“Ajudan , cepat penggal kepala wanita itu. Ahahah” perintah Singkasa sambil memutar gelas yang berisi darah segar.
Suara tebasan leher yang dia sukai, darah mengalir deras di dalam kolam raksasa. Ratu Singkasa membenamkan diri menikmatinya. Kecantikan abadi berasal dari darah perawan yang telah dia tumbalkan. Setiap bulan purnama merah, dia tidak pernah berhenti mencari korban. Berita kehilangan para gadis yang di laporkan warga diabaikan oleh para petugas. Hingga pada suatu hari, seorang pendekar wanita berani melawan sampai meruntuhkan kerajaannya.
Siapakah wanita misterius itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekacauan
Kirei mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Dia mengantar di depan halte lalu melambaikan tangan. Keputusan melanjutkan penelitian bersama tim akreologi, dia juga masih penasaran akan semua mimpinya yang terasa nyata. Wajah bahagia kemenangan pada bu Erin melihat Kirei tetap bertahan meneruskan tugasnya.
“Seperti ada yang di sembunyikan bu Erin. Dia sangat mencurigakan memperhatikan Kirei” gumam Duta.
Sore hari memaparkan rona jingga, hari ini aroma darah semerbak di saat angin berhembus kencang sangat amis. Salah satu staf yang bernama Eden menemukan sebuah benda asing yang kubur di sela pintu yang belum bisa terbuka. Sebuah batu permata hitam berukuran sedang berkilau di antara serpihan pasir bebatuan menutupi.
Dia menoleh ke kanan dan kiri, tangan bergerak cepat menyimpan ke dalam kaos lalu merapikan jaketnya. Dia menghentikan pekerjaan, meletakkan alatnya kemudian pergi ke dalam tenda. Kerja hingga hampir larut malam sedang serah perintah waktu bertugas selambat-lambatnya hanya sampai pukul enam belas kosong-kosong.
Pak Kamal memutar kursi rodanya sendiri melihat ke luar tenda. Ramai para tim masih berlalu lalang. Dia memanggil pak Kamal agar mereka beristirahat dan jangan terlalu memporsir tenaga secara berlebihan. Di dalam kegiatan tugas tambahan yang di perintahkan itu, telah andil di dalamnya peran bu Erin yang selalu saja memanfaatkan situasi.
“Semuanya bubar” ucap pak Mus.
......................
Deru gendang, tombak menjulang terangkat ke atas langit. Api yang di nyalakan berkobar memanuhi langit langit malam. Tabu gendang kuat bersahutan, shofar dan suara-suara yang datang dari dalam kolam raksasa. Sosok-sosok makhluk hitam berterbangan ikut menyantap tumbal darah segar para gadis perawan.
Kesakitan, rintihan dan luka sudah tidak bisa di deskripsikan atau di ungkapkan dengan kata-kata. Cahaya bulan purnama darah memaparkan hal mistik ilmu hitam keabadian dan simbol iblis di dalam kemenangannya mendapatkan para tumbal.
“Ratu, silahkan masukkan diri mu ke dalm kolam dan minum tiga teguk airnya” ucap sang penyihir tua.
Di atas Singgahsana dia turun di bantu dua dayang menuju ke kolam. Si penyihir tua mengetuk tongat ularnya menyemburkan mantra. Seperti yang dikatakan oleh Sida, Tantrum harus hadir terlebih dahulu ke dalam ritual disana. Dia menyamar menjadi salah satu dayang yang di dekat sang ratu. Di balik gaunnya yang panjang, dia sudah mempersiapkan pisau belati yang sangat tajam.
Bersiap menebas leher sang ratu atau menusuk tepat di bagian jantungnya. Wajah marahnya melihat si ratu gila itu tertawa terbahak-bahak di dalam lautan darah dan jasad para gadis. Sida melirik Tantrum yang sudah bersiap meraih belati. Dia sudah bersiap membantu segala hal yang di butuhkan oleh Trantrum meski nyawa taruhannya.
Sida juga sudah menyuap beberapa penjaga untuk membantu Trantrum keluar dari penjara dari kolam raksasa. Sang ratu sudah sangat kenyang meneguk darah. Dia menenggelamkan tubuh ke dalamnya mendekati patung raksasa yang berisi iblis tempat dia memuja.
“Beri aku keabadian!” ucapnya mengusap pada bagian kaki patung.
