Mengisahkan seorang perempuan yang bernama Alea, dengan pekerjaan sebagai seorang tukang parkir. Alea, tomboy dan pemberani serta tukang rusuh, seperti layaknya lelaki. Tiba-tiba menyukai Aliando yang seorang kondektur Bus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shizi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. INI SEMUA TENTANG PERASAAN.
"Apa yang membawa elo sampai ke sini?" Alea menatap Agus dengan sangat lekat, hingga laki-laki itu sedikit merasa takut.
"Gue tadi kan sudah bilang kalau kebetulan mampir," kata Agus dengan kuekeh.
"Sayangnya gue gak percaya sama mulut elo, ingat! Gue bukan anak kecil yang bisa di bodihin." Alea menekankan kata-kata seperti itu karena ia yakin. Kalau kedatangan Agus bukanlah karena karena kebetulan.
"Al, apa elo suka sama Ali?" Agus melirik ke arah Alea, sedikit kegelapan itulah yang Agus tangkap, karena itu sangat terlihat jelas di wajah cantik Alea.
"Apa jawabanku sepenting itu buat elo?" Alea balik bertanya dan membuat Agus menghembuskan nafas berat.
Huff.
"Bisa dikatakan itu penting buat gue," kata Agus sedikit dengan suara lirih.
"Apa yang lo lihat dari muka gue?" tanya Alea, dan Agus harus bisa menebak apa yang terlihat di wajahnya.
"Apa elo mau gue nebak tentang perasaan lo dan Ali?"
Alea mengangguk, dan dengan senang hati mendengar apa yang akan disampaikan oleh Agus, tentang dirinya yang bisa menebaknya.
"Elo suka sama Ali, tapi elo gak berani buat ungkapin akan perasaan yang lo sembunyiin sampai sekarang." Entah kata-kata dari mana sampai Agus bisa menebak seperti itu.
Alea diam dan sama sekali bergeming, menatap tidak percaya kenapa Agus bisa menebak seperti itu.
"Sayangnya kamu salah," sangkal Alea yang tidak mau mengakui atas perasaannya.
"Jangan menjadi sosok pembohong, karena itu sangat kentara. Kalau elo tidak pandai menutupi kebenaran yang amat terlihat jelas, di pelupuk mata gue." Lagi-lagi ucapan Agus membuat Alea tercengang karena perkataan dari pria itu.
"Elo salah, gue gak pernah suka sama Ali, lagian dia juga bukan kriteria yang gue impikan." Jawab Alea sedikit ragu namun ia tidak boleh memperlihatkan karena, itu bisa membuat Agus curiga bahwa dirinya sedang berbohong.
"Apa elo yakin?"
"Ten-tu. Kenapa tidak karena kenyataannya kan memang seperti itu," kata Alea.
"Gue harap elo gak bakal nyakitin perasaan elo Al, karena hati sulit dimengerti jadi, pahami apa yang barusan gue katakan."
"Ya udah gue mau balik." Agus menambahkan lagi.
Setelah kepergian Agus. Alea termenung menatap langit yang masih cerah. Walau sekarang sudah jam lima lebih.
"Apa salah perasaan gue kalau suka sama orang, tapi sayangnya orang itu sama sekali tak bisa melihat akan gue, yang suka dengannya. Apa semua laki-laki tidak peka? Sampai perempuan lebih banyak menyerah, dibanding berjuang.
"Entah gue juga tidak mengerti kenapa sampai bisa gue suka sama elo," gumam Alea dengan netra yang tidak teralihkan pada langit.
Entah butuh berapa lama Alea memikirkan tentang Ali, hingga mata yang semula terbuka lebar. Kini mulai terpejam.
……….
Sedangkan di tempat lain.
Alby merenung memikirkan Alea, yang tidak berani mengungkapkan akan perasaannya pada Alea.
"Al, andai kamu tahu bahwa aku menyukaimu, tapi sayang. Aku tidak berani mengungkapkan akan perasaan yang mengganjal ini," suara lirih Alby menandakan jika dirinya pasrah dalam perasannya yang selalu ia tahan.
"Entah kapan aku berani mengungkapkannya, dan satu alasan yang membuat aku tidak mau mengatakannya. Itu karena aku tidak ingin merusak persahabatan kita Al."
Alby terus membayangkan Alea, hingga tanpa sadar. Seseorang sudah duduk di sampingnya.
"Astaghfirullah." Alby terlonjak kaget saat dirinya menoleh namun, melihat ada sosok kepala yang yang tepat di sampingnya.