Ganti judul: Bunda Rein-Menikah dengan Ayah sahabat ku
"Rein, pliss jadi bunda gue ya!!" Rengek Ami pada Rein sang sahabat.
"Gue nggak mau!" jawab Rein.
"Ayolah Rein, lo tega banget sama gue!"
"Bodo amat. Pokok nya, gue nggak mau!!" tukas Rein, lalu pergi meninggalkan Ami yang mencebik kesal.
"Pokoknya Lo harus jadi bunda gue, dan jadi istri daddy gue. Titik nggak pake koma!" ujarnya lalu menyusul Rein.
Ayo bacaa dan dukung karya iniii....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mey(◕દ◕), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Bab ini sudah Revisi ya...
Sinar matahari terasa sangat menyengat kulit, Rein dengan langkah pelan berjalan menuju perpustakaan. Peluh yang membanjiri kening nya, membuar Rein mempercepat langkah. “Panas banget, ampun…” gumam nya dengan wajah yang cukup lelah. Lorong kampus sudah sangat sepi, hanya ada beberapa mahasiswa saja, mungkin mereka masih ada mata kuliah lagi.
"Rein!" di persimpangan jalan saat hendak berbelok, sebuah suara menyapa Rein. Saat menoleh pada sumber suara, kening Rein mengerut saat melihat siapa yang memanggil. “Kak Aldo!” Rein menatap Aldo bingung. Rein tentu saja mengenal siapa Aldo, kakak tingkat mereka, sekaligus pria yang sangat di sukai oleh Ami.
“Halo Rein, saya Aldo.” Rein menerima uluran tangan Aldo, membuat pria itu tersenyum singkat. “Ada yang bisa saya bantu?” Rein menatap Aldo sembari bertanya. “Maaf ya, jika saya mengganggu waktu kamu. Saya ada keperluan mendesak, dan hanya kamu yang bisa bantu saya.” Ucapnya panjang lebar, sembari menatap sekeliling nya.
“Ya boleh, tapi saya ke perpustakaan sebentar.” Balas Rein dengan senyum tidak enak. Aldo mengangguk semangat, kemudian berpamitan. “Silahkan. Nanti kita bertemu di taman seberang kampus saja. Terimakasih.” Rein mengangguk lalu berpamitan menuju perpustakaan, meninggalkan Aldo yang masih tersenyum senang entah sedang memikirkan apa.
***
“Si Rein kemana sih!” Ami sedari tadi berkeliling mencari calon bunda nya, siapa lagi jika bukan Rein. “Katanya mau nungguin, malah ngilang!” dumel nya dengan wajah cemberut. Saat tiba didepan gerbang kampus, Ami mengerutkan kening, diseberang jalan lebih tepat nya di taman, terdapat Aldo yang sedang memainkan ponsel nya.
Senyum nya perlahan mengembang. “Mungkin udah pulang kali bareng daddy. Mending datangin yang pasti-pasti aja hehehe…” gumam nya dengan girang. Pria yang sudah dia sukai sejak menjadi mahasiswa baru.
Baru saja akan menyebrang, namun mata nya menangkap siluet seorang wanita lebih dulu menyapa Aldo. “Rein…!” senyum nya perlahan surut, kening nya mengerut heran. Namun padangan nya fokus pada genggaman jari itu. “Mereka…” kepala nya menggeleng pelan, menghalau pikiran aneh yang melintas. Tidak mungkin kedua nya memiliki hubungan. Mungkin ada perlu, gumam nya dalam hati.
Tidak ada lagi senyum yang terpancar di wajah nya, kedua mata nya terus menatap Aldo dan Rein yang tengah bercengkrama dengan hangat, sial nya terlihat seperti sepasang kekasih. Dengan jemari yang bergetar pelan, Ami merogoh saku nya. Dengan cepat, mencari kontak Rein lalu menghubungi wanita itu. Sedang kan diseberang sana…
***
“Ehh Ami telfon… kak Aldo ini gimana?” Rein panik bukan main, apalagi dia bisa melihat raut wajah Ami yang tampak terluka. “Tenang-tenang…Nanti dia curiga. Nggak usah angkat telfon nya.” Aldo berbisik pelan sembari mendekatkan kepala nya.
Di seberang sana, Ami menatap kedua nya dengan perasaan terluka. Dari sudut pandang nya, ia bisa melihat bahwa Aldo mencium Rein. Dengan cepat Ami berlalu dari sana, dengan air mata yang perlahan turun. “Jahat banget…” hati nya sangat sakit, apalagi ini Rein yang sudah dia anggap sebagai ibu nya. “Nanti bilang apa ke daddy, masa langsung bilang kalau Rein selingkuh… mana percaya daddy…Huaaa!!!” gumam nya dengan kesal.
Supir taksi yang mengantar pun hanya diam, sesekali melirik Ami yang masih saja menangis. “Ini tisu mbak.” Ami seketika menatap supir taksi itu dengan wajah kaget. “Terimakasih, memang bapak aja yang mengerti saya!” balas nya dengan cepat.