Percikan sinar merah, api yang berterbangan di bawa makhluk-makhluk yang berterbangan. Sang ratu mendapat sinar merah dari mata patung raksasa iblis. Setelah menikmati tujuh darah gadis persembahan, dia tampak sangat muda, menawan dan berparas lebih cantik jelita. Tidak ada setitik kerutan pada wajah dan kulitnya. Dia membentangkan tubuh merasa sangat puas melanjutkan membasuh wajahnya.
“Ahahahah..”
Sinar rembulan purnama merah darah sudah mulai meredup tertutup awan. Sang ratu naik ke permukaan di bantu dua dayang yang membawakan handuk dan jubah kebesarannya. Siapa yang menyangka salah satu dayang yang berada di sisi kiri adalah sosok Trantrum, seorang pendekar yang sudah bersiap menebas lehernya.
Syat_syat_
“Argghh!”
Tebasan tepat pada urat nadi sang ratu. Dia terjatuh di dalam kolam raksasa. Tantrum segera melarikan diri setelah mengetahui pintu rahasia jalan keluar dari kolam ritual. Dia di kejar oleh para pengikut sang ratu dan si penyihir. Saling menyerang, menyerbu bahkan mengepung dirinya. Dia menggunakan bubuk mesiu dan benda penangkal sihir yang sudah di persiapkan Sida jauh hari agar dia bisa bisa keluar dari tempat itu.
Jika saja si ketua Satan pewaris ilmu si penyihir tua sedang tidak menjalankan tugas untuk membunuh Yeti mungkin saja Tantrum sudah mati di habisinya. Tantrum berhasil melarikan diri, dia bersembunyi di kaki gunung menunggu kabar dari Sida.
Berpikir semudah itu membunuh si ratu penyembah iblis tampak salah besar. Dia melupakan seluruh denyut nadi sang ratu sudah di isi dengan setan dan iblis. Setelah terjatuh di dalam kolam, banyak yang mengira ratu Singkasa sudah meninggal, sampai hari ini dia masih memejamkan mata.
Penyihir tua memerintahkan Usiga dan Genta mencari si pembunuh sang ratu. Para pengikut sang ratu juga andil mencari hingga Tantrum merasa tersudut melihat ratusan tentara berjubah hitam berterbangan dan menunggangi kuda membawa maisng-masing api di tangan mereka.
Dari belakang Yeti menutup mulutnya, dia menarik ke dalam sebuah gua yang berhimpitan bebatuan besar. Di luar sana banyak pasukan ilmu hitam si penyihir tua berterbangan. Suara teriakan prajurit berkuda memasang sinyal bersahutan dari tiap-tiap jalan.
“Kau siapa?”
“Aku adalah penjaga istana Yeti.”
“Kenapa kau ada disini?”
“Ceritanya sangat panjang! Lebih membungkuk dan matikan api itu!”
“Gawat, mereka semakin mendekat. Cepat kita lumuri tubuh kita dengan cairan ini sebelum para pasukan mendeteksi aroma tubuh manusia.”
Segala bekal yang di berikan oleh Sida berjalan dengan sempurna hinggasaat ini dia masih aman dan selamat. Karena pasukam iblis tidak menemukan manusia yang mereka incar, maka perlahan mereka berterbangan menghilang kembali ke istana begitu juga para pasukan kuda.
Beberapa jam yang lalu di kediaman perdana menteri hakim.
Ruangan kebesaran penjaga istana di kepung pasukan berjubah hitam. SImbol tengkorak dan tanda kerajaan melekat pada tubuh mereka. Yeti bergerak cepat saat merasakan kehadiran sosok yang membawa pedang panjang berniat membunuhnya. Dia yang selalu siap siaga meski sedang tidak bertugas atau berperang selalu membawa senjata di balik bantalnya.
Sruggh
Prangg__
Suara keributan di kediaman, para prajurit saling menyerang. Satan bersama dua orang anggotanya berhasil melukai pergelangan tangan Yeti. Pedang beracun itu mengakibatkan pandangan Yeti menjadi kabur dan perlahan kehilangan tenaga. Dia menggunakan kekuatan terakhirnya pergi menghindar sejauh mungkin, ketiga utusan itu mengejar hingga ke kaki gunung.
Sihir-sihir hitam Yeti sebar di udara, dia membuat perangkap iblis sehingga Yeti terperangkap saat masuk lebih dalam ke area hutan.
“Yeti terimalah ajal mu!” teriak Satan.
Dia terus berlari lalu bersembunyi di dalam semak belukar. Merasakan racun akan perlahan menyebar, dia mengikat kuat lengan yang terkena pedang beracun. Suara desis kesakitan dia tutupi dengan menggigit bajunya sendiri.
“Hei jangan lari!”