuk kamar yang terhubung antara satu lewat sebuah pintu khusus yang berada di dalam kamar
Ia tak tahu ternyata sang pemilik kamar adalah musuh bebuyutannya, siapa lagi kalau bukan Nickolas Andersean, seorang playboy cap kadal tengah mabuk berat juga.
Keesokan hari, keduanya orangtua mereka memergoki Nickolas dan Selena saling dalam keadaan telanjang. Bagai di sambar petir di siang bolong mereka pun dinikahkan segera tepat di hari itu.
Bagaimanakah kisah rumah tangga antara Nickolas dan Selena? Mengingat keduanya saling membenci satu sama lain? Dan apakah hati mereka bisa terhubung antara satu sama lain seperti sebuah kamar 'Connecting Room'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sixteen (Revisi)
"Kau mau kemana, Sam?" tanya Selena, mendengar Samuel baru saja pamit kepada Lily.
Samuel menebarkan senyuman. "Aku ada urusan sebentar, kau baik-baik ya. Bye."
"Baiklah, bye. Berhati-hatilah, Sam."
Setelah menanggapi perkataan Selena, Samuel langsung melenggang pergi. Mengabaikan Nickolas tengah melayangkan tatapan dingin.
"Nick, kenapa telepon Mommy tidak angkat, katanya kau mau membelikan Angelo mainan," ucap Lily setelah melihat Samuel menghilang di ujung sana.
Nickolas menatap dingin Lily. "Tidak jadi! Mom, ada yang harus kita bicarakan sekarang!" ucapnya, ketus.
Lily memicingkan mata, melihat tingkah Nickolas. Merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi di antara kedua anak kembarnya itu. Raut wajahnya berubah masam.
"Nanti saja, Mommy harus pergi ke toko mainan, ayo Selena! Nickolas benar-benar membuang waktu kita," Lily berkata penuh penekanan, lalu menarik cepat tangan Selena berlalu pergi dari Cafetaria.
"Mom!" Nickolas menggeram kesal, secepat kilat ia mengikuti Lily dan Selena dari belakang.
"Mom, berhenti aku bilang!" seru Nickolas, tanpa menghentikan gerakan kakinya.
Selena jengkel sendiri, mendengar Nickolas meninggikan intonansi suara di hadapan mertuanya.
"Nick, bisakah kau lebih sopan dengan Mommymu, bersabarlah sedikit, kalau kau mau berbicara dengan Mommy, selesai kami berbelanja saja!" Selena melototkan mata sejenak.
Nickolas terdiam kala melihat angkara murka yang terpancar dari mata Selena. "Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu Mommy di parkiran mobil."
"Iya!" balas Lily tanpa menatap lawan bicara. Lalu menoleh ke samping. "Selena, ayo kita ke toko mainan di lantai tiga," ucapnya sambil melangkah cepat menuju ekskalator.
Nickolas menatap nanar kepergian Selena dan Lily. Perubahan sikap Mommynya barusan. Membuat ia bertanya-tanya. Dan berharap Mommynya dapat menjelaskan semuanya nanti. Nickolas akhirnya memutuskan pergi ke bassment mall. Hendak menunggu istri dan Mommynya selesai berbelanja.
Saat di mobil, Nickolas mengerutkan dahi, melihat banyak pesan masuk menghiasi layar di ponselnya.
^^^Nick, kau di mana?! Cepat jemput aku di gedung agency sekarang!^^^
Pesan dari Isabella, membuat kepala Nickolas pening seketika.
"Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan Isabella," Nickolas bergumam pelan, sembari mematikan ponsel. Lalu menyenderkan kepala di kursi.
Cukup lama ia duduk termenung di dalam mobil sampai pada akhirnya rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya. Secara perlahan Nickolas menutup mata. Dalam hitungan detik, dengkuran halus terdengar dari hidungnya.
*
*
*
"Nick, bangun!" Dari luar, sudah lima menit Lily menepuk-nepuk kaca jendela mobil, melihat Nickolas tertidur pulas di dalam mobil. Namun, tak ada tanda-tanda Nickolas akan bangun.
"Mom, biar aku saja, maaf kalau aku sedikit berteriak." Selena menepuk pundak Lily.
Lily tersenyum hangat dan menjawab,"Silakan Dear."
Setelah mendapat izin dari Lily, Selena meraup udara di sekitar sebanyak-banyaknya, lalu berteriak nyaring,"Pria mesum! Bangun kau!!!" Sambil menepuk-nepuk kuat kaca mobil.
Nickolas tersentak kala mimpi-mimpi manisnya di ganggu. Dengan cepat ia menegakkan tubuh lalu menoleh ke samping sembari membuka kaca. "Berhenti berteriak! Ini bukan hutan Selena! Apa kau mau aku cium ha?!"
Selena menggepalkan tangan kanannya. Melayangkan tatapan tajam. "Ish! Kau ini! Semua itu salah kau sendiri karena dari tadi kau tidur seperti kerbau! Lihat itu, ilermu sampai menggering," protesnya cepat sambil menjulurkan lidah.
"Awas kau! Aku akan memberimu pelajaran nanti!" Nickolas hendak menggapai wajah Selena. Akan tetapi, secepat kilat Selena memundurkan langkah kaki.
"Nickolas, Selena. Masih ada Mommy di sini. Kalau mau berciuman atau apa, lakukan saja di rumah." Sedari tadi Lily diam-diam memperhatikan interaksi keduanya.
Nickolas berdeham rendah. Menetralisir kecanggungan yang terjadi saat ini.
Selena tersenyum kecut mendengar perkataan mertuanya itu.
"Maaf Mom, apa sudah selesai?" tanya Nickolas kemudian.