***
“Sayang…Jauhkan kepala kamu dari dia!” suara berat Davin terdengar di seberang telfon. Rein dan Aldo seketika menarik diri masing-masing. “Yaampun mas, aku nggak ngapa-ngapain.” Balas Rein dengan wajah bingung. “Tetap saja. Jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain. Mas cemburu!” Aldo yang mendengar itu berdehem dengan keras, sementara Rein menutup wajah nya karena malu.
“Sekarang kamu pulang, biar sisa nya dia urus sendiri!” Davin bersuara kembali membuat Aldo menatap nya tidak enak. “Terimakasih Rein dan om, sudah bantu saya.”
“Iya mas, aku pulang sekarang.” Setelah nya Rein menatap Aldo. “Sisa nya kamu yang urus bisa kan? Saya harus pulang sekarang.” Aldo mengangguk dengan pelan. “Siap, tinggal rencana terakhir dan selesai. Terimakasih banyak.”
“Sepertinya tadi Ami menangis. Saya harap ini yang terakhir!” Aldo mengangguk mengiyakan.
Rein pun melangkah pergi, pikiran nya saat ini melayang jauh memikirkan keadaan Ami dan juga bagai mana nasib nya kedepan. Semoga saja dirinya tidak di usir.
“Hati-hati calon ibu mertua.” Gumam Aldo membuat Rein mendelik menatap nya, sementara pria itu terkekeh kecil.
***
Sepanjang perjalanan Rein menghela nafas, rasa takut memenuhi pikiran nya. “Lagian mau-mau banget lagi aku ngikutin rencana konyol ini.” Sekarang yang Rein pikiran adalah bagaimana cara nya agar Ami tidak marah padanya.
Tentu ini adalah rencana konyol Aldo untuk membuat Ami cemburu. Dan kebetulan sekali Ami tadi meminta untuk menjemput nya dan kesempatan itu mereka gunakan dengan sangat baik untuk membuat wanita itu cemburu.
Rein memberikan selembar uang berwarna biru pada seorang supir taxi kemudian melangkah memasuki area rumah Davin. Jantung nya berdetak cepat, tentu saja ia deg-degan akan respon Ami nanti padanya.
Namun saat melihat Davin di ruang tengah, Rein langsung menghembuskan nafas lega. Setidaknya ada pria itu yang akan menjadi tameng nya saat Ami marah. “Mass…” panggil nya pelan.
Jangan heran jika Davin tidak marah, itu karena Rein sudah memberitahu pada Davin rencana nya dan Aldo meskipun dengan sedikit drama penolakan, namun dengan sesuatu yang ia janjikan pada pria itu akhirnya Davin dengan berat hati membiarkan kekasih nya mendekat dengan seorang pria.
"Kamu baik-baik aja kan?" Tanya Davin khawatir setelah melihat keberadaan Rein. "Aku aman kok mas, yang perlu di khawatirkan itu Ami, dia pasti lagi sedih banget." jawab Rein sambil berjalan menuju sofa.
Davin mengangguk membenarkan, ingatan nya berputar kembali pada beberapa jam yang lalu, saat sang putri pulang dengan wajah sembab. Namun tidak mengatakan apa-apa.
"Ami dimana mas, aku khawatir dia ngelakuin sesuatu yang membahayakan dia." Tanya Rein. Jujur saja ia sudah sangat menyayangi Ami. Tadi Ia bahkan sudah memastikan bahwa Aldo benar-benar mencintai Ami, dengan menginterogasi pria itu di taman, sebelum menyetujui drama konyol yang direncanakan laki-laki itu.
"Di kamar. Biarin dia nenangin diri dulu, dan kamu jalanin aja rencana kamu." Ucap Davin dengan wajah cemberut. Rein tertawa pelan melihat raut tak berdaya Davin. "Mas cemburu?" Tanya Rein pura-pura polos.
Davin berdecak pelan kemudian mengangguk tanpa ragu. Tentu saja dia cemburu, karena Rein hanya milik nya dan hanya dia yang boleh mendekati nya tidak orang lain. Terdengar posesif memang, namun itulah Davin, apa yang sudah menjadi miliknya tidak ada yang boleh menyentuh nya.
"Cemburu lah, siapa coba yang nggak cemburu kalau kekasih nya mesraan sama orang lain!" Rein berusaha menahan tawa nya, ternyata pria di hadapannya ini benar-benar sayang padanya, dan Rein senang akan hal itu.
"Itu kan cuma akting, lagian aku juga cinta nya sama kamu, bukan yang lain." Dan kalimat Rein itu berhasil membuat seorang Davin ingin terbang jika bisa. Jarang-jarang Rein akan mengutarakan rasa sayang nya, sehingga saat wanita itu mengatakan nya maka Davin akan bereaksi seperti itu.
Davin langsung mengangkat Rein ala bridal style membuat Rein memekik kaget, dan membawa wanita itu kedalam kamar nya. Ia ingin bermanja-manjaan sesuai janji Rein tadi. Kedua nya bahkan melupakan Ami yang berada di kamar nya, wanita itu menangis entah sedih karena Rein mendekati pria yang ia sukai atau karena Rein menyelingkuhi sang Daddy dan tidak akan menjadi bunda nya.
"Mom, Ami kangen…" gumam Ami sambil memeluk sebuah bingkai foto.
TBC....
'mas kenapa?
"pengenpeluk!