"Sudah, sebelum pulang, ayo temani Mommy ke suatu tempat lagi." Lily memberi kode pada Selena untuk naik ke mobil.
Selena mengerti. Lalu mengeratkan paperbag hasil belanjaan mereka tadi dan melangkah cepat mengitari mobil. Mau tak mau dia harus duduk di kursi depan, bersebelahan dengan Nickolas.
"Tapi Mom, aku mau bicara empat mata dengan Mommy," ucap Nickolas, melihat Mommynya masih di luar hendak masuk ke kursi tengah.
Lily menaikan sebelah alis mata. Tak mengubris ucapan Nickolas. Dia malah menutup pintu mobil kemudian menaruh paperbag di sampingnya.
"Mom." Dengan sabar Nickolas memanggil Mommynya lagi. Rasa penasarannya semakin menggebu-gebu.
"Nick, Mommy tidak tahu apa yang mau kau bicarakan dengan Mommy. Tapi yang jelas, Mommy melakukan semua itu demi kebaikanmu, sekarang kau fokus menatap masa depanmu."
Kali ini suara Lily terdengar lembut dan tenang. Tak seperti tadi. Nickolas mendesah kasar, dilanda resah dan gelisah. Mengapa Mommynya selalu membuat dirinya tak berkutik.
Selena hanya diam saja. Tak berani menimpali percakapan anak dan ibu itu. Dia memilih mengotak-otik ponselnya sejenak.
"Tapi Mom–"
"Nick, jalankan dulu mobilnya. Percayalah sama Mommy, apa kau tidak percaya sama Mommy?" Lily menepuk pelan pundak Nickolas dan mengelus-elus sesaat.
Lagi dan lagi Nickolas mendesah berat. Berpikir keras sejenak dan memutuskan akan mencari sendiri apa yang disembunyikan Mommynya. Sebab dia paham betul, sifat Mommynya yang tak mau dibantah perkataannya.
"Baiklah, Mom. Kemana kita sekarang?" tanya Nickolas, sambil menyalakan mobil.
Lily merekahkan senyuman lalu berkata,"Kita ke Street Lincoln sekarang, nanti Mommy akan memberitahumu."
Nickolas mengangguk kemudian menjalankan mobilnya seketika.
*
*
Selang beberapa menit, mereka sudah sampai di jalan Lincoln.
"Mom, kita berhenti di mana? Kenapa Mommy mau ke sini?" tanya Nickolas, sambil melirik ke kaca spion bagian tengah.
"Berhenti di situ!" Lily menunjuk di sebelah kanan jalan raya.
Dahi Nickolas berkerut kuat, melihat Mommynya mendatangi agen properti rumah. "Mommy mau membeli rumah?" tanyanya, kemudian menepi seketika tepat di depan agen properti rumah mewah.
"Tidak!" Lily langsung membuka pintu mobil dan turun. Begitupula Selena, tanpa banyak kata keluar dari dalam kendaraan roda empat merk Rolls Royce berwarna hitam itu.
Nickolas dipenuhi tanda tanya kini. Dia masih bergeming di kursi. Melihat Mommynya dan Selena berdiri di depan mobilnya.
"Nickolas! Turunlah!" teriak Lily.
Dari dalam mobil, Nickolas mengangguk patuh.
"Kenapa, Mom? Kalau Mommy mau membeli rumah, ya sudah masuklah, aku akan menunggu di mobil saja," ucap Nickolas, menatap Lily dan Selena bergantian.
"Kau ini ya! Bukan Mommy yang mau membeli rumah, tapi rumah untuk kau dan Selena. Apa kau mau ketahuan Isabella lagi?"
Ucapan Lily barusan membuat jantung Nickolas mendadak berhenti.
Sementara Selena berdecak sebal di dalam hatinya.
Aish! Mengapa harus membeli rumah segala!
"Bagaimana Mommy bisa tahu kekasihku namanya Isabella?" Pasalnya, dia tak pernah mengenalkan Isabella kepada anggota keluarganya.
"Kau tidak perlu tahu! Sekarang kau dan Selena masuk ke dalam, kau tidak mungkin, tidak punya uang kan? Pasti ada, kau sudah dewasa Nick. Pilih dan belilah!" titah Lily.
Nickolas terlihat kebingungan.
"Atau kau mau Mommy membeberkan pada Isabella, kalau kau sudah menikah dengan musuhnya?" Lily mengancam, sembari bibirnya menyeringai tipis.
Selena dan Nickolas melebarkan mata bersamaan. Untuk sejenak keduanya saling melemparkan satu sama lain sekarang.
"Mengapa kalian terkejut? Ayo kita masuk ke dalam," ucap Lily sambil menarik tangan Selena dan Nickolas, menuntun mereka masuk ke dalam.
Seorang pria berperawakan tinggi, menyambut kedatangan mereka. Dan mulai memperkenalkan diri dan bertanya apa yang mereka butuhkan.
Lily langsung menjawab secara gamblang bahwa anaknya yang menginginkan rumah mewah untuk keluarga barunya. Pria tersebut tersenyum senang dan mengerti apa yang diinginkan pengunjungnya.
Hampir setengah jam mereka di dalam toko. Hingga Nickolas dan Selena akhirnya menjatuhkan pilihan kepada rumah mewah bergaya vintage.
Di sela-sela obrolan, Lily berbisik pelan di telinga Nickolas. "Nick, kau jadi leluasa bersama Selena. Jadi tidak ada lagi yang menganggumu nantinya."
Nickolas menatap lekat-lekat Lily. Belum mengerti arah pembicaraan Mommynya.
"Jangan menyangkal hatimu, Nick. Kau sudah mencintainya kan?" Lily kembali menambahkan sembari mengedipkan mata.
terimakasih author 👍👍👍👍